Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Oktober 2014

[Kuliner] Mencoba Sensasi Pedasnya Ikan Bakar Manado

Masakan Manado memang sudah sangat terkenal dengan tingkat kepedasannya yang menurut saya di atas rata-rata. Dan bagi saya, masakan Manado itu seperti surga bagi lidah saya yang memang sangat menyukai masakan pedas. Tak terkecuali dengan wisata kuliner saya kali ini yaitu Ikan Bakar Manado yang tentu saja rasanya menggigit lidah saya.

Bertempat di Jalan Bungur Jakarta Pusat, rumah makan ini mudah sekali diakses dengan angkutan umum. Saya dan istri saya malam itu menggunakan angkot no. 12 jurusan Senen – Kota. Hanya saja untuk naik angkot no. 12 ini kita harus bertanya dulu ke pengemudinya apakah dia lewat Galur atau tidak. Selain angkot no. 12 ini, masih ada juga angkot no. 37 dan Kopami 12. Patokan rumah makan Ikan Bakar Manado ini ada di sebelah kanan dari arah Senen, dekat dengan perlintasan kereta api ke arah Jalan Garuda.
 
Dekorasi ruangan dengan aksesoris layaknya di dalam kapal (dok.pribadi)


Malam itu, kami memesan menu satu buah ikan baronang bakar, satu porsi cah kangkung, dua piring nasi putih dan dua gelas teh tawar hangat. Ada dua pilihan bumbu untuk ikan bakarnya, yaitu bumbu rica-rica dan bumbu kecap. Berhubung perut istri saya sangat sensitif dengan masakan pedas, maka saya memutuskan untuk memilih bumbu kecap sebagai olesan ikan bakar saya. Untuk jenis ikan baronang, berat minimal yang tersedia di rumah makan ini adalah 6 ons per ekor. Dan untuk makan dua orang, sudah sangatlah cukup.

Dua pilihan sambal sesuai selera (dok.pribadi)
Butuh waktu sekitar 20 menit dari waktu kami memesan hingga makanan kami datang lengkap. Waktu menunggu yang cukup lama apalagi jika anda sudah membayangkan ikan bakar dengan cocolan sambal dabu-dabu dan sambal biasa (saya lupa menanyakan nama sambalnya.hehe..). Tak heran, orang di sebelah meja saya yang tak tahan menunggu lama sampai memesan bakwan jagung yang sepintas saya lihat berukuran sangat menggiurkan.


Rasa ikannya enak. Keputusan kami untuk memilih ikan baronang ternyata sangat tepat karena ikan baronang bakar yang disajikan di meja kami dagingnya tebal dan lembut. Rasa bumbunya sendiri kurang meresap dan sedikit kurang manis. Untungnya tersedia sebotol kecap manis di meja kami sehingga kami bisa menambahkan kecap sesuai selera lidah kami. Kangkungnya enak karena dimasak tidak terlalu matang. Jadi masih terasa renyah ketika dikunyah. Buat yang tidak suka pedas, hindarilah menggigit cabe rawit yang bertebaran di antara kangkung-kangkng ini. Ya iyalah ya....:)

Ikan Baronang Bakar Bumbu Kecap (dok.pribadi)
Kangkung Cah
Jumlah total biaya:
  • 1 ekor ikan baronang bakar bumbu kecap berat 6 ons = Rp. 17.000 x 6 ons = Rp. 102.000
  • 1 porsi kangkung cah = Rp. 16.000
  • 3 porsi nasi putih = Rp. 6.500 x 3 porsi = Rp. 19.500
  • 2 gelas teh tawar panas = Rp. 4.000 x 2 gelas = Rp. 8.000
TOTALnya adalah Rp. 145.500,00

Minggu, 08 Juni 2014

[Kuliner] : Nyusu di Mamoo Milk Purwokerto

Lama tak berkulineran di Purwokerto karena jarang pulang ke sana, ternyata Purwokerto tengah dilanda demam "susu". Hal ini saya amati ketika muter-muter di sekitaran Purwokerto, dan menemukan beberapa kedai atau gerobak yang menjual susu sebagai menu utamanya. Sebut saja nama-nama seperti Milk Max, Holy Milk, dan Mamoo Milk. Nama yang terakhir saya sebutlah yang sempat saya coba dalam mudik singkat saya beberapa hari yang lalu.


Mamoo Milk adalah sebuah kedai susu yang terletak di Jalan Brigjen Encung No.17 Purwokerto. Sesuai namanya, Mamoo Milk ini mengandalkan susu sebagai menu utama. Jadi kalau cafe biasa menjadikan kopi sebagai andalan, disini kopi hanya sebagai menu pelengkap dari sederet menu minuman susu aneka rasa.

Malam itu saya memesan segelas susu dingin rasa kopi. Saya sengaja memilih ukuran Large karena saya ini takut ukuran Large mereka ternyata kecil. Dan dugaan saya meleset karena ukuran gelas Large mereka "tinggi dan besar". Untuk gelas ukuran Large, semua susu aneka rasa dibanderol seharga Rp. 11.500. Saya lupa berapa harga susu untuk ukuran gelas small.

Dari segi rasa, susu rasa kopi saya ini cukup enak. Kopi yag dicampurkan cukup banyak sehingga memang dominan rasa kopi yang terasa di lidah saya. h iya, untuk yang tidak suka susu dingin seperti ini, bisa juga memesan beberapa menu susu yang panas. Cuma yang menurut saya agak aneh adalah jenis rasa untuk susu panas ini jauh lebih sedikit daripada yang dingin. Saya yang penasaran dengan susu strawberry hangat akhirnya harus sedikit kecewa karena ketika hendak memesan susu strawberry hangat, ternyata sudah tidak ada. Akhirnya saya cukup puas dengan memesan susu putih standar tanpa rasa.

Susu rasa kopi (dok.pribadi)
Sebagai pelengkap ibadah "nyusu", di Mamoo Milk disediakan aneka menu kudapan seperti roti panggang, roti goreng, pisang goreng, dll. Malam itu, saya memutuskan untuk mencoba french fries dan roti panggang strawberry keju. Dua-duanya rasanya enak menurut saya, cuma untuk potongan dan porsi french fries-nya menurut saya terlalu kecil. Jadi kurang nendang. Hehe..



Oh iya, buat yang ingin tau soal Mamoo Milk, bisa langsung ke akun social media yang mereka sediakan. 
Facebook: Mamoo_milk
Twitter : @mamoo_milk
Instagram : milk_mamoomilk

Susu : Rp.  5.500 - Rp. 12.000
Snack : Lupa (nanti kalo ke sana lagi tak update)
Jam buka : Pukul 10.00 - 24.00 WIB

Rabu, 20 November 2013

[Kuliner] Sate Kiloan Rumah Makan Emut Rasa, Sentul Bogor

Selasa lalu, saya dan teman saya ditugaskan dari kantor untuk mengikuti rapat di Hotel Lorin, Sentul Bogor. Begitu mendengar kata “Sentul Bogor”, maka yang terbayang di pikiran saya adalah mencicipi “pedagang sate kiloan” atau kerap disingkat dengan istilah PSK. Saya yang memang sudah lama sekali mendengar kelezatan sate kiloan, langsung merasa senang ketika mendengar penugasan ke daerah Sentul ini.

Pedagang Sate Kiloan yang saya datangi adalah Rumah Makan Emut Rasa yang ada di jalan Babakan Madang. Untuk mencapai kesana, dari hotel Lorin tempat saya menginap, saya dan teman saya mesti berjalan sekitar 300 meter ke arah pintu gerbang Sirkuit Sentul. Dari depan pintu gerbang Sirkuit Sentul, kami naik angkot no 04 jurusan Cisanggaruli. Segera setelah kami naik angkot, kami tak lupa bilang kepada supir angkutnya untuk menurunkan kami di pedagang sate kiloan di daerah Cisanggaruli. FYI, sate kiloan tidak hanya ada di Cisanggaruli saja, tapi kata supir angkotnya disitulah daerah yang lebih rame untuk sate kiloannya.


Begitu sampai di Rumah Makan Emut Rasa, saya heran dengan kata supir angkot yang bilang daerah sini ramai dengan pengunjung yang ingin mencoba sate kiloan, karena Rumah Makan Emut Rasa yang saya datangi ini sepi sekali. Saat saya datang, hanya saya dan teman saya yang menjadi pengunjungnya. Pikir saya, mungkin di pedagang sate kiloan lain lebih ramai. Ternyata, setelah saya berjalan keluar rumah makan, saya tak melihat pedagang sate kiloan lain yang ramai. Yang ramai justru Alfamart yang berjarak sekitar 15 meter dari lokasi Rumah Makan Emut Rasa.


Malam itu, saya dan teman saya memesan sate kambing. Saya tak tahu apa ada menu lain selain sate kambing, karena yang terlihat digantung di dekat meja pedagang hanya sepotong besar daging kambing yang digantung pada sebuah kait besi.


Berhubung rumah makan yang menjual sate kiloan, awalnya saya hendak memesan sate per kiloan. Namun setelah mengetahui harga perkilo daging kambingnya menurut saya mahal, yaitu Rp. 160.000,00 perkilo, maka saya dan teman saya sepakat memesan sate kambingnya per porsi, yaitu Rp. 30.000,00 untuk sepuluh tusuk. Harga tersebut belum termasuk nasi yang dihargai sebesar Rp. 5.000,00 per porsi.


Setelah menunggu sekitar 10 menit, semua pesanan kami datang. Sebelum pesanan kami datang, pelayan telah terlebih dahulu memberikan kami masing-masing satu gelas teh tawar hangat (rasanya tehnya tidak enak. Tawar sekali seperti air putih). 

Sate kambing siap disantap (dok.teman saya)

Sepuluh tusuk sate kambing disajikan dalam piring terpisah dari bumbu kecap. Oh iya, buat yang tak suka bumbu kecap, disini juga disediakan bumbu kacang. Dua porsi nasi disajikan di dalam satu tempat nasi yang terbuat dari bambu (porsinya saya rasa cukup banyak. Bagi saya bisa jadi empat porsi). 

Begitu mencicipi sate kambing yang kami pesan, rasa kesal karena harga perkilo kambingnya cukup mahal menjadi hilang sudah. Daging kambingnya sangat lembut saat digigit. Jadi gigi saya tidak perlu berusaha keras untuk mengunyah setiap potongan dagingnya. Nyummy sekali rasanya. Yang bikin mantap juga adalah karena potongan daging per tusuk satenya itu besar-besar, dan benar-benar daging. Bukan lemak atau jeroan kambing. Pokoknya mantap dan enak.

Oh iya, buat yang dari Jakarta penasaran ingin mencicipi lezatnya sate kiloan ini, kalian bisa masuk dari tol Jagorawi exit tol Sentul City. Letak rumah makan ini tak jauh dari Hotel Harris yang persis ada di depan Sentul International Convention Center (SICC). Sebagai catatan saja, jalan di daerah sini tidak mulus. Jadi bersiaplah untuk terguncang perutnya selama perjalanan menuju atau pergi dari rumah makan ini. 



Lihat Rm. Emut Rasa di peta yang lebih besar

Minggu, 01 September 2013

Lezatnya Kuliner Surabaya : Dari Sate Klopo Sampai Pecel Ponorogo


Tanggal 27 sampai dengan 29 Agustus yang lalu, saya berkunjung ke Surabaya. Kunjungan saya ini dalam rangka menghadiri sebuah rapat koordinasi teknis di bidang peraturan perundang-undangan. Rasanya saya tak perlu detil mengenai apa saja yang saya lakukan dalam rapat tersebut, karena saya yakin pembaca pun tak mau tahu kan. :) Oh iya, kunjungan ini pun menjadi yang pertama kali bagi saya menginjakkan kaki di Surabaya. 

Sebelum terbang dari Jakarta ke Surabaya, di dalam hati saya memang sudah berniat bahwa selama di Surabaya nanti, saya harus mencoba kuliner asli Surabaya yang konon katanya enak-enak semua. Dan jeng-jeng, berikut daftar kuliner yang sempat saya cicipi dalam kunjungan singkat saya selama 3 hari 2 malam di Surabaya:

1. Sate Klopo Ondomohen Pojok Malam

Pertama kali mendengar sate klopo yang ada di bayangan saya adalah daging buah kelapa yang dipotong kecil-kecil, ditusuk seperti sate lalu dibakar. Dan....ternyata dugaan saya salah besar. Sate klopo adalah sate daging sapi, dimana daging sapi tersebut sebelum dibakar telah diungkep dengan bumbu-bumbu plus parutan kelapa. 

Warung sate yang saya datangi ini ada di Jalan Walikota Mustajab alias Jalan Ondomohen. Itulah kenapa sate klopo ini terkenal dengan sebutan Sate Klopo Ondomohen. Sepanjang pengamatan saya sekilas, di jalan ini terdapat beberapa warung sate klopo lainnya. Ada yang berupa warung permanen seperti yang saya datangi, ada pula yang berupa gerobak warung.

Untuk seporsi sate klopo dengan bumbu kacang, plus teh hangat manis, nasi dan krupuk, saya harus merogoh kocek Rp. 26.500. Nasi sebagai pendamping menikmati sate klopo ini disajikan cukup unik, yaitu disajikan dalam keadaan dingin ditambah taburan semacam parutan kelapa yang sudah disangrai. Nyam-nyam....

 
Warung Sate Klopo Ondomohen Pojok Malam


Nasi plus sate klopo..:)

Nasi putih dingin dengan taburan parutan kelapa sangrai


2. Bebek Goreng Tugu Pahlawan

Surabaya memang sangat terkenal dengan bebek gorengnya. Saya pun menyempatkan diri untuk mencicipi kuliner bebek goreng di depan Tugu Pahlawan yang katanya salah satu warung yang cukup terkenal akan Bebek Gorengnya.

Letak warungnya persis di pinggir jalan, di depan Tugu Pahlawan. Begitu melihat ramainya pengunjung yang datang ke warung ini, jujur membuat saya semakin penasaran dengan seperti apa rasa bebek gorengnya. Jadilah saya memesan nasi bebek goreng dada dan nasi plus segelas es teh.

Bebek goreng disajikan dengan nasi hangat, dan dua pilihan sambal, satu sambal dengan citarasa yang agak kurang pedas dibandingkan sambal lainnya. Tidak disediakan lalapan semacam ketimun atau kemangi disini. Untuk rasa bebeknya lumayan enak (karena saya memang bukan penggemar bebek si.hehe..), dengan daging tebal dan lembut di lidah. Yang saya sayangkan adalah sambelnya yang di lidah saya terasa tidak pedas. Padahal di bayangan saya, setiap sambal di Surabaya itu akan punya citarasa pedas.

Harga satu porsi bebek goreng dada plus nasi adalah Rp. 13.000. Murah sekali dibandingkan harga bebek goreng di Jakarta yang berkisar Rp. 20.000 ke atas.


Penjual tengah sibuk melayani para pembeli bebeknya

Di warung ini saya tidak bisa mengambil foto bebeknya, karena tempatnya gelap dan kuran tepat untuk spesifikasi kamera HP saya. hehe...

3. Mie Ayam Tuban

Mie ayam ini adalah salah satu kuliner yang membuat teman saya sangat penasaran. Saya dan teman saya sempat mendatangi tempat ini di hari pertama kami di Surabaya. Tapi ternyata kami kehabisan mie ayamnya karena kami datang terlalu sore. Sekitar jam 3 sore. Baru hari kedua, kami berhasil mencicipi bagaimana rasa mie ayam Tuban yang katanya terkenal di sini.

Warungnya mie ayam Tuban ini ada di Jalan Indrapura. Letaknya masuk ke jalan kecil, persis di Kantor Pajak Kementerian Keuangan. Karena saya datang pas jam makan siang, warung menjadi sangat ramai dikunjungi orang-orang. Beruntung kami dapat segera mendapatkan kursi.

Siang itu, saya dan teman saya memesan satu porsi Mie Ayam Pangsit dan dua gelas teh manis hangat. Selain menu mie ayam pangsit, di sini yang menjadi pesanan banyak orang adalah Mie Ayam Bakwan. Setelah menunggu sekitar 10 menit, datanglah pesanan mie ayam kami.

Porsi mie ayam  pangsit disini terbilang cukup besar menurut saya. Tak salah memang jika kami hanya memesan satu porsi untuk berdua. Kuah mie ayam disajikan terpisah, dengan tambahan acar ketimun dan cabe.

Menurut saya, rasa mie ayam dan kuahnya biasa saja. Ya mungkin karena saya tak suka dengan jenis mie disini yang besar-besar dan tidak lembut, dan lebih suka kuah mie ayam yang cenderung manis ya. 

Harga mie ayam pangsitnya menurut saya mahal yaitu Rp. 13.000 per porsi. Tapi memang sih, jika satu porsi saja bisa dibagi dua seperti saya dan teman saya, hitungannya satu mangkok menjadi       Rp, 6.500. 

Ini satu porsi yang kami bagi menjadi dua mangkuk


4. Lontong Kupang dan Sate Kerang di Pantai Kenjeran

Ini adalah tempat kuliner yang terjauh yang saya tempuh selama di Surabaya. Bayangkan saja Hotel saya di daerah jalan Yos Sudarso, sedangkan warung lontong kupang ini ada di area Pantai Kenjeran.

Saya tak sempat foto lontong kupang dan sate kerang yang saya nikmati malam itu. Alasannya, ya karena HP saya mati karena lowbet. Sebagai gambaran, lontong kupang tersebut terdiri dari kupang (semacam kerang kecil-kecil), lontong yang sudah diiris-iris, lalu disiram dengan kuah. Rasa kupangnya tidak amis, dan kuahnya cukup enak dan segar. 

Yang cukup aneh di lidah saya justru sate kerangnya. Sate kerang disini tidak dimasak dengan dibakar, melainkan direbus dengan bumbu. Entah memang yang masak kurang ahli atau bagaimana, yang jelas saya terganggu dengan rasa kerangnya yang masih terasa amis. Ditambah lagi dengan petis yang digunakan di warung ini pun sangat amis. Saya yang biasanya sangat menyukai sate pun, hanya mampu menyantap dua tusuk sate saja.

Seporsi lontong kupang dihargai Rp. 5.000 sedangkan sate kerangnya Rp. 700/tusuk. Murah sekali memang. Sayangnya saya dan teman saya harus merogoh kocek 100 ribu untuk perjalanan bolak-balik dari hotel ke tempat ini. Hadududu....:(

5. Tahu Tek Haji Ali

Warung Tahu Tek Haji Ali terletak di sekitar Jalan Dinoyo Surabaya. Letaknya persis di pinggir jalan sehingga orang mudah sekali untuk mencarinya. Sebelumnya, saya pernah makan tahu tek di daerah Sidorjo, hanya karena warung ini terkenal di Surabaya, saya pun penasaran dengan rasanya.

Seporsi tahu tek terdiri dari lontong, tahu telur, dan kentang yang disiram dengan bumbu petis. Bahan-bahan tersebut disajikan dengan cara dipotong-potong dengan menggunakan gunting. Unik ya..Yang unik lainnya adalah tahu yang digunakan disini sudah dicampur dengan telur. Jadi kita tidak bisa hanya memesan tahu saja, karena otomatis setiap tahu itu sudah ada telurnya.

Petis yang digunakan disini tidak berbau sangat amis seperti yang digunakan pada warung sate kerang tadi. Tahu tek ini sangat nikmat bila didampingi dengan segelas teh hangat manis. Untuk seporsi tahu tek, dan satu tambahan tahu telur, krupuk dan segelas teh hangat, saya harus membayar sebesar Rp. 21.000. 
  
Tahu Tek Pak H. Ali
Seporsi tahu tek

6. Pecel Ponorogo Hj. Boeyatin

Ini dia kuliner terakhir yang sempat saya cicipi sebelum saya kembali ke Jakarta.Dan untungnya, kuliner ini letaknya sangat dekat dengan hotel tempat saya menginap.

Kesimpulan saya begitu melihat warung pecel ponorogo ini adalah menu sarapan orang Surabaya itu pecel ponorogo. Mungkin kalo di Jakarta bisa disetarakan dengan bubur atau nasi uduk yang dijadikan sebagai menu favorit sarapan.

Seporsi nasi pecel biasa seharga Rp. 13.000 terdiri dari nasi, sayuran (saya lupa jenis sayurannya..), bakwan jagung, tempe goreng dan "rempeyek" teri. Bagi yang ingin tambah lauk, di warung ini disediakan pula potongan daging empal, ayam goreng, telur asin, telur mata sapi, telur dadar, paru goreng, berbagai jenis sate, tahu bacem, tempe bacem, hingga otak telur.




Aneka lauk tersedia untuk dipilih
Ramainya pengunjung yang mengantri
Nasi pecel saya. Plus segelas teh hangat manis




Minggu, 23 Juni 2013

Pedasnya Sambel Setan Warung Cirebon Bu Mut Pejompongan

Awalnya datang kesini karena gak sengaja. Tadinya, saya dari arah Blok M hendak menuju ke arah Sarinah Thamrin. Tapi apa daya, Kopaja 19 yang saya melewati malah tidak bisa lewat Semanggi, dan malah berbelok ke arah Slipi dan menuju ke Tanah Abang melalui Pejompongan. Pas di sekitar perempatan Lembaga Administrasi Negara, saya sengaja turun karena yakin ke arah Tanah Abang pasti macet total akibat perayaan HUT Jakarta. Sembari menunggu Kopaja ke arah Blok M datang, ternyata pandangan mata saya terusik pada sebuah warung yang ada di sekitar jalan itu.


Warung Cirebon Sambal Setan Bu.Hj. Mut. Itulah nama warung yang langsung membuat saya penasaran. Apa sebab? Pertama adalah warung itu sangat-sangat ramai dikunjungi orang. Dan yang kedua adalah apa lagi kalau bukan nama "Sambel Setan" itu. Sebagai penggemar masakan pedas, langsung saja perut saya keroncongan mendengar istilah "Sambel Setan" tersebut.

Yang satu goreng, yang satu ngulek sambel (dok.pribadi)
Malam itu saya memesan ayam goreng bagian dada, sepiring nasi dan segelas es teh. Bagi yang ingin makan disini memang harus sabar untuk menunggu. Saat saya memesan saja, saya mesti menunggu sekitar 10 menit untuk dapat meja dan kursi kosong. Ya memang, jumlah meja dan kursi disini menurut saya terlalu sedikit, padahal pengunjung yang datang ramai sekali malam itu. Bahkan beberapa pengunjung makan sambil berdiri.


Ramenya pengunjung warung ini (dok.pribadi)
Tuh yang di luar lagi pada antri (dok.pribadi)

Tak lama setelah saya memesan, hidangan saya datang. Sepotong ayam goreng dada, sepiring nasi putih, segelas es teh, sepiring lalapan dan sepiring kecil Sambel Setan. Penasaran dengan rasa pedasnya, segera saja saya mengambil lalapan dan mencocolnya ke dalam sambal. Dan ternyata..rasanya benar-benar pedasssss..Saya saja sampai harus pesan segelas es teh lagi, segera setelah segelas es teh yang pertama ludes saya minum.

Pesanan saya malam ini (dok.pribadi)

Lalapan yang disajikan disini agak berbeda dengan di warung-warung biasanya. Di warung ini, lalapan seperti kacang panjang, buncis labu siam, dan kol sudah terlebih dahulu direbus. Hanya ketimun saja yang disajikan mentah. Malam itu lalapan yang saya dapatkan berupa buncis rebus dan ketimun.
Penampakan si "Sambel Setan" (dok.pribadi)
Jujur saja, rasa ayam gorengnya sih menurut saya biasa-biasa saja dan bumbunya kurang terasa. Tapi memang benar, sambel setannya yang ekstra pedas itu yang membuat saya lahap makan. Saya malah lebih suka makan sambelnya dengan lalapan rebus itu lho, mengingatkan saya akan masakan Ibu di rumah.

Harga makanan dan minuman disini standar seperti warung ayam goreng lainnya kok. Untuk satu potong ayam goreng dada, sepiring nasi plus lalapan dan sambel setan, dan dua gelas es teh, saya cukup merogoh kocek sebesar Rp. 21.000, dengan rincian Rp.15.000 untuk nasi plus ayam, lalapan , sambel, dan Rp. 6.000 untuk dua gelas es teh.

Buat kalian yang doyan banget masakan bercitarasa pedas, wajib banget datang ke tempat ini. Tempatnya mudah ditemukan kok. Jadi kalau kalian dari arah Benhil, dari perempatan LAN kalian tinggal belok kanan ke arah Tanah Abang. Letak warungnya sekitar 50 meter dari perempatan LAN tersebut.

Selamat berkuliner... :)

Kamis, 16 Mei 2013

Makan Hemat Di Chicken Story

Kejadian makan hemat ini baru saja saya alami tadi. Jadi ceritanya, saya dan pacar saya lagi jalan-jalan di Atrium Senen. Setelah selesai jalan-jalan cari tas buat ngantor, kami pun memutuskan untuk mengisi perut kami yang mulai kelaparan Chicken Story Atrium Senen yang ada di lantai 4.

Selamat datang di Chicken Story (dok.pribadi)
Tibalah saat memesan. Pilihan kami jatuh pada Ayam Bakar Spicy dan Ayam Bakar Madu Kurma. Urusan lauk beres. Dengan harga menu tersebut Rp. 17.000,00 ternyata kami belum mendapatkan nasi. Setelah membaca menu kembali, mata kami menemukan bahwa harga nasi putih satu piring adalah Rp. 6.000,00 dengan tambahan tulisan di dalam kurung (free refill).

Nasinya free refill kan (dok.pribadi)
Otak hemat kami berdua (ya memang kami pasangan hemat dan menolak disebut pelit #sikap) langsung berpikir "Bagaimana kalau pesan nasi putihnya satu saja, tapi kami langsung minta refill, jadi nanti kami mendapatkan 2 piring nasi. Satu piring kami bayar, satu piring refill dari yang kami bayar". 

Setelah berpikir seperti itu, kami pun bertanya kepada pramusaji yang melayani kami. 
"Mas, ini kan nasinya 6 ribu tapi free refill. Nah, bisa gak kalo kami cuma beli satu, tapi kami langsung minta direfill. Sehingga kami cukup bayar satu porsi, tapi dapat dua porsi?".

Tanpa diduga, pramusaji itu menjawab:
"Boleh Mas..."

Jeng jeng jeng...
Dan akhirnya, kami pun berhasil menghemat satu piring nasi putih seharga 6 ribu rupiah karena berhasil memanfaatkan fasilitas refill yang disediakan oleh Chicken Story sendiri. Kan lumayan         6 ribu rupiah bisa buat naik Metro Mini atau Kopaja tiga kali. Hehe...

Hasil makan hemat 6 ribu perak tadi (dok.pribadi)
NB: Terima kasih kepada pramusaji yang melayani kami tadi. :)

Selasa, 01 Januari 2013

Angkringan Dekat Perempatan Pasar Wage Purwokerto

Apa yang selalu saya rindukan akan Purwokerto?

Salah satu hal yang saya rindukan akan Purwokerto adalah nongkrong bersama teman-teman dan bercengkerama di sebuah angkringan pinggir jalan, sambil sesekali menyeruput segelas jahe susu ditemani sebungkus nasi kucing plus sate keong nan nikmat.

Hari minggu kemarin, usai mengikuti ibadat di Gereja St. Yoseph Purwokerto, saya sengaja berjalan kaki ke rumah melewati perempatan Pasar Wage. Saya sengaja berjalan melewati tempat itu karena saya ingin “berkunjung” ke tempat dulu saya dan teman-teman biasa nongkrong. Sebuah angkringan di dekat perempatan Pasar Wage Purwokerto.

Para pengunjung sedang memilih makanan
Waktu menunjukkan pukul 8 malam. Angkringan itu masih terlihat sepi. Hanya ada tiga pasang muda-mudi yang asyik mengobrol sembari menikmati hidangan di piring mereka. Suasana angkringan ini masih saja seperti dulu, hening jalanannya namun hangat suasananya.






Malam itu saya memesan segelas jahe susu panas serta dua bungkus nasi kucing dan sate keong. Untuk nasi kucing, sate keong dan makanan lainnya, pengunjung bisa langsung mengambil di meja penuh makanan yang ada di samping gerobak angkringan ini. Selain nasi kucing dan sate keong, menu yang tersedia di sini antara lain sate telor puyuh, sate hati ayam, serta gorengan-gorengan semacam mendoan, bakwan, pisang goreng, tahu, dll. Untuk menemani menyantap gorengan, tersedia pula ketupat beserta bumbu kacang yang bisa diambil sesuai selera.

Jahe susu disini rasa susunya lebih terasa daripada rasa jahenya. Ada sedikit kayu manis pada jahe susu yang saya minum. Untuk yang tidak suka jahe susu, pengunjung juga bisa memesan teh maupun kopi. Beragam serbuk kopi instan dalam sachet juga bisa menjadi pilihan di tempat ini.

Nasi kucingnya sendiri menurut saya agak kurang enak. Nasinya agak pera dan lauknya hanya sejumput oseng tempe. Di angkringan lain biasanya ada tambahan sambel atau seiris kecil ikan bandeng di setiap nasi kucing. Untungnya, di tempat ini menyediakan tambahan sambel kacang, gorengan atau sate-satean yang rasanya bisa untuk mengimbangi rasa nasi yang pera.

Harga makanan dan minuman di angkringan ini menurut saya cukup standar. Untuk menikmati segelas jahe susu, dua bungkus nasi kucing dengan sebuah sate kerang, saya cukup merogoh kocek sebesar Rp. 9.000 (sembilan ribu rupiah) saja. Di Purwokerto, harga sebesar itu masih bisa untuk membeli sepiring nasi goreng atau mie rebus tek-tek yang biasa berkeliling di malam hari. Namun nuansa jalanan Purwokerto yang lenggang di malam hari rasanya sepadan dengan harga itu. Apalagi dinginnya gerimis di malam itu membuat jahe susu semakin terasa nikmat di tenggorokan saya. Menghangatkan...

Kamis, 13 Desember 2012

Makan ala Kalong di Nasi Kalong Top Markotop Bandung

Pertama kali diajak teman ke tempat ini yang ada di bayangan saya adalah nasi dengan irisan daging kalong (baca: kelelawar) atau warung nasi di sebuah gua yang banyak kalong alias kelelawarnya. Ya lebay sih memang bayangan saya dan memang ternyata bayangan saya itu salah total.

Suasana Warung Nasi Kalong (dok.pribadi)

Di warung Nasi Kalong yang ada di Jalan Riau Bandung ini adalah warung yang menjual nasi dengan berbagai macam lauk. Yang unik disini adalah karena nasi yang digunakan disini adalah nasi beras merah, dan tak seperti nasi beras merah biasanya yang teksturnya cenderung keras atau "pera", disini nasi merahnya lembut dan berasa rempah. Enaklah pokoknya...

Untuk menunya, tersedia berbagai macam menu yang bisa dipilih sesuai selera. Menurut pegawai di warung ini, menu spesial sekaligus favorit para pengunjung adalah Ayam Madu dan Buncis Bakar. Karena penasaran, jadilah saya memilih kedua lauk tersebut dengan beberapa tambahan lauk seperti otak-otak dan tempura.

Ayam Madu disini terbuat dari daging ayam tanpa tulang yang sepertinya cara memasaknya dibalut tepung dan digoreng, lalu dimasak dengan madu. Bumbunya enak dan ayamnya terasa lembut sekali ketika digigit.

Selanjutnya, Buncis Bakar yang langsung menjadi menu favorit saya. Aroma buncis yang dimasak dengan cara dibakar benar-benar membuat nafsu makan saya meningkat. Teksturnya renyah dan segar, apalagi warna buncisnya sendiri masih hijau dan tidak layu.

Untuk otak-otaknya kita harus berhati-hati lho, terutama untuk yang tidak doyan pedas. Kenapa? Karena ada "granat" alias cabe rawit yang diselipkan di antara otak-otak tersebut.

Warung ini buka mulai pukul 19.00 sampai 03.00 WIB. Karena buka sampai tengah malam inilah kenapa warung ini disebut Warung Nasi Kalong. Kalong alias kelelawar kan memang hewan nocturnal yang aktif di malam hari. Betul kan..

Konsep warung ini adalah prasmanan alias pengunjung dapat mengambil makanannya sendiri,  dengan tata ruang outdoor yaitu dengan kursi dan meja yang ditata rapi di halaman warung tersebut. Cahaya di setiap meja sangat minim karena setiap meja hanya diterangi satu buah lilin. Mungkin karena kalong kan memang makannya sambil gelap-gelapan. Mungkin ya..

Satu hal yang masih ada di pikiran saya adalah bagaimana warung ini jika saat hujan mengingat konsep outdoor yang diusung warung ini. Memang sih beberapa meja sudah dilengkapi dengan payung.

Untuk harga, saya kurang tahu pasti harga tiap item menunya. Yang jelas, untuk makan ber-delapan orang, biaya yang dikeluarkan sebesar Rp. 348.000,-. Jadi sekitar Rp. 43.500 per orangnya. Mahal si menurut ukuran saya, karena saya hanya makan nasi beras merah, dengan sepotong Ayam Madu, sepotong tempura, sepotong otak-otak plus sesendok Buncis Bakar dan sambal. Minumnya cuma segelas teh tawar panas.

Buat yang penasaran bagaimana lezatnya Buncis Bakar dan Ayam Madu yang saya ceritakan, datang saja ke Jl. R.E. Martadinata (Riau) No. 102 Bandung.

Jangan lupa bawa tissue sendiri ya ketika kesini, karena saat makan disana saya tidak menemukan tissue di setiap meja maupun di dekat tempat pengambilan makanan.

Jumat, 29 Juni 2012

Mencicipi Hidangan ala Makassar di Rumah Makan Pelangi Wahid Hasyim

Ingin mencicipi hidangan ala Makassar seperti Es Palu Butung, Es Pisang Hijau atau aneka hidangan laut seperti ikan, udang, kepiting, dll? Untuk anda yang tinggal di Jakarta, tak perlu repot-repot pergi jauh ke Makassar. Cukup datang saja ke Rumah Makan Pelangi di Jln. Wahid Hasyim No 108, Jakarta Pusat, telepon 3103372. Untuk anda yang datang dari arah Sarinah, letak rumah makan ini ada di sebelah kiri jalan. Tepatnya di sebelah rumah makan AliBaba Steak dan Iga Bakar.

 Malam itu, saya dan dua teman saya mampir ke rumah makan ini karena salah seorang dari teman saya memang sedang semacam "ngidam" makan ikan di tempat ini. Ketika kami datang, sekitar pukul 7 malam, suasana di dalam rumah makan sudah cukup ramai. Untung saja, masih ada bangku dan meja yang tersisa untuk kami bertiga. Sedikit catatan, untung dapat bangku disini memang agak susah. Apalagi jam-jam makan. Karena rata-rata yang datang kesini untuk makan itu rombongan yang berkisar 4- 10 orang. Bisa dibayangkan bukan.

Suasana di dalam rumah makan

Tak lama setelah kami duduk, kami pun segera membaca daftar menu dan mulai memilih-milih menu apa yang akan kami santap malam itu. Setelah sesi pilih-pilih dan diskusi, kami pun sepakat menu Ikan Kerapu Bakar, Sup Baso Ikan Pelangi, Kangkung Terasi, dan Cumi Goreng Telur Asin. Awalnya kami hendak memesan Ikan Baronang Bakar. Sayang sekali si Ikan Baronang ini ternyata sudah laris terjual. Untuk minumnya kami awalnya hendak memesan Es Pisang Hijau. Ternyata Es Pisang Hijau pun sudah out of stock. Jadilah kami hanya memesan es teh manis dan teh manis hangat.
Sembari mengobrol hampir sekitar 10-15 menit, menu kami akhirnya datang juga. 

Menu malam kami

Mulai dari menu yang pertama yaitu Ikan Kerapu Bakar. Rumah Makan Pelangi ini melengkapi setiap sajian ikan bakarnya dengan tiga macam sambal dan irisan mangga muda. Sambal yang pertama yaitu sambal tomat dan terasi. Bagi saya sih, ini favorit saya, karena rasanya relatif lebih pedas dibandingkan 2 jenis sambal lainnya yaitu sambal dabu-dabu dan sambal yang saya-tak-tahu-namanya. Sambal dabu-dabu cocok jika anda ingin mencicipi sambal yang segar di mulut (menurut saya sih..hehe..). Sedangkan jenis sambal terakhir yaitu sambal yang saya-tak-tahu-namanya itu rasanya semacam ada rasa petis dan terasi. Cocok bila dipadukan dengan irisan mangga muda yang disediakan.

Ikan Kerapu Bakar
3 jenis sambel plus irisan mangga muda
Jujur saja sih saya lebih suka dengan ikan baronang daripada ikan kerapu. Karena ikan baronang memiliki daging yang lebih tebal dibandingkan kerapu. Daging kerapu lebih susah dipisahkan dari duri-durinya dibandingkan ikan baronang.

Menu berikutnya yaitu Cumi Goreng Telur Asin. Bagi saya yang tidak terlalu suka makanan yang keras digigit, menu ini cukup bisa berkompromi dengan gigi saya (dasar gigi orang tua, gak bisa gigit yang keras-keras..). Cumi dipotong-potong lalu digoreng tepung. Telur asinnya kurang terasa karena hanya berupa taburan saja, apalagi telur asin tersebut digoreng (saya juga masih bingung apa itu telur asin atau telur biasa).

Cumi Goreng Telur Asin
Selanjutnya yaitu Sup Baso Ikan ala Pelangi. Ini menu favorit saya malam ini. Kuahnya segar (sepertinya kuah sup ini adalah kaldu ikan..Ya iyalah). Isinya bermacam-macam yaitu baso ikan utuh, rumput laut (eh iya bukan ya..), potongan sayur, wortel, dan ayam. Nyam nyam nyam bukan...:-)

Sup Baso Ikan ala Pelangi

Menu terakhir adalah Kangkung Terasi. Menurut saya si standar ya. Kangkung ditumis dengan irisan cabe rawit, bawang merah, dan bawang putih. Di lidah saya, rasa terasinya sih kurang. 

Kangkung Terasi

Setelah selesai bersantap ria dan mengobrol, tibalah saatnya yang paling dibenci yaitu membayar. hehe...
Setelah dihitung-hitung, jumlah yang harus kami bayar atas apa yang sudah kami makan adalah
Rp. 214.500 dengan rincian.

1 Ikan Kerapu Bakar dengan berat 5 ons Rp. 75.000
1 Cumi Goreng Telur Asin Rp. 35.000
1 Kangkung Terasi Rp. 15.000
1 Sup Baso Ikan Rp. 46.000
3 Nasi Putih Rp. 15.000
2 Teh Manis Panas Rp. 6.000
1 Es Teh Manis Rp. 3.000

Jadi, bagi anda yang gemar hidangan laut yang disajikan dengan citarasa ala Makassar, wajib untuk mengunjungi Rumah Makan Pelangi ini. Saya kasih nilai 8 untuk Rumah Makan Pelangi. Yang kurang dari Rumah Makan Pelangi adalah tempatnya yang menurut saya agak kurang representatif. Jumlah bangkunya terlalu sedikit dibandingkan dengan jumlah pengunjung yang ingin makan di tempat ini.

Masa Pertumbuhan Kita

Kalian pasti pernah menerima ucapan dari teman atau saudara kalian dengan bunyi kira-kira seperti ini " Makan yang banyak ya. Kan lagi ...