Rabu, 26 Desember 2012

Jarak Saya - Selangor Hanya 5 Cm


Pasti semua kaget membaca judul tulisan saya di atas. Kok bisa jarak saya yang sekarang tinggal di Jakarta dengan Negeri Selangor di Malaysia sana cuma berjarak 5 cm saja?

Buat yang sudah membaca novel 5 cm karya Donny Dirgantoro pasti sudah bisa menebak-nebak apa maksud tulisan saya ini. Yap, dalam novel tersebut disebutkan bahwa:

“Jika kita punya mimpi, letakkanlah mimpi itu 5 cm dari keningmu, agar setiap kali kita membuka mata, kita akan selalu melihat mimpi tersebut sehingga akan membuat kita termotivasi untuk meraihnya. Dan yang harus kita lakukan selanjutnya adalah memiliki kaki yang melangkah lebih jauh, tangan yang lebih banyak bekerja, mata yang lebih lama melihat, lapisan tekad yang beribu kali lebih kuat dari baja, leher yang lebih sering melihat ke atas, hati yang akan lebih banyak dipenuhi cinta dan mulut yang akan terus berdoa.”

Jadi, apa mimpi saya sekarang? Apa yang ada berada 5 cm dari kening saya sekarang?

Mimpi saya sekarang adalah menjadi satu dari 20 orang yang akan terpilih untuk pergi ke Selangor, mengikuti aktivitas dengan penuh antusias, dan kembali ke Indonesia menjadi manusia baru. Manusia yang sudah percaya dan membuktikan kekuatan 5 cm yang ada di depan keningku, yaitu mimpi pergi ke Selangor.

Siapakah Aku?

Nama saya Robertus Benny Murdhani, seorang pemuda yang sangat percaya kekuatan mimpi dan selalu berusaha mewujudkan mimpi-mimpi yang ada, satu persatu. Saya adalah seorang blogger yang sudah aktif blogging sejak tahun 2009. Banyak menuliskan berbagai kisah, review, fiksi, atau sekedar curhatan hati di blog pribadi www.kamar-kata.blogspot.com

Saya sangat mencintai dunia jalan-jalan, dan sangat beruntung karena pekerjaanku sekarang telah membawaku pergi keliling Indonesia. Beberapa kota dan tempat di Indonesia yang sudah pernah saya kunjungi adalah Semarang, Yogyakarta, Batam, Pekanbaru, dan Bali.

Hal yang biasa saya lakukan ketika mengunjungi suatu tempat yang baru adalah wisata kuliner. Ya, memang dengan berat yang terbilang sangat kurus, hanya 47 kg dan tinggi 169 cm, tak banyak orang yang percaya kalau saya ini sangat hobi wisata kuliner. Tiap saya pergi ke luar kota, saya selalu menyempatkan diri untuk mencicipi makanan khas yang ada di kota atau tempat tersebut. Jika orang lain selalu mewajibkan belanja dalam itinerary mereka, maka saya mewajibkan wisata kuliner dalam itinerary saya. Simak saja beberapa tulisan seputar wisata kuliner di link ini.

Selain blogging, jalan-jalan dan wisata kuliner, aku memiliki hobi fotografi ala smartphone, dan sketching. Dan dua hobiku itulah yang selalu kulakukan tiap kali jalan-jalan. Jadi tiap kali berhenti di objek wisata atau tempat yang menarik, aku selalu menyempatkan sketching hal-hal menarik yang ada di tempat tersebut, seperti misalnya keadaan alam, souvenirnya, atau orang-orangnya. Namun, apabila ternyata kunjungan saya terbatas waktu, saya biasanya hanya menyempatkan mengambil beberapa foto sebagai kenang-kenangan.

Berikut foto dan sketsa sebagai dokumentasi perjalanan saya (sisanya ada di sini):













Kesimpulannya??

Selangor ada di 5 cm di depan kening saya. Saya sudah dan akan terus berusaha dan bekerja keras untuk mewujudkannya. Mari berani bermimpi seperti atau bahkan lebih dari saya. 

*diikutsertakan dalam Lomba My Selangor Story 2013. Info lengkap disini

Selasa, 25 Desember 2012

Demi Ucok, Antara Mimpi dan Kasih Orang Tua



Judul film: Demi Ucok
Tanggal rilis : 3 Januari 2013
Durasi : 79 menit
Sutradara: Sammaria Simanjuntak
Cast : Geraldine Sianturi, Mak Gondut, Saira Jihan, Sunny Sun


"Keberhasilan orang Batak itu ada 3 ukurannya, yaitu bisa menikah dengan orang Batak, punya anak Batak, dan punya menantu orang Batak."

Sebutlah seorang gadis bernama Gloria Sinaga (Glo), yang beprofesi sebagai seorang sutradara. Sejak film pertamanya sukses, karirnya seolah terhenti, dan film keduanya tak kunjung jadi juga karena tak ada produser yang mau membiayai film keduanya tersebut.Ia bermimpi film keduanya ini harus lebih sukses dan lebih serius digarap daripada film pertamanya.

Di sisi lain, ibunya yang bernama Mak Gondut terus memaksa dirinya untuk segera menikah dengan seorang Batak. Bahkan, Mak Gondut pun mengimingi-imingi dana produksi filmnya, asalkan Glo mau segera menikah dengan seorang pria Batak.

Apakah Glo akan berhasil mendapatkan produser yang akan membiayai filmya? Atau malah ia harus menerima tawaran Mak Gondut dan akhirnya menikah dengan pria Batak?

***

Membahas film ini, banyak sekali hal yang ingin saya bahas dalam review saya ini. Yang pertama adalah ternyata film Demi Ucok ini didukung oleh 10.000 co-producer (co-pro). Jadi, sejak tanggal 22 Desember 2011 yang lalu, tim Demi Ucok yang dikomandani Sammaria Simanjuntak sebagai producer, writer sekaligus director ini mulai melakukan pengumpulan dana dari sebesar Rp. 100.000 tiap co-pro dengan target sebesar 10.000 co-pro. Setiap co-pro akan mendapatkan sebuah souvenir dan nama mereka akan muncul dalam poster film.

Dan ternyata dari gerakan itu, tim Demi Ucok berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp. 251.487.000,00, yang digunakan untuk proses mastering dan distribusi hingga film ini dapat tayang di bioskop-bioskop di Indonesia.

Menarik bukan fakta tersebut....:))

Hal menarik yang kedua adalah meski film Demi Ucok ini baru premiere tanggal 22 Desember 2012 kemarin (saya berkesempatan hadir dalam acara tersebut..hehe), dan akan rilis di bioskop-bioskop tanggal 3 Januari 2013 (3-1-13, tanggal cantik bukan...), ternyata film Demi Ucok ini berhasil mendapatkan 8 nominasi dalam ajang Festival Film Indonesia 2012 yang lalu, dan berhasil mendapatkan 1 penghargaan kategori Pemeran Pendukung Wanita Terbaik untuk akting Mak Gondut.


Hal menarik ketiga, di film ini sang sutradara pun ikut bermain dalam film, plus tambahan cameo dari beberapa orang yang saya rahasiakan namanya. Ya biar pada penasaran dan jadi pada nonton gitu.

Jadi, buat yang tertarik tahu sekelumit kehidupan keluarga Batak, atau ingin melihat bagaimana sebuah film yang dibuat dengan dukungan dari 10.000 co-pro ini akhirnya rilis (setahu saya konsep seperti ini baru pertama kali di Indonesia), wajib datang ke bioskop-bioskop terdekat di kota Anda pada tanggal 3 Januari 2013.

Fakta menarik:
- Ternyata Mak Gondut adalah ibunda asli dari sang sutradara, Sammaria Simanjuntak.

Selamat menonton dan selamat tahun baru 2013...

*terima kasih untuk @detikHot untuk undangan premierenya yang saya menangkan dari kuis di twitter.
 



Kamis, 13 Desember 2012

Makan ala Kalong di Nasi Kalong Top Markotop Bandung

Pertama kali diajak teman ke tempat ini yang ada di bayangan saya adalah nasi dengan irisan daging kalong (baca: kelelawar) atau warung nasi di sebuah gua yang banyak kalong alias kelelawarnya. Ya lebay sih memang bayangan saya dan memang ternyata bayangan saya itu salah total.

Suasana Warung Nasi Kalong (dok.pribadi)

Di warung Nasi Kalong yang ada di Jalan Riau Bandung ini adalah warung yang menjual nasi dengan berbagai macam lauk. Yang unik disini adalah karena nasi yang digunakan disini adalah nasi beras merah, dan tak seperti nasi beras merah biasanya yang teksturnya cenderung keras atau "pera", disini nasi merahnya lembut dan berasa rempah. Enaklah pokoknya...

Untuk menunya, tersedia berbagai macam menu yang bisa dipilih sesuai selera. Menurut pegawai di warung ini, menu spesial sekaligus favorit para pengunjung adalah Ayam Madu dan Buncis Bakar. Karena penasaran, jadilah saya memilih kedua lauk tersebut dengan beberapa tambahan lauk seperti otak-otak dan tempura.

Ayam Madu disini terbuat dari daging ayam tanpa tulang yang sepertinya cara memasaknya dibalut tepung dan digoreng, lalu dimasak dengan madu. Bumbunya enak dan ayamnya terasa lembut sekali ketika digigit.

Selanjutnya, Buncis Bakar yang langsung menjadi menu favorit saya. Aroma buncis yang dimasak dengan cara dibakar benar-benar membuat nafsu makan saya meningkat. Teksturnya renyah dan segar, apalagi warna buncisnya sendiri masih hijau dan tidak layu.

Untuk otak-otaknya kita harus berhati-hati lho, terutama untuk yang tidak doyan pedas. Kenapa? Karena ada "granat" alias cabe rawit yang diselipkan di antara otak-otak tersebut.

Warung ini buka mulai pukul 19.00 sampai 03.00 WIB. Karena buka sampai tengah malam inilah kenapa warung ini disebut Warung Nasi Kalong. Kalong alias kelelawar kan memang hewan nocturnal yang aktif di malam hari. Betul kan..

Konsep warung ini adalah prasmanan alias pengunjung dapat mengambil makanannya sendiri,  dengan tata ruang outdoor yaitu dengan kursi dan meja yang ditata rapi di halaman warung tersebut. Cahaya di setiap meja sangat minim karena setiap meja hanya diterangi satu buah lilin. Mungkin karena kalong kan memang makannya sambil gelap-gelapan. Mungkin ya..

Satu hal yang masih ada di pikiran saya adalah bagaimana warung ini jika saat hujan mengingat konsep outdoor yang diusung warung ini. Memang sih beberapa meja sudah dilengkapi dengan payung.

Untuk harga, saya kurang tahu pasti harga tiap item menunya. Yang jelas, untuk makan ber-delapan orang, biaya yang dikeluarkan sebesar Rp. 348.000,-. Jadi sekitar Rp. 43.500 per orangnya. Mahal si menurut ukuran saya, karena saya hanya makan nasi beras merah, dengan sepotong Ayam Madu, sepotong tempura, sepotong otak-otak plus sesendok Buncis Bakar dan sambal. Minumnya cuma segelas teh tawar panas.

Buat yang penasaran bagaimana lezatnya Buncis Bakar dan Ayam Madu yang saya ceritakan, datang saja ke Jl. R.E. Martadinata (Riau) No. 102 Bandung.

Jangan lupa bawa tissue sendiri ya ketika kesini, karena saat makan disana saya tidak menemukan tissue di setiap meja maupun di dekat tempat pengambilan makanan.