Minggu, 27 Oktober 2013

Selamat Hari Blogger Nasional

Tepat hari ini, tanggal 27 Oktober, enam tahun yang lalu, perhelatan Pesta Blogger untuk yang pertama diadakan. Dan, M.Nuh yang saat itu menjabat sebagai Menkominfo pun berinisiatif mencanangkan tanggal 27 Oktober sebagai Hari Blogger Nasional.

Berbicara mengenai menjadi blogger, saya mulai menulis di blog saya ini di tahun 2009. Jadi saya resmi menjadi blogger sudah lebih dari 4 tahun, tepatnya 4 tahun 4 bulan 25 hari karena postingan pertama saya adalah di tanggal 2 Juni 2009 (lihat postingan saya disini). 

Memelihara sebuah blog itu menurut saya gampang-gampang susah. Sisi gampangnya adalah kita bisa saja menyalin atau menjiplak tulisan orang lain lalu mempostingnya di blog kita. Tapi itu sangatlah haram hukumnya bagi saya. Bagi saya lebih baik saya hanya memposting beberapa kalimat saja, daripada memposting artikel panjang tapi hasil jiplakan karya orang lain.

Nah, yang sering terjadi dari memelihara sebuah blog adalah justru sisi susahnya. Ada susah mencari ide tulisan, susah menjaga mood untuk menulis, susah untuk membuat tulisan yang enak dibaca, dan lain sisi susah lainnya. Saya sendiri termasuk blogger yang agak susah menjaga konsistensi mengisi blog saya ini dengan tulisan. Tulisan saya sebelum postingan ini adalah pada tanggal 13 Oktober 2013, itu akhirnya sudah 14 hari alias 2 minggu blog saya ini puasa tulisan baru.

Cerita apa lagi ya?????

Oh iya, mengenai manfaat ngeblog aja ya.
Ngeblog itu bagi saya banyak sekali manfaatnya. Yang pertama adalah dari ngeblog saya bisa belajar untuk mengemukakan pendapat secara sistematis. 

Jadi begini. Saya ini seringkali tidak sistematis ketika mengemukakan pendapat yang efeknya akan membuat orang kebingungan ketika berbicara dengan saya. Nah, dengan ngeblog ini, saya belajar untuk menulis secara lebih terarah dan sistematis. Saya tak tahu sih apa cara mengemukakan pendapat saya sekarang ini ketika berbicara sudah lebih sistematis atau belum, tapi yang jelas saya merasa lebih baik daripada saya sebelumnya.

Nambah temen. Ya memang saya bukan termasuk selebblog (istilah untuk blogger yang terkenal) dan blog saya pun tidak termasuk terkenal di kalangan para blogger. Tapi hasil dari ngeblog ini, saya bisa kenalan dan nambah teman, terutama saat sedang kopi darat seperti pada acara Pesta Blogger dan acara sejenisnya. 

Bisa jadi penghasilan atau dapat hadiah.
Nah kalau yang satu ini sih belum kejadian pada saya. Saya sempat memang mengikuti beberapa lomba blog, tapi sampai saat ini belum pernah mendapat hadiah alias menang pada lomba blog tersebut. Semoga ke depannya saya bisa ikutan dan menang lomba blog ya. Amin (numpang doa ya. :)

Akhir kata, cukup sudah tulisan saya ini. 

Lho kok begitu aja ben tulisannya?
Ya karena saya harus melakukan hal yang darurat. Apa itu? Makan malam. Gak jelas? Ya memang. :P

Mengulang judul tulisan saya ini, Selamat Hari Blogger Nasional ya teman-teman blogger semua. Buat yang belum ngeblog, ayo buruan ngeblog. Buat yang sudah ngeblog, ayo semakin rajin ngeblog. Percaya deh, sesederhana dan se-"gak penting" apapun tulisan kalian, pasti di luar sana ada orang yang menganggap tulisan kita penting. Ya minimal pacar atau pasangan kalian lah. Ya kan..:)

Minggu, 13 Oktober 2013

30 Hari Tanpa "Zona Nyaman" Smartphone

sumber: http://www.littlehouseliving.com

Tulisan ini bukan merupakan sebuah ajakan untuk membuang smartphone kamu dan bertahan untuk tidak memakainya selama 30 hari. Bukan. Ini bukan tentang itu. Tulisan ini lebih menjadi semacam "refleksi" bagi saya yang sampai hari ini sudah 22 hari menjalani aktivitas sehari-hari tanpa smartphone. Itu artinya saya memulai tak menggunakan smartphone pada tanggal 21 September 2013.

Baru 22 hari kok ditulisnya 30 hari? Ya karena memang target saya adalah bisa melewati hidup saya 30 hari tanpa smartphone.

Sebelum tanggal 21 September, saya adalah seseorang yang aktif di sosial media menurut ukuran teman-teman saya, ya meskipun saya bukanlah seorang buzzer atau selebtwit yang rajin sekali ngetwit atau bikin status di Path. Tak heran, keaktifan di sosial media tersebut membuat saya sangat sering sekali membuka smartphone saya (waktu itu saya punya HP Android.). Bangun pagi langsung ngecek HP. Mau makan, foto makanan dulu buat update Instagram atau Path. Pokoknya, hidup saya sangat-sangat sering terfokus hanya pada HP saya. Bahkan seringkali, saat kerja di kantor pun menjadi tidak fokus gara-gara asik ngetwit (ampun boss...hehe..).

Dan, tepat tanggal 20 September malam, semua itu lenyap begitu saja. HP saya dicuri pada saat saya sedang naik bus Kopaja menuju rumah.

Awalnya, saya merasa benar-benar kehilangan suatu "kebiasaan-kebiasaan" seperti ngetwit kapanpun, ngecek Path, atau buka email setiap waktu. Ya memang, saya masih saja bisa melakukan kegiatan-kegiatan tersebut melalui laptop saya. Tapi kan, tidak mungkin juga saya membuka laptop saya di bus Transjakarta atau Kopaja, hanya untuk mengecek email atau twitter kan. 

Sehari setelah saya kehilangan HP saya, sempat terpikir saya untuk langsung membeli smartphone yang baru lagi. Tapi, kemudian saya berpikir apa saya harus langsung membeli smartphone lagi, sedangkan sebelum kehilangan HP yang ini, sebulan sebelumnya pun saya sudah kehilangan sebuah smartphone.Kemudian, setelah berpikir baik-baik, saya pun memutuskan untuk selama 30 hari tidak menggunakan smartphone, dan hanya akan menggunakan HP yang cuma bisa SMS dan telepon saja.

Sulit, sungguh sulit memang menghilangkan kebiasaan untuk tiap waktu mengecek HP. Tapi lama kelamaan, kebiasaan-kebiasaan tersebut bisa sedikit demi sedikit hilang. Bahkan saya merasa, hasrat saya untuk bersosial media pun semakin merasa turun. Setelah 22 hari ini tanpa smartphone, saya merasa ternyata memang menggunakan smartphone memiliki efek negatif.

Salah satu efek negatif yang saya baru benar-benar saya sadari adalah betapa sebuah smartphone menjadi sebuah "zona nyaman" bagi seseorang. Saya tak mau bilang bahwa "zona nyaman smartphone" itu buruk. Tapi ketika seseorang selalu menjadikan "zona nyaman smartphone" sebagai pelarian dari lingkungan yang tidak nyaman di sekitarnya, maka saya memandang itu menjadi sebuah hal yang negatif.

Kalian sering tidak ketika ada di sekelompok orang yang baru saja kalian kenal, lalu kalian merasa tidak nyaman dengan orang-orang baru tersebut, dan akhirnya kalian pun menyibukkan diri dan tenggelam dalam "kenyamanan" yang ditawarkan oleh smartphone kalian.

Sebelumnya, saya pun menjadi orang yang seperti itu. Cuma ketika saya kehilangan "zona nyaman smartphone" tersebut, saya pun memaksa diri saya untuk sedikit berubah. Saya "memaksa" diri saya untuk belajar lebih mendengarkan perkataan orang-orang yang sedang berbicara kepada saya dan menanggapi perkataan mereka. Karena sungguh, ketika kita bertemu sahabat-sahabat atau teman-teman dekat kita, dan mereka disibukkan dengan smartphone masing-masing, sedangkan kita tak punya smartphone, rasanya sungguh tidak enak. 

Saya memang tak berniat untuk selamanya tak menggunakan smartphone, karena memang saya masih butuh beberapa aplikasi yang hanya ada di smartphone untuk mendukung kegiatan sehari-hari saya. Tapi semoga, setelah pelajaran 30 hari tanpa "zona nyaman" smartphone ini, saya lebih bijak dalam menggunakan smartphone. Intinya sih, keseimbangan antara dunia maya dan dunia nyata. Belajar lebih mendengarkan orang dan menanggapinya. Betul kan. :)