Sabtu, 28 Desember 2013

Review Buku : "Mr.Ambassador, Dari Wartawan Foto Menjadi Duta Besar" dari M. Indro Yudono

sumber foto: (Gramedia.com)


Judul buku :  Mr.Ambassador, Dari Wartawan Foto Menjadi Duta Besar
Penulis : M. Indro Yudono
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 274 hlm
Terbit : Agustus 2013

Menjadi seorang diplomat lalu berkeliling dunia, mengenalkan Indonesia kepada khalayak internasional sudah lama menjadi impian saya. Cita-cita itu pernah sangat terasa dekat ketika saya mengikuti serangkaian tes untuk menjadi seorang diplomat di Kementerian Luar Negeri tiga tahun lalu. (Baca pengalaman saya disini). Sayang sekali saya belum dapat lolos dalam tes tersebut. Akhirnya, impian saya untuk berkeliling dunia sebagai seorang diplomat pun saya kubur dalam-dalam. Namun impian saya tersebut, sedikit terangkat kembali usai saya membaca buku "Mr. Ambassador, Dari Wartawan Foto Menjadi Duta Besar" ini.

Pertama kali saya tertarik dengan buku ini bukan karena saya tertarik dengan judulnya, tetapi karena di sampul buku ini terdapat sebuah stiker bertuliskan "Peraih Bronze Trophy Cover Terbaik Pinasthika Award 2013". Jadi awalnya saya tertarik membeli karena saya tertarik dengan sampul buku ini. Baru setelah saya membaca keseluruhan buku ini, baru saya menyimpulkan bahwa isi buku ini jauh lebih menarik bagi saya, dibandingkan desain sampulnya.

Buku "Mr. Ambassador, Dari Wartawan Foto Menjadi Duta Besar" merupakan buku karya M. Indro Yudono, seorang duta besar yang mengawali karirnya dari seorang wartawan foto di IPPHOS hingga puncak karirnya menjadi seorang Duta Besar Luar Biasa dan Berkasa Penuh di KBRI Swiss di tahun 2001-2005. Buku ini berisi 23 kisah dari sang Duta Besar mulai dari pengalaman beliau selama menjadi wartawan foto di IPPHOS (dari buku ini pula saya mengetahui apa itu IPPHOS), masuk ke Departemen Luar Negeri (selanjutnya saya sebut Deplu), hingga penugasan demi penugasan dari Deplu dan akhirnya beliau menjadi seorang Duta Besar Luar Biasa dan Berkasa Penuh di KBRI Swiss hingga tahun 2005 lalu.

Dalam buku ini, Pak M. Indo Yudono (selanjutnya saya sebut dengan Pak Indro) tak hanya mengisahkan cerita-cerita seputar pekerjaannya sebagai seorang diplomat saja. Di buku ini kita bisa melihat kisah-kisah lain dari beliau seperti misalnya bagaimana kisah perjodohan antara Yeyen, seorang Kepala Rumah Tangga pada saat Pak Indro bertugas di KJRI Hamburg, Jerman, dengan Paul, seorang kebangsaan Belanda. 

Tulisan favorit saya di buku ini adalah tulisan berjudul "Jenjang Pendidikan yang Kutempuh", dimana Pak Indro menceritakan pendidikan apa saja yang ia tempuh selama bekerja menjadi diplomat, termasuk di dalamnya pengalamannya seputar Sekolah Dinas Luar Negeri, Sekolah Staf Dinas Luar Negeri Tingkat Madya, dan Sekolah Staf dan Pimpinan Deplu. Impian saya menjadi diplomat menjadi sedikit terobati begitu membaca bagian ini.

Ada kisah menarik dibalik penulisan buku ini. Berdasarkan artikel disini, ternyata penulisan buku ini benar-benar sebuah perjuangan bagi Pak Indro, karena dalam kurun waktu sekitar delapan bulan ia menulis, beliau harus bolak-balik ke rumah sakit, termasuk amputasi satu lututnya karena infeksi. Bahkan, sekitar tiga perempat naskah diketik beliau dengan satu jari tangan kanan akibat penyakit Parkinson.
 

Jumat, 27 Desember 2013

Asyiknya Dapat Coffee Maker

Apa jadinya kalau seorang yang gemar minum kopi seperti saya ini kemudian mendapatkan sebuah hadiah Coffee Maker?

Jadi ceritanya 9 hari yang lalu, saya membaca sebuah pengumuman lomba blog di website Kompasiana, dengan tema "Lestarikan Aset Wisata". Lomba ini merupakan hasil kerjasama Kompasiana dengan Kemenparekraf (kementerian ini memang paling gencar bikin lomba blog. :)). Karena tertarik dengan temanya dan kebetulan saya punya sedikit cerita mengenai pengalaman ketika mengunjungi Museum Taman Prasasti Jakarta, maka saya bulatkan tekad dan niat untuk ikut lomba blog ini. Setelah ketik-ketik lebih kurang 3 jam, jadilah sebuah tulisan yang berjudul Mari Selamatkan Warisan Sejarah Kita di Museum Taman Prasasti Jakarta, yang segera saya daftarkan di lomba tersebut. 

Setelah menunggu sekitar 9 hari, tepat tanggal 27 Desember 2013, pengumuman nama-nama pemenang lomba blog diposting oleh Kompasiana. Dan...jeng-jeng.... Puji Tuhan nama saya muncul menjadi juara ketiga dan berhak mendapatkan hadiah sebuah Philips Coffee Maker HD 7448. 


Horeeeeee.......

Ada dua hal yang membuat saya sangat senang untuk kemenangan ini. Yang pertama ya karena untuk pertama kalinya saya bisa menang lomba blog. Sebelumnya saya sudah pernah mengikuti beberapa lomba blog, apalagi yang berhadiah sebuah smartphone, tapi belum pernah menang. Dan akhirnya setelah beberapa kali belum berhasil, akhirnya saya bisa memenangkan sebuah lomba blog. Semoga setelah ini saya jadi tambah rajin ikutan lomba blog dan bisa kembali menang.

Alasan kedua, ya karena memang saya doyan ngopi. Jadi ya pas sekali kalau saya mendapatkan sebuah coffee maker. Memang sih, saya saat ini lebih butuh sebuah smartphone, tapi Tuhan sepertinya memang ingin memberikan saya coffee maker agar saya minum kopi dan mata jadi tidak ngantuk. Saya ini kan memang orangnya sering tidur larut malam, terutama kalau lagi asyik nulis di blog, baca artikel atau nonton bokep eh.. :)

Hadiahnya belum ada di tangan saya. Tapi saya tadi sudah coba cari lewat Google dengan keyword "Philips Coffee Maker HD 7448". Cakep juga ternyata bentuknya si coffee maker ini. Jadi gak sabar ingin minum kopi hasil dari alat ini. Apakah se-numero uno dibandingkan Torabika Cappucino (eitsss..iklan gratis).


sumber foto : http://bit.ly/1fMIF47

Jadi. kesimpulannya, ayo berani ikutan lomba blog. Pasti suatu saat kamu juga bisa menang.

Minggu, 15 Desember 2013

Prompt #32: Sinar Matanya

Bayi lelaki itu merangkak mendekatiku. Dia berhenti di beberapa langkah dari tempatku berdiri. Pandangan kami beradu. Kurasakan kedua matanya seperti sebilah pedang yang mengoyak-ngoyak pikiranku dan meminta pertanggungjawaban atas apa yang telah kulakukan.

Kucoba untuk menggerakan kakiku ke belakang. Kakiku bergeming. Seakan ribuan ton besi terikat di pergelangan kakiku, membuatnya tak bisa bergerak bahkan satu sentimeter pun.

“Mama…” kata bayi itu. “Kenapa engkau membunuhku?”

Bayi itu terus saja merangkak perlahan mendekatiku. Kakiku bergeming dan lidahku kelu. Bibirku terus mencoba untuk berteriak, tapi tak sedikit pun suara keluar dari dalam tenggorokanku.

“Mama….Kenapa engkau membunuhku?” ucap bayi lelaki itu sekali lagi.

Tenagaku seakan terkuras habis berusaha untuk menggerakan kakiku yang tak kunjung bisa bergerak. Keringat dingin turun membasahi sekujur pakaianku seiring dengan semakin dekatnya bayi itu denganku.

“Maafkan mama Nak. Mama cuma belum siap menjadi bahan omongan orang lain”, kataku tiba-tiba. Ajaib. Mulutku kembali bisa bicara.

Sorot mata bayi itu menunjukkan amarah yang berapi-api begitu mendengar permintaan maafku tadi. Sepertinya dia tak bisa terima alasanku.

Ketika bayi lelaki yang berlumuran darah itu telah berjarak sekitar sejengkal dari kakiku, tiba-tiba semuanya menjadi gelap dan menghilang begitu saja.

Suara itu. Aku hafal benar suara itu. Suara dari alarm telepon genggamku yang sengaja kuatur agar membangunkanku setiap pagi.

Kubuka mataku perlahan sembari tanganku berusaha mencari-cari telepon genggamku. Begitu tanganku mendapatkan apa yang dicarinya, kulihat layar teleponku tadi. Ternyata suara berdering tadi bukanlah bunyi alarm tanda aku harus bangun. Suara dering tadi adalah bunyi dering tanda ada yang meneleponku.

Begitu kuangkat teleponku, telingaku langsung disambut suara nafas yang terengah-engah seperti suara orang yang baru saja berlari dikejar sesuatu.

“Nino, kamu kenapa telepon aku pagi banget gini?” tanyaku kepada Nino, pemilik suara terengah-engah tersebut.

“Aku baru aja mimpi buruk, Sis”, jawab Nino. “Aku mimpi dikejar-kejar bayi lelaki dengan sorot mata yang tajam dan penuh amarah.”

Aku terdiam begitu mendengar penjelasan Nino tadi. Bukan. Bukan karena teringat pada mimpi buruk yang baru saja aku alami tadi. Tapi, karena kini di ujung ranjangku, bayi lelaki dengan mata penuh amarah itu muncul. Bergerak dan merangkak menuju pangkuanku.

“Mama…….Kenapa engkau membunuhku?”

Sabtu, 14 Desember 2013

Perpustakaan Freedom Institute, Tempat Kopi Darat Paling Seru Di Jakarta Menurut Gue

Seperti apa sih tempat kopi darat paling seru menurut kalian? Ada yang bilang Taman Suropati, ada yang bilang Monas, ada yang bilang kafe ini lah kafe itu lah. Memang setiap orang punya kriteria masing-masing dalam menentukan tempat kopi darat yang paling seru. Mungkin buat yang hobi dengan sejarah, museum adalah tempat kopi darat paling seru. Yang hobi ngopi, sudah pasti sederet pilihan kafe di Jakarta menjadi pilihannya. Nah kalau saya sendiri bagaimana? Seperti apa tempat kopi darat paling seru?

Buat saya yang hobi membaca buku, maka tempat kopi darat yang paling seru syaratnya ya pasti harus ada koleksi buku yang bisa dibaca gratis. Soal tempat, yang pasti sih harus nyaman untuk membaca. Kan ga mungkin juga membaca buku dalam keadaan gelap-gelapan atau basah-basahan (itu pacaran atau nyuci baju tuh.hehe…). Karena saya hobi ngeblog juga (biar kayak teman-teman Kopdar Jakarta :D ), maka hotspot area alias WIFI yang gratis sudah pasti menjadi salah satu syarat sebuah tempat bisa dijadikan tempat kopi darat yang seru. Syukur-syukur, di dekat tempat itu ada kafenya juga, jadi kalo pas lagi tajir (ya sekitaran tanggal 1 tiap bulan lah) bisa gitu “ngopi-ngopi tampan” bersama teman-teman yang cantik. #eh *ditabok pacar*

Memang ada ben tempat kayak gitu?

Ada dong. Dan nama tempatnya adalah Perpustakaan Freedom Institute.

HAHHHH? Tempat apaan itu? Kok aku baru denger?

Perpustakaan Freedom Institute, selanjutnya saya sebut dengan Perpustakaan Freedom, adalah sebuah perpustakaan umum yang terletak di Jalan Proklamasi 41, Jakarta. Buat yang mau kesini, ada beberapa pilihan transportasi. Kalian bisa naik taksi dengan ongkos sangat tergantung darimana kalian berada dan kondisi jalan apakah macet atau enggak (ya iyalah bro.Nenek gue juga tau..). Bisa juga naik bis PPD 213 jurusan Kampung Melayu- Grogol. Terakhir kali naik sih ongkosnya 3 ribu perak.

Yuk mari kita bahas fasilitas apa yang ada di Freedom Institute sehingga saya menobatkannya sebagai tempat kopi darat paling seru versi Om Benny a.k.a saya sendiri.

1. Koleksi Bukunya Mantap


Ini alasan pertama kenapa saya bilang Freedom Institute ini jadi tempat kopi darat paling seru di Jakarta. Pertama kali datang ke tempat ini, saya serasa anak kecil yang dapat hadiah di hari ulang tahunnya (admin Kopdar Jakarta dapat apa ni di ulang tahunnya..hehe). Seneng banget rasanya berada di antara barisan rak-rak penuh buku. Dan yang bikin saya lebih senang adalah karena sebagian besar buku-buku yang ada di tempat ini adalah buku-buku langka yang sulit dicari di pasaran, dan umumnya ditulis menggunakan bahasa Inggris.

Dari informasi yang saya dapat di website resmi mereka di www.freedom-institute.org, hingga April 2008, koleksi buku yang mereka miliki sudah mencapai 11401 eksemplar dengan genre filsafat, agama, sosiologi, politik, ekonomi, studi-studi tentang demokrasi dan transisi ke demokrasi di sejumlah negara, globalisasi, dan sastra. Itu belum termasuk jurnal ilmiah dan majalah-majalah yang juga menjadi koleksi Perpustakaan Freedom ini.

Sayangnya buku-buku disini tidak boleh dipinjam. Ya mungkin karena buku-bukunya yang bersifat langka tersebut. Tapi jangan khawatir, karena meski tidak boleh meminjam, pengunjung diperbolehkan untuk memfotokopi buku yang mereka mau, tentunya melalui fasilitas layanan fotokopi yang ada di tempat ini. Teman-teman blogger Kopdar Jakarta yang masih menyusun skripsi atau tesis tapi malas datang ke tempat sini, bisa juga lho melalui telepon, e-mail, atau yahoo messenger. Informasi cara pemesanannya bisa dilihat di artikel ini. Di zaman smartphone seperti sekarang ini, mungkin saja @XL123 bisa bekerjasama dengan Perpustakaan Freedom untuk membuat aplikasi katalog buku sekaligus pemesanan fotokopi. Kan enak juga, sambil tiduran di rumah bisa pesen fotokopi buku.

Pengumuman Fotokopi. (dok.pribadi)

2. Fasilitas Internet dan Wifi Gratis

Teman-teman Kopdar Jakarta abis baca buku terus mau posting di blog? Bisa banget tuh. Freedom Institute ini menyediakan fasilitas computer yang tersambung dengan internet. Jadi begitu dapat inspirasi dari buku, bisa langsung tuh buat diposting di blog masing-masing.

Tapi aku bawa laptop sendiri kak?

Buat yang bawa laptop sendiri, kalian juga bisa kok menggunakan internet dengan menggunakan WIFI yang juga gratis disediakan. Mau ngetwit dengan smartphone kalian masing-masing juga bisa kok.

Terus kalau WIFI disini lagi mati gimana kak?


Tenang saja. Kalian bisa menggunakan modem kalian masing-masing untuk internetan disini. Provider yang saya rekomendasikan sih pastinya @XL123 karena saya sudah mencoba sendiri internetan menggunakan koneksi HSDPA @XL123 yang super kenceng.

Tapi aku gak punya modem kak?

Ya sudahlah. Baca buku saja dan ga usah internetan. Kan kalian ga mau kan kalo saya jawab "Ya beli dulu sana."

3. Gedung dan Interiornya Keren

Interior di dalam Perpustakaan Freedom ini keren abis menurut saya. Warna-warna kayunya membuat hangat suasana di tempat ini. Di tempat ini juga terdapat bangku-bangku buat teman-teman blogger Kopdar Jakarta ngumpul dan saling berdiskusi.



Rak-rak berjejer penuh buku (dok.pribadi)


Suasana di dalam Perpustakaan Freedom (dok.pribadi)
Buat yang mau narsis, teman-teman Kopdar Jakarta juga bisa foto-foto di salah satu sudut dinding Perpustakaan Freedom juga terdapat foto-foto Presiden RI yang pernah dan masih menjabat, dengan beberapa kutipan dari para pemikir-pemikir terkenal di dunia. Seperti yang ada di foto di bawah ini, bunyi kutipannya adalah “to rule is easy, to govern is difficult” dari Goethe.

Salah satu sudut dinding di Perpustakaan Freedom (dok.pribadi)
Oh iya. Masih satu gedung dengan Perpustakaan Freedom, terdapat Ballroom Freedom Institute. Saya sih ngebayangin bagaimana kalo suatu saat Kopdar Jakarta dan @XL123 bekerjasama untuk membuat semacam workshop atau seminar seputar dunia blogging. Kan banyak tuh ahlinya di Kopdar Jakarta.

4. Dekat Dengan Kafe

Kebiasaan saya kalau abis baca buku adalah makan. Ya mungkin karena otak saya lelah berpikir saat membaca, sehingga memerintahkan perut untuk mencari energi lewat makanan (sok ilmiah banget yakkk..). Nah, buat teman-teman Kopdar Jakarta yang abis diskusi atau baca buku di Perpustakaan Freedom dan merasa lapar atau haus, langsung saja melangkah menuju ke Kafe Proklamasi yang letaknya satu kompleks dengan Perpustakaan Freedom.

Saya sendiri belum pernah makan dan minum di Kafe Proklamasi ini sih (pas kesana pas bokek terus.hehe..), tapi dari luar si sepertinya makanan dan minuman di kafe ini enak. Buktinya banyak sekali yang berkunjung dan nongkrong di kafe ini. Kalau ada teman-teman Kopdar Jakarta atau tim dari yang mau traktir di tempat ini, boleh juga lho kalau ngajak saya.

Yakkk, itu tadi alasan-alasan mengapa saya memilih Perpustakaan Freedom sebagai tempat kopi darat paling seru di Jakarta. Syukur syukur penyerahan hadiah untuk para juara Lomba Blog dalam rangka Ulang Tahun Kopdar Jakarta Ke-5 ini bisa diadakan di Ballroom Freedom Institute ini, jadi teman-teman Kopdar Jakarta dan @XL123 bisa sambil tahu bagaimana keren dan serunya Perpustakaan Freedom yang saya ceritakan tadi. Dan syukur-syukur juga, saya bisa jadi salah satu juaranya. Amin.

Akhir kata, Selamat Ulang Tahun Kopdar Jakarta. Semoga semakin jaya di dunia online offline.

http://kopdarjakarta.com/2013/11/29/lomba-blog-ulang-tahun-ke-5-kopdar-jakarta/#comment-6926


NB:

- Foto-foto di atas merupakan koleksi pribadi saya. Sayangnya beberapa foto yang ada di smartphone saya tidak sempat saya simpan di laptop, dan keburu hilang diambil pencuri.

- Tadinya mau nulis pake kata ganti "gue". Tapi berhubung kenyataannya kata "gue" versi saya terasa medok sekali, jadi akhirnya pake kata "saya" saja.


Tanpa Judul



Bunyi gemuruh petir menyambar masih terdengar dari luar rumahku. Tetesan hujan seakan mengisi seluruh ruang pendengaranku malam ini. Sudah sejak pukul 6 sore tadi hujan mengguyur kawasan rumahku. Sepertinya langit begitu rindu pada bumi, hingga ia menangis tiada henti.

Disini, aku tengah terbaring di atas ranjangku. Tanganku masih lincah di antara tombol-tombol laptopku. Terus menari seakan tak kenal lelah. Mencoba menyusun kata demi kata yang menyesakki pikiran dan minta untuk dikeluarkan. Baris demi baris tersusun rapi, berjajar membentuk paragraf-paragraf.

Aku, disini. Di bawah udara yang tengah dicumbu hujan.
JIka hujan saja berani mencumbu udara yang tak pernah membalas cumbuannya
Kenapa aku tak punya setitik keberanian untuk menyampaikan rasa ini kepadamu

Rasa ini terlalu besar untuk kusampaikan lewat bibirku yang kecil
Bahkan untuk mengalir dari hatiku saja sulit
Aku takut pembuluh darahku akan pecah jika dilewatinya

Raksasa rasa di hati kecilku.
Meraja meski tak memiliki ratu
 Tertawa meski tak bahagia

- 14 Desember 2013 -


Kamis, 12 Desember 2013

Pamuji, Contoh Tanggung Jawab Terhadap Pekerjaan

Selalu ada hikmah dari sebuah musibah. Dan ada selalu ada pelajaran berharga dari sebuah masalah.
Tak terkecuali dari peristiwa musibah tabrakan antara mobil tangki dengan kereta rel listrik (KRL) di daerah Tangerang Selatan beberapa hari yang lalu. Salah satu pelajaran yang menurut saya berharga dari  peristiwa tersebut adalah mengenai dedikasi terhadap pekerjaan.

Dari artikel yang saya baca disini, diceritakan bahwa Pak Pamuji, penjaga perlintasan rel dimana terjadinya peristiwa tabrakan tersebut tetap berada di dekat mobil tangki sampai dengan detik-detik terjadinya tabrakan. Ia tetap berusaha untuk mengingatkan sopir mobil tersebut untuk menjalankankan kendaraannya guna menghindari tabrakan. Meski telah berusaha, akhirnya tabrakan pun tetap terjadi, persis di depan matanya.

Dalam artikel tersebut terdapat kata-kata seperti ini:

Saat ditanya mengapa ia tidak melarikan diri saat kereta datang dari arah stasiun Pondok Ranji, Pamuji mengaku ia masih memikirkan tanggungjawabnya terhadap pintu perlintasan itu. Hingga saat-saat terakhir sebelum tabrakan, ia masih berusaha mengingatkan sang sopir.

"Tanggung jawab saya itu membuat perjalanan kereta aman, termasuk steril jalur," katanya

Jujur saja, begitu membaca kata-kata tersebut, pikiran saya tak berhenti berpikir. Apakah ketika saya berada di posisi sebagai Pak Pamuji dan mengetahui akan terjadinya tabrakan di depan diri saya yang pasti akan membuat saya terluka, saya akan melakukan hal yang Pak Pamuji lakukan? Atau apakah saya malah kabur dan menghindar, yang penting diri saya selamat?

Minggu, 08 Desember 2013

Mencari Motor Sport Yang Canggih, Irit dan Advance

“Kamu beli motor dong,yang. Biar nanti kita bisa lebih mudah untuk pergi kesana kemari mengurus pernak-pernik persiapan pernikahan kita. Kan kita bisa lebih irit ongkos dan waktu dibandingkan kalo naik kendaraan umum”.

“Lagian kan kamu tau angkutan umum di Jakarta itu gak aman. Kamu sendiri kan udah tiga kali kehilangan HP di bis”

Perkataan dan nasehat dari pacar saya itulah yang membuat saya akhir-akhir ini berencana untuk membeli sebuah sepeda motor. Sebelumnya di kota kelahiran saya memang saya sudah ada motor, cuma tidak mungkin saya bawa ke Jakarta, tempat dimana saya bekerja dan tinggal sekarang, karena motor itu digunakan untuk keperluan transportasi keluarga saya disana. Jadilah selama ini saya mengandalkan transportasi umum ala kota Jakarta seperti Metro Mini, Kopaja maupun Transjakarta.

Bepergian di Jakarta dengan transportasi umum di Jakarta memang selama ini cukup saya nikmati. Apalagi dengan pertimbangan saya bisa “mencuri waktu” untuk tidur selama di dalam bis atau angkot. Cuma, sejak kejadian saya kehilangan HP dua kali selama perjalanan di bis, saya sekarang menjadi merasa tidak nyaman untuk menggunakan transportasi umum di Jakarta.

“Udah kamu beli motor aja Ben. Daripada HP kamu ilang-ilang terus di bis”

Itulah nasehat teman-teman kantor saya sewaktu saya menceritakan bahwa saya kehilangan HP di dalam bis. Saya pikir ada benarnya juga kalau saya membeli dan menaiki motor ke kantor yang berjarak kurang lebih 10 KM dari rumah kontrakan saya. Toh dengan naik motor saya juga bisa mengirit pengeluaran ongkos transportasi saya tiap bulan.

Awalnya saya ingin membeli motor matik, sesuai saran dan pendapat teman-teman saya. Menurut teman saya, motor matik itu enak dipakai di jalanan Jakarta yang penuh dengan kemacetan dimana-mana. Tapi dasar saya ini generasi “googling-lah sebelum membeli”, maka saya langsung meluncur dan mencari informasi-informasi seputar motor di internet. Berhubung motor yang irit menjadi tujuan saya, maka saya coba masukkan keyword “ motoririt 2013” ke situs mesin pencari, dan muncullah ratusan situs,, baik situs milik dealer atau perusahaan motor maupun blog-blog yang memunculkan kata “motor”, “irit” maupun kata “2013”. Dan dari beberapa situs yang muncul di halaman pertama mesin pencari tersebut, nama “Honda” yang mendominasi situs-situs tersebut. Saya sendiri tak heran sih karena motor Honda memang terkenal dengan keiritan bahan bakarnya. Langsung saja tangan saya meng-klik situs welovehonda.com. Setelah melihat satu persatu jenis motor keluaran pabrikan Honda ini, kok sepertinya hati saya jatuh cinta pada jenis motor bukan matik ya. Apa itu?

Honda CB150R Streetfire


Ya, inilah motor yang membuat saya membuat saya bener-bener mupeng alias "muka pengen" untuk segera membeli dan melupakan keinginan awal saya untuk membeli motor matik.

Dari hasil browsing sana-sini, berikut beberapa fitur unggulan yang membuat saya semakin ingin membeli motor satu ini.

1. Desain Keren dan Sporty

Ini kesan yang pertama kali begitu saya melihat foto dan gambar CB150R Streetfire ini. Desainnya tampak gagah dan sporty, dan juga terlihat sangat anak muda. Untuk pria berusia muda seperti saya ini (26 tahun masih muda kan ya.. :)), motor ini sepertinya akan membuat saya terlihat lebih keren dan gagah, syukur-syukur dilirik oleh banyak cewek.

Dari website Honda, dijelaskan bahwa CB150 R Streetfire ini menggunakan desain baru rangka tipe Truss Frame/Trellis yang inovatif serta diruncang khusus untuk menunjang mesin dan memaksimalan kinerja sistem suspensi Pro-Link sehingga menghasilkan kestabilan, kelincahan serta kenyamanan.

Sudah keren penampilannya, tapi juga stabil, lincah dan nyaman digunakan. Kurang apa lagi coba? :)


Desain rangka CB150R Streetfire (sumber: welovehonda.com)

2. Mesin Irit Bahan Bakar

Kamu percaya motor sport yang sanggup berlari kencang, tapi bahan bakarnya irit? Awalnya saya pun tidak percaya dengan tagline motor Honda ini yaitu "MotorCanggih, Irit dan Advance". Masa si ada motor sport irit. Saya memang bukan ahli mesin, tapi setahu saya kalau sebuah motor itu kencang dibawa lari, pasti butuh banyak banget bahan bakar. Ya diibaratkan saja kamu itu habis lari marathon 10 KM. Otomatis, setelah berlari sejauh itu, maka perut kamu terasa jauh lebih lapar dibandingkan kalau kamu hanya berlari sejauh 1 KM saja.

Nah, untuk urusan mesin, Honda memasang mesin 150cc, 4-langkah, DOHC, 4-Katup, 6-Kecepatan berbasis CBR 150 R dilengkapi teknologi PGM-FI. Inilah yang membuat Honda mendaulat motor ini memiliki performa mesin yang melimpah, akselerasi responsif dan yang paling penting buat saya adalah hemat bahan bakar. Konon si katanya 1 liternya dapat menempuh 36 KM (ECE R40/Euro2 test). Mantappp…

Saya jadi berandai-andai seandainya saya memakai motor ini untuk menembus kemacetan Jakarta. Dengan body yang ramping dan performa mesin yang mantap, saya bisa menyalip dan menerobos di antara jalanan macet Jakarta yang disesaki oleh mobil. Yang jelas sih, pasti saya bisa mempersingkat waktu perjalanan saya dari yang 1,5 jam menjadi 1 jam. Kan lumayan tuh kalau 30 menit saya gunakan untuk melakukan aktivitas lain. Menulis di blog ini misalnya. :)


Mesin CB150 R nan canggih, irit dan advance (sumber: welovehonda.com)
Oh iya, untuk urusan mesin juga, Honda memasang radiator canggih dan advance yang dilengkapi dengan kipas elektrik otomatis yang berfungsi untuk menjaga temperature tetap konsisten di seluruh bagian mesin. Efeknya ya mesin jadi punya tenaga ekstra dan tetap awet.


Liquid Cool with Auto Fan (sumber: welovehonda.com)

3. Suspensi Yang Nyaman

Seperti yang telah saya tulis di atas bahwa CBR150R Streetfire ini dilengkapi dengan suspense Pro-Link. Nah ternyata sistem suspensi yang dipasang di motor ini sama dengan sistem suspensi yang dipasang di CBR 250R. Saya sendiri belum pernah mencoba CBR 250R sih, tapi kata Honda sendiri, sistem suspensi Pro-Link akan membuat tempat duduk terasa lebih lembut.

Fitur ini cocok sekali dengan saya yang memang setelah menikah tahun depan berencana pindah ke daerah Bojonggede yang kondisi jalannya naik turun serta terkadang tidak rata dan berbatu-batu. Pasti (calon) istri saya akan senang dibonceng oleh saya kemana saja dengan motor ini.

Sistem suspensi Pro-Link (sumber: welovehonda.com)

Hayo, siapa yang ngeces melihat segudang fitur canggih yang ada di CB150R Streetfire ini. Saya sih ngebet sekali ingin punya ini. Kalau saya ada uang, saya pasti langsung mengambil varian yang merah alias furious red. Buat yang tidak suka warna merah, kalian bisa juga lho memilih tiga varian lainnya yaitu lighting white, speedy white, dan astro black. Yang mau baca spesifikasi teknis dari motor ini, boleh langsung baca saja disini.


Doa saya, syukur-syukur saya bisa dapat hadiah pertama lomba blog ini dan uang hadianya sebesar 8 juta rupiah bisa langsung saya gunakan untuk DP motor ini. Semoga saja. :)

Sabtu, 30 November 2013

Mari Berkomentar. Don't Be A Silent Reader.

Banyak orang yang tak suka dikomentari oleh orang lain. Seringkali ketika kita mengerjakan sesuatu, dan kita dikomentari oleh orang lain, bahkan teman sendiri, maka kita jadi tidak nyaman dengan apa yang kita kerjakan tersebut. Tak terkecuali dengan diri saya sendiri. Bahkan ketika saya dikomentari oleh orang lain, saya malah lebih sering sakit hati dan berujung hati bersungut-sungut, lalu tanpa sadar hati kecil saya berbicara "hihhh. ngapain si pake komentar segala. Kayak dirinya bener aja".

Pernah merasa seperti itu juga?

Tapi kali ini saya tidak ingin menulis tentang berkomentar dalam konteks tersebut. Yang ingin saya tulis adalah keheranan saya terhadap minimnya komentar dari pembaca blog saya ini.

Jadi begini. Awal keheranan saya ini adalah karena setelah berbulan-bulan saya memantau statistik pada blog saya ini, saya mendapatkan data bahwa blog saya ini rata-rata diakses dan dibaca oleh 100 orang setiap hari. Puji Tuhan memang masih ada yang mau membaca blog saya ini, dan hits counter saya dari tahun 2009 s/d waktu saya menulis tulisan ini adalah 69.867. Namun yang sedikit aneh adalah hingga sekarang, baru ada 271 komentar saja yang ada pada blog saya.

Adakah yang salah?

Mungkin awalnya memang dari saya sendiri. Ketika blogwalking, saya seringkali menemukan artikel yang menarik yang ditulis oleh blogger lain, namun meskipun artikel tersebut menarik, selesai membaca saya tak memberikan komentar  pada artikel tersebut. Ada beberapa alasan yang menjadikan saya malas untuk memberikan komentar, tapi yang sering terjadi adalah karena kolom komentar yang ada di blog tersebut menggunakan captcha atau harus mengisi kode-kode verifikasi. Ya semacam itulah.

Jadi kesimpulannya apa?
Ya di tulisan ini sih saya cuma ingin berjanji untuk berusaha memberikan komentar pada setiap artikel pada blog orang lain yang saya baca. Syukur-syukur, blogger yang tulisannya saya beri komentar, lalu gantian membaca blog saya lalu kemudian memberikan komentar pada blog saya.

Jadi, mari budayakan berkomentar di blog orang lain.
Mariiiiii....:)
 

Senin, 25 November 2013

[Terios7wonders] Perjalanan "14 Hari Untuk Selamanya" bersama Terios, Sahabat Petualang

Sebuah cerita indah akan selalu terkenang selama-lamanya, seperti halnya 3 hari perjalanan dari Jakarta sampai Jogja yang dilalui Nikolas Saputra dalam film “3 Hari Untuk Selamanya.

Pada bulan Oktober yang lalu, 7 orang blogger Indonesia menjalani “14 hari Untuk Selamanya” versi mereka masing-masing bersama dengan tim Daihatsu. 7 orang blogger tersebut adalah 5 orang pemenang kompetisi blog “Terios 7 Wonders: Hidden Paradise” yaitu Wira Nurmansyah, Bambang, Puput, Harris Maulana, dan Giri, serta dua orang travel blogger yang dipilih oleh tim Daihatsu yaitu Mumun dan Lucia Nancy. Dari tanggal 1-14 Oktober 2013, mereka melakukan perjalanan dalam serangkaian tur Daihatsu Terios 7 Wonders: Hidden Paradise ke 7 destinasi wisata yang disebut sebagai “surga yang tersembunyi” di Indonesia.

Bagi saya, seseorang yang sangat jarang sekali melakukan perjalanan wisata, menyimak setiap tulisan dari para blogger yang ikut dalam “Terios 7 Wonders: Hidden Paradise” ini seakan membawa saya menjadi “blogger ke-8” yang ikut turut serta. Mungkin lucu juga ya kalau tahun depan Daihatsu mengadakan trip “Terios 8 Wonders: Beautiful Indonesia” dengan mengajak 8 orang blogger yang salah satunya adalah saya.

Destinasi Pertama: Desa Sawarna

Perjalanan “Terios 7 Wonders: Hidden Paradise” ini dimulai dengan pelepasan para blogger, driver, media beserta tim Daihatsu oleh Bapak Endi. Bertempat di Sentul City, Bellanova Country Mall, para blogger melakukan doa bersama sebelum melakukan perjalanan selama dua minggu. Segera setelah acara pelepasan selesai, perjalanan dimulai.

Sumber foto: http://daihatsu.co.id/terios7wonders/2013/


Destinasi pertama tim Daihatsu 7 Wonders adalah desa Sawarna. Desa ini terletak di Provinsi Banten, tepatnya di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak. Dari blog Giri, saya mendapat informasi rute sepanjang 180 km yang dilalui dari Sentul menuju desa Sawarna adalah :

Sentul – Pamoyanan – Cijeruk – Lido – Cicurug - Sukabumi lewat jalur alternatifnya – Pelabuhan Ratu – Citepus – Cisolok – Bayah – Pantai Sawarna

Sebelumnya saya bingung mana yang benar apakah nama destinasi wisata ini adalah desa Sawarna atau Pantai Sawarna. Baru setelah saya membaca lebih detail tulisan para blogger, saya tahu bahwa ternyata di desa Sawarna ini terdapat beberapa destinasi wisata, dua yang paling terkenal adalah Pantai Ciatir Sawarna dan Pantai Tanjung Layar. Dua pantai inilah yang menjadi tujuan tim Daihatsu 7 Wonders kali ini.

Pantai Ciatir dan Pantai Tanjung Layar ini memiliki karakteristik yang sedikit berbeda, dimana Pantai Ciatir memiliki pasir pantai yang lembut, sedangkan Pantai Tanjung Layar yang merupakan “landmark” dari Desa Sawarna ini adalah pantai berkarang. Sayangnya, keindahan karang di pantai ini harus dirusak oleh keisengan para pengunjung tak bertanggungjawab yang mencorat coret dan menulis di dinding karang.

Untungnya rasa kesal tim Daihatsu 7 Wonders terhadap aksi vandalism tersebut sedikit terobati dengan menikmati keindahan langit di kala matahari tenggelam.  Ya, menikmati matahari tenggelam di antara sela-sela batu karang yang menjulang tinggi di Pantai Tanjung Layar memang seakan berada di “hidden paradise. Andai saja saya bisa ada disana.

sumber foto: backpackology.me

Oh iya, Bambang, salah satu blogger dengan detil sampai menceritakan bagaimana ia berburu sunset di Pantai Tanjung Layar ini. Kalau tertarik untuk membaca, silahkan baca disini.

Destinasi Ke-2: Desa Kinarejo

Setelah dibawa bermain air, menikmati angin laut dan mengabadikan momen sunset di belantara batu karang di Desa Sawarna, selanjutnya para blogger beserta tim Daihatsu 7 Wonders bergerak ke arah timur, menuju ke “hidden paradise” yang kedua. Apa itu?

Destinasi “hidden paradise” yang kedua adalah Desa Kinarejo. Buat yang belum mengenal Desa Kinarejo, pasti akan lebih mengenal sosok Mba Maridjan. Sosok juru kunci Gunung Merapi yang tiga tahun lalu, tepatnya tanggal 5 November 2010, meninggal akibat terjangan awan panas Gunung Merapi yang lebih familiar disebut “wedhus gembel”. Yap, Desa Kinarejo adalah desa tempat tinggal almarhum Mbah Maridjan yang sekaligus menjadi saksi bisu keganasan Gunung Merapi di kala meletus.

Di desa ini, tim Terios 7 Wonders melakukan kegiatan bakti sosial untuk para warga yaitu dengan penanaman 10.000 pohon, dengan didukung oleh Pemerintah Provinsi DIY dan penduduk setempat, serta pemberian beasiswa bagi 10 orang anak yatim yang berprestasi di desa tersebut. Setelah semua acara seremonial selesai, barulah petualangan di jalur lava atau kerap disebut lava tour Gunung Merapi dimulai.

Sumber foto: lucianancy.com

 Jika di desa Sawarna, mobil Daihatsu Terios yang digunakan tim belum terlalu mendapatkan banyak tantangan, maka di tempat inilah tantangan bagi mobil Daihatsu Terios dimulai. Jalanan yang menanjak dengan jalan yang berselimut debu vulkanik menjadikan “lava tour” ini menjadi ujian bagi ketangguhan Daihatsu Terios yang memiliki sebutan “Sahabat Petualang”. Dan ternyata sebutan tersebut tak sekedar tagline saja, karena jalanan “lava tour” yang biasanya hanya dilalui oleh mobil jip 4WD (four wheel drive) dan truk pengangkut pasir, kini dilalui oleh mobil Daihatsu Terios TX yang bukan 4WD sambil membawa tim Daihatsu Terios 7 Wonders.

Di dalam “lava tour” ini pula, tim Daihatsu Terios 7 Wonders mengunjungi Museum Sisa Hartaku yang terletak di desa Kepuharjo, sekitar 5 menit perjalanan dengan mobil dari Desa Kinahrejo. Museum ini dibangun atas inisiatif Riyanto beserta keluarganya, setelah melihat rumahnya yang menjadi lokasi Museum ini telah rusak parah, termasuk barang-barang dan ternak yang tak sempat ia bawa ke tempat pengungsian saat tanggal 5 November 2010 Gunung Merapi memuntahkan isi perutnya.

Sumber foto: lucianancy.com

Destinasi Ke-3: Ranu Pani

Bagi yang sudah pernah menonton film 5 cm yang sempat heboh beberapa bulan yang lalu pasti seperti dibawa nostalgia film tersebut begitu mendengar kata “ Ranu Pani”.  Ya, Ranu Pani adalah desa terakhir di kaki gunung Semeru yang masih bisa dijangkau dengan mobil. Desa ini sekaligus menjadi pos tempat para pendaki harus mendaftarkan dirinya sebelum mendaki gunung Semeru.

Begitu tiba di Ranu Pani, tim Daihatsu Terios 7 Wonders langsung disambut oleh warga Suku Tengger di rumah salah satu dari mereka. Sejenak mereka dijelaskan mengenai filosofi rumah masyarakat Suku Tengger dimana mereka menyatukan pawon alias dapur dengan ruang tamu, dengan tujuan untuk lebih mengakrabkan para tamu. Sembari dijelaskan, tim Daihatsu Terios 7 Wonders dipersilakan untuk menyantap sajian makanan khas Tengger: jagung putih penggati nasi, sepotong ayam utuh, sayuran bunga kol yang masih muda, serta sambal plecing Tengger. Dari deretan menu tersebut, yang paling membuat air liur saya menetes adalah sambel plecing Tengger yang konon terkenal akan pedasnya. Lihat saja bagaimana Lucia Nancy menuliskan komentar salah seorang driver ketika mencoba sambel ala Ranu Pani tersebut.

Gileeee, pedesnya bisa bikin ane sampe afal Quran ini mah!”,kata Iman, salah satu driver yang terkenal dengan logat Betawi kentalnya tiba-tiba nyeletuk dan berhasil membuat saya keselek dan tidak berhenti tertawa selama semenit.

Sumber foto: lucianancy.com
Usai beramah-tamah dan menikmati lezatnya kuliner asli masyarakat Suku Tengger, tim Daihatsu Terios 7 Wonders menuju tepian danau Ranu Pani untuk beristirahat malam itu. Namun, ternyata kelelahan selama perjalanan ternyata tak mampu membuat tim Terios 7 Wonders untuk langsung menuju ke peraduan. Langit Ranu Pani yang malam itu seakan ingin memberikan hadiah “sejuta bintang” tak ayal lagi menjadi semacam ladang berburu foto bagi tim Terios 7 Wonders. Saya jadi membayangkan seandainya saya bisa disana bersama pasangan saya. Pasti sungguh terasa romantis.

Sumber foto: wiranurmansyah.com
Pagi harinya, sebelum meninggalkan Ranu Pani untuk menuju “Hidden Paradise” yang ke-4, tim Terios 7 Wonders memberikan bantuan berupa beberapa buah tong sampah kepada warga Ranu Pani.

Sumber foto: wiranurmansyah.com
Perjalanan tim Terios 7 Wonders pun dimulai kembali. “Hidden Paradise” seperti apakah yang akan menjadi tujuan tim Terios 7 Wonders berikutnya?

Destinasi Ke-4: Taman Nasional Baluran

Setelah dibawa menikmati langit sejuta bintang sembari mendekap tubuh erat-erat karena dinginnya udara di tepian Danau Ranau Pani, kini saatnya tim Terios 7 Wonders menjelajahi kehidupan liar di Taman Nasional Baluran yang menjadi “Hidden Paradise” ke-4 dalam perjalanan ini.

Taman Nasional Baluran terletak tak jauh dari Pelabuhan Ketapang Banyuwangi, tepatnya di wilayah Banyuputih, Situbondo, Jawa Timur, Indonesia. Baluran ini mendapat julukan “Africa Van Java” karena vegetasi savana yang kering dan berdebu, dengan dominasi warna coklat, seakan membawa setiap pengunjung taman nasional seluas 250 km persegi ini ke suasana savana di Afrika. Kondisi savanna yang kering dan sangat rawan terbakar ini membuat tim Terios 7 Wonders harus benar-benar menjaga agar jangan sampai ada anggota tim yang membuat puntung rokok sembarangan, seperti apa yang ditulis Puput dalam blognya.

Mumun, segera memperingatkan semua anggota tim agar tidak membuang puntung rokok sembarang. “Puntung rokok jangan dibuang sembarang, ditelan aja” demikian terdengar sayup-sayup peringatan di HT kami.

Di Baluran ini, tim Terios 7 Wonders sempat mencicipi “safari night” ala Baluran. Tim Terios 7 Wonders diajak untuk berjalan kaki di dalam Savana Bekol ini dengan dipandu oleh Pak Indra, salah satu guide yang mengajak mereka bersafari malam. Tak banyak yang bisa tim lihat selain bayangan-bayangan rusa dan kerbau yang melintas serta beberapa jenis burung liar.

Baluran memang terlihat lebih indah di pagi hari daripada siang ataupun malam hari. Tak heran, begitu mentari sedikit menyembulkan dirinya, tim Terios 7 Wonders langsung sibuk dengan kamera masing-masing mengabadikan momen sunrise yang ada di depan mata.

Sumber foto: harrismaulana.blogdetik.com
Sebelum beranjak menuju “Hidden Paradise” berikutnya, tim Terios 7 Wonders menyempatkan diri menuju gardu pandang Taman Nasional Baluran yang merupakan tempat terbaik untuk melihat taman nasional ini, termasuk suguhan kemegahan Gunung Baluran dan Argopuro yang terlihat jelas dari gardu pandang ini.

Sumber foto: wiranurmansyah.com

Destinasi Ke-5: Desa Sade Rambitan


Jika empat “Hidden Paradise” sebelumnya ada di Pulau Jawa, maka kali ini tim Terios 7 Wonders harus menyeberangi dua selat yaitu Selat Bali dan Selat Lombok untuk menuju “Hidden Paradise” ke-5 yang ada di Pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Desa Sade Rambitan, demikian orang banyak mengenalnya menjadi tujuan ke-5 surga tersembunyi yang tengah diburu oleh tim Terios 7 Wonders.

Untuk mencapai desa ini, tim Terios 7 Wonders tidak terlalu mengalami kesulitan karena letaknya ada di pinggir jalan raya Praya di daerah Rembitan, Lombok Tengah, memakan waktu sekitar 45 menit – 1 jam dari pusat kota Mataram. Berbeda dengan empat surga tersembunyi sebelumnya yang lebih menonjolkan pada kekayaan alam, maka desa ini menjadi semacam penyegar bagi tim yang sedari awal telah banyak melihat keindahan gunung dan pantai.

Di Desa Sade Rambitan, tim diajak untuk lebih mengenal bagaimana kehidupan Suku Sasak yang mendiami desa tersebut serta belajar kearifan lokal yang mereka miliki. Banyak sekali kearifan lokal yang tim pelajari disini, diantaranya yang sangat menarik bagi saya adalah ternyata masyarakat Suku Sasak rajin mengepel lantai rumahnya dengan kotoran kerbau. Mereka mengatakan bahwa kotoran kerbau mampu membuat lantai rumah mereka yang terbuat dari tanah liat menjadi mengkilap. Kotoran kerbau yang di dalam pikiran saya adalah “kotoran yang berbau tidak enak” ternyata tidak menimbulkan bau sama sekali.

Sumber foto: lucianancy.com

Ada beberapa kearifan lokal lainnya yang tidak kalah unik seperti tradisi menculik pasangan yang ingin dinikahi. Hehe.. Disini Wira jago sekali menggambarkan kisah si Iman yang menculik gadis yang sangat dicintainya, yaitu Uci (Entah kenapa Wira memilih nama Uci yang merupakan nama panggilan Lucia Nancy..hehe). Coba saja baca kisah Iman yang menculik Uci di blog Wira.

Usai menikmati kekayaan budaya di Desa Sade Rambitan ini, termasuk melihat hasil tenun penuh warna-warni khas Sasak, tim Terios 7 Wonders pergi menuju Pondok Pesantren Almasyhudien Nahdlatulwathan yang mengelola beberapa sekolah untuk memberikan bantuan buku untuk perpustakaan sekolah dalam program Corporate Social Responsibility (CSR) Pintar Bersama Daihatsu.

Sumber foto: harrismaulana.blogdetik.com

Oh iya, di perjalanan kali ini, para blogger ternyata diberi kejutan tambahan oleh tim Terios 7 Wonders. Apa itu? Selepas melakukan kegiatan CSR di Pondok Pesanter Amlasyhudien, tim mengunjungi 2 pantai yang merupakan “Hidden Paradise” Pulau Lombok yaitu Pantai Pink dan Pantai Selong Belanak.

Pantai Pink (Sumber foto: harrismaulana.blogdetik.com)

Pantai Selong Belanak (Sumber foto: indohoy.com)


Destinasi Ke-6: Dompu

Bagi para pria yang besar di tahun 90-an pasti dulu pernah mendengar kehebohan dan kesaktian “susu kuda liar asli Sumbawa” yang dipercaya memberikan kejantanan para pria. Nah, di destinasi “Hidden Paradise” ke-6 inilah tim Terios 7 Wonders bergerak menuju ke Dompu, salah satu tempat pemerahan susu kuda liar.

Setelah membaca artikel dari Harris Maulana disini, saya baru tahu bahwa ternyata “kuda liar” itu dipelihara oleh penduduk. Simak saja penuturan Harris Maulana dalam blognya berikut ini:

Jadi mereka memelihara kuda-kuda tersebut dan setiap pagi melepasnya untuk mencari makan sendiri seperti halnya hewan peliharaan lainnya seperti kambing atau ayam. Dan setiap sore hari mereka kembali pulang ke rumah sang empunya masing-masing.
(Sumber: harrismaulana.blogdetik.com)

Proses pemerahan sapi (Sumber foto: harrismaulana.blogdetik.com)


Destinasi Ke-7: Taman Nasional Komodo 

Akhirnya, tim Terios 7 Wonders  sampai di tujuan terakhir yaitu Taman Nasional  Komodo. Menurut saya sendiri, Pulau Komodo bukanlah sebuah "Hidden Paradise" karena Taman Nasional Komodo sudah terkenal di dunia, apalagi pada beberapa waktu yang lalu,Taman Nasional Komodo ditetapkan sebagai salah satu dari New 7 Wonders berdasarkan situs www.n7w.com.

Pemandangan dari bukit di Taman Nasional Komodo (Sumber foto: harrismaulana.blogdetik.com)

Ternyata ada sebuah kisah yang menceritakan mengenai Komodo dan Putri Naga. Demikian tulis Harris Maulana berdasarkan cerita yang ia dengar saat rombongan Tim Terios 7 Wonders menaiki Kapal Playaran menuju Pulau Komodo.

Alkisah beberapa waktu yang lalu hidup di sebuah desa seorang pemuda yang menikahi seorang wanita bernama Putri Naga yang datang dari negeri seberang. Tidak lama setelah menikah sang putri hamil dan beberapa waktu kemudian melahirkan bayi kembar. Namun kedua anak kembar tersebut berbeda, yang satu berwujud manusia, sedangkan kembarannya menyerupai seekor kadal. Karena malu salah satu anak kembarnya berbeda dengan bayi lainnya, maka anak yang menyerupai kadal dibuang ke sebuah.
Waktu terus berjalan hingga anak kembar beranjak besar, sampai suatu hari anak tersebut berburu dan hendak memanah salah satu hewan buruannya berupa seekor komodo. Namun saat hendak memanah sang ibu mencegahnya. “Jangan bunuh dia nak, dia adalah saudara kembarmu!” ujar sang ibu. Sang anak tentu kaget dan menjawab, “Mana mungkin bunda aku memiliki saudara seekor komodo?”
Sang ibu lalu menjelaskan, “Beberapa tahun lalu bunda melahirkan bayi kembar. Dirimu dan komodo itu. Coba lihatlah tangan komodo tersebut dan ada tanda lahir yang sama denganmu!” Dan benar saja ketika diperiksa di kedua tangan mereka terdapat tanda lahir yang sama. Dan akhirnya sang anak tidak jadi membunuh komodo yang ternyata kembarannya tersebut.
***

Yang unik di Pulau Komodo adalah ternyata disini ada juga Pantai Pink lho. Jadi Pantai Pink tidak hanya ada di Pulau Lombok lho.

Pantai Pink di Pulau Komodo (Sumber foto: harrismaulana.blogdetik.com)

Yihaaaaa. Melihat perjalanan tim Terios 7 Wonders mengunjungi 7 Hidden Paradise rasanya membuat saya yang dasarnya "jarang berwisata" jadi ingin menyisakan uang dan pergi berlibur. Ya syukur-syukur saya bisa dapat hadiah dari lomba blog Terios 7 Wonders ini yang hadiah pertamanya uang sebesar Rp. 5.000.000,00. Ya siapa yang tahu kan. :)


Bukti Follow Twitter




Bukti Post