Sabtu, 25 Februari 2012

Liputan Event #4 : Gala Premiere Film Negeri 5 Menara

Sabtu, 25 Februari 2012 adalah gala premiere dari film Negeri 5 Menara, sebuah film yang diadopsi dari novel berjudul sama karya Ahmad Fuadi dengan disutradai oleh Affandi A. Rachman. Film ini begitu menarik dan ditunggu-tunggu karena novel Negeri 5 Menara itu sendiri menjadi best seller dan telah dibaca oleh jutaan orang. Mungkin itu kenapa film ini sudah lama sangat dinantikan oleh para penikmat film, sekaligus para pembaca dari Negeri 5 Menara versi novel.

Siang itu, saya beruntung sekali bisa mendapatkan undangan untuk premiere film ini. Entah kebetulan atau apa, yang jelas jawaban saya di kuis Kompas Forum hari Jumat, 24 Februari kemarin membuat saya terpilih menjadi 1 dari 5 orang beruntung yang mendapat tiket premiere film Negeri 5 Menara.

Berikut foto-foto hasil jepretan kamera HP saya di Gala Premiere Film Negeri 5 Menara ini.

Suasana di dalam The Premiere Gandaria City menjelang pemutaran film

Undangan dan tiket Gala Premiere
Goody bag yang dibagikan panitia di tiap bangku penonton

Fedi Nuril lagi diwawancara sama wartawan infotainment

Ustadz Aris alias Ikang Fauzi sedang diwawancara

Indra Bekti dan istrinya juga hadir menonton
Pemain-pemain utama para Sahibul Menara

Red Carpet di Gala Premiere Negeri 5 Menara
Para Sahibul Menara sedang berpose bersama penggemar

Jumat, 24 Februari 2012

Liputan Event #3: Intisari Social Media Movement Meet Up

Acara ini adalah acara dimana para penggiat komunitas media sosial seperti Indonesia Berkebun, Akademi Berbagi, GNFI (Good News From Indonesia), Adalah Kita, GantiBaju.Com saling bertemu dan berbagi inspirasi kepada teman-teman yang hadir. Selain penggiat komunitas media sosial, hadir juga perencana finansial independen yang sudah tidak asing lagi di twitter yaitu Ligwina Hananto (@mrshananto).

Bertempat di The Cone, fX Sudirman Lantai 7, acara dimulai sekitar pukul 19.00 WIB. Sayang sekali karena masih ada pekerjaan di kantor, saya baru sampai di tempat pukul 20.30. Waktu saya datang, Ridwan Kamil, penggagas Indonesia Berkebun sedang berbagi cerita tentang Indonesia Berkebun, mulai dari bagaimana ia memulainya sampai dengan perkembangan terakhir dari Indonesia Berkebun yang sudah tersebar di beberapa kota di Indonesia.

Gagasan terbaru dari Ridwan Kamil yang ia jelaskan dalam acara malam itu adalah Indonesia Menginspirasi. Sebuah gagasan dimana nantinya para professional dari berbagai bidang, misal insinyur pertambangan, arsitek, dll, dalam satu hari dalam satu tahun akan dikirim ke daerah-daerah di Indonesia. Di sana mereka akan bercerita mengenai profesinya kepada orang-orang, terutama anak-anak sekolah. Harapannya, anak-anak sekolah di daerah akan terbuka mengenai ragam profesi yang ada dan pada akhirnya mereka akan berani bermimpi untuk dapat meraih profesi seperti para professional yang bercerita tersebut.

Ridwan Kamil sedang bercerita tentang Indonesia Berkebun


Setelah Ridwan Kamil, hadir berurutan yaitu penggagas GantiBaju.com dan AdalahKita. Tim dari GantiBaju.com, yang saya lupa namanya, malam itu  mempresentasikan proyek mereka terbaru yaitu Nirmana Award, sebuah ajang penghargaan untuk para desainer dengan tujuan ingin menunjukkan bahwa profesi desainer itu tidak dipandang sebelah mata (itu sih yang saya tangkap dalam presentasi singkat mereka).

Usai GantiBaju.com, tim dari AdalahKita (sekaligus pemapar terakhir) mempresentasikan gagasan mereka. AdalahKita adalah sebuah situs yang menampilkan produk-produk terbaik dalam negeri, mulai dari produk fashion, musik, seni, maupun produk-produk lifestyle lainnya. Mereka semacam melakukan kurasi terhadap produk-produk dalam negeri apa yang memiliki kualitas unggulan dan tidak kalah dengan produk-produk dengan merek internasional.

Hasil dari #ISAMMU ini adalah saya dapat tanda tangan Mba Ligwina Hananto di Buku Untuk Indonesia Yang Kuat. Hore....


Sabtu, 18 Februari 2012

Melepaskan

"Masih ada kan? Mana? Mana?" Sekar berlutut disebelah Adam dan Bimas, antusias.

"Mana ya? Kok belum keliatan?" Adam terus menggali.

"Di bawah pohon deket ayunan, kita udah bener sih, disini, ini masih ada tandanya." Bimas memeriksa pohon mangga didepannya, ada ukiran BAS disitu, Bimas-Adam-Sekar dan sebuah tanda panah kebawah, persis ke wilayah yang mereka sedang gali.

"Naaaah.. Ini nih kayaknya!" Adam menunjuk ke benjolan benda yang muncul dari hasil galiannya barusan.

Bimas segera membantu Adam, mengorek tanah di sebelah kanan kiri benjolan itu.

"Kaleng Impian Trio Brandal!!" Pekik Sekar, gembira.

Sebuah kaleng kecil bewarna merah yang kini telah memudar warnanya, kaleng bekas “Astor” 5 tahun yang lalu yang mereka tanam di hari kelulusan SMA.

"Buka! Buka!" Sekar mengelap kaleng itu dengan roknya, penasaran dengan isinya.
Tak memperdulikan baju dan rok hijaunya yang kotor oleh tanah.

Baginya, kaleng itu lebih penting.

Didalamnya, tiga carik kertas dilipat rapih dalam sebuah plastik transparan.

"Gue udah lupa isinya. Hehe." Bimas merobek plastik tersebut, mengambil surat bertuliskan BIMAS di luarnya, kemudian tersenyum simpul melihat tulisan cakar ayamnya lima tahun yang lalu.

"Lima tahun lagi, gue bakal jadi sarjana musik, melejit jadi penyanyi solo professional yang dibayar dari satu panggung ke panggung lainnya, melahirkan minimal 5 album, berkolaborasi dengan musisi papan atas. BrandalS akan tetap bersahabat. Jakarta, 14 Februari 2008. Bimas Ardianto." Adam dan Sekar tertawa. "U did it, bro!" Adam menonjok lengan Bimas. Hampir seperti mimpi melihat impian terwujud satu demi satu. Setidaknya, Bimas sudah cukup diperhitungkan dalam dunia tarik suara.

"Coba punya gue." Adam merebut plastik berisi 2 kertas sisa, impian Bimas dan Sekar. "Lima tahun lagi gue pasti udah duduk di bangku S2. Jadi anak teknik yang kerja di perusahaan multinational, dan harus bisa mandiri secara finansial."

Suara Adam bergetar saat membaca kalimat terahirnya. Ya, sejak setahun yang lalu kepergian ayahnya, kontan Adam sebagai anak sulung yang menjadi tulang punggung keluarga. Di perusahaan multinational persis seperti harapannya.

"Lucu ya, kita bahkan gak saling baca surat kita satu sama lain. Kita cuma percaya bahwa kita akan meraih impian-impian kita itu. Dan terwujud." Bimas tersenyum, takjub.

"Surat terahir." Adam menyodorkan surat itu ke tangan Sekar.

Bimas pun penasaran dengan isi impian gadis yang diam-diam ditaksirnya sejak awal mereka bertemu.

Sayang, Bimas terlalu menghargai BrandalS, geng mereka bertiga, yang berarti, tidak boleh ada rasa saling suka antara mereka.

Belum lagi, Sekar yang memilih melanjutkaan kuliahnya di Australia Inggris, membuat Bimas kehilangan kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya.

Gadis bertubuh mungil itu mulai membaca surat impiannya.  "Lima tahun yang akan datang, gue ingin lebih feminim.." Tawa Sekar berderai-derai. "Tomboi banget sih lo dulu." Bimas nyaut. "Trus.. Lulus dari Cambridge University, balik ke Indonesia, dan.. menikah." Sekar menatap surat itu sekali lagi. Menikah, kata itu muncul di surat impiannya yang ia tulis lima tahun yang lalu, saat usianya delapan belas tahun.

"Nah ya, lo traktir kita dong brarti."Bimas merebut surat Sekar, menggaris bawahi kata menikah dalam surat impian sahabatnya itu.

"Nih baca, di halaman belakang masing-masing surat, kita udah sepakat, siapa yang impiannya gak kewujud lima tahun yang akan datang, harus traktir yang lain di resto yg termahal." Bimas menunjukkan tanda-tangan mereka bertiga. Tertawa penuh arti.

Sekar diam.  Giginya menggigit bibir bawahnya. Ragu antara mau menyampaikan atau tidak.

Reuni ini harusnya tidak langsung dimulai dengan pembukaan kaleng impian. Batinnya dalam hati.

"Heh, mentang-mentang suruh traktir diem aja." Melihat ekspresi Sekar yang aneh, Bimas meminta dukungan Adam. Tak ada jawaban.

"Sekar gak kalah Bim, tahun ini memang ia mau menikah." Lirih Adam. Bimas menatap Adam dan Sekar tajam, bergantian. Kaget.

"Sama gue Bim." Lanjut Adam.

Bimas melongo, tak percaya dengan pengakuan sahabatnya barusan. Adam tahu betul perasaan Bimas pada Sekar lima tahun yang lalu, yang ternyata masih bersemayam hingga hari ini.

Penantiannya menunggu delapan tahun ini, berahir dengan sia-sia. Perjuangannya mempertahankan persahabatan yang ahirnya toh dikhianati juga.

Jika saja kutahu melepaskanmu sesakit ini. Mungkin lebih baik kulakukan sedari dulu. Pikirannya melayang jauh, menyusuri hari demi hari mengenal Sekar. Bercanda dengan Adam, membentuk genk BrandalS. Membuat surat impian saat kelulusan.

"Ehmm.. Bim, jadi gini.." Belum sempat Adam selesai menjelaskan, Perlahan, napas Bimas sesak. Asmanya kambuh!

"Bimas!!"

***
1 bulan yang sebelumnya....

“Sekar, menikahlah denganku..”, kata Adam tiba-tiba kepada Sekar, saat mereka sedang di dalam mobil, usai dari bandara. Ya pagi itu Sekar baru saja tiba di Indonesia, usai menyelesaikan kuliahnya di Cambridge University di Inggris. Adam, sahabatnya dari SMA yang menjemputnya.

Uhukkk...
Sekar tersedak saat mendengar ucapan Adam barusan.
“Haha...becanda lo ini aneh-aneh aja ni. Gue aja sampe keselek ni.”

Tangan kiri Adam beranjak dari kemudi mobil, dan perlahan menuju tangan Sekar. Digenggamnya tangan Sekar.
“Aku serius Sekar. Aku sayang kamu dan ingin kamu menjadi istriku.”

Sekar terdiam mematung. Dia tertegun hening, meski hatinya penuh kecamuk.
Lama dia berpikir. Bayangan Adam dan satu bayangan orang lain berputar-putar di dalam pikirnya.  Ya, bayangan seorang Bimas, sahabatnya yang lain, yang sebenarnya telah lama membuatnya jatuh hati. Seorang yang telah lama ia  cintai, namun atas dasar rasa persahabatan mereka bertiga, rasa cinta itu tak pernah sampai ke Bimas.

“Tapi bagaimana dengan Bimas dan persahabatan kita, dam?
 Bukankah kita bertiga pernah berjanji untuk tidak akan jatuh cinta satu sama lain.”, kata Sekar dengan perlahan. Air mata mulai menitik dari sudut mata Sekar.

“Aku tahu Sekar. Tapi aku juga gak bisa bohong dan menutupi perasaan ini terus menerus. Aku sayang kamu Sekar, dan ingin kamu jadi milikku. “ ucap Adam.

“Andai saja yang berkata itu adalah Bimas, tak perlu panjang lebar untuk memilikku.”, kata Sekar dalam hati.

Tangan kiri Adam semakin erat mengenggam tanganku.
“Bimas biar urusanku. Dia pasti juga akan bahagia melihat kita menikah dan bahagia.
Aku yakin itu Sekar.”

Sekar menghela napas. Tatapan matanya menyiratkan ada kebingungan dalam dirinya.
“Aku belum bisa jawab itu sekarang Dam. Maaf...
Beri aku waktu sebulan lagi Dam. Aku ingin Bimas juga tahu tentang hal ini karena ini juga menyangkut dia. ”

“Baiklah Sekar, jika itu yang kamu mau. Kuharap sebulan lagi kau akan menjawab iya.”

***
Perlahan mata Bimas terbuka.
“Dimana gue? Gue dah di surga ya..”, tanyanya sambil mengucek-ngucek matanya.

“Lo tu baru aja pingsan Bim. Tadi penyakit asma lo kambuh. “, jawab orang di samping Bimas. Adam masih duduk di samping Bimas. Tangannya memegang sepucuk surat.

“Sekar...Sekar dimana Dam?”, tanya Bimas pada Adam.

“Sekar pergi Bim. Lo baca aja deh surat ini..”, jawab Adam dengan lirih. Wajahnya lesu dan lemas. Tatapannya kosong..

Buat Adam dan Bimas...
Maaf banget kalau semua harus berakhir seperti ini. Mulai hari ini aku memutuskan buat pergi ninggalin Indonesia, dan kembali ke Inggris.
Untuk Adam, aku gak marah atas sikapmu tadi yang tiba-tiba bilang kalau aku mau menikah denganmu. Maaf karena aku gak bisa menerima cinta kamu karena ada orang lain yang sebenarnya aku harapkan untuk mencintai dan menikah denganku.
Untuk Bimas, jangan hanya diam saja. Cinta itu harus dikejar dan diperjuangkan agar kamu tidak menyesal di kemudian hari.

Salam
Sekar”

Bimas terdiam usai membaca surat tersebut. Diletakannya surat itu di samping tubuhnya.

Tiba-tiba, Bimas bangkit dari tempat tidurnya. Dia menoleh ke arah Adam.
“Dam, anterin gue ke bandara. Gue mau mengejar dan memperjuangkan cinta gue. Gue ga mau nyesel sampe tua karena gak sempat ngomong cinta ke orang yang gue cintai.”

Raut wajah bingung tampak dari wajah Adam.


NB: Tulisan bersama saya (@rbennymurdhani) dan @laksmisatiti dalam  #20HariNulisDuet Hari Kelima

Kamis, 16 Februari 2012

Aku Takut

Hari hampir menjelang malam. Kulirik jam di tanganku.
“Sudah pukul 20.30, tapi ni boss masih belum ada tanda-tanda mau pulang”, gerutuku dalam hati.
Kunyalakan lagi sebatang rokok untuk mengusir rasa bosanku di ruang ini. Sudah 12 batang rokok yang telah kuhisap malam ini.Untungnya AC di kantor sudah dimatikan dan atasanku di kantor adalah seorang perokok juga, jadi aku bisa bebas menyalakan rokok.

Tak ada tanda-tanda Pak Joni, atasanku, akan segera pulang. Dia masih tampak serius di dengan tumpukan kertas di depannya sambil sesekali menggaruk-garuk kepalanya sendiri. Kadang lengan bajunya dia gunakan untuk mengelap peluh di dahinya.

Tiba-tiba, Pak Joni beranjak dari kursinya. Dia mendekati kursiku.
“Hei Rud, angka-angka ini sudah kurubah. Nanti kau perbaiki di komputer ya”, kata Pak Joni, dengan logat Sumateranya yang kental, kepadaku.

“Iya Pak....Siap...”, jawabku sambil menerima kertas penuh angka-angka bernilai uang dengan coretan bolpoint merah disana-sini.

Ya inilah nasibku sebagai seorang bendahara anggaran di sebuah instansi pemerintahan. Sebuah kepercayaan yang diberikan atasan, yang bagiku seperti menerima buah simalakama. Di satu sisi, aku bertanggungjawab kepada atasanku dan berusaha jangan sampai adanya temuan bila laporan anggaran di tempatku diperiksa oleh BPK ataupun KPK. Tapi, di sisi yang lain, hati nuraniku sering diperkosa karena apa yang aku lakukan dalam pekerjaanku seringkali tidak sesuai hati nuraniku.

“Sudah tenang saja. Nanti ada tambahan buat kau kalau tahun ini kita lolos dari BPK atau KPK”, kata Pak Joni lagi sambil menepuk pundakku.

Aku hanya terdiam, menunduk dengan pandangan kosong pada kertas yang sedang ku genggam dengan kedua tangan. Sebentar menghela nafas panjang, kemudian berlalu ke meja kerjaku. Membereskan semua file-file kerja yang akan kubawa pulang, kulanjutkan dirumah.
Tak lama aku dan Pak Joni berjalan beriringan, melewati lorong demi lorong kantor yang sudah cukup sepi, karena memang jam pulang kerja sudah berlalu sejak tadi. Mataku terasa perih, jenuh dengan layar komputerku sejak pagi. Dengan banyak angka-angka selalu membuatku muak. Namun, tetap saja itu harus kucintai, karena tangung jawabku pada pekerjaanku. Aku tak banyak bicara, hanya memain-mainkan batang rokok yang berada dalam selipan jari-jariku.

“ Aku selalu mempercayaimu, selalu puas dengan hasil-hasil kerjamu. Aku juga tahu, kamu selalu teliti dalam mengerjakan apa yang aku bebankan padamu, terima kasih “, katanya padaku sebelum kami berjalan dengan arah yang berbeda. Rasa dihatiku tetap melawan untuk tidak menerima semua pujiannya, karena itu tidak membuatku bahagia sedikitpun.

Gerimis mulai datang, membuat tanah yang kini tertimbun aspal dan semen-semen kaku menjadi basah, daun-daun dari pohon beringinpun sesekali menari indah, mengembangkan diri karena tertiup angin berhembus kencang.

“ Ini salah, ini tidak benar. Aku tidak seharusnya membantu kesalahan, ini bodoh. Aku sama saja sepertinya, licik dan kotor..”, gumamku.

Aku berjalan perlahan menelusuri setiap trotoar jalanan ini, hari sudah gelap sekali namun tidak menjadikan kota besar ini menjadi gelap, selalu dipenuhi dengan lampu-lampu yang indah. Tidak pernah mati, kota ini selalu hidup setiap waktu bahkan detik. Setiap sudut kotanya selalu memiliki cerita-cerita tersendiri, tentang kerasnya hidup dan perjuangan untuk menjadi yang terbaik. Semua akan menjadi halal dan benar disini, dengan alasan sebuah kehidupan. Seperti yang sedang kulakukan, meski hati tak menginginkannya. Namun tuntutan hidup memaksaku melakukannya dengan senang hati.

Nafasku semakin sesak, entah karena banyaknya rokok yang sudah kuhabiskan. Ataukah dengan apa yang sedang kukerjakan.

*) BPK = Badan Pemeriksa Keuangan
KPK = Komisi Pemberantasan Korupsi   


 Ditulis bersama oleh saya (@rbennymurdhani) dan @OdetRahma untuk #20HariNulisDuet Hari Keempat dengan tema "Kepercayaan".
NB: Baru bisa keposting setelah lama tertahan di komputer.Hore..

Misi 21 Day 5: Mencicipi Soto Madura Bapak Ngatidjo di Jalan Biak Jakarta

Misi 21 Hari ke-5. Selasa, 13 Februari 2012...
Hari ini saya dan teman-teman kantor bersantap siang dengan Soto Madura Bapak Ngatidjo Surabaya di Jalan Biak, Jakarta. Berikut hasil-hasil foto jepretan saya, selagi di sana.








Rabu, 15 Februari 2012

Misi 21 Day 4: Membaca Tulisan Sendiri di Buku DearMama #7

Misi 21 Hari ke-4. Senin, 13 Februari 2012
Hore, akhirnya buku pesananku yaitu DearMama #7 datang. Buku ini spesial karena buku ini adalah buku pertama yang memuat tulisanku. Buku ini adalah kumpulan surat-surat untuk Ibu dari anak-anaknya. Istimewanya lagi,royalti buku ini disumbangkan kepada:

Pita Pink
Yayasan Kesehatan Payudara Jakarta (YKPJ / Pita Pink)
RSK Dharmais Lt. Basement
Jl. Letjend. S. Parman Kav. 84-86
Jakarta 11420

Dan inilah foto-foto yang saya ambil segera setelah saya terima paket dari NulisBuku ini...

Paket masih terbungkus rapi...

Buku Hijau nan Segar....

Hore..Nama saya ada di buku ini

Misi 21 Day 3 : Pertama Kali Ke Gereja St. Theresia Sarinah

 Misi 21 Hari ke-3. Minggu, 12 Februari 2012

Hadu..Baru bisa update Misi 21  hari ketiga, 12 Februari 2012. Dan, hal baru yang aku lakukan adalah pertama kali datang ke Gereja St. Theresia Sarinah.
Jadi sebenarnya kenapa saya datang ke gereja ini adalah karena harus datang ke acara pertemuan rutin alumni beasiswa Bhumiksara yang ada di daerah Jakarta dan sekitarnya.
Yang unik, di gereja ini ternyata ada jam-jam tertentu di hari Sabtu dan Minggu dimana misa yang diadakan menggunakan Bahasa Inggris.
Dan inilah foto2 yang sempat saya ambil di sana..


Goa Maria di Gereja St. Theresia, Sarinah

Senin, 13 Februari 2012

Misi 21 Day 2: Mulai Sketching Lagi

Misi 21 Hari ke-2. Sabtu, 11 Februari 2012 

Akhirnya bisa update Misi 21 hari ke 2. Di hari kedua hari sabtu, 11 Februari kemarin, saya memulai lagi untuk belajar sketching. Sudah lama sekali saya tidak belajar sketching ini. Dan berikut hasil-hasil saya sketching selama sabtu dan minggu kemarin...


Sabtu, 11 Februari 2012

Keheningan Yang Mengagumkan

25 Desember 1992,

Bunda,
Biarpun aku tak bisa berbicara,
Ijinkan tulisanku ini menyuarakannya,
Jika kudewasa nanti, aku ingin seperti Sinterklas,
Membagi-bagikan hadiah kepada semua orang.
SELAMAT NATAL BUNDAKU SAYANG!
Vera

 Dua puluh tahun lalu kutulis di kartu natal untuk ibuku. Sekarang umurku dua puluh tujuh tahun dan telah memiliki sebuah Gift and Flower Shop di Kawasan Dago, Bandung. Yang kuberi nama Happy karena memang itu tujuannya memberikan perhatian lewat barang-barang unik ataupun setangkai bunga untuk orang yang kita sayangi.

Memang aku tidak menjadi Sinterklas seperti yang kuinginkan. Setidaknya bisnisku ini menolong orang lain untuk bisa menjadi Sinterklas bagi orang-orang yang disayanginya.
Seluruh pegawaiku sedang makan siang, jadilah aku menjaga toko sendirian. Seorang perempuan muda berusaha memanggilku,”Siang Mbak, boneka Hello Kitty yang di depan kemana?” Aku sedang asyik bermain Angry bird di I-pad ku.

”Mbaaaak! Halllooooo!” Teriaknya lagi.
”Kenapa sih nih orang, budek apa?” Ujarnya kesal, tetapi begitu melihat sebuah tulisan di
belakang kursiku.

Don’t yell, just kick me
I’m deaf.

 Untungnya dia tidak melakukan sesuai tulisan itu, malah mendekati dan menepuk bahuku. Dengan lincah ia menggerakkan jari-jemarinya untuk berbicara kepadaku, ”Hai, boneka Hello Kitty yang di depan masih ada tidak? Biasanya ada di etalase depan, aku menginginkannya untuk hadiah ulang tahun adikku.”

Kuberi dia isyarat untuk mengikuti kemana aku pergi. Aku langsung pergi ke lantai atas yang merupakan gudang persediaan stok tokoku ini, boneka itu sedang dijemur karena kuminta pegawaiku mencucinya, maklum warnanya putih, mudah sekali kotor.

”Nah, ini dia yang kuinginkan untuk adikku itu, dia pernah datang ke toko ini bersamaku dan ia sangat menginginkannya. Jika sudah kering, bisakah kau antar ke rumahku besok pagi?” dengan tangkas, kembali ia menggerakkan jari-jemarinya saat melihat boneka Hello Kitty itu.
 
Kuberkata dengan jariku,”Baik, nanti akan kuminta pegawaiku mengantarkannya ke rumahmu, ada kartu member? Kalau memakai kartu, biaya antar jadi gratis”, kataku kepadanya.

“Ini dia kartu membernya”, katanya melalui jemari tangan kirinya, seraya menyerahkan sebuah kartu yang ia keluarkan dari dompet cokelatnya.
 
“Apa kau mau menuliskan beberapa kata untuk adikmu? Aku akan bantu menuliskannya di kartu ucapan”, tanyaku kepadanya.
 
“Boleh...Biar kutulis di kertas ini ya. Nanti kau tulis ulang lagi. Aku malu tulisanku tidak rapi”, jawabnya sambil menunjuk sebuah kertas kecil yang sering kupakai untuk mencatat nama dan nomor pelanggan.
 
Tak lama, dia mulai tampak serius menuliskan beberapa kata di kertas itu. Tampaknya dia benar-benar sayang pada adiknya.
“Ini...Nanti tolong kau tulis ulang lagi ya. Disini aku juga tulis alamat pengirimannya. Kau bisa membacanya kan”, jemari tangan kirinya berkata sembari menyerahkan potongan kertas kecil itu kepadaku. Kulihat tulisan di kertas itu secara sekilas. Kuanggukkan kepalaku sebagai tanda mengiyakan pertanyaannya tadi.
 
”Berapa total harganya?” tanyanya sebelum meninggalkan tokoku.
 Kembali aku terkagum-kagum dengan kelincahan jari-jemarinya menuturkan bahasa isyarat kepadaku,”Rp. 115.000, aku diskon untuk pelanggan.” jawabku.
Segera setelah dia menyelesaikan pembayaran, dia memberi isyarat tanda terima kasih dan berjalan keluar dari tokoku. 

Melihat pelangganku tersebut telah lalu, kubaca dengan seksama kata-kata yang pelangganku tadi tulis.

“Namaku Lisa. Aku ingin memberikan hadiah ini untuk adikku yang bernama Ratih. Besok adalah hari ulang tahunnya yang ke – 14. Melihatmu di toko tadi membuatku teringat Ratih, karena dia juga sepertimu. Itu jawaban kenapa aku bisa berbicara dalam bahasa isyarat kepadamu tadi.
Jika boleh, selain kau yang menuliskan ucapan untuk Ratih, bolehkah jika kuminta kau sendiri yang datang mengantarkannya ke rumahku. Aku ingin minta bantuanmu untuk menghibur Ratih. Akhir-akhir ini Ratih mengurung diri dan tak mau sekolah. Sepertinya dia sedang mengalami masa-masa sulit di sekolahnya, karena saat ini dia bersekolah di SMP negeri biasa.
Sebelum dan sesudahnya, terima kasih ya...
Lisa..”
 
Aku terdiam dan merenung sesaat. Pikiranku melayang ke jaman-jaman aku sekolah SMP dulu, di saat yang sama seperti yang dialami Ratih saat ini. Saat itu aku pun mengalami masa-masa sulit, masa adaptasiku dari sekolah di SLB setara SD dimana aku banyak memiliki teman-teman senasib , menjadi memasuki sekolah SMP negeri biasa dimana aku seperti merasa sendiri dan terasing dibanding teman-temanku yang bisa berbicara. 

“Kamu harus tetap kuat ya Ver. Ibu percaya kamu bisa seperti anak-anak yang lain, bahkan lebih.”, kata Ibuku setiap kali aku pulang sekolah dengan tangisan membasahi mata dan pipiku.
Ya, memang sejak Ayah meninggal saat aku berusia satu tahun, praktis hanya Ibu yang selalu tulus mendukungku dan menyemangatiku setiap kali aku merasa sedih, terutama karena kekurangan yang aku miliki.

Sebuah tepukan di bahu menghentikan lamunanku. Kulihat di sampingku telah berdiri Ibuku yang tampaknya telah berdiri di situ sejak tadi.

“Kenapa kamu menangis, Nak?”, tanya Ibuku lewat gerakan tangannya.
Kuseka air mata di pipi dan mataku dengan kerah dan lengan bajuku.

“Gak apa-apa bu. Coba Ibu baca surat ini”, kataku sambil kuserahkan kertas tadi kubaca.
Ibu mulai membaca tulisan di kertas itu. Lama dia terdiam. Kulihat air mata mulai menitik di sudut matanya. Kuambil tissue yang ada di meja kasirku, dan kuseka air mata di mata Ibu. 

“Ibu menyayangimu Nak. Ibu mau ikut mengantar boneka ini ke tempat Ratih..”, kata Ibu padaku lewat jemari-jemari tuanya.

***
Keesokan harinya, di rumah Ratih..

“Hallo Ratih...
Selamat ulang tahun ya. Semoga kamu suka dengan kado yang Kak Lisa beliin buat kamu.
Semoga Ratih gak sedih lagi ya di sekolah.
Pasti Ratih bingung kok yang ngasih kadonya orang lain.
Nama Kakak yang kasih hadiah ini adalah Kak Vera. Dia sama kayak kamu. Liat deh, dia gak sedih kan meski punya kekurangan. Kakak pengin kamu juga bisa semangat kayak dia dan ga sedih karena punya kekurangan. Kakak percaya kok Tuhan pasti adil kasih kelebihan dan kekurangan ke umat-Nya. Nah, selain punya kekurangan, Tuhan pasti juga kasih banyak kelebihan ke Ratih. Kalo gak percaya, coba deh ajak ngobrol Kak Vera. Dia baik kok...
Yaudah, semoga Ratih bisa panjang umur, tambah pinter, dan ga sedih-sedihan lagi.
Salam sayang ,  Kak Lisa.
 
Kulihat senyum mengembang di bibir Ratih saat menatapku. Kugerakkan tanganku untuk berbicara kepadanya...
“Halo Ratih. Ini Kak Vera. Selamat Ulang Tahun ya...”
Tak kuduga, dia menjawab sapaanku kepadanya.
“Halo Kak Vera. Makasih ya Kak....”
Kulirik sedikit celah pintu yang terbuka. Beberapa senyum dan pasang mata bahagia berdiri di sana.


ditulis oleh saya (@rbennymurdhani) dan @Victoriadoumana

Misi 21 Day 1: Belajar Nulis Duet di Proyek #20HariNulisDuet

Misi 21 Hari ke-1. Jumat, 10 Februari 2012 

Hore....
Akhirnya saya memutuskan untuk mulai ikut Misi 21, yaitu misi di mana selama 21 hari kita melakukan hal-hal yang baru setiap harinya, dan bila satu hari tidak melakukan, berarti harus ngulang dari hari pertama.

Misi 21 untuk hari pertama ini, yaitu tanggal 10 Februari kemarin adalah ikutan proyek nulis #20HariNulisDuet, yaitu sebuah proyek nulis dimana selama 20 hari kita harus berduet dengan orang lain dan menuliskan sebuah karya fiksi. Awalnya sempat ragu juga apa ada yang mau duet dengan penulis pemula seperti saya ini. Tapi setelah saya pikir lagi, apa salahnya juga saya coba. Dan ternyata, teman saya @opathebat mau menjadi teman duet saya untuk hari pertama yang bertemakan "Persahabatan". Dan setelah berdiskusi hebat dengan Opat (lebay...hehe) jadilah tulisan saya dan Opat dengan judul "Bandara".

Jumat, 10 Februari 2012

Bandara



“Sudah hampir jam 7 malam, tapi kenapa dia belum datang-datang juga ya”, tanyaku dalam hati. Bayu, ya Bayu alias Jengkol. Dialah orang yang paling kutunggu kehadirannya sebelum aku pergi malam ini ke Australia, untuk kuliah S1 disana.

Bayu atau Jengkol adalah sahabatku sejak SMP. Awal aku dan Bayu saling mengenal adalah pada saat orientasi siswa baru. Saat itu kami berdua sama-sama dihukum oleh kakak-kakak kelas panitia orientasi karena kami lupa membawa jengkol dan pete sebagai tugas yang harus dibawa di hari pertama orientasi itu. Sejak itulah kami terkenal di seantero sekolah dengan julukan baru. Jengkol untuk panggilan Bayu, dan Pete untuk aku sendiri.

“Hmm....”, tawaku kecil mengingat hari-hari itu.
Tak terasa persahabatan kami sudah hampir 6 tahun. Sudah banyak kisah yang kita bagi  bersama, termasuk saat Bayu bercerita tentang pacar-pacarnya, yang kini sudah berstatus mantan. Setiap kali kudengar Bayu bercerita kepadaku tentang pacarnya atau nama perempuan lain, setiap itu pula aku merasa ada yang aneh di hatiku. Entah rasa cemburu atau apa, yang jelas aku tak suka dia bercerita tentang perempuan lain kepadaku.

“Para penumpang Qantas Air No Penerbangan QA1328 Jakarta-Sydney, diharapkan segera bersiap-siap ke Gate 2.”
Suara wanita dari pengeras suara tersebut memecah lamunanku akan Bayu.

“Nad, ayo cepetan masuk ke dalam.”, kata Mama kepadaku.
“Bentar lagi deh Mama. Nadia lagi nunggu seseorang Bayu ni..”, jawabku sembari merogoh handphone dari jaket.

Kupencet tombol-tombol di handphoneku.

Calling Bayu, +628789000889

”Maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Cobalah beberapa saat lagi.”

“Ih..Kemana si Jengkol. Padahal kemarin udah janji mau nganter aku. Mana ditelepon gak aktif lagi.”, kataku dengan nada kesal.

“Kalau Bayu nggak datang juga gimana?”, bukannya mencoba menenangkanku, Mama malah membuatku makin gelisah.

Aku diam saja mendengar pertanyaan Mama. Yah mungkin saja Bayu tidak datang, kan. Saat aku menuju bandara tadi, jalan benar-benar macet. Lini masa yang terus kupantau juga menciap bahwa jalan menuju bandara masih macet dan sulit bergerak.

“Nad, Mama tahu kamu nunggu Bayu. Tapi pesawat kita nggak mau nungguin Bayu. Bayu kan bukan pemilik maskapai ataupun Bandara ini”, kata Mama.

Aku tidak tahu bagaimana harus bereaksi akan perkataan Mama. Sedihkah? Atau tertawa? Aku merasa mataku semakin panas. Sepertinya aku akan menangis.

“Nad!”, Mama kembali menegurku.
“Ya, Ma”, aku berjalan dengan amat enggan.

“Nad!”. Tiba-tiba aku tersenyum, aku menoleh. Itu seperti suara Bayu. Langkahku terhenti. Aku pun menoleh ke belakang.

“Apa lagi sih, Nad?”, Mama mulai agak jengkel akan kelambatanku.

“Aku denger suara Bayu, Ma”. Sambil berkata begitu, aku terus melongok mencari-cari sosok Bayu. Terus kulempar pandanganku ke segala arah. Tapi aneh, aku tidak juga menemukan sosoknya. Apakah itu hanya khayalanku saja?

Mama sepertinya benar-benar kesal dan melanjutkan langkahnya tanpa menungguku lebih lama lagi. Aku segera berlari bergegas menyusul Mama. Setelah aku masuk, gate pesawat kemudian tertutup.

Aku tidak bertemu Bayuku. Jengkolku.

Ditulis bersama saya (@rbennymurdhani) dan teman saya @opathebat
Kunjungi juga blog @opathebat di http://happyandshiny.wordpress.com/

Es Krim Cokelat


“Es Krim...Es Krim...., Es Krim Cokelat Diana...”,
“Ayo beli-beli....Es Krim Cokelat Diana”, teriakku dengan suara yang serak, sambil kukayuh sepeda yang setia menemaniku berjualan es krim cokelat setiap hari.
“Es Krim Es Krim...”.

Tiba-tiba, suara dari arah belakang memanggilku.
“Bang........Bang”.
Kutarik tuas remku dan kuhentikan laju sepedaku. Kutuntun perlahan ke tepi jalan.
Seorang anak kecil lelaki berlari dari sebuah rumah dan mendekat kepadaku. Nampak di  depan rumah itu, berdiri seorang anak kecil perempuan menatap anak lelaki tadi berlari kepadaku.

“Bang, Es Krim Cokelatnya berapaan bang?”, katanya dengan nafas tersengal-sengal..
“Yang cup ini 4 ribu, kalo yang stik ini 2 ribu.Adek mau beli yang mana.”, tanyaku balik.
Kulirik anak kecil ini. Kulihat sepintas beberapa lembar uang seribuan dalam genggamannya.

“Saya pengin beli yang stik aja bang...”, jawabnya sembari menyerahkan uang ribuan empat lembar.
Kuambil dua buah es krim cokelat dari kotak tempat es krim, lalu kumasukkan ke dalam tas plastik yang telah kupersiapkan di tanganku. Kuserahkan bungkusan tas plastik tersebut kepada anak kecil itu.

Tanpa banyak bicara, dia mengambil satu buah es krim dari plastik, dan menyerahkan satunya kepadaku. Lalu dia berlari menuju anak kecil perempuan yang sedang berdiri di ujung sana.

“Hei dek, kenapa es krimnya cuma diambil satu? Kan kamu kasih empat ribu ke abang...”
teriakku kepada anak kecil itu, masih dengan perasaan bingung.

“Es Krim Cokelatnya satu cuma buat adik saya aja bang.Sisanya buat tips abang aja.”
jawabnya sambil berlari masuk ke rumah. Di belakangnya, anak perempuan yang ia panggil adik menyusulnya.

Selasa, 07 Februari 2012

Permen Cokelat


“Bapak, aku pengen permen cokelat kayak punya Adi”.
rengek Budi kepadaku dengan setelan seragam merah putihnya.


Sudah tiga hari ini anakku Budi, merengek kepadaku untuk membelikannya permen cokelat “SUPER” seperti yang biasa Adi bawa ke sekolah. Adi ini adalah anak Pak Yadi, tetangga rumahku yang hidup mapan dengan pekerjaannya yang entah apa. Yang jelas dia punya rumah dengan beberapa mobil mewah di dalamnya. Berbeda sekali dengan keadaan hidupku serta rumah kontrakanku yang hanya berukuran 4 x 6 meter.


“Ntar ya Nak. Pulang sekolah Bapak kasih permen yang kayak punya Adi. Dah sekarang kamu berangkat sekolah dulu ya.”


“Iya Pak. Tapi janji ya pulang sekolah nanti Bapak kasih permennya.”


“Iya Bud. Bapak janji..”, jawabku.


“Budi berangkat ya Pak.”,ucap Budi sembari mencium tanganku.


Kuusap rambutnya.
“Ati-ati di jalan Bud. Yang rajin belajarnya ya.”


Budi berlari meninggalkanku. Dia memang anak yang penurut, dan tak pernah memaksa saat dia minta sesuatu. Sudah banyak permintaannya yang hanya kubalas dengan janji. Terakhir kali dia meminta dibelikan pensil baru karena miliknya yang lama sudah tinggal sepanjang jari kelingking. Waktu itu pun aku jawab “Nanti ya Nak. Bapak janji kalau ada rejeki Bapak beliin pensil baru buat kamu”. Dan seperti biasanya pun, Budi tak lagi merengek minta dibelikan pensil baru.


Tapi hari ini, permintaan Budi untuk dibelikan permen cokelat seperti punya Adi harus kupenuhi. Toh harga permen cokelat pasti lebih murah daripada harga sebuah pensil baru. Kurogoh dompet di kantong kiri celanaku. Kubuka dompetku, memastikan tersisa berapa uang hasil kerjaku, yang hanya bekerja sebagai kondektur Metro Mini 69 jurusan Blok M- Ciledug dengan bayaran hanya 15-20 ribu sehari.


“Huhhh...”,kuhela nafasku. Badanku lemas sembari mengenggam uang lima ribuan di tanganku.
“Apa cukup ya uang lima ribu ini untuk membeli permen yang diminta Budi”.


Tin...tin...
“Sepertinya itu suara klakson metro mini Bang Udin”, kataku dalam hati.


“Jok..Joko.Ayo berangkat narik...”.
Suara keras dengan aksen Batak yang sudah sangat kukenal.
Bang Udin mengajakku untuk berangkat kerja. Mengais rejeki dari setiap uang dua ribuan penumpang yang naik Metro Miniku..


Buru-buru kututup dan kumasukkan lagi dompetku ke dalam kantong celanaku.
‘Iya bang.”, jawabku sambil berlari menuju pintu rumah kontrakanku.


***


“Yo...Ciledug Ciledug Ciledug...”
teriakku keras-keras untuk mendapatkan penumpang. Kuacungkan ibu jariku setiap kali ada orang yang berdiri di tepi jalan. Sesekali kuketuk-ketukan uang logam di tanganku, memberi tanda kepada Bang Udin tiap kali ada penumpang yang akan turun.


Metro Miniku berhenti terkena macet di jalan daerah kontrakanku, tepatnya di depan ITC Cipulir Mas.
“Ada apa ya. Kok sampai macet begini.”, pikirku.
Penumpang di dalam mulai kegerahan. Udara panas Jakarta semakin menambah panas suasana.


“Hei Jok. Coba kau lihat ke depan sana.”


Tanpa menjawab perintah Bang Udin, aku berjalan menyusup ke sela-sela mobil di depan Metro Miniku. Dari kejauhan kulihat beberapa orang yang berkerumun.
Semakin dekat jarakku dengan kerumunan itu, ternyata orang-orang itu sedang mengerumuni sebuah mobil yang terguling di badan jalan. Tampak beberapa orang itu pergi dari kerumunan dengan membawa satu dua kardus bertuliskan “PERMEN COKELAT SUPER”.


“Itu kan permen cokelat seperti yang anakku minta..”, pikirku cepat.
Segera aku berlari mendekat mobil yang terguling itu. Kuikuti apa yang orang lain lakukan. Dengan segera kuambil beberapa permen cokelat yang tercecer di sekitar mobil yang terguling itu.


Sembari memungut permen dan memasukkannya ke tas pinggang berisi uang hasil tarikan Metro Mini, hatiku dan bibirku tersenyum seirama.
“Semoga Budi senang kalau aku bisa bawa permen segini banyak”, raup tanganku berusaha mengumpulkan permen sebanyak-banyaknya.


Tiba-tiba, sebuah tangan menepuk pundakku.
“Oi Jok..Loe ngapain disini. Mending loe langsung ke Rumah Sakit Kartini Cipulir sono. Anakku loe itu tadi ketabrak mobil ini. Tadi sopir mobil ini udah mau dikeroyok ama orang-orang sini, untung polisi udah langsung ngamanin. Cuma ni mobil aja yang udah abis barang-barangnya dibawa.”


Aku masih tertegun mendengar ucapan Slamet, tetangga rumahku, yang sedang mencerocos menerangkan kejadian yang baru saja dialami mobil di depanku ini.
“Udah sana jangan ngelamun. Cepetan sana liat anak loe di rumah sakit.”


Segera kulangkahkan kakikku mendekati tukang ojek di depan ITC Cipulir Mas.
Tak kupedulikan lagi nasib Bang Udin, Metro Mini beserta penumpang di dalamnya. Tak kupedulikan lagi orang-orang yang masih berkerumun di sekitar mobil yang terguling tadi.


“Bang, cepet anterin saya ke Rumah Sakit Kartini Cipulir.”, kataku tergesa-gesa kepada tukang ojek.

Lomba Blog dari AXIS : Eksis dengan Internet



Halo pembaca Kamar Kata, ada info lomba nge-blog ni dari AXIS.
Berikut informasi lengkapnya saya copy paste-kan dari blog AXIS.


 ***
Hai, AXISers! Apa yang lebih menyenangkan dari kabar baik di awal tahun? Nah, kali ini AXIS sebagai operator GSM dan 3G dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia ingin berbagi kabar baik dengan kamu semua.


Suka online? Suka menulis? Dan eksis? Yuk ikutan Lomba Penulisan Blog yang kami adakan dengan tema "Eksis dengan Internet". Apa aja syaratnya?


Tema Tulisan
“Eksis dengan Internet”


Periode Blog Competition
16 Januari - 29 Februari  2012


Pengumuman Pemenang
7 Maret 2012


Hadiah:
Tablet + AXIS Eksis SIM Card & Voucher value 6 months free unlimited access
I : iPad 2
II: Galaxy Tab 7.0
III: HTC Desire


Syarat Umum
1.Semua blogger di Indonesia dapat berpartisipasi
2.Peserta adalah mereka yang memiliki blog pribadi, baik hosting gratis dan domain pribadi
3.Tidak ada batasan umur
4.Meletakkan gambar banner online di bawah ini dalam postingan, dengan link menuju (blog dunia AXIS)






5.Tiap peserta diwajibkan mencantumkan link ke http://duniaaxis.co.id dan wajib untuk register di blog ini
6.Isi blog: Bebas, fiksi/non fiksi, tidak mengandung unsur pornografi, hasutan, SARA
7.Tidak menyalahi ketentuan undang-undang Teknologi Informasi, tidak melanggar hak cipta, serta bukan hasil copy paste
8.Mengandung ide-ide kreatif baru


Kriteria Penjurian
1.Judul, isi, dan nada pemberitaan sejalan dengan tema lomba
2.Isi tulisan fresh dan original
3.Juri memiliki hak prerogatif untuk menentukan pemenang


Mekanisme Penjurian
1.Pengumuman pemenang 7 Maret 2012
2.Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat
3.Jika tulisan sudah dipublikasikan di blog pribadi peserta, peserta mengirimkan beberapa data berikut ke email dunia.axis@axisworld.co.id dengan subjek Lomba Blog AXIS
- Nama Lengkap
- Alamat url blog
- Tautan langsung menuju artikel yang dilombakan
- Alamat email
- Nomor telpon
4.Mensubmit url blog post pada Notes Lomba Blog di Notes Facebook Page dunia AXIS
5.Selain pendaftaran tidak ada surat-menyurat perihal lomba melalui e-mail penyelenggara

Rabu, 01 Februari 2012

Kopi Tubruk


 "Mbak, kopi tubruknya satu ya. Gulanya sesendok aja.", suara itu membuyarkan lamunanku siang ini.
"Iya Mas, kayak biasanya kan.", jawabku.

Tak lebih dari lima menit, telah kusiapkan secangkir kopi tubruk dengan asap mengepul tanda panas. Dengan nampan warna merah favoritku, kusajikan kopi tubruk itu kepada dia, pelanggan setiaku.

Perlahan, kulihat dia mulai menyeruput kopi buatanku yang katanya paling enak di dunia.

"Hmm..Mbakyu Mbakyu, kopimu ini memang paling enak di dunia. Rahasianya apa to?",
katanya segera setelah menyesap kopiku.

"Ah, gak ada rahasia apa-apa kok Mas. Mungkin karena yang bikin manis kayak saya sih, jadi kopinya ikut-ikutan manis", candaku menimpali.

Tawa kecil menyungging di bibirnya
"Hehe...Mbakyu ini ada-ada saja. Minta digodain ni..hehe".

"Hehe...Emang beneran kok mas.hehe.."
"Mas, tak tinggal ke dapur dulu ya. Aku mau cuci piring dan gelas..", kataku padanya, sembari berjalan ke arah dapur warungku.

Kubereskan bungkus-bungkus kopi dan mie instant yang menumpuk di dapurku, dan kumasukkan ke keranjang sampah. Setelah bungkus kopi dan mie instant habis kubuang, kubuka kotak warna merah di samping rak piring.
Kupegang botol kecil yang ada di dalam kotak tersebut.

"Ramuan dari Mbah Marmo emang bener-bener manjur. Sekarang dagangan kopi dan mie rebusku jadi laris manis.".

Buku

Saya senang sekali dunia tulis menulis, meskipun sampai sekarang saya pun belum terlalu pede dengan hasil tulisan saya.

Berikut beberapa buku, dimana beberapa karya saya ada di dalamnya.

1.BUKU DEAR MAMA BUKU 7

Dear Mama buku 7
Kumpulan Surat Untuk Ibu dari Anak-anaknya...Temukan surat saya di buku ini.Jangan lupa beli ya karena hasil penjualannya akan disumbangkan ke yayasan sosial. Klik gambarnya untuk info lebih lanjut.


2. 15HARINGEBLOGFF BAGIAN 1



Saya nyumbang satu tulisan di buku kumpulan flash fiction ini. Setiap pembelian buku ini, royaltinya akan disumbangkan untuk kegiatan sosial.


3. 20 HARI NULIS DUET BUKU 1


Buku Antologi ketiga saya bersama teman-teman penulis, dimana setiap cerita yang ada di dalam buku ini adalah hasil kolaborasi dari para penulis.

Semoga deretan karya saya ini akan terus bertambah lagi dan lagi.