Minggu, 27 September 2009

Memahami Kesuksesan


Oleh: Robertus Benny Murdhani

Bagaimana orang bisa sukses?Bagaimana Bill Gates bisa menjadi penguasa dunia piranti lunak dengan kerajaan bisnisnya Microsoft?Atau apakah orang sukses hanya karena hasil usaha dirinya sendiri?

Seperti pertanyaan terakhir, tadinya saya selalu berpikir bahwa kesuksesan yang orang-orang raih (baca: saya sendiri masih merasa belum sukses)adalah murni hasil kerja keras pribadi, tentunya dengan seijin Yuhan YME. Saya berpikir bahwa kerja keraslah yang mampu membuat seseorang menjadi sukses dalam kehidupannya, terutama kesuksesan yang sangat terkait dengan materi alias uang. Tapi adakah faktor-faktor lain yang ikut menentukan seseorang dalam mencapai kesuksesan?

Beberapa minggu yang lalu saya membaca sebuah buku yang cukup menarik. Sebuah buku yang bertajuk "Outliers, The Story of Success" karangan seorang jurnalis yang menulis di The Washington Post dan The New Yorkers. Jujur saya langsung tertarik ketika kawan saya meminjamkan buku itu. Sebuah buku dengan judul yang membuat penasaran (karena saya tidak tahu arti Outliers, hehehe...) dan tulisan Best Seller di sampul depannya.


Singkat cerita, buku itu sungguh membuka saya mata mengenai kesuksesan. Saya jadi terbuka bahwa kesuksesan merupakan sebuah proses yang sebenarnya tidak ditentukan oleh sebuah faktor saja. Sebuah kesuksesan tercapai karena ada beberapa faktor seperti keadaan atau latar belakang orang tua, suku atau ras, tahun kelahiran, dll.
Sedikit sok pintar, saya membuat definisi kesuksesan ala Benny. Menurut Benny alias saya sendiri, "kesuksesan adalah momentum dimana semua fakto-faktor yang mendukungnya bertemu, termasuk di dalamnya usaha pribadi, kesempatan, peluang danfaktor-faktor lain yang bahkan mungkin seringkali kita anggap tak ada kaitannya dengan kesuksesan".

Sebuah contoh (selain di buku) mungkin bisa saya ambil dari Raditya Dika, seorang blogger yang juga merangkap sebagai penulis dan pemain film (filmnya sendiri,hehehe....Dia adalah seorang yang sukses dengan cerita-cerita konyolnya yang dia publish lewat blognya, dan selanjutnya ia tawarkan ke penerbit yang akhirnya tertarik untuk menerbitkan kumpulan-kumpulan cerita konyolnya. Dan lihatlah sekarang bagaimana dia sukses dengan beberapa bukunya.

Lalu apa yang bisa digali dari kesuksesan Raditya Dika??Tentunya selain dia memang pintar menulis kisah hidupnya yang lucu dan konyol itu.

Lihatlah ke awal kisah Raditya Dika. Awalnya ia menulis dan mempublish tulisan-tulisannya lewat blog sejak kelas 2 SMA (berdasar filmnya yang diangkat dari salah satu bukunya). Saat ini umur Raditya Dika yang berumur 25 tahun. Jadi saat kelas 2 SMA, dengan asumsi saat itu berumur 16 tahun, adalah tahun 2000-2001. Lalu apa yang aneh???

Berdasar beberapa sumber yang saya baca, terutama dari Bapak Blogger Indonesia Enda Nasution, blog mulai berkembang di Indonesia tahun awal-awal 2000-an. Jadi ya sekitar 2000-2001an. Disini intinya. Raditya Dika mulai nge-blog lewat komputer di rumahnya di sekitar tahun 2000-2001. Inilah faktor lain yang mungkin tidak dilihat orang. Raditya Dika bisa mengenal internet lebih awal dari blogger-blogger lain dan ikut menjadi bagian dari awal perkembangan blogger di Indonesia. Dan hal itu terjadi pula karena orang tuanya mampu memberikan atau membelikan dia komputer dengan akses internet pula. Bisa dibayangkan bukan bila blog mulai berkembang di tahun 1995-an.Mungkin saat itu sudah banyak blogger-blogger lain bermunculan.Juga bisa dibayangkan bukan bila orang tua Raditya Dika saat itu tidak mampu membelikan komputer dengan akses internet juga.

Kembali ke poin-pon yang saya sampaikan adalah orang sukses, dalam contoh ini Raditya Dika adalah hasil pertemuan beberapa faktor seperti kebiasaan Raditya menulis pengalaman-pengalamannya sejak kecil, faktor perkembangan blog di tahun awal 2000-an, keadaan ekonomi orang tua yang mampu memberikan fasilitas komputer dan akses internet, dan mungkin juga hubungan dengan pacarnya yang dipanggil Kebo (di film diceritakan Raditya awalnya hanya iseng memberikan tulisannya ke penerbit saat menemani si Kebo ke penerbit untuk menyerahkan draf novel).

Lalu apa pelajaran penting kalau kita tidak dilahirkan dengan segala keberuntungan??Atau kita tidak dilahirkan di keluarga yang mampu membelikan komputer atau menyekolahkan kita?

Yang ingin saya sampaikan bahwa ketika faktor-faktor lain tidak mendukung kita untuk mencapai kesuksesan, kita lah yang harus berjuang lebih keras untuk meraihnya. Mengetahui adanya faktor-faktor diatas jangan membuat ita malah pasrah, tapi malah membuat kita sadar tentang apa yang bisa membantu kita dalam mencapai kesuksesan.

Selamat berjuang.............

Kamis, 17 September 2009

Jobstreet, Situsnya Para Jobseeker

Oleh: Robertus Benny Murdhani

Dimana biasanya para jobseeker alias para pencari kerja mencari info lowongan pekerjaan?? Koran, majalah atau datang langsung ke kantor perusahaan?Buat yang sedikit malas keluar rumah buat sekedar beli koran, saya pengin bercerita dimana kalian bisa mendapatkan info lowongan pekerjaan, langsung dari komputer anda.

Kok dari komputer??Maksudnya??

Masa bingung sih. Yang ingin saya ceritakan sebenarnya sebuah situs yang bernama Jobstreet yang beralamat di www.jobstreet.com. Situs ini adalah sebuah situs yang bisa membantu para jobseeker yang ingin mendapatkan informasi lowongan pekerjaan, baik dari perusahaan nasional, maupun internasional. Apa aja kelebihan dari Jobstreet ini??

-Pertama, di Jobstreet ini kita akan dikirim email yang berisi lowongan-lowongan pekerjaan yang sesuai dengan kriteria atau kualifikasi yang kita isi pada saat kita mendaftar di situs ini. Hal tersebut sungguh memudahkan kita dalam memilih lowongan pekerjaan yang akan kita inginkan.

-Kedua, Jobstreet juga menawarkan fitur resume atau CV. Disitu kita bisa membuat resume atau CV yang berisi data-data pribadi kita. Uniknya adalah kita bisa men-setting agar kita bisa langsung meng-apply pekerjaan tanpa harus membuat atau mengupload resume lagi. Mudah bukan.

-Ketiga, kita pun bisa meng-apply pekerjaan melalui HP. Cukup ketik JSA APPLY dan kirim ke 9333, maka Jobstreet akan mengirimkan CV dan resume ke perusahaan yang menawarkan pekerjaan.

Saatnya kita memanfaatkan teknologi untuk mencari pekerjaan. Selamat mencoba.

Rabu, 16 September 2009

HP dan Eksistensi Diri

oleh : Robertus Benny Murdhani

Sekitar 2 minggu yang lalu, saya dan teman-teman anak Bhumiksara mulai mengikuti Pendampingan Nasional 2 di Realino, Jogja. Kegiatan yang berlangsung di Realino selama seminggu disambung dengan di Klaten selama seminggu berkutnya memberi beberapa catatan yang menarik buat saya. Salah satu yang masih membekas di pikiran saya dan kiranya menarik untuk diangkat sebagai sebuah tulisan adalah mengenai HP alias handphone.

Ada apa dengan HP??
Di Realino,kami para peserta tidak diperbolehkan memegang HP selama kurang lebih 6 hari.Kata panitia acara yang berasal dari Tim Campus Ministry USD sih agar kita bisa berkonsentrasi dengan acara. Lalu apa yang menjadi pikiran saya tentang HP dan eksistensi diri??

HP memang sekarang sudah bukan barang mewah seperti ketika beberapa tahun yang lalu. HP saat ini sudah seperti kebutuhan. Mulai dari anak SMP sampai para pejabat menggunakan HP dalam kehidupan sehari-hari mereka. Ada yang sekedar ber-SMS ria dengan teman-teman sampai ke masalah pekerjaan yang bernilai jutaan rupiah, semua menggunakan HP.

Pengalaman seminggu di Realino membuat saya mengerti bahwa HP sangatlah terkait dengan eksistensi diri. Itulah alasan lain mengapa HP disita, yaitu agar kami para peserta dapat saling berkomunikasi dengan sesama peserta lain yang ada dsitu. Pernah tidak kita merasa kesal gara-gara orang yang ada di depan kita dan ingin kita ajak ngobrol, malah sibuk dengan HPnya sendiri???

Kita memang seringkali asyik dengan HP kita sehingga tanpa sadar kita mengisolasikan diri dari lingkungan kita. Kita lebih asyik ber-SMSan ria denga teman nun jauh disana dan tak perduli kehadiran teman yang ada di depan atau samping kita. Atau kita keasyikan mengupdate status di Facebook atau Twitter sehingga kita tidak mendengarkan apa yang dosen atau guru kita terangkan di depan kelas.

Sekarang HP saya memang sudah ada di tangan saya. Tapi jujur saya merasa lebih bersikap fleksibel dengan HP. Saya merasa ada atau tidak ada HP tidak mengganggu hidup saya dan komunikasi saya dengan orang yang sedang berada di sekitar kita.Bagaimana dengan anda???