Sabtu, 28 April 2012

Review Buku : DreamCatcher by Alanda Kariza


Buku tentang bagaimana mewujudkan mimpi atau memotivasi orang untuk berani bermimpi memang banyak sekali beredar di pasaran. Namun membaca buku DreamCatcher karya Alanda Kariza saya jamin akan memberikan nuansa yang berbeda dengan buku-buku lainnya.

Membaca setiap halaman dari buku ini serasa disadarkan bahwa hidup ini terlalu sia-sia jika dilewatkan tanpa kita berani bermimpi. Gaya bahasa Alanda yang ringan dan tak terkesan menggurui membuat saya betah tiap halamannya hingga tak terasa tak lebih dari 2 jama saya membaca, buku ini habis di tangan. Dan selama proses 2 jam membaca ini, saya merasa seperti ditampar-tampar dan dibuat malu oleh sosok Alanda Kariza, yang di usianya yang masih belia, dia telah banyak sekali menorehkan prestasi.Tak hanya prestasi untuk dirinya sendiri, tapi juga sesuatu yang ia lakukan untuk orang lain.

Selain kisah perjuangan dirinya sendiri, Alanda juga menyisipkan kisah beberapa anak muda yang di usianya yang belia namun telah berhasil mewujudkan mimpinya masing-masing. Dan seperti halnya dengan Alanda, para anak muda ini pun memiliki semangat berbagi dengan orang lain. Ambil contoh saja Goris Mustaqim, anak muda yang mendirikan ASGAR MUDA Foundation, sebuah organsiasi yang memberdayakan anak muda yang tinggal di Garut untuk membangun daerah kelahirannya tersebut. "Ya, berbagi justru membuat kita lebih kaya", tulis Alanda dalam buku ini.


Ilustrasi yang ada di buku ini membuat buku ini terasa lebih hidup. Perpaduan warna hitam dan kuning membuat buku ini terasa segar di mata dan membuat kita untuk terus membaca (atau sekedar melihat gambar-gambarnya yang lucu). Uniknya dari buku ini adalah karena dalam buku ini terdapat halaman-halaman yang sengaja disediakan agar kita menuliskan hal-hal apa saja yang berhubungan dengan setiap bab yang ada di buku ini. Jadi setiap kita selesai membaca satu bab, kita bisa langsung "berpraktek" untuk mengaplikasikan apa yang sudah kita baca, tentunya sesuai dengan kehidupan kita masing-masing. Hal ini membuat setiap buku DreamCatcher ini menjadi custom bagi tiap-tiap orang.
(Hal semacam ini pernah saya temui di buku Rene Suhardono yang berjudul UltimateU)

Untuk anda yang ingin ditampar-tampar seperti saya, yang mungkin di usia yang tak lagi semuda Alanda tapi belum melakukan dan memberi kontribusi apa-apa, atau bahkan tidak pernah berani bermimpi dalam hidup, wajib sekali untuk membaca Dream Catcher karya Alanda Kariza ini.

NB; Kebetulan saya dapat edisi buku yang dapat tanda tangan Alanda Kariza sendiri..hehe


DREAMCATCHER
Data Buku:
Judul DreamCatcher  
No. ISBN 9789797805371 
Penulis Alanda Kariza 
Penerbit GagasMedia 
Tanggal terbit April - 2012 
Jumlah Halaman 232 

Rabu, 18 April 2012

My Third Book: Time 2 Write Sesi 1

Pernah membayangkan bagaimana rasanya menulis sebuah cerita bersama-sama dengan orang lain.
Seru, tak terduga, dan penuh kejutan. Itulah gambaran perasaan yang saya rasakan ketika pertama kali saya belajar untuk menulis duet.

Buku Time 2 Write ini adalah kumpulan tulisan fiksi hasil dari proyek menulis duet yang digagas oleh @teguhpuja dan @violetkecil selama 20 hari berturut-turut. Tulisan duet saya sendiri ada di dalam buku sesi pertama Time 2 Write ini.

Trus apa uniknya buku ini?
Di buku ini, kita bisa menemukan beragam tulisan duet penulis-penulis baru (termasuk saya..hehe) dengan beragam genre, mulai dari romantic, fan-fiction, thriller, dll. Sungguh kaya dan beragam bukan.


Untuk teman-teman yang ingin membeli buku ini, segera klik link di bawah ini.
http://nulisbuku.com/books/view/time-2-write-20harinulisduet




Selasa, 17 April 2012

Menyambut Pembentukan Ikatan Alumni Sastra Inggris Unsoed


16 April 2012 lalu saya mendapat sebuah email dari salah satu dosen semasa kuliah saya. Isi emailnya adalah mengenai undangan untuk menghadiri temu alumni Sastra Inggris Unsoed sekaligus pembentukan Ikatan Alumni Sastra Inggris Unsoed.

Apa reaksi pertama yang muncul di pikiran saya ketika mendapat undangan tersebut?
Senang dan bahagia.


  Memangnya kenapa kok saya senang dan bahagia dengan adanya pembentukan Ikatan Alumni tersebut?
Jujur sudah lama saya memimpikan agar Sastra Inggris Unsoed ini memiliki sebuah Ikatan Alumni, seperti halnya dengan fakultas maupun jurusan lain di Unsoed maupun di universitas lainnya. Sebenarnya, keinginan untuk membentuk sebuah paguyuban atau semacam organisasi sebagai wadah para alumni sepanjang pengamatan saya selama ini telah lama ada di dalam diri masing-masing alumni. Setidaknya, beberapa orang teman saya termasuk saya sendiri telah berusaha untuk memanfaatkan Facebook dan Twitter untuk menjalin silaturahmi dengan sesama alumni lain. Sayangnya, beberapa akun Facebook untuk temu alumni masih belum dimanfaatkan secara maksimal untuk kemajuan bersama, baik untuk alumni maupun almamater.

Manfaat dari sebuah ikatan alumni sebenarnya sungguh sangatlah banyak. Yang pertama, bagi kampus sendiri, ikatan alumni adalah salah satu komponen penilaian yang digunakan dalam proses penilaian akreditasi dari sebuah kampus.

Mengapa bisa sebuah ikatan alumni dapat menjadi komponen penilaian akreditasi kampus?
Menurut saya sih karena dari ikatan alumni tersebut, BAN PT sebagai pihak yang menilai dan memberi akreditasi dapat menilai tingkat kelulusan mahasiswa/i, prospek kerja dari para alumni, tingkat penyerapan dunia kerja terhadap alumni, relevansi pekerjaan alumni terhadap ilmu yang diajarkan di kampus, dll.

Apa lagi manfaatnya Ikatan Alumni?
Bagi para almamater pastinya dengan adanya ikatan alumni, mereka dapat lebih mudah untuk mencari informasi terutama untuk mereka yang ingin segera lulus.  Para almamater yang akan segera lulus pastinya masih buta sekali dengan dunia kerja. Mungkin nantinya berawal dari Ikatan Alumni ini dapat membuat semacam pelatihan seputar dunia kerja, seperti cara membuat CV, mencari lowongan kerja di internet, teknik wawancara, dsb. Yang penting juga untuk dibagi adalah bagaimana sebenarnya dunia kerja itu sesungguhnya, karena bagi saya sendiri dunia kerja dan dunia kuliah itu benar-benar berbeda. Dalam dunia kuliah, ketika kita berbuat salah masih ada toleransi terhadap kesalahan yang kite perbuat. Namun ketika kita berbuat salah dalam dunia kerja, pasti ada sanksi terhadap kesalahan yang kita perbuat, sesuai dengan kebijakan perusahaan atau tempat bekerja kita masing-masing.

Ikatan alumni juga nantinya dapat membantu kesulitan-kesulitan apa yang sedang dihadapi para almamater maupun kampus kita ini. Saya sendiri pernah mencoba untuk mengumpulkan para alumni yang ada di Jakarta guna mengumpulkan dana yang nantinya akan digunakan untuk menyumbang perpustakaan di kampus, khususnya guna melengkapi referensi buku di sana. Tapi ternyata respon yang saya dapat tidak terlalu bagus, sehingga akhirnya rencana saya itupun kandas di tengah jalan.

Kalau untuk almamater sudah, terus apa dong manfaat ikatan alumni untuk alumni itu sendiri?
Menurut saya sih, manfaatnya adalah dengan ikatan alumni ini, kita bisa dapat lebih mudah untuk membantu almamater kita, Misal, ada alumni yang tinggal di luar negeri dan ingin membantu almamater, nah dengan adanya ikatan alumni, dia dapat menyalurkan bantuannya melalui ikatan alumni. Dengan ikatan alumni, selain mempererat silaturahmi, kita juga lebih mudah untuk saling bertukar informasi untuk hal-hal yang bermanfaat. Kemajuan teknologi sendiri nantinya dapat dijadikan sebagai media untuk saling bertukar informasi tersebut.

Akhir kata, saya berharap pembentukan ikatan alumni Sastra Inggris Unsoed tidak hanya bersifat formalitas saja dan hanya digunakan untuk komponen akreditasi saja, namun bagaimana agar ikatan alumni tersebut menjadi salah satu komponen pendukung kemajuan dari kampus Sastra Inggris Unsoed.Mimpi saya semoga suatu saat Ikatan Alumni Sastra Inggris Unsoed ini dapat memberikan beasiswa kepada para almamater Sastra Inggris Unsoed yang berasal dari keluarga kurang mampu. Indah sekali bukan kedengarannya....hehe


Senin, 09 April 2012

Review Acara Behind The Scene Acara Stand Up Comedy Season 2

Bertempat di Kantor Kaskus di Menara Palma Kuningan, saya bersama 20 teman-teman Kompasianer dan 10 teman-teman Kaskuser mendapat kesempatan sebagai orang-orang yang beruntung untuk melihat behind the scene dari pembuatan video profile dan photo session dari Stand Up Comedy Indonesia Season 2.

Acaranya sendiri mundur cukup lama dari waktu yang dijadwalkan semula yaitu pukul 09.00, menjadi mulai sekitar pukul 10.00. Untuk acara pertama, saya dan teman-teman lain diarahkan untuk menuju ruangan yang didalamnya sudah berisi backdrop Kompas TV, sebuah giant screen, dan sebuah mic di tengah-tengah.

Duo MC yaitu Daniel Debow dan Fidel Olala membuka acara dengan cukup meriah. Tak lama setelah acara di ruangan itu dimulai, saya dan 2 orang teman kompasianer lain mendapat giliran pertama untuk melihat pembuatan video profile dari para comic, istilah untuk menyebut orang yang melakukan stand up comedy.


Aksi Daniel dan Fadel beraksi membawakan acara
Lokasi pembuatan video profile para comic sendiri ada di Kantor Kaskus di lantai 11. Kami diajak memasuki ruangan kantor Kaskus yang ternyata benar-benar unik. Saya pun sempat melewati kru Kompas TV dan beberapa comic dari grup 2 yang sedang melakukan photo session di salah satu ruangan Kantor Kaskus yang seperti lapangan golf lengkap dengan rumput sintetis.

Sampai di tempat pengambilan gambar untuk video profile, saya melihat salah seorang comic yang sedang diambil gambarnya. Saya dan teman-teman sempat diberi kesempatan untuk bertanya-tanya kepada comic yang ternyata bernama lengkap Gilang Bhaskara. Saat ini dia sedang duduk di bangku mahasiswa di Bandung. Dia pertama kali open mic di bulan Oktober 2011.

Saya sempat bertanya satu pertanyaan untuk Gilang, “Apakah pada saat pertama kali melakukan open mic, para penonton langsung ketawa?”
“Pada saat open mic pertama justru saya sukses membuat orang-orang tertawa. Namun, di saat open mic kedua justru bisa dibilang tidak sukses, karena orang-orang telah menganggap dia sukses di open mic pertama.”

Tak banyak pertanyaan yang kami ajukan karena tim Kompas TV sudah meminta kami untuk mundur karena Gilang masih harus diambil gambarnya lagi. Tak setelah itu, saya dan teman-teman diajak lagi ke lantai 10 yang ternyata di ruangan yang pertama, para comic sedang melakukan aksi open mic.


Suasana photo session para comic
Pembuatan video profile atau vignet dari salah seorang comic
Saat saya tiba di ruangan open mic, salah soerang comic perempuan bernama Jessica Faolan sedang melakukan open mic di hadapan teman-teman kompasianer dan kaskuser. Selanjutnya secara berturut-turut, para comic grup 1 dan grup 2 yaitu Ari Wibowo, Gilang Bhaskara, Gerry Pamungkas, Boris Manulang, Dika, Ismandi Suryawan, Imoth, Topenk, Agung Hartanto, Yuli, Irawan Rahrdja tampil melakukan open mic. Sayang ada satu comic yang tak sempat saya lihat aksinya.




dari kiri ke kanan : Ari Wibowo, Jessica Faolan,Gilang Bhaskara,Gerry Pamungkas,Borris Manulang
dari kiri ke kanan: (atas) Agung Hartanto,Irawan,Yuli,Topenk (bawah) Imoth,Isman,Dika


Sedikit catatan saya mengenai acara ini:
  • Ada beberapa comic yang menurut saya mengikuti gaya stand up Raditya Dika, sebut saja Gerry dan Gilang. Itu terlihat saat di beberapa gaya becanda mereka, kesan melebay-lebaykan sesuatu dan dengan nada-nada yang menurut saya mirip sekali dengan Raditya Dika.
  • Tema-tema yang diangkat para comic beberapa terdengar klise. Sebagian besar mengangkat "keresahan-keresahan" seputar film,lagu,dan acara tv (terdengar sangat Raditya Dika lagi bukan..."). Memang sih ada beberapa comic yang dengan apik mengangkat tema-tema yang berbeda, seperti misalnya Ari Wibowo yang banyak mengangkat persoalan hukum di Indonesia. Maklum saja, latar belakangnya adalah seorang lawyer dan head of legal division di sebuah perusahaan.
  •  Beberapa comic sudah cukup bagus dalam membangun kedekatan dengan penonton dengan beberapa melakukan riffing. Menurut Pandji Pragiwaksono, riffing adalah ketika seorang comic mengobrol dengan penonton dengan tujuan menggali tawa dari penonton tersebut.

Rabu, 04 April 2012

Kuliner #8 (Jakarta) : Bakmi Toko Tiga



Jalan K.H Wahid Hasyim memang terkenal dengan wisata kulinernya. Banyak sekali di sepanjang jalan ini berderet toko, warung, restoran, atau kafe yang menjual aneka makanan dengan citarasa masing-masing. Restoran Bakmi Toko Tiga ini salah satunya.

Hal pertama kali yang melintas di pikiran saya ketika diajak ke tempat ini adalah bahwa saya akan makan siang dengan menu serba mie. Saya terbayang restoran yang menyediakan bakmi, mie rebus, mie goreng, ifumi dan beraneka ragam jenis mie lainnya. Ternyata dugaan saya salah, karena selain menyediakan bakmi sebagai menu khasnya, Restoran Bakmi Toko Tiga ini juga menyediakan beragam menu-menu lainnya seperti aneka olahan udang, cumi, ikan, daging, sayur, dll.

Siang itu, saya dan teman-teman kantor saya memesan beberapa menu untuk kami santap bersama. Setelah melihat menu-menu dalam daftar, akhirnya kami memutuskan untuk memesan Gurameh Asam Manis, Buncis Cabe Garam, Sup Asam Pedas, Ifumie, dan pastinya nasi putih. Sebagai tambahan, kami memesan juga pangsit goreng. Untuk minumannya, kami memesan Juice Kacang Ijo dan Juice Alpukat, serta air mineral.

Segera setelah menunggu sekitar 10-15 menit, makanan kami telah siap terhidang di meja. Aroma makanan nan menggoda yang mengepul dari setiap menu yang tersaji membuat kami tak sabar untuk mencicipinya satu persatu.

Gurameh Asam Manisnya terasa pas padanannya di lidah saya, meski sedikit agak manis. Porsinya cukup besar dan bisa untuk dimakan puas bersama untuk 3 orang (buat kami berlima saat itu sih bisa juga, karena kami juga memesan menu lauk lainnnya...). Untuk orang yang tidak terlalu suka makanan yang digoreng tepung dengan alasan keras digigit seperti saya, Gurameh Asam Manis ini terasa lembut digigit.

Gurameh Asam Manis
 Menu selanjutnya yang kami santap siang itu adalah Sup Asam Pedas. Sepintas menu ini mirip dengan tom yam karena isinya yang terdiri dari jamur, bakso ikan yang diolah dalam kuah yang terasa asam dan pedas di lidah. Segar sekali rasanya menyantap kuah asam pedasnya. Sup ini disajikan dalam mangkuk besar yang cukup (atau dicukup-cukupkan...hehe) untuk kami berlima.

Sup Asam Pedas
 Buncis Cabe Garam adalah menu ketiga kami. Menu ini berupa potongan-potongan buncis yang dibalut dengan tepung dan digoreng bersama dengan potongan-potongan cabe rawit. Kulit tepung gorengnya terasa garing, renyah dan gurih, sementara  potongan buncis di dalamnya masih berwarna hijau segar namun sudah matang. Rasa gurih dan asinnya hanya ada di tepungnya, sementara potongan buncisnya memang tidak ada rasanya.

Buncis Cabe Garam
Pangsit goreng disini cukup renyah, meskipun menurut mulut saya masih lebih enak pangsit goreng milik Bakmi GM.Keunggulan pangsit goreng di Bakmi Toko Tiga ini adalah pangsit gorengnya benar-benar segar baru digoreng. Saat pertama disajikan di meja, pangsitnya masih terasa hangat dan sedikit berminyak seperti baru digoreng. Padanannya adalah saus yang disajikan dalam mangkuk kecil terpisah.
Pangsit Goreng
Menu minuman yang kami pesan yaitu Juice Kacang Ijo (saya tidak sempat mencicipi Juice Alpukat milik teman saya....) bagi saya tidak disarankan untuk diminum sebelum makan karena jenis minuman ini benar-benar seperti minum bubur kacang ijo yang diblender. Saya begitu minum juice ini, sedikit banyak membuat perut saya terasa lebih kenyang. Saya sih tidak menyarankan juga karena kalau minum juice ini saja tanpa minum air putih setelahnya, membuat tenggorokan terasa "seret". 

Juice Kacang Ijo

Tidak lengkap kalau saya tidak membahas harga menu-menu di Bakmi Toko Tiga ini. Kebetulan saya sudah memotret daftar menu yang memuat harga di restoran ini. Simak saja foto-foto di bawah ini..


Buat yang berminat mencicip lezatnya masakan-masakan di Bakmi Toko Tiga, segera datang saja ke Jl. KH Wahid Hasyim No. 63-A Gondangdia Menteng Jakarta Pusat DKI Jakarta
(021) 314 0902


Minggu, 01 April 2012

Selamat Ulang Tahun Kamu

Aku terbangun dan beranjak dari tempat tidurku saat mendengar suara ketukan di pintu kamarku.
Tak lama setelahnya, sosok Ibuku muncul.

Sesaat Ibuku hanya terdiam menatapku dari luar kamar, lalu melangkah masuk ke dalam dan duduk di  ranjangku. Kutatap matanya. Matanya berbinar-binar memancarkan kebahagiaan.

Tanpa kata-kata, dia memasangkan sehelai kain hitam menutupi kedua mataku, lalu menggandeng tanganku. Aku mengerti maksudnya. Ia ingin memberi kejutan di hari ulang tahunku ini, dan ia ingin membawaku ke tempat dimana ia meletakkan hadiahnya itu.

Kakiku terus melangkah seturut tangan Ibu yang sedari tadi menggenggamku.

Tiba-tiba, Ibu berhenti melangkah. Terdengar suara seperti sesuatu ditekan.
Mengalunlah suara itu:

"Selamat ulang tahun kami ucapkan...Selamat panjang umur kita kan doakan
Selamat sejahtera sehat sentosa
Selamat panjang umur dan bahagia...."

Lagu selamat ulang tahun itu memasuki ruang dengarku dan membuatku bahagia bukan main.
Perlahan, kain hitam penutup mataku dibuka oleh ibuku.
Senyum mengembang di wajah ibuku begitu ia melihatku.

Di depan sana, tergeletak sebuah kue ulang tahun dengan lilin berbentuk angka 17 tahun menyala diatasnya. Sebuah bingkisan berwarna pink terbungkus rapi berada di sampingnya.

Ibu menggandeng tanganku untuk mendekat kepada kue itu. Selembar kartu ucapan ulang tahun, dia berikan kepadaku. Kubaca tulisan yang ada di kartu itu:

"Selamat ulang tahun kamu Nak.Semoga panjang umur dan sehat selalu ya.
Semoga kamu jadi anak yang bisa berguna bagi nusa dan bangsa. 
Kado ini dari ayah. Ayah sedang dinas keluar kota. Dia berpesan kepada Ibu untuk memberikan hadiah ini untuk kamu.
Kami menyayangimu nak,
Ayah dan Ibu"


Air mataku tak lagi terbendung, dan mengalir lembut di pipiku.
Kupeluk dan kudekap tubuh ibuku.

Selesai memeluknya, Ibu memberi kode untuk meniup lilin kue ulang tahunku.
Sejenak kupejamkan mataku. Aku ingin berdoa

"Tuhan terima kasih karena Engkau masih memberiku umur hingga saat ini.
Berkati Ayah dan Ibuku Tuhan. Meski mulut mereka tak bisa mengatakan sayang kepadaku, tapi setiap tindakan mereka lebih dari perkataan dan ucapan sayang.
Aku sayang mereka Tuhan."


Kubuka mataku dan kutatap mata Ibuku sejenak.
Kuarahkan kembali pandanganku pada kue ulang tahunku.
Dan...

Hufftttt...

"Amin Tuhan.."