Minggu, 08 Februari 2015

Attracting Local People to Museums and Historical Sites

Nowadays, museums and historical places are mainly visited by tourists, not local people. From my point of view, there are two reasons why the number of local residents is less than tourist, when we are talking about the number of museum and historical sites visitors.

The first reason is I think domestic residents feel that they can go to museums and ancient whenever they want. There is no need to come there soon due to the distance between their houses and those places are not far. 

Tourists go to museums and ancient buildings to spend their spare time or holidays. In contrast, local people think that they do not have much time to visit historical sites and museums, even for the nearest one. For instance, I only spend my weekend with sleeping in bed or doing some relaxing activities at home. And I believe many people in Jakarta have similar thoughts like that. 

So, are there any solutions to overcome that problem?

I propose two ways as potential solutions for that problem. First, the local government can make a kind of "free pass" only for local people. This program will give privileges to residents because they can enter freely to museums or historical places. But the government have to consider how to keep the business running well although they give free pass for local people.

The second solution I offered is making a blog competition only for residents. The competition will require participants to share their stories of visiting museums and historical places in their city. The government can offer some big prizes to attract local people to join this competition. Indirectly, this competition will increase the number of visitors of those tourism objects, particularly local people.
 
*Note: I got this topic when I got my IELTS test, for Writing Task 2.

Sabtu, 07 Februari 2015

Sepintas Bicara Tes IELTS

Sumber gambar : disini

Jadi ceritanya hari ini saya baru saja selesai mengikut tes IELTS. Seperti kebiasaan lama saya yang suka berbagi pengalaman tes, maka kali ini pun saya ingin berbagi pengalaman saya mengenai tes IELTS. Jika di beberapa blog lain banyak yang bercerita mengenai pengalaman mereka mempersiapkan IELTS, maka saya disini ingin membahas seperti apa tes IELTS itu. Mungkin tulisan ini berguna bagi orang-orang yang ingin lebih tahu gambaran tes IELTS.

Tes IELTS adalah tes untuk mengukur kemampuan berbahasa Inggris seseorang berdasarkan 4 skill utama dalam berbahasa Inggris, yaitu Listening, Reading, Writing dan Speaking. Yang akan saya ceritakan disini adalah murni berdasarkan pengalaman saya. Jadi ini bukan sama sekali tips dan trik dari seorang master IELTS. Jangankan menjadi master, skor IELTS saya belum keluar sama sekali. hehe. So, let's move on to the main topics.

1. Listening

Tes ini akan menguji tingkat konsentrasi dan pendengaran kita. Karena ini menguji konsentrasi kita, saya menyarankan untuk meminimalkan beberapa hal yang mampu mengganggu konsentrasi seperti rasa lapar atau ingin buang air kecil/besar. Di IALF, tempat saya mengambil tes IELTS, kami diminta berkumpul di tempat sekitar pukul 07.30 wib. Saya sangat menyarankan untuk sarapan pada pagi harinya, untuk mencegah konsentrasi kalian atau teman-teman kalian pecah gara-gara mendengar bunyi "panggilan alam" dari perut kalian. Untuk kalian yang punya jadwal rutin BAB (buang air besar) di pagi hari, usahakan untuk tidak menundanya. Karena selama tes Listening, kita tidak akan diperbolehkan untuk izin keluar ke toilet.

Tes Listening terdiri dari 40 soal, dengan waktu 30 menit. Di akhir waktu 30 menit tadi, disediakan waktu 10 menit untuk menuliskan jawaban kalian di lembar jawaban. Jadi selama soal-soal diperdengarkan, para peserta ujian biasanya mencorat-coret jawabannya di lembar soal. Kalau kalian pede dengan jawaban kalian, kalian diperbolehkan kok untuk langsung menuliskannnya di lembar jawaban.

Dalam tes ini terdapat 4 Section, dimana jika dihitung rata-rata, satu Section terdiri dari 10 soal. Jika 30 menit dibagi dengan 40 soal, maka waktu kalian untuk mengerjakan satu soal adalah 30 : 40 = 0,75 menit alias 45 detik (koreksi ya hitungan saya kalau hitungan saya salah. :)). Waktu adalah kunci di dalam tes Listening, jadi pastikan jika kalian terlewat satu soal, segera move on ke soal berikutnya. 

Di antara beberapa soal di dalam satu Section dan di antara perpindahan antar Section, terdapat jeda waktu. Nah, sebaiknya kalian memanfaatkan jeda waktu ini untuk mencorat-coret setiap soal yang ada. Tandai kata-kata yang bisa menjadi signal sebelum jawaban yang dicari diperdengarkan. Untuk beberapa soal, kalian juga bisa memperkirakan jenis jawabannya. Misal di soal tertulis kata-kata yang tertulis "Telephone number .............". Dari pertanyaan tersebut, kita bisa menebak bahwa jawaban yang dicari adalah deretan angka. Prepare your ears because listening to numbers is not easy thing. Saya pribadi adalah orang yang lemah dalam mendengar angka-angka dan pengejaan huruf. Jadi saya selalu pusing setiap kali ada soal-soal yang menampilkan angka atau pengejaan huruf (dan jenis soal ini selalu ada).

2. Reading

Untuk yang tidak hobi baca, tes ini adalah tes terberat. Di tes ini kita akan disuguhkan 3 buah bacaan alias Reading Passage. Urutan bacaan merupakan urutan tingkat kesulitan. Jadi Reading Passage 3 adalah yang tersulit, dibandingkan dengan Reading Passage 1 dan 2. Dari 3 bacaan ini, terdapat 40 soal yang harus dijawab dalam waktu 60 menit. Jika dikalkulasikan, 1 soal bisa dikerjakan dalam waktu 1 menit 30 detik. Lumayan, dibandingkan dengan tes Listening.

Saran saya ketika mengerjakan soal-soal Reading, selalu perhatikan jenis soalnya. Jika jenis soalnya tidak meminta kalian untuk menyimpulkan paragraf atau menentukan heading dari tiap paragraf, jangan pernah membaca seluruh paragraf detil karena itu akan membuang waktu. Jika di dalam soal terdapat hal yang spesifik misalnya tahun atau nama seseorang, maka kalian hanya harus fokus pada tahun atau nama seseorang tersebut dan mencarinya di dalam bacaan. Biasanya jawaban pertanyaan kalian akan ada di sekitar kalimat yang memuat hal spesifik tersebut.

Tips saya untuk tes Reading adalah kerjakan semua soal yang termudah karena tidak akan ada pengurangan nilai jika jawaban kalian salah. Oh iya, jangan sampai salah untuk menulis jawaban ya, karena kesalahan singular atau plural saja akan dianggap salah. Dan ingat, seperti halnya di 3 tes lainnya, selalu perhatikan perintah alias instruction. Jika diminta hanya menuliskan satu kata, ya tulis satu kata pada lembar jawaban kalian. Ini penting kawan.

3. Writing

Writing is like a nightmare for me, since it is so grammar based assessment. Bagi saya ini adalah bagian dari tes IELTS yang paling sulit. Soalnya memang hanya terdiri dari 2 soal, tapi memikirkan jawabannya itu yang sulit.
Terdapat 2 Task dalam tes Writing. Di Task 1 kalian akan diminta untuk membuat report atau membuat deskripsi dari data yang disajikan. Data ini bisa berupa chart, grafik, tabel, peta ataupun diagram alur. Dan jangan kaget jika di Task 1, kemungkinan untuk mendapatkan 2 data itu sangatlah besar, seperti yang saya alami tadi siang. Saya mendapatkan satu bar chart dan tabel tentang bagaimana pria dan wanita di Inggris menghabiskan waktunya untuk kegiatan household activities dan leisure activities.

Jenis pertanyaan yang muncul bisa berupa perbandingan data, mendeskripsikan tren atau menjelaskan alur sebuah proses. Untuk tips-tips seputar Writing Task 1 ini bisa kalian dapat dengan googling. Saya belum pede untuk berbagi lebih detil mengenai Writing Task 1. Yang jelas persiapkan diri kalian dengan latihan menulis dengan beragam bentuk data.

Selanjutnya, untuk Writing Task 2, kalian akan diminta untuk menulis opini berdasarkan data. Tadi siang saya diminta untuk membuat tulisan untuk menanggapi soal mengapa museum dan bangunan bersejarah hanya ramai oleh turis, bukan oleh orang lokal. Saya pun diminta untuk memberikan solusi untuk menarik kedatangan orang lokal ke museum dan bangunan bersejarah.

Sekali lagi, tips dan trik Writing Task 2 bisa kalian cari melalui mesin pencari Google atau mesin pencari lain. Usahakan melihat contoh-contoh tulisan yang mendapat band score 8 atau 9. 

4. Speaking 

Ini dia urutan tes kedua yang tersulit menurut saya. Kenapa? Karena disini kita harus berpikir cepat untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh seorang native speaker yang menjadi penguji kita.
Tes Speaking ini terdiri dari 3 Section. Di Section 1 kalian akan ditanya hal-hal yang umum seperti misalnya rumah, kampung halaman, teman, hobi, pekerjaan dan hal-hal umum lainnya. Di Section 2, kita akan diminta untuk berbicara tanpa jeda selama 2 menit mengenai topik yang akan diberikan oleh penguji kita. Tenang saja, kita akan diberi waktu 1 menit untuk membuat catatan mengenai apa yang akan kita bicarakan. Hari ini saya mendapat soal mengenai interesting conversation, dimana di dalamnya ditanyakan dengan siapa, dimana, kapan, apa yang dibicarakan dan alasan mengapa saya menganggap percakapan tersebut menarik.
Berlanjut ke Section 3, disini kita akan ditanya lebih detil mengenai topik pada Section 2. Di Section 3 ini saya ditanyakan apa perbedaan berbicara pada wanita dengan berbicara pada sesama pria, apa perbedaan berbicara langsung dengan berbicara lewat telepon, dan pertanyaan-pertanyaan lain seputar conversation. Dari yang saya amati, penguji akan bertanya lebih detil mengenai jawaban-jawaban kita. Jadi sepertinya, pertanyaan-pertanyaan yang dia ajukan adalah murni spontan menanggapi jawaban-jawaban saya.


Yap, itulah tulisan singkat saya mengenai tes IELTS. Doakan saya ya semoga hasil tes hari ini bisa sesuai dengan harapan saya dan sesuai dengan yang saya butuhkan untuk mendaftar beasiswa dan universitas.

Jumat, 06 Februari 2015

Relax With Writing

Some people say that writing is a healing activity. I agree with that statement because with this post, I try to calm myself down and try not to worry about IELTS test.

So, what have I done to prepare for IELTS test?
  • I have done more practices that I did before. Like a wise man say that "Practice makes perfect". So I did practies as many as I can. I know my preparation time is not much, but I hope what I have studied in that "golden time" will be useful.
  • I have studied some tips and theory. I think my 5 year period in English department was not really helpful due to I have forgotten all the things I learn.
  • I have prayed and will pray more.
Not much I want to share by this post. I only hope my IELTS test tommorow is nice to me and I can answer all the questions well.

Minggu, 01 Februari 2015

Mari Bersyukur

Selamat Tahun Baru 2015. Ini menjadi tulisan pertama saya setelah berbulan-bulan vakum menulis di blog ini. Rasanya tangan dan otak saya tak selancar dulu ketika sedang rajin-rajinnya menulis. Semoga saja tulisan ini menjadi awal dari kebangkitan jiwa menulis saya. :)

31 Januari 2015

Kisah Pertama

Sekitar pukul 19.00 wib, saya dan istri saya tiba di Indomaret Poin Pasar Baru yang tepat berada di sebelah Hotel Tune, Jalan Samanhudi Jakarta Pusat. Saya kesini karena saya berniat mengerjakan pekerjaan kantor yang akhir-akhir sepertinya kian menumpuk banyak dan dikejar deadline. Tak ada kejadian spesial yang terjadi di sekitar saya. Beberapa orang keluar masuk ke lantai 2 convenient store tempat kami berada. Tepat di hadapan saya dan istri saya, duduk beberapa laki-laki dan perempuan yang tengah berbincang hangat. Saking hangatnya, sesekali mereka tertawa cukup keras hingga memecah konsentrasi saya. Di seberang gerombolan ini, duduk pula beberapa anak yang saya taksir berusia sekitar 14-15 tahun, yang tengah membicarakan teman-teman sekolah mereka. Ya, beberapa kata seperti “tugas” dan “semester” yang membuat saya menyimpulkan mereka masih berusia anak sekolah.

Sekitar pukul 20.00 wib, masuk satu wanita dengan seorang anak di sampingnya. Pikiran saya menyimpulkan mereka adalah seorang ibu dengan anaknya. Sekilas, saya melihat penampilan mereka layaknya orang-orang yang ada di sekitar situ. Awalnya saya perhatikan, mereka seperti menunggu orang lain. Mereka duduk berdua di meja kosong. Tak tampak mereka membawa minuman atau makanan yang lazimnya orang lakukan ketika duduk di bangku-bangku di lantai 2 ini.

Sekitar pukul 22.00, sembari menatap layar laptop saya, saya melihat sang anak yang tadi duduk berdua dengan sang Ibu, dan sempat turun dari lantai 2, tiba-tiba saja menata deretan bangku kosong dan merebahkan dirinya di bangku-bangku tersebut. Yang aneh, ketika ada karyawan Indomaret yang masuk ke lantai 2 untuk membersihkan lantai, karyawan itu sama sekali tak mengusirnya. Bahkan menurut saya sepertinya karyawan tersebut sudah hafal dan mengizinkan anak tersebut untuk tidur di tempat itu.

Lalu kemana sang Ibu yang tadi bersamanya?

Ibu yang tadi bersama sang anak, sejak sang anak tidur, saya perhatikan berada cukup lama di dalam toilet wanita. Sesekali dia keluar lalu menyalakan pengering tangan. Setelah sekitar dua atau tiga kali Ibu itu keluar masuk toilet, Ibu itu lalu menuju ke deretan bangku tempat sang anak tidur. Sang ibu pun duduk salah satu bangku di samping sang anak yang masih tertidur lelap. Setengah jam kemudian, saya melihat sang Ibu seperti dalam posisi tertidur. Diam tak bergerak dalam waktu cukup lama. Hanya sesekali menggerakan kepala dan membenarkan posisi jaket yang menutupi kepalanya.


Kisah Kedua

Masih di tempat yang sama, tiba-tiba masuk seorang bapak tua dengan pakaian lusuh, datang bersama seorang anak laki-laki berusia sekitar 10 tahun yang mengenakan kaos bertuliskan nama salah satu calon presiden di Pilpres 2014 yang lalu.

Setelah mendekati seorang laki-laki dan perempuan yang duduk di sebelah saya, bapak dan anak itu mendatangi saya dan istri saya. Mereka menawarkan jasa semir sepatu. Berhubung saya sedang memakai sandal jepit, maka saya pun meminta istri saya untuk memberikan bapak tersebut uang. Saya sedih karena bapak itu berkata bahwa dia butuh uang untuk makan anaknya. Segera setelah kami beri sejumlah uang yang menurut saya cukup untuk satu kali makan, bapak dan anak itu pergi turun ke bawah.

Sekitar 5 menit setelah kami memberikan uang kepada bapak tersebut, kami pun memutuskan untuk turun dan pulang kembali ke kost. Ketika kami sampai di lantai 1 tempat makanan dan minuman yang dijual, kami melihat sepintas bapak dan anak tadi sedang berada di rak makanan di deretan cemilan dan snack.

Saya tak mau menyimpulkan hal negatif dari apa yang dilakukan oleh bapak tersebut. Hanya saja di Indomaret Poin, pengunjung bisa membeli paket nasi dan lauk yang di siang hari bisa mencapai harga Rp. 25.000 per paket, dengan harga hanya 50 persen dari harga di siang hari. Menurut saya cukup worth to buy dibandingkan membeli snack “bungkus besar isi sedikit” yang harganya bisa mencapai Rp.9.000 per bungkus.
Apa kesimpulan saya?

Mari bersyukur atas apa yang Tuhan berikan kepada kita. Terutama untuk kita yang masih punya tempat tinggal, bisa bayar kost, makan tiga kali sehari, sesekali jalan ke mal atau nongkrong bersama teman-teman. Mari bersyukur jika kita masih punya pekerjaan atau usaha sendiri, dan tidak banyak mengeluh tentang bos yang galak, rekan kerja menyebalkan, makanan yang tidak enak, atau rumah yang panas karena tak menggunakan AC.

Saya jadi ingat tulisan di salah satu meme yang sempat beredar di timeline Path saya.

“Bersyukurlah di hari Senin kamu masih punya pekerjaan, bukan sedang mencari pekerjaan”.