Selasa, 05 September 2017

Membuat SKCK Baru di Polres Banyumas

SKCK alias Surat Keterangan Catatan Kepolisian adalah salah satu surat yang sering menjadi persyaratan administrasi ketika kita melamar pekerjaan, beasiswa ataupun hal-hal lain yang membutuhkan bukti bahwa kita tidak pernah terlibat dalam tindakan kriminal.

Ada dua cara untuk mengurus SKCK ini yaitu dengan melakukan permohonan secara online maupun datang langsung ke Polda/Polres/Polsek setempat. Untuk yang ingin mengurus permohonannya secara online, kalian bisa langsung buka web https://skck.polri.go.id. Di web itu nanti kalian diminta mengis data-data seperti nama, tanggal lahir, data pendidikan, data keluarga, dll. 

Kebetulan, saya baru saja mengurus SKCK ini secara offline di Polres Banyumas, Purwokerto. Jadi disini saya ingin berbagi pengalaman membuat SKCK ini. Siapa tahu besok-besok di antara kalian ada juga yang ingin mengurus SKCK ini di tempat ini.

Untuk mengurus SKCK di Polres ini, pertama-tama saya harus membuat surat pengantar dari RT, RW, sampai dengan Kecamatan. Surat pengantar dari Kelurahan itu selanjutnya akan dibuatkan surat keterangan dari Kecamatan, dimana nantinya akan digunakan untuk mengurus surat rekomendasi ke Polsek. Selama proses pengurusan surat pengantar ini, pastikan kalian menyertakan juga salinan KTP, salinan akte kelahiran dan salinan Kartu Keluarga. Hal ini sebagai data dukung untuk mengecek data kita  agar nanti surat pengantar yang dibuat sesuai datanya dengan KTP, Akte Kelahiran dan Kartu Keluarga. 

Berbekal surat dari Kecamatan, saya mengurus surat rekomendasi pembuatan SKCK dari Polsek. Oh iya, sebenarnya di Polsek bisa juga untuk mengurus SKCK, namun biasanya SKCK yang dikeluarkan oleh Polsek hanya digunakan untuk kepentingan pengurusan kependudukan dan catatan sipil. Jadi untuk urusan persyaratan melamar pekerjaan, SKCK yang digunakan adalah SKCK yang diterbitkan Polres.

Di Polsek ini, saya diminta untuk menyerahkan salinan KK, salinan KTP dan salinan akte lahir serta surat keterangan dari Kecamatan dan pas foto 4 x 6 background merah sebanyak 3 lembar. Proses pengurusannya tak memakan waktu yang lama karena memang tidak ada antrian. Pada saat mengurus, hanya ada 2 orang saja (termasuk saya) yang mengurus SKCK di Polsek ini. Oh iya, untuk SKCK yang dikeluarkan Polsek, kalian dikenakan biaya sebesar Rp. 30.000. Berhubung saya hanya membuat surat rekomendasi untuk selanjutnya ke Polres, maka saya tidak dikenakan biaya apapun di Polsek.

Di Polres Banyumas, pengurusan SKCK ada di loket yang berada di sisi selatan gedung Polres. Tahap pertama, saya harus mengisi 2 formulir data isian yang kalau saya lihat sama dengan data isian yang ada di web skck.polri.go.id. Di Polres Banyumas disediakan contoh formulir yang telah diisi lengkap sebagai panduan bagi para pemohon SKCK dalam mengisi.  Selanjutnya setelah mengisi formulir, saya menyerahkan formulir tersebut ke bagian pemindaian sidik jari. Disini seluruh sidik jari kita akan dipindai dan dimasukkan ke database, sekaligus disini pengisian data kita yang nantinya akan muncul di dalam SKCK. 

Selesai pemindaian sidik jari dan  pengisian data, saya menyerahkan formulir yang tadi saya isi, beserta kelengkapan dokumen yaitu salinan KTP, salinan Akta Kelahiran, salinan Kartu Keluarga, dan pas foto 4 x 6 background merah sebanyak 4 lembar. Setelah itu, saya diberikan nomor antrian untuk selanjutnya saya menunggu di depan loket pengambilan SKCK. Setelah sekitar 5 menit menunggu, nomor antrian saya pun dipanggil.Saya dikenakan biaya Rp. 30.000 sebagai PNBP bagi POLRI yang mana saya pun mendapatkan bukti PNBP tersebut berupa karcis.

Itu tadi pengalaman saya membuat SKCK baru di Polres Banyumas. Semoga bermanfaat bagi teman-teman yang membaca.

Minggu, 18 Juni 2017

Mengurus SKBS, SKBN, dan Surat Keterangan Bebas TBC di RSPAD Gatot Soebroto

Bagi kalian yang sedang mengurus persyaratan LPDP terutama untuk beasiswa Magister ke luar negeri, salah satu syarat yang harus diurus adalah Surat Keterangan Berbadan Sehat, Surat Keterangan Bebas Narkoba dan Surat Keterangan Bebas TBC. Kalau kalian yang ingin mengurus ketiga surat tersebut di RSPAD Gatot Soebroto, pengalaman saya berikut ini mungkin bisa bermanfaat.

1. Surat Keterangan Berbadan Sehat (SKBS)

Untuk mengurus Surat Keterangan Berbadan Sehat ini, saya diarahkan oleh petugas informasi menuju ke Bagian PPBPAD. Untuk mengurus surat ini cukup sederhana. Pertama saya harus mengisi formulir. Setelah mengisi formulir, saya bertemu dengan dokter yang bertanya tentang riwayat kesehatan saya, kapan terakhir kali saya dirawat di RS, tujuan saya membuat surat ini. dll. Setelah itu dokter memeriksa tensi darah, lalu mengecek gigi dan mulut saya. 

Untuk surat ini, saya hanya harus mengeluarkan biaya sebesar Rp. 50.000. Tak lama setelah itu surat saya sudah bisa jadi. Bagian PPBPAD ini buka dari pukul 08.00 sampai kalau tidak salah pukul 15.00. Cuma selama bulan puasa ini, bagian ini hanya buka sampai pukul 14.00.

2. Surat Keterangan Bebas Narkoba (SKBN)
SKBN ini pengurusannya di Paviliun Amino yang terletak di bagian paling belakang RSPAD. Pavilian Amino ini buka mulai pukul 07.00. Proses tes narkobanya cukup mudah dan cepat. Setelah mengisi formulir yang tersedia di loket, saya langsung diminta membayar biaya pengurusan SKBN sebesar Rp. 220.000. Selesai membayar di loket, saya diberi satu buah tempat untuk menampung urine saya dan setelahnya menyerahkan sampel urin saya ke loket. Petugas loket akan memberikan kita surat untuk diserahkan ke Bagian Tata Usaha Pavilion Amino yang terletak di lantai 2. 

Di Bagian Tata Usaha ini saya diminta untuk memberikan KTP saya. Namun karena KTP saya sedang dipakai kakak saya mengurus pajak motor di Purwokerto, jadilah saya menyerahkan SIM saya untuk dipakai untuk mengisi data di SKBN nanti. Setelah surat selesai diketik di Bagian Tata Usaha, saya membawa SKBN yang belum diisi ke loket di lantai 1 lagi.Setelah surat ditanda tangan, surat tinggal dibawa ke Bagian Tata Usaha untuk digandakan (jika kalian butuh) dan dicap. Selesai sudah proses pengurusan SKBN ini.

3. Surat Keterangan Bebas TBC
 
Hari ke-1
Inilah surat yang pengurusannya paling lama. Proses pertama untuk mendapatkan surat ini yaitu saya harus ke loket pendaftaran sebagai pasien baru di lantai 1. Proses ini bisa kalian lewatkan apabila kalian sudah memiliki kartu pasien RSPAD Gatot Soebroto. Di loket ini saya ditanya data diri seperti nama lengkap, golongan darah, usia, nomor telepon serta poli yang ingin kalian tuju. Setelah itu nanti kalian akan mendapatkan kartu pasien.

Selesai mendapat kartu pasien, saya pergi ke Poli Paru yang berada di lantai 2. Saya menuju ke loket Poli Paru dan menyerahkan kartu pasien saya. Setelah itu saya harus menunggu sampai saya dipanggil ke loket lagi untuk membayar biasa konsultasi dokter sebesar Rp. 160.000. Selain membayar biaya konsultasi, saya juga ditanya tujuannya saya membuat surat keterangan bebas TBC ini dan data lain yang saya lupa detailnya. Kalau tidak salah saya ditanya kapan terakhir kali diopname, adakah riwayat penyakit turunan, adakah alergi makanan, debu atau obat. Selesai melengkapi data dan membayar, saya diminta ke di bagian samping belakang loket untuk menunggu dipanggil suster guna proses tes tensi darah, timbang berat badan dan ukur tinggi badan. Setelah itu, saya diminta menunggu lagi di depan loket Poli Paru.

Setelah menunggu cukup lama, saya dipanggil ke ruang 2 di samping depan loket Poli Paru. Di dalam ruang 2, saya bertemu dengan dokter. Selanjutnya, dokter bertanya mengenai tujuan saya membuat surat keterangan ini. Dokter memeriksa dada saya dengan stetoskop dan bertanya beberapa pertanyaan mengenai apakah saya merokok, kapan terakhir kali diopname, dll.Setelah itu, dokter akan memberikan pengantar untuk saya melakukan proses rontgen, tes mantoux, tes darah dan tes dahak.

Proses rontgen, tes mantoux, tes darah dan tes dahak dilakukan di Paviliun Kartika yang berada di depan RSPAD. Disini prosesnya saya harus mendaftar dulu ke loket pendaftaran Paviliun Kartika sembari menyerahkan kartu pasien dan pengantar dari dokter. Setelah itu saya pergi ke Laboratorum Klinik untuk diambil darah. Selesai diambil darah, saya diberi satu tempat untuk menampung dahak saya. Selain satu tempat tadi, saya diberi dua tempat dahak lagi dengan kode BTA 20 dan BTA 30 untuk menampung dahak saya di hari esoknya. Kode BTA 20 untuk menampung dahak saya pada saat bangun tidur di esok hari dan BTA 30 untuk menampung dahak setelah sarapan pagi di esok hari.

Selesai proses pengambilan sampel di Laboratorium Klinik, saya pergi ke ruang Radiologi untuk proses rontgen. Proses rontgen ini berlangsung cepat. Paling hanya sekitar 10-15 menit, termasuk proses menunggu. Setelah selesai dengan urusan rontgen, saya menuju ke nurse station untuk minta diproses tes mantoux. Di tes ini, suster akan menyuntikkan sesuatu ke dalam lapisan kulit saya. Hasil suntikan ini jangan sampai digosok atau terkena sabun mandi karena nanti hasil tesnya akan sulit dilihat. Saya diminta datang 3 hari kemudian untuk dilihat hasilnya ke dokter yang ada di Poli Paru.

Setelah proses tes mantoux tadi, saya menuju loket untuk proses pembayaran. Untuk segala tes yang saya lakukan tadi,saya harus membayar biaya sebesar Rp. 869.704.

Hari ke-2
Di hari ke-2 ini, saya hanya menyerahkan sampel dahak di dua tempat dengan kode BTA 20 dan BTA 30 tadi ke Laboratorium Klinik.

Hari ke-4
Saya sengaja datang lebih pagi di hari ke-4 ini yaitu pukul 06.15. Pertama-tama saya datang ke Laboratorium Klinik dan Ruang Radiologi untuk mengambil hasil uji lab dan rontgen saya. Setelah itu saya membawa semua hasil tes itu ke loket Poli Paru. Di loket ini saya menyampaikan hasil tes saya beserta kartu pasien saya. Setelah itu saya harus membayar biaya sebesar Rp. 160.000, dan kemudian petugas meminta saya menunggu di samping loket Poli Paru untuk proses tes tensi darah, timbang berat badan dan ukur tinggi badan. Sesudah itu saya kembali menunggu dipanggil untuk bertemu dokter di ruang 2.

Saya harus menunggu sekitar setengah jam untuk dipanggil ke dokter. Di dalam ruang 2, dokter melihat hasil rontgen dan hasil lab saya, melihat tangan saya yang disuntik obat untuk tes mantoux dan mengukur bekas suntikan tes mantoux itu, serta memeriksa dada saya dengan stetoskop. Puji Tuhan hasil pemeriksaan saya dinyatakan bebas TBC. Apakah prosesnya sudah selesai? Ternyata belum kawan. Saya diminta ke loket dengan hasil pengantar dari dokter. Saya juga diminta menyerahkan fotokopi KTP saya dan menuliskan nomor hp saya. Berhubung KTP saya tidak ada, saya terpaksa harus mencetak softcopy KTP saya yang ada di dropbox  di tempat fotokopi BPJS. Biaya cetak per lembar Rp. 2000 per lembar, plus biaya internetnya Rp. 4.000.

Itu tadi proses pembuatan surat keterangan bebas TBC, saya tinggal menunggu pihak RSPAD untuk mengambil surat yang sudah jadi.





Sabtu, 12 November 2016

Bandar Udara Ramah Wisatawan

Membangun pariwisata di sebuah kota atau daerah tak pernah lepas dari yang namanya transportasi. Bandar udara sebagai salah satu dari prasarana transportasi merupakan unsur penting dalam memajukan pariwisata Indonesia, terutama sebagai pintu gerbang bagi pelancong yang berasal dari luar negeri.

Beberapa hari yang lalu saya dan teman saya mendapat dinas dari kantor untuk menghadiri sebuah Focus Group Discussion di kota Malang. Saya pernah sebelumnya ke kota Malang, namun ini kali pertama saya menginjakkan di Bandar Udara Abdurahman Saleh Malang. Kesan pertama saya akan bandar udara ini sungguh menyenangkan. Tenang, bersih dan rapi menjadi hal yang saya lihat di bandar udara ini. Apalagi ditambah dengan pemandangan sawah hijau yang menghampar di sekitar bandar udara ini. 

Sebagai seorang yang terbiasa hidup di Jakarta dan terbiasa menggunakan aplikasi taksi online, maka begitu sampai di bandar udara ini, saya lun segera membuka aplikasi Grab, Uber dan Gojek. Dari ketiga aplikasi tersebut, ternyata hanya aplikasi Grab yang menampilkan adanya taksi online di sekitar sini dan setelah mencoba memesan, ternyata saya tak kunjung juga mendapatkan kendaraan dari aplikasi Grab ini. 

Saya dan teman saya putuskan untuk berjalan keluar dari bandar udara untuk mencari taksi yang menggunakan argo. Persis pada saat kami sedang dalam perjalanan keluar bandar udara, ada sebuah taksi hijau yang feeling saya pasti menggunakan argo. Saya lupa warnanya, yang jelas taksi tersebut berhenti sekitar 10 meter dari tempat saya berdiri ketika melambaikan tangan menyetop taksi tersebut. Ketika saya sedang berjalan menuju taksi tersebut, dari arah kanan ada teriakan orang sambil berlari dengan nada marah. Orang tersebut lari mendekati taksi tersebut dan mengusir taksi tersebut untuk pergi dari kami. Saya kaget karena kejadian tersebut tidak saya sangka. Ternyata orang yang mengusir taksi tadi adalah salah satu pengemudi taksi dari koperasi bandar udara tersebut. Dia meminta kami untuk naik taksi yang dia kemudikan dengan tarif 80.000 rupiah (dan tak bisa ditawar lagi) untuk mengantarkan kami menuju Hotel Savana yang berdasarkan Google Maps hanya berjarak sekitar 10 km. Padahal ketika kami naik taksi berargo dari hotel ke bandar udara, kami hanya cukup membayar sekitar 40.000 rupiah.

Bandar Udara Ramah Wisatawan

Menurut saya, bandar udara memiliki peran penting dalam membangun gambaran positif akan pariwisata di suatu daerah. Terutama apabila bandar udara tersebut memiliki rute penerbangan internasional. Wisatawan luar negeri pasti akan lebih terkesan berwisata di Indonesia ketika mereka yang baru saja terbang dari kota asalnya disambut dengan keramahan dan kemudahan di bandar udara.

Salah satu faktor yang mendukung bandar udara menjadi ramah wisatawan tentunya adalah soal konektifitas bandar udara dengan tempat wisata atau pusat kota di daerah tersebut. Hal ini penting sekali mengingat rata-rata bandar udara berada di jarak yang jauh dari pusat kota, berbeda dengan stasiun kereta api atau terminal bus yang biasanya terletak di tengah kota.

Wisatawan seharusnya diberikan beberapa alternatif alat transportasi sehingga mereka dapat membandingkan dan menyesuaikan dengan "ukuran kantong" mereka. Pengalaman saya di Bandar Udara Incheon Korea Selatan, bandar udara ini memiliki beberapa alternatif alat transportasi menuju ke kota Seoul. Kita bisa memilih naik kereta, bis, ataupun taksi, tergantung kemampuan kantong kita.Hal ini berbeda sekali dengan pengalaman saya di bandar udara Malang yang telah saya ceritakan di atas. Saya hanya diberikan pilihan naik taksi tanpa argo yang dikelola oleh koperasi bandar udara tersebut.

Apa akibatnya jika hanya ada satu pilihan alat transportasi di sebuah bandar udara?
Menurut saya, dengan hanya ada satu pilihan alat transportasi, maka kita menjadi tergantung pada alat transportasi tersebut. Akibatnya, pihak penyedia alat transportasi tersebut bisa sekehendak hati mengatur harga. Mau tidak mau, kita sebagai pendatang di tempat tersebut naik alat transportasi tersebut dengan harga yang mengikuti apa yang ditawarkan pihak penyedia jasa tersebut.

Dan apa keadaan ini terjadi di bandar udara Malang saja?
Sayang sekali, hal ini tidak hanya ada di bandar udara Malang saja. Hampir sebagian besar bandar udara di Indonesia masih mengalami hal serupa. Hanya beberapa bandar udara besar seperti Soekarno Hatta dan Kualanamu yang memberi kita beberapa pilihan alat transportasi untuk menuju pusat kota, seperti taksi berargo, kereta api (di Kualanamu), dan bis DAMRI. Mungkin di beberapa kota besar, adanya aplikasi taksi online seperti UBER, GRAB dan GOJEK memberi kita beberapa alternatif tambahan, tapi hampir sebagian besar bandar udara di Indonesia belum bisa memberikan keramahan terhadap wisatawan dari sisi transportasi dari bandar udara menuju pusat kota.
 

Senin, 06 Juni 2016

Pengalaman Tes Beasiswa Kominfo Tahun 2016

"Pengalaman adalah guru yang berharga"
Apa yang kita alami mungkin bisa jadi pelajaran yang berharga bagi orang lain, sekecil apapun pengalaman itu. Jadi kali ini saya ingin berbagi mengenai pengalaman saya setelah mengikuti tes seleksi beasiswa dari Kementerian Komunikasi dan Informatika atau lebih akrab disingkat dengan Beasiswa Kominfo untuk tahun 2016.

Sekitar seminggu yang lalu tepatnya tanggal 17 dan 18 Mei saya selesai menjalani tes Beasiswa Kominfo. Ini adalah kali pertama saya mengikuti seleksi beasiswa ini karena tahun 2015 lalu saya dipanggil namun kebetulan pada saat hari H pelaksanaan tes, saya sedang berada di Papua. Jadilah saya gagal tahun lalu dan tahun ini, ketika saya dipanggil lagi untuk tes, saya putuskan untuk mengikutinya.

Setelah lolos dari seleksi administrasi, ada 25 orang termasuk saya yang dipanggil untuk mengikuti tes beasiswa yang terdiri dari 2 (dua) tahap tes yaitu psikotes dan wawancara. Tahun ini, kedua tes tersebut dilaksanakan pada tanggal 17 Mei untuk psikotes dan 18 Mei untuk wawancara, di Pustiknas Kemkominfo yang terletak di depan Kampus II UIN Ciputat.

Mari kita bahas satu persatu

1. Psikotes

Untuk tahun 2016 ini, Kemkominfo bekerjasama dengan Universitas Indonesia sebagai penyedia jasa psikotes untuk seleksi beasiswa Kominfo ini. Tes dimulai sekitar pukul 08.00 lewat. Dari total jumlah peserta psikotes hari itu, ternyata hanya ada 20 orang termasuk saya. Itu artinya ada 5 orang yang tersingkir dari seleksi beasiswa ini (kecuali kalau memang panitia memberikan kesempatan tes susulan). 

Dalam psikotes ini, saya dan seluruh peserta seleksi harus mengikuti serangkaian tes yang cukup melelahkan. Tes pertama yaitu tes Kreplin, dimana dalam tes ini saya diminta untuk menjumlah angka-angka yang ada dalam selembar kertas dan di waktu -waktu tertentu panitia seleksi akan berkata "Ganti".

Lalu ada pula tes EDWARDS PERSONAL PREFERENCE SCHEDULE (EPPS) dimana dalam tes ini kita akan diminta untuk memilih satu dari dua pernyataan yang paling mendekati atau sesuai dengan keadaan atau kepribadian kita. Sayang sekali saya lupa jumlah soalnya.

Contoh soal nomor 1

A. Saya suka gorengan
B. Saya suka sate ayam

Nah, meskipun kalian sama-sama suka gorengan dan sate ayam, namun kalian hanya diperbolehkan untuk memilih satu jawaban saja yang lebih sesuai dengan diri kalian. Oh iya, dalam tes seleksi Beasiswa Kominfo ini, saya dan peserta lain diberikan tes sejenis ini sebanyak dua kali (kalau tidak salah ingat ya).
 
Lanjut tes berikutnya yaitu tes WARTEGG alias tes warung nasi. :))
Bukan kok. Dalam tes WARTEGG kita akan diberikan sebuah kertas dengan gambar sebuah persegi panjang yang dibagi dalam delapan kotak persegi kecil. Dalam setiap kotak persegi itu terdapat titik, lengkungan atau garis lurus dimana kita diminta untuk meneruskan untuk menggambar menjadi sebuah obyek. Selain menggambar, panitia seleksi juga meminta para peserta untuk menulis angka sesuai urutan menggambar dan juga memilih gambar mana yang paling susah dibuat dan mana gambar yang paling udah dibuat.

Selesai tes WARTEGG, ada tes lagi yaitu tes menggambar orang yang sedang beraktivitas serta menuliskan jenis kelamin, pekerjaan dan aktivitas dari orang yang kita gambar. Dalam tes ini saya menggambar seorang mahasiswa S2 yang sedang mengetik tesis di laptopnya. :)) Selain menggambar orang, di seleksi ini juga terdapat tes menggambar pohon dan menyebutkan jenis pohon apa yang kita gambar. Dalam tes tersebut saya menggambar pohon mangga lengkap dengan buah-buahnya. Ya walaupun hasil akhirnya tidak sesuai dengan harapan saya alias tidak sebagus ekspektasi saya.

2. Wawancara

Tes wawancara dilakukan satu hari setelah hari pelaksanaan psikotes. Dalam tes wawancara ini, saya menghadapi tiga orang pewawancara yang terdiri dari pejabat eselon 1 atau 2 di lingkungan Kementerian Komunikasi dan Informatika. Kalau tidak salah ingat, pewawancara saya yaitu Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan SDM, Staf Ahli Menteri, dan Inspektur Jenderal.

Awalnya saya diwawancarai dalam bahasa Indonesia, namun setelah mengetahui saya lulusan Sastra Inggris, maka akhirnya satu demi satu pertanyaan diajukan dalam bahasa Inggris. Pertama-tama saya diminta untuk mengenalkan diri, termasuk menyebutkan hobi, pekerjaan saat ini, dll. Saran saya sih sebutkan saja hal-hal yang berkaitan dengan beasiswa tersebut atau pekerjaan saat ini.

Beberapa pertanyaan yang selanjutnya diajukan seperti:
  • mengapa memilih kampus dan jurusan tersebut?
  • mengapa memilih negara tersebut?
  • apakah saat ini juga mendaftar beasiswa lain dan apabila diterima di beasiswa Kominfo maupun beasiswa lain, manakah yang akan dipilih?
  • penelitian apa yang akan dilakukan disana?
  • kontribusi apa yang bisa diberikan setelah lulus kuliah S2?
  • apakah mau sesekali berbagi ilmu di unit penelitian dan pengembangan SDM di Kominfo?
Saran saya lagi pelajarilah isu-isu seputar dunia Komunikasi dan Informatika yang sedang berkembang. Hal ini saya sarankan karena pada saat wawancara,saya diberikan pertanyaan mengenai Gojek. Beruntunglah saya sedikit tahu mengenai isu ini sehingga saya bisa memberikan sedikit jawaban mengenai pertanyaan ini.

Oh iya, jangan lupa hafalkan Pancasila ya, karena saya dan peserta sebelum saya diminta untuk menyebutkan bunyi seluruh sila dalam Pancasila.

Jadi, itu semua pengalaman saya dalam seleksi beasiswa Kominfo. Doakan saja segera diumumkan hasilnya dan saya bisa lolos ke tahap selanjutnya. Buat yang tahun ini belum lolos seleksi administrasi, mungkin tulisan saya ini bisa dijadikan persiapan untuk seleksi tahun depan.

Selamat berjuang semuanya :)


Kamis, 19 Mei 2016

Perihal (Ikhlas) Memberi

Kemarin malam, saat saya dan istri saya tengah menunggu pesanan makanan kami datang di sebuah warung, tiba-tiba datanglah seorang pria tua bertampang memelas. Saya yang dasarnya orang yang gak tegaan tanpa pikir panjang mengambil selembar uang seribu rupiah dari kantong saya dan saya berikan kepada orang tua itu. Segera setelah pria tersebut pergi saya dan istri saya kembali mengobrol.

Di tengah-tengah obrolan kami setelah pria itu pergi, tiba-tiba pelanggan lain yang duduk di samping kami langsung berkata kepada kami

"Eh mas, tadi situ ngasih duit kan ke orang itu (baca - pria tua yang mengemis tadi) kan?
Tuh liat kesana. Tadi pas minta-minta dia keliatan kasihan kan. Tuh liat, dia lagi jalan dengan gagah"

Saya agak kaget dengan perkataan orang itu. Bukan karena perkataanya sih, tapi lebih karena tiba-tiba ada orang yang tak saya kenal berbicara kepada saya pada saat saya asyik mengobrol. 

"Kalo saya sih liat-liat mas kalo ngasih orang. Mending ngasih ke yang beneran berusaha."

Yang Penting Kita Sudah Memberi

Bagi saya memberi itu soal keikhlasan hati. Saya tak pernah berpikir apakah uang saya beri akan digunakan untuk beli rokok atau beli minuman keras. Saya tak pernah berpikir apakah orang tersebut berbohong demi mendapatkan uang atau tidak.

Trus berarti kamu turut melestarikan orang-orang malas dong Ben.

Sederhana saja sih jawabannya. Kalau memang masih memikirkan hal-hal yang seperti saya sebutkan di atas, itu berarti kita masih belum bisa ikhlas sepenuhnya untuk memberikan sesuatu kepada orang lain. Dan kalau memang belum atau tidak ikhlas, ya sudah tidak usah memberi dan tidak usah banyak berkomentar. Yang kadang aneh bagi saya itu ya sudah tidak mau memberi tapi malah ribut berkomentar. Seperti orang yang saya temui itu.