Sabtu, 17 Oktober 2015

Bekerja Lebih Efektif Dengan ASUS PC-Link

Pernah tidak kalian merasa notifikasi yang masuk di handphone menggangu konsentrasi kalian pada saat kalian sedang mengerjakan sesuatu di laptop atau PC kalian?

Keterikatan dan ketergantungan orang terhadap gawai smartphone mereka memang seringkali menjadi penghambat dari efektifitas pekerjaan mereka. Bayangkan saja misalkan kita sedang mengetik laporan yang harus segera diserahkan ke atasan, tapi pada saat mengetik, tiba-tiba kita harus berhenti sejenak karena mendengar smartphone kalian berbunyi atau merasakan getarannya. Karena rasa keterikatan itulah, akhirnya kita akan mengecek notifikasi apa yang masuk ke smartphone tersebut dan biasanya, tanpa kalian sadari, kita akan mengecek akun sosial media kita yang akhirnya menghabiskan waktu dan menunda pekerjaan pembuatan laporan tadi.

Lalu, bagaimana cara agar kita bisa mengecek notifikasi smartphone kita tanpa harus "membuka" smartphone tersebut?

Buat kalian yang memiliki smartphone ASUS pasti sudah akrab dengan aplikasi  "PC-Link" yang merupakan aplikasi bawaan dari produsen smartphone asal Taiwan ini. Sudah lama sebenarnya saya tak tahu apa fungsi dan manfaat dari aplikasi ini, namun baru saja saya iseng mencobanya dan ternyata baru saya tahu manfaat dari aplikasi PC-Link ini.

Menurut saya, manfaat utama yang saya pikir bisa diperoleh dari PC-Link ini adalah seperti yang sudah saya singgung di awal tulisan ini yaitu membuat kita bisa lebih fokus mengerjakan pekerjaan kita pada laptop atau  PC. Kenapa begitu? Ya karena dengan adanya koneksi PC-Link, maka kita tidak perlu khawatir akan terlambat untuk membalas pesan penting dari pacar kita karena kita tidak sempat mengecek smartphone kita akibat fokus mengerjakan sesuatu pada laptop.

Tampilan laptop saya ketika denga koneksi PC-Link dengan smartphone saya
Ada lagi manfaatnya? Ada dong. Jika kalian ingin memutar lagu yang ada di smartphone kalian, kalian tidak perlu memindahkan file lagu tersebut ke komputer atau laptop kalian. Cukup dengan menyetel musik tersebut melalui tampilan smartphone di layar laptop, dan voila. Suara musik kalian akan terdengar melalui speaker laptop atau komputer kalian. 

Oh iya, berhubung saya belum jago tutorial, berikut saya lampirkan video tutorial cara menggunakan PC-Link yang saya ambil dari Youtube.

 

Seperti halnya dua sisi mata uang, terkoneksinya smartphone dengan laptop atau komputer menurut saya memiliki dampak negatif juga. Bayangkan saja, bila biasanya seorang bos dapat langsung menegur pegawainya yang terlihat terlalu asyik dan sering mengecek smartphone-nya, maka hal itu sekarang agak susah dilakukan. Bisa saja pegawai tersebut sekarang selalu terlihat mengerjakan sesuatu di komputer kantor, tapi ternyata dia sedang sibuk mengetik dan membalas chat  di aplikasi Whatsapp, Line atau aplikasi messaging lainnya.

Jumat, 18 September 2015

Review Hotel : d'Prima Hotel Medan

Berawal dari kebingungan pada saat akan dinas ke Medan. Jika dulu pada saat bandar udara Polonia yang notabene berada di tengah kota Medan, mungkin saya tak akan bingung untuk menginap dimana ketika ada acara di Medan. Namun sejak 2 tahun lalu Bandar Udara Kualanamu beroperasi, praktis saya dibuat bingung karena berdasarkan info teman-teman kantor saya, belum ada hotel yang cukup bagus dan layak di sekitar bandar udara berkode KNO ini. Sebagian besar masih hotel yang sering digunakan transaksi plus-plus yang biasanya. Jadi akhirnya berdasarkan rekomendasi teman, saya memilih untuk menginap di d'Prima Hotel Medan ini.



Lokasi hotel ini persis di komplek Stasiun Medan. Inilah poin paling penting dan nilai jual hotel ini. Jadi saya yang baru saja tiba di Bandar Udara Kualanamu, melanjutkan perjalanan menggunakan kereta bandar udara (Railink), dan begitu tiba di Stasiun Medan, saya tak harus lelah menyeret koper, menunggu taksi atau jemputan untuk bisa sampai ke hotel. Cukup melangkahkan kaki ke arah pintu keluar Jalan Stasiun Kereta Api, lalu persis di depan Starbucks Stasiun Medan, terdapat sign d'Prima Hotel.

Resepsionis bisa ditemui Lantai 3. Kalian bisa memilih menggunakan lift ataupun tangga untuk menuju ke tempat resepsionis ini. Untuk kalian yang memesan tiket melalui situs online, kalian tak perlu khawatir jika kalian lupa mencetak bukti pemesanannya karena resepsionis sudah memiliki data pemesanan kalian tersebut. Pada saat check in, kalian akan diminta kartu identitas serta memberikan uang Rp. 50.000,- sebagai jaminan yang akan dikembalikan pada saat check out.

Saya dapat kamar tipe Superior dengan dua ranjang. Hotel ini memberikan compliment yang cukup membahagiakan, yaitu dua buah Pop Mie dan 2 botol air kemasan berukuran 600ml. Selain itu, terdapat pula pemanas air listrik beserta kelengkapan kopi, teh dan gula. Untuk lemari pakaiannya, hanya tersedia dua hanger yang menurut saya kurang dari segi jumlah.

Saya tak terlalu mempermasalahkan ruangan yang memang tidak terlalu luas, hanya saja saya tak terlalu nyaman dengan penataan toilet duduk yang membuatnya sangat sempit dan mentok pada dinding kaca tempat mandi. Untuk televisi, terdapat 27 channel yang bisa dipilih untuk mengisi waktu di kamar.

Jadi apakah Hotel ini saya rekomendasikan?
Pastinya, terutama jika kamu tipe orang yang malas untuk bangun lebih awal hanya untuk melakukan perjalanan dari hotel ke stasiun. Oh iya satu lagi yang ketinggalan yaitu sarapan. Hotel ini tidak menyediakan restoran tersendiri untuk melayani breakfast para tamunya. Jadi, setiap pagi para tamu akan diberi voucher Starbucks yang bisa ditukarkan dengan segelas kopi hitam atau teh plus sepotong croissant. 

d'Prima Hotel Medan
Jalan Stasiun Kereta Api No. 1, Medan (Stasiun Medan Lt. 3 dan 4)
http://www.dprimahotelmedan.com/
http://dprimahotel.com/id






 

Selasa, 08 September 2015

Review Buku: Biografi Andy Noya, Kisah Hidupku

 
 
 
 
Penulis : Robert Adhi KSP
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Jumlah: 436 halaman
Terbit : 3 Agustus 2015

Meskipun sudah sangat jarang menonton acara televisi, namun ada satu acara yang menjadi salah satu favorit saya dan selalu ditunggu setiap hari Jumat malam. Apalagi kalau bukan acara Kick Andy, sebuah acara yang ditayangkan di Metro TV. Yang membuat acara ini menarik adalah karena disini Andy F Noya, selaku host acara tersebut selalu menghadirkan orang-orang yang memiliki kisah-kisah yang dapat menjadi inspirasi bagi orang lain. Dengan gaya santai namun mendalam, Andy F Noya mencoba menggali kisah-kisah tersebut dengan pertanyaan-pertanyaan yang  straight to the point dan mendalam yang membuat bintang tamu bercerita mengenai kisah mereka dengan terbuka dan jujur.

Jika selama ini kita hanya mengetahui penampilan Andy F Noya dalam acara Kick Andy, maka dalam buku ini akan dibahas kisah seorang Andy F Noya yang cukup lengkap, mulai dari cerita keluarganya, kisah kelamnya saat di masih kecil, hingga perjalanan karir wartawannya sejak beliau masih berstatus sebagai mahasiswa sampai dengan karirnya saat ini. Dari tulisan yang ada di back cover buku ini, seorang Robert Adhi KSP selaku penulis biografi ini membutuhkan waktu sekitar empat tahun untuk meyakinkan seorang Andy F Noya agar kisah pribadinya ini diterbitkan dalam bentuk buku dan dikonsumsi masyarakat luas.

Minggu, 08 Februari 2015

Attracting Local People to Museums and Historical Sites

Nowadays, museums and historical places are mainly visited by tourists, not local people. From my point of view, there are two reasons why the number of local residents is less than tourist, when we are talking about the number of museum and historical sites visitors.

The first reason is I think domestic residents feel that they can go to museums and ancient whenever they want. There is no need to come there soon due to the distance between their houses and those places are not far. 

Tourists go to museums and ancient buildings to spend their spare time or holidays. In contrast, local people think that they do not have much time to visit historical sites and museums, even for the nearest one. For instance, I only spend my weekend with sleeping in bed or doing some relaxing activities at home. And I believe many people in Jakarta have similar thoughts like that. 

So, are there any solutions to overcome that problem?

I propose two ways as potential solutions for that problem. First, the local government can make a kind of "free pass" only for local people. This program will give privileges to residents because they can enter freely to museums or historical places. But the government have to consider how to keep the business running well although they give free pass for local people.

The second solution I offered is making a blog competition only for residents. The competition will require participants to share their stories of visiting museums and historical places in their city. The government can offer some big prizes to attract local people to join this competition. Indirectly, this competition will increase the number of visitors of those tourism objects, particularly local people.
 
*Note: I got this topic when I got my IELTS test, for Writing Task 2.

Sabtu, 07 Februari 2015

Sepintas Bicara Tes IELTS

Sumber gambar : disini

Jadi ceritanya hari ini saya baru saja selesai mengikut tes IELTS. Seperti kebiasaan lama saya yang suka berbagi pengalaman tes, maka kali ini pun saya ingin berbagi pengalaman saya mengenai tes IELTS. Jika di beberapa blog lain banyak yang bercerita mengenai pengalaman mereka mempersiapkan IELTS, maka saya disini ingin membahas seperti apa tes IELTS itu. Mungkin tulisan ini berguna bagi orang-orang yang ingin lebih tahu gambaran tes IELTS.

Tes IELTS adalah tes untuk mengukur kemampuan berbahasa Inggris seseorang berdasarkan 4 skill utama dalam berbahasa Inggris, yaitu Listening, Reading, Writing dan Speaking. Yang akan saya ceritakan disini adalah murni berdasarkan pengalaman saya. Jadi ini bukan sama sekali tips dan trik dari seorang master IELTS. Jangankan menjadi master, skor IELTS saya belum keluar sama sekali. hehe. So, let's move on to the main topics.

1. Listening

Tes ini akan menguji tingkat konsentrasi dan pendengaran kita. Karena ini menguji konsentrasi kita, saya menyarankan untuk meminimalkan beberapa hal yang mampu mengganggu konsentrasi seperti rasa lapar atau ingin buang air kecil/besar. Di IALF, tempat saya mengambil tes IELTS, kami diminta berkumpul di tempat sekitar pukul 07.30 wib. Saya sangat menyarankan untuk sarapan pada pagi harinya, untuk mencegah konsentrasi kalian atau teman-teman kalian pecah gara-gara mendengar bunyi "panggilan alam" dari perut kalian. Untuk kalian yang punya jadwal rutin BAB (buang air besar) di pagi hari, usahakan untuk tidak menundanya. Karena selama tes Listening, kita tidak akan diperbolehkan untuk izin keluar ke toilet.

Tes Listening terdiri dari 40 soal, dengan waktu 30 menit. Di akhir waktu 30 menit tadi, disediakan waktu 10 menit untuk menuliskan jawaban kalian di lembar jawaban. Jadi selama soal-soal diperdengarkan, para peserta ujian biasanya mencorat-coret jawabannya di lembar soal. Kalau kalian pede dengan jawaban kalian, kalian diperbolehkan kok untuk langsung menuliskannnya di lembar jawaban.

Dalam tes ini terdapat 4 Section, dimana jika dihitung rata-rata, satu Section terdiri dari 10 soal. Jika 30 menit dibagi dengan 40 soal, maka waktu kalian untuk mengerjakan satu soal adalah 30 : 40 = 0,75 menit alias 45 detik (koreksi ya hitungan saya kalau hitungan saya salah. :)). Waktu adalah kunci di dalam tes Listening, jadi pastikan jika kalian terlewat satu soal, segera move on ke soal berikutnya. 

Di antara beberapa soal di dalam satu Section dan di antara perpindahan antar Section, terdapat jeda waktu. Nah, sebaiknya kalian memanfaatkan jeda waktu ini untuk mencorat-coret setiap soal yang ada. Tandai kata-kata yang bisa menjadi signal sebelum jawaban yang dicari diperdengarkan. Untuk beberapa soal, kalian juga bisa memperkirakan jenis jawabannya. Misal di soal tertulis kata-kata yang tertulis "Telephone number .............". Dari pertanyaan tersebut, kita bisa menebak bahwa jawaban yang dicari adalah deretan angka. Prepare your ears because listening to numbers is not easy thing. Saya pribadi adalah orang yang lemah dalam mendengar angka-angka dan pengejaan huruf. Jadi saya selalu pusing setiap kali ada soal-soal yang menampilkan angka atau pengejaan huruf (dan jenis soal ini selalu ada).

2. Reading

Untuk yang tidak hobi baca, tes ini adalah tes terberat. Di tes ini kita akan disuguhkan 3 buah bacaan alias Reading Passage. Urutan bacaan merupakan urutan tingkat kesulitan. Jadi Reading Passage 3 adalah yang tersulit, dibandingkan dengan Reading Passage 1 dan 2. Dari 3 bacaan ini, terdapat 40 soal yang harus dijawab dalam waktu 60 menit. Jika dikalkulasikan, 1 soal bisa dikerjakan dalam waktu 1 menit 30 detik. Lumayan, dibandingkan dengan tes Listening.

Saran saya ketika mengerjakan soal-soal Reading, selalu perhatikan jenis soalnya. Jika jenis soalnya tidak meminta kalian untuk menyimpulkan paragraf atau menentukan heading dari tiap paragraf, jangan pernah membaca seluruh paragraf detil karena itu akan membuang waktu. Jika di dalam soal terdapat hal yang spesifik misalnya tahun atau nama seseorang, maka kalian hanya harus fokus pada tahun atau nama seseorang tersebut dan mencarinya di dalam bacaan. Biasanya jawaban pertanyaan kalian akan ada di sekitar kalimat yang memuat hal spesifik tersebut.

Tips saya untuk tes Reading adalah kerjakan semua soal yang termudah karena tidak akan ada pengurangan nilai jika jawaban kalian salah. Oh iya, jangan sampai salah untuk menulis jawaban ya, karena kesalahan singular atau plural saja akan dianggap salah. Dan ingat, seperti halnya di 3 tes lainnya, selalu perhatikan perintah alias instruction. Jika diminta hanya menuliskan satu kata, ya tulis satu kata pada lembar jawaban kalian. Ini penting kawan.

3. Writing

Writing is like a nightmare for me, since it is so grammar based assessment. Bagi saya ini adalah bagian dari tes IELTS yang paling sulit. Soalnya memang hanya terdiri dari 2 soal, tapi memikirkan jawabannya itu yang sulit.
Terdapat 2 Task dalam tes Writing. Di Task 1 kalian akan diminta untuk membuat report atau membuat deskripsi dari data yang disajikan. Data ini bisa berupa chart, grafik, tabel, peta ataupun diagram alur. Dan jangan kaget jika di Task 1, kemungkinan untuk mendapatkan 2 data itu sangatlah besar, seperti yang saya alami tadi siang. Saya mendapatkan satu bar chart dan tabel tentang bagaimana pria dan wanita di Inggris menghabiskan waktunya untuk kegiatan household activities dan leisure activities.

Jenis pertanyaan yang muncul bisa berupa perbandingan data, mendeskripsikan tren atau menjelaskan alur sebuah proses. Untuk tips-tips seputar Writing Task 1 ini bisa kalian dapat dengan googling. Saya belum pede untuk berbagi lebih detil mengenai Writing Task 1. Yang jelas persiapkan diri kalian dengan latihan menulis dengan beragam bentuk data.

Selanjutnya, untuk Writing Task 2, kalian akan diminta untuk menulis opini berdasarkan data. Tadi siang saya diminta untuk membuat tulisan untuk menanggapi soal mengapa museum dan bangunan bersejarah hanya ramai oleh turis, bukan oleh orang lokal. Saya pun diminta untuk memberikan solusi untuk menarik kedatangan orang lokal ke museum dan bangunan bersejarah.

Sekali lagi, tips dan trik Writing Task 2 bisa kalian cari melalui mesin pencari Google atau mesin pencari lain. Usahakan melihat contoh-contoh tulisan yang mendapat band score 8 atau 9. 

4. Speaking 

Ini dia urutan tes kedua yang tersulit menurut saya. Kenapa? Karena disini kita harus berpikir cepat untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh seorang native speaker yang menjadi penguji kita.
Tes Speaking ini terdiri dari 3 Section. Di Section 1 kalian akan ditanya hal-hal yang umum seperti misalnya rumah, kampung halaman, teman, hobi, pekerjaan dan hal-hal umum lainnya. Di Section 2, kita akan diminta untuk berbicara tanpa jeda selama 2 menit mengenai topik yang akan diberikan oleh penguji kita. Tenang saja, kita akan diberi waktu 1 menit untuk membuat catatan mengenai apa yang akan kita bicarakan. Hari ini saya mendapat soal mengenai interesting conversation, dimana di dalamnya ditanyakan dengan siapa, dimana, kapan, apa yang dibicarakan dan alasan mengapa saya menganggap percakapan tersebut menarik.
Berlanjut ke Section 3, disini kita akan ditanya lebih detil mengenai topik pada Section 2. Di Section 3 ini saya ditanyakan apa perbedaan berbicara pada wanita dengan berbicara pada sesama pria, apa perbedaan berbicara langsung dengan berbicara lewat telepon, dan pertanyaan-pertanyaan lain seputar conversation. Dari yang saya amati, penguji akan bertanya lebih detil mengenai jawaban-jawaban kita. Jadi sepertinya, pertanyaan-pertanyaan yang dia ajukan adalah murni spontan menanggapi jawaban-jawaban saya.


Yap, itulah tulisan singkat saya mengenai tes IELTS. Doakan saya ya semoga hasil tes hari ini bisa sesuai dengan harapan saya dan sesuai dengan yang saya butuhkan untuk mendaftar beasiswa dan universitas.

Jumat, 06 Februari 2015

Relax With Writing

Some people say that writing is a healing activity. I agree with that statement because with this post, I try to calm myself down and try not to worry about IELTS test.

So, what have I done to prepare for IELTS test?
  • I have done more practices that I did before. Like a wise man say that "Practice makes perfect". So I did practies as many as I can. I know my preparation time is not much, but I hope what I have studied in that "golden time" will be useful.
  • I have studied some tips and theory. I think my 5 year period in English department was not really helpful due to I have forgotten all the things I learn.
  • I have prayed and will pray more.
Not much I want to share by this post. I only hope my IELTS test tommorow is nice to me and I can answer all the questions well.