Tampilkan postingan dengan label Jalan-Jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan-Jalan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 April 2014

One Day Trip to Cirebon : Wisata Kuliner dan Sejarah (Part 1)

Setelah beberapa waktu yang lalu saya menulis tentang pengalaman saya melancong seharian di kota Bogor, maka kali ini saya ingin menulis pengalaman saya jalan-jalan seharian di kota udang, Cirebon.

Kenapa saya memilih Cirebon sebagai destinasi jalan-jalan saya ini?
Alasannya ya karena saya dan pacar saya ingin jalan-jalan keluar kota Jakarta. Dan setelah searching sana-sini di Google, maka pilihan kami jatuh ke kota Cirebon, sebuah kota di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat, yang hanya berjarak sekitar 219 kilometer lebih dari kota Jakarta.

Kami menempuh perjalanan dengan menggunakan kereta api Cirebon Ekspress yang berangkat dari Stasiun Gambir jam 06.00. Untuk kalian yang gadgetnya lowbet terus saking aktifnya buat main Twitter atau Path tidak perlu khawatir, karena di sebelah masing-masing kursi di tiap gerbong sdah ada colokan listrik berisi 2 lubang yang bisa kalian gunakan untuk me- recharge baterai gadget kalian. Setelah menempuh kurang lebih 3 jam perjalanan, sekitar pukul 09.00 kereta yang kami tumpangi berhenti di Stasiun Cirebon.

Dasar memang kami belum pernah ke Cirebon, maka begitu turun di kota ini, kami langsung saja mengeluarkan smartphone kami masing-masing untuk foto-foto di dalam Stasiun Cirebon. Kebetulan di dalam komplek stasiun ini, terdapat beberapa spot yang menarik dijadikan tempat foto-foto, seperti misalnya tandon air bertuliskan Cirebon, atau di antara rel-rel jalur kereta api yang jumlahnya cukup banyak di stasiun ini. Bagian depan Stasiun Cirebon ini juga menarik dijadikan latar belakang foto, karena memang stasiun ini masih mempertahankan arsitektur bergaya art deco ala-ala bangunan Belanda pada umumnya.



  
Bergaya di dalam stasiun (dok.pribadi)

Berjalan keluar stasiun, tujuan pertama kami adalah mencari sarapan pagi. Dan dari hasil googling, maka kami memutuskan untuk mencari sarapan dengan menu khas Cirebon yaitu Empal Gentong.

Empal Gentong Warung Pukul Jabon

Salah satu tempat makan Empal Gentong yang terkenal di Cirebon adalah Empal Gentong Mang Darma, yang berlokasi di dekat Stasiun Cirebon. Sayangnya, karena hari itu adalah hari Pemilihan Umum Calon Legislatif, maka jadilah beberapa warung Empal Gentong di sekitar Stasiun Cirebon tutup. Untungnya masih ada salah satu warung yang buka yaitu warung Pukul Jabon (Pusat Kuliner dan Jajanan Khas Cirebon) yang posisinya di dekat pertigaan depan stasiun.
Rasa empal gentong disini lumayan menurut saya, dibandingkan empal gentong yang saya coba pada saat saya test food katering beberapa hari sebelumnya. Ya mungkin karena ini benar-benar asli Cirebon ya. Buat yang belum pernah tahu apa itu empal gentong, makanan ini terdiri dari daging sapi yang direbus bersama bumbu rempah dan santan. 

Kenapa ada nama gentong-nya?
Ya karena itu tadi, proses memasak daging bersama rempah dan santan dilakukan dengan menggunakan wadah gentong, bukan dengan wajan atau panci. Ini pula sepertinya yang menjadi alasan kenapa rasa empal gentong ini terasa lebih enak dan gurih.

Empal gentong ini disajikan bersama dengan cabe bubuk kering. Hati-hati sekali dalam menambahkan bubuk cabe ini ke dalam empal gentong kalian, karena ternyata rasa bubuk cabe ini sangatlah pedas di lidah dan membuat perut kita panas.

Empal gentong plus bubuk cabe nan pedas (dok.pribadi)


Selain empal gentong, warung Pukul Jabon ini juga menyajikan aneka panganan khas Cirebon seperti empal asem, nasi lengko, nasi jamblang, dll. Di warung ini juga menyediakan jajanan khas Cirebon yang bisa dipilih sebagai oleh-oleh khas, seperti misalnya sirup Tjampolay, aneka kripik, dll.
Rincian harga:
2 empal gentong + nasi putih : Rp. 17.000,-
2 teh manis hangat : Rp. 3.000,-

Usai menyelesaikan ibadah sarapan pagi, kami melanjutkan perjalanan kami menuju Keraton Kasepuhan. Sempat kami ditawarkan untuk menyewa mobil di warung Pukul Jabon, tapi kami tolak dengan alasan menyewa mobil hanya untuk dua orang rasanya sungguh sangat mubazir. Setelah tanya sana-sini, akhirnya kami memilih becak untuk mengantar kami menuju Keraton Kasepuhan.

Rabu, 02 April 2014

Melancong Seharian di Bogor

Hari libur paling ga enak itu kalo cuma tidur seharian di kasur sambil scrolling timeline Twitter. Berhubung pacar saya ingin liburan untuk ngilangin stress dan jenuh dengan Jakarta, maka jadilah kita akhirnya memutuskan untuk melancong seharian ke Bogor.

Ada beberapa alasan kenapa kami memilih Bogor sebagai tujuan kami. Salah satu alasan besarnya adalah karena kami belum berhasil mendapatkan tiket kereta api murah ke Cirebon. Jadi rencana awal kami adalah liburan ini kami ingin pergi ke Cirebon. Ide saya sih sebenarnya, karena saya menganggap Cirebon adalah tempat yang tidak terlalu jauh (mungkin sekitar 2-3 jam perjalanan) dari Jakarta, dan harga tiket keretanya masih di bawah 100 ribu. Ternyata dugaan saya salah. Karena saya baru melihat jadwal dan harga tiket kereta persis seminggu yang lalu, jadilah tiket dengan harga murah dibawah 100ribu habis semua. Yang tersisa tinggal tiket kereta jurusan ke Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan harga 200-300 ribu. Buat saya sih sayang ya mengeluarkan duit segitu hanya untuk tiket kereta ke Cirebon.

Ada pilihan lain yaitu Bandung. Tapi karena liburan yang lalu, pacar saya sudah ke Bandung, maka kami putuskan untuk tidak menjadikan Bandung sebagai tujuan kami.

Dan setelah memikirkan beberapa hal termasuk soal biaya, dan waktu bangun tidur kami yang kesiangan, maka akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Bogor.

Kami memang bukan orang yang belum pernah ke Bogor. Saya sendiri di pekerjaan saya saat ini, sudah beberapa kali rapat di hotel-hotel sekitar Bogor. Sedangkan pacar saya sendiri baru saja minggu lalu mengajak anak-anak muridnya untuk field trip di Kebun Raya Bogor.

Setelah searching di Google mengenai referensi tempat wisata di Bogor, kami memutuskan untuk mengunjungi satu objek saja yaitu Kebun Durian Warso Farm yang terletak di Cihideung. 

Kenapa hanya satu objek yang kami jadikan tujuan?
Simpel alasannya, yaitu karena udah dijelasin di atas, kami berangkat dari kostan terlalu siang. Kami mulai beranjak dari kostan sekitar pukul 11 menuju ke Stasiun Sawah Besar. Sekitar pukul 13.00 baru kami sampai di Stasiun Bogor, setelah kurang lebih satu jam dikurung di dalam gerbong kereta yang katanya dilengkapi AC tapi yang terasa hanya seperti angin dari kipas angin. Padahal, kereta yang kami tumpangi penuh sesak dengan orang-orang yang menuju ke Bogor. 

Sampai di Stasiun Bogor, kami langsung menuju ke pintu keluar stasiun untuk mencari angkot 02 jurusan Sukasari - Bubulak. Dengan angkot 02 tersebut, kami menuju ke Ramayana atau Bogor Trade Mall untuk menyambung angkot lain. Sekitar 15 menit perjalanan, yang dikarenakan jalanan Bogor yang macet di depan Istana Bogor, kami sampai di Ramayana.

Dari Ramayana, kami berjalan ke arah pasar untuk naik angkot 04A jurusan Ramayana-Cihideng. Perhatikan baik-baik tulisan angka dari angkot yang akan dinaiki, karena kami sempat salah naik angkot. Ternyata angkot yang kami tumpangi bertuliskan 04A TH yang bertujuan ke Tajur Halang. Meski saya tak tahu dimana letak Tajur Halang, namun sepertinya Tajur Halang dan Cihideung tujuan kami jaraknya sangat jauh berbeda.

Ada tips satu lagi untuk yang ingin naik angkot 04A yaitu kita harus berjalan ke jalan arah pasar, ke arah berlawanan angkot 04A lewat. Kenapa? Karena permintaan penumpang terhadap ketersediaan angkot ini sangatlah tinggi. Sepertinya memang mobilitas orang-orang daerah Cihideung dan sekitarnya ke arah Bogor dan sebaliknya memang sangat tinggi.Kalau kalian hanya berdiri menunggu di pertigaan depan BTM, dijamin satu jam menunggu pun kalian tidak akan dapat tempat duduk.

Setelah sekitar 1 jam perjalanan dengan angkot 04A menyusuri mulai dari jalanan yang rusak di ujung Bogor Nirwana Resort, lalu jalanan rapi di sekitar JungleLand, hingga menuju jalanan pedesaan penuh liku naik turun dan jurang di beberapa titik, akhirnya kami sampai di tujuan kami, Cihideung. Dari pertigaan berhentinya angkot, kami berjalan sekitar 20 meter untuk menuju Kebun Durian Warso Farm. Dekat sekali bukan. :)

Dari informasi di internet, kebun durian Warso Farm adalah milik seorang pensiunan TNI AD bernama Soewarso Pawaka. Kurang lebih sekitar setengah dari luas keseluruhan Kebun Durian Warso seluas 8,5 ha ini ditanami bermacam jenis pohon durian yang jumlahnya sekitar 900 pohon dan terdiri dari 19 jeni dan 7 varietas unggul, yaitu Monthong, Lay, Petruk, Sunan, Si Mas, Tembaga. Dan lahan yang tersisa ditanami dengan pohon buah Naga, pohon nangka, buah jambu monyet, dan juga terdapat persawahan (Sumber : yoshiewafa).


Untuk mengitari kebun durian ini, kami butuh waktu sekitar 1,5 jam. Kok lama?
Ya karena selain lahannya yang luas, kami menghabiskan waktu 1,5 jam itu untuk foto-foto dan duduk-duduk di area kebun. Kalau kalian memang hobi foto narsis, tempat ini cocok banget kalau kalian ingin bikin foto narsis dengan tema "Kejatuhan Duren" atau "Bertarung dengan Buah Naga" :D.


Udara di area Warso Farm ini segar banget lho. Mungkin karena kebun ini terletak persis di bawah Gunung Salak dan area kebun ini memang rimbun akan pohon-pohon durian yang tumbuh disana-sini seperti jamur (lebayyy..).

Buat yang mau main kesana, saya sarankan untuk datang di musim panen durian. Info dari blog yoshiewafa ini sih katanya musim panen durian itu jatuh di bulan Desember s/d Mei, dan puncaknya pada bulan Januari s/d Maret. Tapi kalau kalian mau datang cuma buat liat-liat saja, bisa kok datang ke tempat ini. Pengunjung yang ingin menikmati sejuknya kebun durian ini tidak perlu mengeluarkan biaya untuk tiket masuk, karena pengelola Warso Farm memang tidak menerapkan sistem tiket masuk.

Oh iya, meskipun disini kita tidak diperbolehkan untuk memetik durian, tapi pengunjung masih bisa menyantap hidangan serba durian seperti es ketan durian, serabi durian, dll di warung dan kedai yang tersedia di area ini. Ada satu kedai di area dalam kebun, dan satu kedai di luar area kebun. Sepertinya ada satu kedai lagi di seberang kompleks kebun, tapi saya tak tahu pasti karena saya hanya melihat keramaian yang tampak seperti keramaian warung.

Kami tak sempat mencicipi makanan maupun minuman yang ada disini. Alasan pertama sih karena kami ingin makan di daerah pecinannya Bogor, yaitu Jalan Suryakencana. Alasan kedua ya karena budget jalan-jalan kami terbatas, jadi terpaksa kami menahan lapar untuk tidak makan di warung di area Warso Farm. Untuk mengganjal perut, kami pun membeli batagor seharga 5000 perak di dekat tempat pemberhentian angkot 04A. Lumayan menahan lapar. :)

Kami sampai kembali di Bogor sekitar pukul 17.30-an. Dengan semangat menggebu kami berjalan kaki ke daerah Jalan Suryakencana. Tak disangka, ternyata warung dan restoran ala pecinan di daerah tersebut sudah tutup ketika kami datang. Berhubung kami sudah sangat kelaparan, akhirnya pilihan perut kami jatuh ke warung Mie Ayam Gaya Tunggal, yang letaknya persis di depan Museum Zoologi.

Meski "sepertinya" yang terkenal disini adalah mie ayam jamurnya, tapi tak satupun dari kami yang memesan mie ayam. Pacar saya memesan menu nasi goreng, sedangkan saya memesan bihun kuah masak. Untuk minumnya, kami memesan es teh dan es lidah buaya.

Nasi goreng disini menurut saya rasanya biasa saja. Nasi yang digunakan kurang "pera" dan kurang cocok digunakan untuk nasi goreng. Untuk bihun kuahnya, rasanya sebenarnya cukup enak. Cuma ketika disajikan kepada saya, kuahnya tidak dalam keadaan panas. Padahal saya membayangkan akan bercucuran keringat menikmati bihun kuah yang panas dan pedas. Oh iya, pada saat menyantap menu saya, perut saya yang sedang maag sungguh tak bisa berkompromi. Akhirnya, saya hanya menyantap sedikit bihun kuah saya. Sisanya saya bawa pulang. Dan ketika di rumah saya panaskan lagi di atas kompor, plus saya tambah irisan cabe rawit, rasa bihun kuahnya jadi lebih maknyosss.
 

Rabu, 20 November 2013

[Kuliner] Sate Kiloan Rumah Makan Emut Rasa, Sentul Bogor

Selasa lalu, saya dan teman saya ditugaskan dari kantor untuk mengikuti rapat di Hotel Lorin, Sentul Bogor. Begitu mendengar kata “Sentul Bogor”, maka yang terbayang di pikiran saya adalah mencicipi “pedagang sate kiloan” atau kerap disingkat dengan istilah PSK. Saya yang memang sudah lama sekali mendengar kelezatan sate kiloan, langsung merasa senang ketika mendengar penugasan ke daerah Sentul ini.

Pedagang Sate Kiloan yang saya datangi adalah Rumah Makan Emut Rasa yang ada di jalan Babakan Madang. Untuk mencapai kesana, dari hotel Lorin tempat saya menginap, saya dan teman saya mesti berjalan sekitar 300 meter ke arah pintu gerbang Sirkuit Sentul. Dari depan pintu gerbang Sirkuit Sentul, kami naik angkot no 04 jurusan Cisanggaruli. Segera setelah kami naik angkot, kami tak lupa bilang kepada supir angkutnya untuk menurunkan kami di pedagang sate kiloan di daerah Cisanggaruli. FYI, sate kiloan tidak hanya ada di Cisanggaruli saja, tapi kata supir angkotnya disitulah daerah yang lebih rame untuk sate kiloannya.


Begitu sampai di Rumah Makan Emut Rasa, saya heran dengan kata supir angkot yang bilang daerah sini ramai dengan pengunjung yang ingin mencoba sate kiloan, karena Rumah Makan Emut Rasa yang saya datangi ini sepi sekali. Saat saya datang, hanya saya dan teman saya yang menjadi pengunjungnya. Pikir saya, mungkin di pedagang sate kiloan lain lebih ramai. Ternyata, setelah saya berjalan keluar rumah makan, saya tak melihat pedagang sate kiloan lain yang ramai. Yang ramai justru Alfamart yang berjarak sekitar 15 meter dari lokasi Rumah Makan Emut Rasa.


Malam itu, saya dan teman saya memesan sate kambing. Saya tak tahu apa ada menu lain selain sate kambing, karena yang terlihat digantung di dekat meja pedagang hanya sepotong besar daging kambing yang digantung pada sebuah kait besi.


Berhubung rumah makan yang menjual sate kiloan, awalnya saya hendak memesan sate per kiloan. Namun setelah mengetahui harga perkilo daging kambingnya menurut saya mahal, yaitu Rp. 160.000,00 perkilo, maka saya dan teman saya sepakat memesan sate kambingnya per porsi, yaitu Rp. 30.000,00 untuk sepuluh tusuk. Harga tersebut belum termasuk nasi yang dihargai sebesar Rp. 5.000,00 per porsi.


Setelah menunggu sekitar 10 menit, semua pesanan kami datang. Sebelum pesanan kami datang, pelayan telah terlebih dahulu memberikan kami masing-masing satu gelas teh tawar hangat (rasanya tehnya tidak enak. Tawar sekali seperti air putih). 

Sate kambing siap disantap (dok.teman saya)

Sepuluh tusuk sate kambing disajikan dalam piring terpisah dari bumbu kecap. Oh iya, buat yang tak suka bumbu kecap, disini juga disediakan bumbu kacang. Dua porsi nasi disajikan di dalam satu tempat nasi yang terbuat dari bambu (porsinya saya rasa cukup banyak. Bagi saya bisa jadi empat porsi). 

Begitu mencicipi sate kambing yang kami pesan, rasa kesal karena harga perkilo kambingnya cukup mahal menjadi hilang sudah. Daging kambingnya sangat lembut saat digigit. Jadi gigi saya tidak perlu berusaha keras untuk mengunyah setiap potongan dagingnya. Nyummy sekali rasanya. Yang bikin mantap juga adalah karena potongan daging per tusuk satenya itu besar-besar, dan benar-benar daging. Bukan lemak atau jeroan kambing. Pokoknya mantap dan enak.

Oh iya, buat yang dari Jakarta penasaran ingin mencicipi lezatnya sate kiloan ini, kalian bisa masuk dari tol Jagorawi exit tol Sentul City. Letak rumah makan ini tak jauh dari Hotel Harris yang persis ada di depan Sentul International Convention Center (SICC). Sebagai catatan saja, jalan di daerah sini tidak mulus. Jadi bersiaplah untuk terguncang perutnya selama perjalanan menuju atau pergi dari rumah makan ini. 



Lihat Rm. Emut Rasa di peta yang lebih besar

Rabu, 04 September 2013

Jalan-Jalan ke Museum Taman Prasasti Jakarta

Sebenarnya sudah lama sekali saya ingin berkunjung ke museum ini. Sayangnya, selalu saja hal-hal yang membuat rencana saya untuk berkunjung ke sana selalu gagal. Dan, akhirnya, setelah sekian lama menunggu dan penasaran, hari Sabtu tanggal 24 Agustus 2013 kemarin saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke museum ini.

Museum ini ada di Jalan Tanah Abang 1, Petojo Selatan, Jakarta Pusat. Letaknya persis di sebelah Kantor Walikota Jakarta Pusat. Buat yang mau naik kendaraan umum, ada dua cara yang bisa kalian gunakan:
  1. Kalian bisa menggunakan transportasi bus Transjakarta. Kalian tinggal naik bus Transjakarta jurusan Blok M - Kota. Trus kalian tinggal turun di Halte Monas. Dari situ kalian tinggal jalan kaki sekitar 500 meter saja. Atau kalau kalian gak mau jalan, kalian bisa naik ojek dari depan Museum Nasional. Cukup bayar 10 ribu saja biasanya.
  2. Atau kalau kalian dari arah Gajah Mada, kalian bisa naik mikrolet 08 jurusan Tanah Abang - Kota. Kalian naik mikrolet 08 yang ke arah Tanah Abang, dari samping Gajah Mada Plaza. Nanti kalian bilang ke abang angkotnya "Bang, turun di Kantor Walikota Jakarta Pusat ya". Setelah turun, kalian tinggal jalan ke arah museum ini. Ongkosnya sekitar Rp. 3.000 - Rp. 3.500.
 Untuk masuk ke museum, saya harus membayar tiket masuk seharga Rp. 5000. Untukanak-anak dan pelajar, harga tiket lebih murah. Sayangnya saya lupa untuk mencatat berapa harga pastinya.

Begitu memasuki area museum, kesan pertama yang saya dapatkan adalah "Wowwwww...keren banget museum ini". Di dekat pintu masuk saja, saya sudah menemukan patung dan nisan yang begini.



"Nisan..????" "Jadi saya kesini cuma buat liat nisan doang??"

Eits jangan salah. Nisan yang menjadi koleksi museum ini adalah nisan-nisan abad ke-16, ke-17 dan ke-18, dan bentuk nisan-nisan yang ada disini tak seperti nisan-nisan yang kita lihat jaman sekarang ini. Jadi kalian tidak bakal merasa mengunjungi Tanah Kusir deh. :) 

Berdasarkan info yang saya dapat dari leaflet yang diberikan pada saat saya membeli tiket masuk, museum ini memang benar-benar didirikan di bekas pemakaman kuno yang telah beroperasi sejak tahun 1795. Pemakaman ini kemudian ditutup tahun 1975 dan dipugar, hingga kemudian resmi digunakan sebagai museum pada tahun 1977 (Gubernu DKI Jakarta kala itu adalah Bapak Ali Sadikin).

Ini dia foto-foto nisan dan patung yang berhasil saya jepret:




Sayang sekali nisan-nisan ini dijadikan pijakan di tanah






Ada dua makam yang menarik bagi saya. Yang pertama adalah makam Kapiten Jas. Berdasarkan info yang ada di internet, semua jenazah yang dimakamkan di tempat ini sudah dipindahkan semuanya, kecuali milik Kapiten Jas ini. Masih info dari internet juga, katanya makam Kapiten Jas ini masih sering didatangi orang-orang yang ingin mendapatkan berkat, terutama berkaitan dengan kesuburan. Entah mitos ini benar atau tidak, saya sendiri kurang tau juga. hehe...:)

Makam Kapiten Jas
Nisan kedua yang menarik bagi saya adalah nisan milik Soe Hoe Gie, seorang aktivis kemahasiswaan yang sangat terkenal di era periode akhir Orde Lama. Kisah kehidupan Soe Hoe Gie sendiri pernah difilmkan di tahun 2005. Saya sendiri sih belum menonton film tersebut.

Nisan Soe Hoe Gie
Rata-rata keadaan nisan yang ada di museum ini masih belum terawat dengan sempurna. Seperti pada salah satu foto di atas tadi, beberapa nisan dibiarkan tergeletak tak beraturan dan dijadikan tempat pijakan kaki. Tapi itu belum seberapa parah, sampai ketika kaki saya melangkah ke deretan nisan di bagian belakang.





Di bagian belakang area museum ini, beberapa nisan dan patung (gambar di atas) terlihat dicorat-coret dengan menggunakan cat semprot. Sungguh disayangkan sekali mengingat nisan-nisan yang ada disini merupakan bukti sejarah dari abad ke-16, ke-17 dan ke-18. Saya sempat mengobrol dengan salah satu petugas yang sedang membersihkan cat semprot yang ada di salah satu nisan. Beliau berkata bahwa cat semprot ini susah sekali untuk dihilangkan karena catnya sudah terserap ke dalam batu nisan yang rata-rata terbuat dari marmer.

Secara keseluruhan, museum ini punya potensi untuk lebih dikembangkan. Mengingat jenis museum yang menghadirkan nisan-nisan kuno dari jaman kolonial menurut saya masih sangat jarang. Ada beberapa catatan saya yang menurut saya harus dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta (ya kali dibaca ye...:P ) :
  • Tanaman-tanaman yang ada perlu dirapikan lagi, karena di beberapa sudut malah alang-alang dan semak-semak terlihat lebih dominan.
  • Kebersihan di tempat ini juga masih sangat kurang. Masih banyak tumpukan dedaunan yang sepertinya dibiarkan saja tak dibersihkan.
  • Perlu ada pengawasan dari petugas untuk area museum bagian belakang. Kata petugas kebersihan yang saya ajak ngobrol, seringkali banyak anak sekolah yang memanjat pagar belakang, merokok di area museum, dan mencorat-coret nisan yang ada disitu.
  • Perlu ada keterangan singkat dari setiap nisan yang dipajang. Jadi setidaknya kita bisa mengetahui siapa orang yang sedang kita lihat nisannya itu.

Masa Pertumbuhan Kita

Kalian pasti pernah menerima ucapan dari teman atau saudara kalian dengan bunyi kira-kira seperti ini " Makan yang banyak ya. Kan lagi ...