Rabu, 24 September 2014

WHY DO I WANT TO BE A MASTER IN LEGAL TRANSLATION?

The need of translator in my office is something that unavoidable since my office handles all the things about legal matters in Directorate General of Civil Aviation. My recent job is between as a translator and a legal drafter. I know people will laugh if knowing that one of the legal drafters in Legal and Public Relation Division is not Bachelor of Law, but Bachelor of Arts.

Sometimes, in the middle of doing my job as a translator, I meet a confusion due to many words that rarely appears now coming up. As example, when I translate an international convention or regulations, I found some words that are hard and difficult to translate. In addition, there is no Legal English Indonesia Dictionary in my office, and the material that I have to translate is between legal terms and aviation terms. And as far as I know, there is no published dictionary that focusing on those matters.

I dream I can study Master in Translation or Applied Linguistic focusing Translation in overseas university or college. And not so long after I come back to Indonesia, I am going to make Legal Aviation English Indonesia Dictionary. I believe my dictionary would be helpful for translators who work on legal and aviation terms.

Selasa, 23 September 2014

Review Buku: Revolusi Transportasi #RevoluTrans oleh Bambang Susantono

Sumber: dok.pribadi

Penulis : Bambang Susantono
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Jumlah: 344 halaman
Terbit : Agustus 2014

 
Tadinya saya ingin memberi judul tulisan ini dengan kalimat “Saat Wakil Menteri Bicara Soal Transportasi”.Tapi saya urungkan dan memilih judul yang saya pakai sekarang karena nanti jika rencana Jokowi menghapuskan jabatan Wakil Menteri terlaksana, maka seandainya saya gunakan judul itu, maka judul tulisan saya jadi kadaluarsa dong. Hehe..

Jujur saja ada ketakutan dalam diri saya ketika akan membaca buku ini. Memang dari segi penampilan luar, buku ini memiliki desain cover yang sangat eye-catching. Penggunaan warna hijau tosca dengan ikon-ikon transportasi seperti bus, pesawat, mobil, sepeda, dan kereta dalam desain kartu seakan ingin mengesankan bahwa buku ini menyasar segmentasi pembaca berusia muda. Namun ketakutan saya adalah jika seorang pejabat pemerintahan menulis sebuah buku, yang ada di pikiran saya pasti gaya bahasa yang digunakan akan sangat membosankan dengan bahasa-bahasa dewa yang tak mudah dimengerti. Dan ternyata ketakutan saya benar-benar tidak terbukti dan bahkan sebaliknya saya dengan ini menyatakan SANGAT MENYUKAI buku ini secara keseluruhan.

Pak Bambang Susantono, selanjutnya akan saya sebut penulis, ternyata benar-benar pintar menulis. Terlihat dari gaya bahasa yang mengalir dan mudah dipahami. Membaca buku ini seperti saya sedang membaca buku dari seorang pakar transportasi sedang bercerita dengan gaya tulisan ala blogger. Ringan namun berbobot.

Buku ini terbagi dari 6 bab dimana setiap babnya terdiri dari 3-4 artikel. Secara keseluruhan, penulis lebih banyak menyoroti mengenai transportasi darat terutama di DKI Jakarta. Ya mungkin karena memang sepertinya DKI Jakarta sebagai ibukota negara ini seharusnya menjadi sebuah “etalase negara” yang baik, termasuk dari sisi transportasinya. Dalam buku ini, penulis menyoroti beberapa hal terkait perkembangan transportasi di ibukota seperti misalnya dalam artikel “Mimpi Buruk bernama : Gridlock!” yang khusus menyoroti kemungkinan terjadinya “Gridlock” yaitu istilah untuk menggambarkan parahnya kemacetan lalu lintas yang seolah-olah terunci, tanpa ada yang bisa memastikan posisi awal dan akhir kemacetan. Atau ada pula beberapa artikel dimana penulis membahas beberapa alat transportasi yang sudah (dan akan) ada di Jakarta seperti pada tulisan “Monorel”, “Busway, Why Bus?”, “MRT, di Atas atau di Bawah Tanah”.

Selain bicara tentang transportasi darat khususnya transportasi untuk perkotaan, penulis juga membahas beberapa jenis angkutan seperti angkutan sungai (dalam artikel “Angkutan Sungai a.k.a Waterways), atau angkutan laut (dalam artikel “Kita Perlu Pelabuhan Baru”) dan juga angkutan udara (dalam artikel “Bandara (harusnya) Bikin Bangga”. Semuanya dibahas dengan cukup lengkap dengan bahasa yang menarik.

Ada yang menjadi ciri khas penulis dari setiap artikel yang dia tulis disini. Di dalam artikel yang ditulis, penulis selalu mencantumkan data-data disertai dengan sumber data yang ditulis di bagian belakang buku. Penulis pun di setiap artikelnya selalu membandingkan substansi materi yang sedang dia bahas dengan apa yang sudah terjadi di luar negeri. Misalnya saja ketika membahas mengenai busway, penulis menceritakan pula keberhasilan sistem BRT alias Bus Rapid Transit (busway di luar negeri dikenal dengan istilah BRT) di Brasil, Tiongkok, maupun Bogota.

Untuk kalian yang ingin tercerahkan akan dunia transportasi Indonesia, tak hanya permasalahannya tapi juga kemungkinan solusi-solusi yang ada, wajib banget baca buku ini. Apalagi, di setiap akhir artikelnya terdapat beberapa pertanyaan yang membuat kita untuk berpikir untuk turut serta memberi solusi atau ide akan permasalahan-permasalan transportasi yang dibahas. Dan, ide-ide kalian tersebut bisa diemail ke revolutrans@gmail.com atau mention ke akun twitter @revolutrans.

Mari berpartisipasi dalam dunia transportasi Indonesia. Karena pada intinya, transportasi adalah tentang kita. Tentang manusianya.

Minggu, 21 September 2014

Sekilas Pandangan Saya Tentang Kurikulum 2013


Berbicara mengenai Kurikulum 2013 yang saat ini diterapkan menjadi sistem pendidikan di Indonesia, pikiran saya langsung terbayang dengan sistem pendidikan di Finlandia, yang saat ini menjadi salah satu sistem pendidikan terbaik di dunia. Indonesia memang rasanya masih jauh untuk menyaingi Finlandia dalam hal pendidikan, namun sepertinya Kurikulum 2013 ini mampu membawa kita ke arah yang sana.

Mengapa saya berkata bahwa Kurikulum 2013 kita mampu membawa kita ke arah sistem pendidikan seperti yang dimiliki oleh Finlandia?

Sebelum lebih jauh berbicara mengenai Kurikulum 2013, saya ingin menceritakan sedikit gambaran mengenai sistem pendidikan yang diterapkan oleh Finlandia. Berdasarkan berbagai artikel yang saya baca dan pelajari, salah satu yang menjadi kunci keunggulan dari sistem pendidikan Finlandia adalah bagaimana para murid di sana tidak dibebani dengan tambahan jam sekolah, tugas tambahan, maupun hal-hal lain yang membuat muridnya merasa berat. Sebaliknya, murid-murid diberi kebebasan untuk mandiri di dalam mencari informasi-informasi tambahan yang dibutuhkannya bahkan termasuk menentukan sendiri jadwal ujian untuk pelajaran yang dirasa telah mereka kuasai.

Dari segi penilaian, pendidikan di Finlandia tidak mengenal sistem ranking untuk para siswanya. Hal ini karena para guru di Finlandia merasa bahwa jika mereka menerapkan sistem ranking, mereka akan terfokus hanya pada anak tertentu saja. Dan, dengan adanya ranking, ditakutkan anak-anak yang berada di peringkat bawah akan merasa minder dan malu yang berujung minat belajar mereka akan menurun. Bahkan para guru-guru disana sangat menghindari memberi kritik terhadap para murid. Setiap murid diperbolehkan untuk berbuat kesalahan.
 
Secara singkat bisa saya simpulkan bahwa pendidikan Finlandia bertujuan untuk menghasillkan anak-anak yang tidak hanya cerdas saja, tapi juga menjadi anak yang mampu mandiri, bertanggung jawab dan kreatif.

Lalu bagaimana dengan Kurikulum 2013 yang saat ini sedang diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia mulai dari jenjang SD, SMP hingga SMA?

Beruntunglah karena saya memiliki istri seorang guru sehingga saya tak kesulitan untuk mendapatkan buku yang digunakan para murid di kelas IV, kelas yang diajarnya saat ini. Saya pun segera mencoba mencari tahu apa seperti apakah karakteristik Kurikulum 2013 ini, terutama untuk kelas IV SD.

Begitu membaca kata pengantar dari buku siswa kelas IV, saya tertarik dengan tujuan dari Kurikulum 2013 ini. Dari sisi tujuan, Kurikulum 2013 ini lebih menekankan pada sisi kreativitas dan komunikasi. Sepertinya dengan kurikulum ini, sisi kreativitas yang selama ini terkubur dalam-dalam akibat metode menghafal sedikit demi sedikit mencoba dihapuskan.

Saya sempat berbincang dengan istri saya mengenai metode seperti apa yang dipakai di Kurikulum 2013 untuk menggali sisi kreativitas dan komunikasi dari siswa. Jadi, di kurikulum ini, siswa lebih ditekankan untuk lebih berani menyuarakan pendapatnya dan mengkomunikasikan idenya pada saat kegiatan belajar mengajar. Saya pernah membaca sebuah artikel mengenai pendapat orang asing terhadap karakteristik orang Indonesia yang cenderung kurang mampu mengkomunikasikan pendapatnya. Saya optimis beberapa puluh tahun mendatang, jika Kurikulum 2013 ini dapat dilaksanakan dengan konsisten dan terus dikembangkan, stigma negatif seperti itu akan bisa dihapuskan. Generasi muda yang saat ini sedang dididik dengan Kurikulum 2013 akan menjadi orang-orang yang mampu menjadi mengkomunikasikan pendapatnya dan tentunya penuh dengan kreativitas. Karena menurut saya, ketika orang mampu mengekspresikan pendapatnya dengan penuh kebebasan, dengan sendirinya orang terlatih untuk berpikir kreatif.

Menelisik lebih jauh mengenai Kurikulum 2013, saya sempatkan untuk membaca buku siswa lebih detil. Setelah membaca beberapa halaman, saya tertarik dengan bentuk-bentuk soal yang ditanyakan di dalam buku siswa. Lihat saja salah satu contoh soal ini:
Sumber: Buku Siswa Kelas IV Tematik IV Hal. 3

Kurikulum 2013 sangat berbeda dengan kurikulum-kurikulum lain yang sebelumnya pernah diterapkan di Indonesia. Di kurikulum yang baru diterapkan setahun yang lalu ini, pelajaran diajarkan secara tematik dan saling terkait. Misalnya saja dari contoh soal di atas. Dalam soal tersebut, anak diminta untuk mengamati peta, menyebutkan jenis pekerjaan apa saja yang berada di dataran rendah, dataran tinggi, dan perairan. Dengan menjawab soal ini, menurut saya siswa aka diajak untuk berpikir secara kompleks. Yang pertama, siswa diajak belajar mengenai geografi karena dia harus membaca peta, termasuk membaca "Legenda" dan mata angin. Yang kedua, anak diajak belajar mengenai apa itu dataran rendah, dataran tinggi dan perairan. Disini sudah dua hal yang dipelajari. Dan terakhir, ketika diinta menyebutkan jenis pekerjaan sesuai dengan tempatnya, anak diajak berpikir mengenai pekerjaan yang ada dan merelasikannya dengan tempat dimana mereka belajar.

Saya jadi membayangkan lagi jaman SD saya dulu dimana setiap harinya saya dituntut untuk menghafal pelajaran yang saat ini sudah tak lagi saya ingat. Semoga dengan metode pembelajaran tematik dan saling terkait ini, anak-anak Indonesia ini nantinya bisa berpikir kritis, kreatif dan komprehensif. Ah, andai saja saya sekarang masih SD pasti senang rasanya tak harus banyak menghafal materi. Enaknya lagi, saya tak harus membawa banyak buku pelajaran karena buku Kurikulum 2013 disusun berdasarkan tema, dimana sebuah buku tematik di dalamnya sudah mencakup beberapa pelajaran.

Minggu, 08 Juni 2014

[Kuliner] : Nyusu di Mamoo Milk Purwokerto

Lama tak berkulineran di Purwokerto karena jarang pulang ke sana, ternyata Purwokerto tengah dilanda demam "susu". Hal ini saya amati ketika muter-muter di sekitaran Purwokerto, dan menemukan beberapa kedai atau gerobak yang menjual susu sebagai menu utamanya. Sebut saja nama-nama seperti Milk Max, Holy Milk, dan Mamoo Milk. Nama yang terakhir saya sebutlah yang sempat saya coba dalam mudik singkat saya beberapa hari yang lalu.


Mamoo Milk adalah sebuah kedai susu yang terletak di Jalan Brigjen Encung No.17 Purwokerto. Sesuai namanya, Mamoo Milk ini mengandalkan susu sebagai menu utama. Jadi kalau cafe biasa menjadikan kopi sebagai andalan, disini kopi hanya sebagai menu pelengkap dari sederet menu minuman susu aneka rasa.

Malam itu saya memesan segelas susu dingin rasa kopi. Saya sengaja memilih ukuran Large karena saya ini takut ukuran Large mereka ternyata kecil. Dan dugaan saya meleset karena ukuran gelas Large mereka "tinggi dan besar". Untuk gelas ukuran Large, semua susu aneka rasa dibanderol seharga Rp. 11.500. Saya lupa berapa harga susu untuk ukuran gelas small.

Dari segi rasa, susu rasa kopi saya ini cukup enak. Kopi yag dicampurkan cukup banyak sehingga memang dominan rasa kopi yang terasa di lidah saya. h iya, untuk yang tidak suka susu dingin seperti ini, bisa juga memesan beberapa menu susu yang panas. Cuma yang menurut saya agak aneh adalah jenis rasa untuk susu panas ini jauh lebih sedikit daripada yang dingin. Saya yang penasaran dengan susu strawberry hangat akhirnya harus sedikit kecewa karena ketika hendak memesan susu strawberry hangat, ternyata sudah tidak ada. Akhirnya saya cukup puas dengan memesan susu putih standar tanpa rasa.

Susu rasa kopi (dok.pribadi)
Sebagai pelengkap ibadah "nyusu", di Mamoo Milk disediakan aneka menu kudapan seperti roti panggang, roti goreng, pisang goreng, dll. Malam itu, saya memutuskan untuk mencoba french fries dan roti panggang strawberry keju. Dua-duanya rasanya enak menurut saya, cuma untuk potongan dan porsi french fries-nya menurut saya terlalu kecil. Jadi kurang nendang. Hehe..



Oh iya, buat yang ingin tau soal Mamoo Milk, bisa langsung ke akun social media yang mereka sediakan. 
Facebook: Mamoo_milk
Twitter : @mamoo_milk
Instagram : milk_mamoomilk

Susu : Rp.  5.500 - Rp. 12.000
Snack : Lupa (nanti kalo ke sana lagi tak update)
Jam buka : Pukul 10.00 - 24.00 WIB

Senin, 28 April 2014

Belajar Berbisnis Ritel di kelas #AkberJKT13 bersama Paulina Pungky (@paulinapungky)


Mba @paulinapungky in action ngajar di kelas #AkberJKT13  (dok.pibadi)

Bisnis ritel adalah sebuah bisnis yang langsung bersentuhan dengan end consumer. Itulah salah satu penjelasan dari Mba @paulinapungky saat berbincang-bincang dengan para murid, sesaat sebelum kelas #AkberJKT13 dimulai. Dan malam itu, Mba Pungky, demikian dia akrab dipanggil, dengan penuh semangat membagikan ilmu yang dia miliki di bidang bisnis ritel kepada murid, relawan AkberJKT dan juga teman-teman @EntrepreneurFes yang berjumlah sekitar 30 orang.

Kelas #AkberJKT13 ini merupakan kelas spesial. Kenapa? Karena kelas “Building A Retail Business” ini adalah hasil kolaborasi antara @AkberJKT dengan @EntrepreneurFes, sebuah festival tahunan dari Majalah Market+. Sebelum kelas tanggal 24 April ini, Mba Pungky sudah pernah mengajar di kelas kolaborasi dengan @EntrepreneurFes juga pada kelas “Product Innovation 101” bulan Maret lalu. Dan kini, tanggal 24 April 2014 bertempat di Kantor @DreamLabsID, kembali Mba Pungki berbagi ilmu mengenai bagaimana cara membangun sebuah bisnis ritel,

Mengawali kelas, Mba Pungky tidak langsung menjelaskan materi kelas, melainkan bercerita mengenai pengalamannya dalam dunia bisnis. Dari ceritanya, ada beberapa hal yang terdengar menarik menurut saya. Pertama adalah ternyata background pendidikan Mba Pungky ini bukan di bidang bisnis atau manajemen, tapi dia adalah seorang lulusan S1 Teknik Industri. Dan pada saat kuliah inilah, Mba Pungky, bersama teman-temannya, memulai masuk ke dalam dunia bisnis dengan membuka sebuah coffee shop. Dan gara-gara terjun di dunia bisnis inilah, Mba Pungky melanjutkan pendidikan S2 di bidang bisnis. Hal kedua yang menarik bagi saya adalah pada saat Mba Pungky bercerita mengenai bisnis lain yang ia geluti yaitu bisnis di bidang snack dengan nama “Bekal dari Ibu”, dimana konsepnya bahwa dia ingin membangkitkan memori masa kecil kita dimana dulu saat akan berangkat ke sekolah selalu senang ketika Ibu kita membawakan bekal untuk di sekolah. Konsepnya menarik menurut saya.

“Memulai usaha harus dimulai dari mimpi kita, jangan langsung mulai dengan business plan”. Menurut Mba Pungky, dengan memulai bisnis dengan mimpi, maka kita akan mudah untuk berpikir detail mengenai apa yang kita mau lakukan dengan bisnis kita. Jadi misal kita sudah tahu ingin membuat sebuah usaha seperti apa yang kita inginkan, maka kita belajar untuk mengetahui hal-hal detil misalnya konsep usaha kita, seperti apa bentuk usaha kita, dll.

Lalu kalau kita ingin membuat sebuah bisnis ritel, hal-hal apa saja yang perlu dipikirkan?

Menurut Mba Pungky, ada 7 hal yang mesti kita pikirkan sebelum membangun sebuah bisnis ritel, yaitu:

1. Brand strategy

Isi dari brand strategy itu adalah siapa sasaran pembeli kita, dimana kita akan berjualan, dan lain-lain. Mba Pungky mencontohkan toko-toko pakaian di Pasar Tanah Abang yang tidak memiliki brand strategy. Mereka memang tetap bisa memperoleh keuntungan yang banyak, tapi akibatnya mereka harus bertarung harga dan produk dengan toko-toko lain yang mungkin memiliki produk sejenis yang lebih baik dan lebih murah.

2. Brand 5 Senses Creative.

Ini merupakan penjabaran dari brand strategy. Disini kita sudah berpikir mengenai bagaimana logo produk kita, tagline seperti apa yang akan kita pakai, cara komunikasi dengan pelanggan, dll. Mba Pungky mencontohkan brand @brodofootwear yang konsisten memiliki cara komunikasi dengan pelanggan yang khas, yaitu dengan menggunakan panggilan “Bro”. Cara komunikasi yang khas inilah yang membuat brand tersebut memiliki engagement yang kuat dengan pelanggannya, yang akhirnya mampu meningkatkan penjualan produk mereka.

3. Business Modeling and Planning

Khusus mengenai business modeling and planning, Mba Pungky berpesan bahwa kita harus sadar akan fungsi dari membuat business model and plan. Jangan sampai berhenti hanya sampai membuatnya untuk sekedar dimiliki.

Dalam business modeling and planning ini, kita harus menentukan secara detail angka-angka seperti berapa jumlah penjualan kita, berapa target penjualan kita, dll. Angka-angka tersebut harus dipantau dan disesuaikan dengan keadaan di lapangan.

Lalu bagaimana cara kita menentukan angka-angka tersebut di awal usaha kita?

Ada dua cara yang dijelaskan oleh Mba Pungky. Pertama dengan kita melakukan riset terhadap usaha kita, misal dengan menghitung jumlah kendaraan yang lewat di lokasi dimana kita akan mendirikan usaha kita. Cara kedua dengan melakukan benchmark dengan usaha yang sejenis dengan usaha kita.

4. Operation Strategy

Disini kita sudah berbicara mengenai apa saja strategi yang akan kita pakai dalam operasional sehari-hari di tempat usaha kita. Misalnya kita harus sudah berpikir mengenai desain dan layout toko kita sehingga akan banyak orang yang datang ke toko kita.

5. Marketing Strategy

Untuk marketing strategy ini berisi mengenai strategi pemasaran seperti apa yang akan kita gunakan. Dalam pelaksanaannya, marketing strategy ini harus berkesinambungan dan berkaitan dengan keempat hal diatas.

6. Tactical Marketing Activity

Ini seperti penjabaran dari strategi marketing yang kita gunakan. Yang harus diingat adalah setiap strategi tersebut harus memiliki unsur “WHY” alias “kenapa kita melakukan strategi tersebut”.

7. Business profitability and growth review

Hal ini adalah bisa dibilang proses dimana kita melakukan kajian dan melihat kembali keuntungan bisnis kita. Ini penting untuk mengukur keuntungan dan pertumbuhan bisnis kita. Harus ada ukuran yang jelas, sehingga kita bisa menentukan apa yang harus kita lakukan ke depannya.

Dalam end consumer retail business, konsumen merupakan faktor penting dalam bisnis kita. Kita harus mau mendengar apa yang diinginkan dan dibutuhkan konsumen. Konsumen sendiri memiliki sifat-sifat yang harus kita pikirkan demi keberlangsungan hidup dari bisnis kita. Sifat-sifat tersebut seperti sifat konsumen yang gampang bosan, jujur dan provokatif (misalnya produk kita jelek, ya konsumen akan mengatakan kepada teman-temannya agar tidak membeli produk kita. Hal ini berlaku juga untuk sebaliknya.

Hal yang menarik dari kelas #AkberJKT13 ini adalah para murid tidak hanya diberikan paparan materi dari guru, tapi disini Mba Pungky juga mengajak para murid untuk melakukan praktik jual dan beli, dimana salah seorang harus menjadi seorang penjual dan berpikir bagaimana cara menjual produknya, sedangkan satu orang pasangannya menjadi pembeli yang harus selektif dalam membeli barang. Menarik dan menyenangkan. :)

Semoga tulisan ini bermanfaat.

Masa Pertumbuhan Kita

Kalian pasti pernah menerima ucapan dari teman atau saudara kalian dengan bunyi kira-kira seperti ini " Makan yang banyak ya. Kan lagi ...