Selasa, 27 Maret 2012

Kuliner #7: Joni Steak

Pengen makan steak enak dengan harga yang terjangkau, datanglah ke Joni Steak yang setahu saya ada di dua tempat, yaitu di daerah Gajah Mada, Sawah Besar (sebelah Bakmi GM) dan di daerah Pasar Baru.

Saya sendiri baru dua kali mencicipi lezatnya steak di Joni Steak. Pada saat datang untuk pertama kali, saya memesan Tenderloin Steak Lokal seharga 35 ribu rupiah dan Teh Manis Hangat seharga 3 ribu rupiah. Dan pada saat datang untuk yang kedua kali, saya memesan Ribs Eye (Import) seharga 35 ribu.

Untuk pilihan saus steaknya, pelanggan bisa memilih antara saus jamur maupun saus lada hitam. Saya sendiri lebih memilih saus lada hitam. Baik itu steak maupun Ribs Eye disajikan di sebuah piring bersama dengan kentang dan sayuran yang terdiri dari jagung manis, wortel dan buncis. Buat yang ingin daging yang lembut digigit, saya sarankan untuk memilih tenderloin steak, karena Ribs Eye sendiri teksturnya lebih kasar sehingga lebih lama untuk dikunyah di mulut (menurut saya ya...).

Selain steak dan Ribs Eye, saya juga sempat mencicipi Potato Wedges pesanan teman saya. Potato Wedges adalah potato alias kentang yang dipotong, lalu digoreng dan diberi taburan semacam bumbu tabur (sepertinya merica..), lalu disajikan bersama saus campuran mayonaise dan saus sambal.



Tenderloin Steak Lokal

Sirloin Steak Lokal


Daftar Menu

Daftar Menu lagi...

Potato Wedges

Ribs Eye


Kalau yang mau datang ke tempat ini, terutama pas makan malam, mesti harus siap-siap duduk bersama-sama dengan pengunjung lain karena jumlah pengunjung pada saat makan malam sangatlah banyak. Apalagi untuk yang cabang Pasar Baru. Saya saja sampai harus duduk bukan di bangunan utama Joni Steaknya saat makan disana. Untuk cabang Gajah Mada, suasananya lebih tenang daripada cabang Pasar Baru karena ada tempat makannya sendiri tertutup dengan pintu kaca sehingga suara mobil yang melintas di jalan depannya tidak terlalu terdengar ke dalam.

Sesuai dengan slogan mereka, Joni Steak memang tempat makan steak lezat dengan harga murah meriah.


Joni Steak
Jalan Samanhudi (dekat Metro Pasar Baru)
Buka: 12 siang - 12 malam
Cabang Hayam Wuruk (sebelah Gramedia)
Jalan Gajah Mada.

Kamis, 22 Maret 2012

Buku The Coffee Shop Chronicle

Setelah lama berpikir mengenai apa bisa saya membuat sebuah review buku, maka akhirnya saya putuskan untuk belajar menulis review buku-buku yang saya baca. Dan buku pertama yang saya ingin review adalah buku The Coffee Shop Chronicle.



Buku setebal 128 halaman ini (tidak termasuk cover) adalah buku kumpulan flash fiction alias cerita mini dari beberapa penulis. Ada 19 penulis dengan 29 cerita yang saling sambung-menyambung satu sama lain.

Sambung-menyambung??Maksudnya?
Jadi 29 cerita itu sama-sama mengambil tempat cerita di sebuah coffee shop bernama "Priya's Coffee Shop" namun dengan sudut pandang bercerita berbeda-beda satu sama lain. Ada penulis yang menulis dari sudut pandang kasir, ada pula yang menulis dari sudut pandang pengunjung coffee shop, wanita tua dengan gembolan bakul, dll. Jadi membaca setiap kisahnya, membuat kita seakan ada di coffee shop tersebut saat itu dengan berbagai layar kamera. Sangat menarik.

Bukan review kalau tidak ada pendapat saya...hehe
Menurut pendapat saya, ada satu kekurangan dalam buku ini yaitu covernya. Jujur, buku ini akan tampak lebih bagus jika cover yang digunakan bisa diperbaiki atau malah diganti. Menurut saya akan tampak bagus jika covernya diganti dengan gambar sebuah coffee shop. Tapi ini menurut pendapat saya ya.

Untuk yang ingin tahu lebih lanjut dari buku ini, bisa langsung berkunjung ke situs dibawah ini
http://15haringeblogff.wordpress.com/2012/02/07/the-coffe-shop-chronicles/

Untuk yang mau pesan bukunya, klik link di bawah ini
http://nulisbuku.com/books/view/the-coffee-shop-chronicles

Rabu, 21 Maret 2012

Payung Ungu Amela


Hujan masih dengan lebatnya mengguyur kota Jakarta. Sedikit memberi kesejukan di tengah padatnya ibukota.

Terminal Blok M sore ini terasa lebih lenggang. Tak terlihat orang-orang yang biasanya berseliweran di sekitar terminal ini. Semua orang seakan bersembunyi dari hujan yang turun deras, jatuh dari langit di luar sana. Beberapa orang berdiri disini, bersamaku, di pintu keluar Blok M Square ini. Meneduh sambil sesekali merapatkan jaket mencoba menahan angin yang berhembus dengan dinginnya.

“Payungnya Om.Dua ribu saja Om..”, suara anak kecil perempuan itu memecah lamunanku.
Kutatap sosok anak kecil dengan payung ungunya berdiri di depanku. Mulutnya tak henti menawarkan jasa ojek payungnya kepada orang-orang yang sedang meneduh dari hujan sepertiku.

Kupanggil anak kecil itu
“Dek...sini payungnya...”

Bibirnya tersenyum dengan kedua matanya menatapku riang. Badannya mendekat padaku sambil menyerahkan sebuah payung ungu yang sedang ia pakai sedari tadi. Kuterima payung itu dari tangan mungilnya, yang kutaksir berusia sekitar 10 tahun.

“Kamu gak punya payung lainnya?”
Kepalanya menggeleng pelan. Kulihat seluruh bajunya sudah basah dari tadi.

“Yaudah sini sama Om. Daripada kamu ujan-ujanan terus besok sakit.”

“Gak papa Om. Aku udah biasa kok Om..”

“Kalau gitu Om gak mau sewa payung kamu ini. Kamu mau kayak gitu?”

Anak kecil itu terdiam sesaaat. Sepertinya ia terpikir akan kata-kataku barusan.
“Ya deh Om...” tukasnya singkat.

Kami pun kembali berjalan menuju Melawai, tempat aku biasa menunggu Metro Mini 74 menuju rumahku di daerah Tanah Kusir.
Hujan semakin lebat menghujam ke tanah.

“Siapa namamu dik?” tanyaku spontan kepadanya.
Kulihat tangannya ia lipat di depan badannya yang mulai menggigil kedinginan.

“Amela, Om.”

“Kamu kelas berapa Amela?”

Kepalanya menggeleng. “Saya udah gak sekolah lagi Om. Saya berhenti sekolah setahun yang lalu karena ga ada biaya lagi. Saya kerja buat makan dan bantu-bantu orang tua Om”

“Trus selain ngojek payung, kamu ngapain sehari-harinya Mel?”

“Kadang saya ngamen, atau kalau gak, saya ngumpulin gelas atau botol bekas air mineral buat saya jual Om.”
“Apa aja Om, yang penting bisa buat saya makan.”



Hatiku langsung tersentuh mendengar kata-kata Amela, gadis kecil yang di usia sekecil ini sudah harus mencari nafkah demi sepiring nasi untuk ia bertahan hidup. Memang aku sering mendengar berita bahwa banyak sekali anak kecil yang harus putus sekolah dan akhirnya harus menjadi pengamen, pengemis, maupun pemulung hanya untuk menyambung hidup. Namun, baru kali ini aku bertemu dan bahkan berbicara langsung dengan seorang anak yang kini berada di sampingku, Amela.

“Kusir...kebayoran...taman puring....Ayo naik bang..”
Tanpa terasa aku telah sampai di tempat aku biasa menunggu Metro Mini 74. Asap knalpot yang menyembur di tengah-tengah hujan membuat nafasku sedikit sesak.
Kurogoh saku celanaku, dan kukeluarkan uang lima puluh ribuan.
Selanjutnya kuulurkan tanganku kepada Amela dan kuserahkan uang itu kepadanya

“Mel, ini bayaran buat sewa payungnya.”, kataku kepadanya.

Tangannya seperti menolak uang yang kuberikan.
“Tapi Om...Ini terlalu banyak Om. Saya minta dua ribu saja Om.”


Kutatap matanya kecilnya dalam-dalam.
“Sudah gak apa-apa. Yang dua ribu untuk bayaran kamu, sisanya untuk kamu belikan payung lagi ya Mel. Jadi kalau kamu sewain payung ke orang, kamu masih punya payung untuk kamu pakai sendiri”

Keraguan masih tampak dari wajah Amela. Mungkin aku ini dianggapnya main-main atau hanya orang aneh yang berbaik hati demi maksud tertentu.

“Sudah Mel. Ini...terima saja”
Kumasukkan paksa uang kertas lima puluh ribu itu ke dalam kantong celana Amela.
Segera setelah itu, aku berlari ke pohon di seberang jalan. Meninggalkannya di dekat lampu merah di sisi jalan lainnya.

“Om...”
Suara kecil Amela memanggilku dari kejauhan.
Kuarahkan pandanganku ke arahnya.

“Terima kasih ya Om...”, teriaknya lagi sembari melambaikan tangan.

Kukembangkan senyuman di bibirku dan kubalas lambaian tangannya.
“Iya Mel. Semoga uang itu bisa sedikit meringankan bebanmu ya..”, kataku dalam hati.

*****

Dua hari berlalu

Hujan seperti biasanya kembali mengguyur Jakarta sore ini. Dan seperti biasanya, aku dan beberapa orang lain, berdiri di pintu keluar Blok M Square, menunggu hujan sore ini sedikit mereda. Ya, tempat ini memang menjadi tempat menunggu bagi orang-orang yang pulang kerja namun tertahan untuk pulang karena hujan tanpa henti turun di luar sana.

Kurogoh ponsel di kantong celanaku. Tujuh pesan singkat alias SMS yang masuk dan belum terbaca tertera di layar ponselku. Kubuka satu persatu pesan singkat yang masuk.

Tiba-tiba, saat akan kubuka SMS yang terakhir, suara yang kukenal terdengar di pendengaranku.
“Suara Amela...ya..Itu suara Amela..”, ucapku pada diriku sendiri.

Kusapukan pandanganku ke arah depan, kanan dan kiri. Mataku menangkap sosok yang kucari.
Seorang anak kecil dengan sebuah payung ungu tertutup di genggaman tangan kirinya, dan sebuah payung ungu terbuka di tangan kanannya. Berdiri sekitar 5 meter dari tempatku berdiri.

“Om......”, panggilnya untuk seseorang, yang aku yakin aku.
Sebuah senyuman manis mengembang di bibirnya.
Amela dengan dua payungnya.

Selasa, 13 Maret 2012

Aku Sakit Karenamu, Gigi

Sudah 5 hari ini aku terbaring di ranjang. Berbaring bersama pasien lain di bangsal Kamboja,  Rumah Sakit Pelita Sehat ini.

Tiap mendengar nama bangsalku, yaitu Kamboja, pikiranku pasti langsung tidak karuan. Bayangkan saja, nama kamboja kan identik dengan kuburan, dan sekarang aku harus dirawat sebagai seorang pasien, di tempat yang selalu mengingatkanku akan kuburan.

“Don, ayo bangun sebentar nak. Dokter dan Suster sebentar lagi datang buat ngecek kondisi kamu.”, suara Ibuku menyadarkanku dari istirahat dan lamunanku.

Kubuka mataku sedikit demi sedikit. Kukucek perlahan mataku dengan hanya tangan sebelah kananku yang kugunakan. Ya, karena tangan kiriku sedang disusupi jarum infus yang mengalirkan cairan glukosa dari tabung infus.

“Halo Doni. Apa kabar? Gimana, sudah agak baikan?”
Suara dokter Nita terdengar begitu lembut menyapaku. Seperti biasanya, sebelum ia mengecek kondisi kesehatanku, ia akan menyapa dan menanyakan kabar pasiennya.

“Udah agak baikan dok. Cuma masih agak lemas saja.”, jawabku sekenanya. Badanku ini memang masih benar-benar lemas dan belum sanggup diajak ngobrol lama-lama. Pokoknya seakan setiap gerakanku sekarang seperti efek slow motion di film action, serba pelan alias lambat.

Segera setelah aku berkata seperti itu, dokter Nita mendekatiku. Menyingkapkan bajuku dan menempelkan stetoskopnya di dadaku.
“Ayo tarik nafas dalam-dalam dan keluarkan”, perintahnya padaku.

Kuikuti perintahnya. Kutarik nafasku perlahan-lahan dan dalam, lalu kuhembuskan lagi keluar. Kulihat keseriusan dokter Nita memeriksa kesehatanku.
“Ya cukup”, katanya lagi padaku seraya menutup kembali dadaku dengan bajuku.

“Bagaimana dok keadaan anak saya? Kapan anak saya bisa pulang dari rumah sakit?”
Tanya Ibuku segera setelah dokter Nita usai memeriksa dan menggantungkan stetoskopnya kembali di lehernya. Rasa penasaran sekaligus cemas seketika tersirat di wajah Ibuku.

“Anak Ibu sudah melewati masa kritis. Doni ini tinggal butuh istirahat yang cukup saja. Yang penting jangan sampai banyak pikiran ya. Kalau kemajuannya seperti ini, 4 hari lagi Doni sudah bisa pulang ke rumah.”, jawab dokter Nita panjang lebar kepada Ibuku.

“Doni ini termasuk cepat masa penyembuhannya. Rata-rata orang butuh waktu minimal 2 minggu sampai dia sembuh. Tapi kalau Doni bisa seperti sekarang prosesnya, dia bisa pulang setelah 10 hari dirawat disini.”, jelas dokter Nita lagi.

“Saya tinggal dulu ya bu. Yang penting dijaga jangan sampai Doni ini kepikiran hal-hal yang bikin kondisi dia bisa ngedrop lagi.Obatnya Doni minum yang teratur”

“Iya dok. Terima kasih ya dok.”, balas Ibuku sambil menganggukan kepala dan tersenyum pada dokter Nita.

Segera setelah dokter Nita pergi, Ibu membalikkan badannya kepadaku dan berkata:
“Don..don..tuh, makanya kalau siang jangan suka tidur-tiduran terus. Tuh akibatnya kamu jadi kena demam berdarah gini kan.”
“Dah ayo, kamu makan dulu terus minum obat ya.”

“Iya bu..”, jawabku lemas.

Haduh inilah aku.
Aku sakit karenamu, GIGI.
GIGItan nyamuk Aedes Aegypti.

NB: Judul hari pertama #3HariSekaliNulisFF. Judul ini dikasih ama mas @momo_DM

Gaun Merah

Pagi ini, kulakukan kegiatan yang sudah hampir setahun ini aku lakukan setiap hari. Ya, sebagai seorang buruh cuci di kost-kostan milik Pak Abdul ini, pekerjaanku setiap pagi hari adalah berjalan dari satu pintu kamar ke pintu kamar, mengambil baju kotor milik para penghuni kost yang berjumlah 20 orang, dan membawanya ke kamar mandi belakang untuk segera kucuci. Siang hari, kujemur pakaian-pakaian itu berjejer di tali jemuran yang dipasang di atas bangunan kostan Pak Abdul ini. Sore harinya, pakaian-pakaian tersebut , baik yang sudah kering maupun masih lembab, kusetrika dan kulipat rapi agar pagi harinya pakaian-pakaian tersebut sudah tertumpuk rapi di depan pintu kamar masing-masing  penghuni kostan.

Aku sudah berada di depan pintu kamar no. 16. Penghuni kamar ini adalah Mba Siska, seorang perempuan mungkin berumur sekitar 18 tahunan, seumuran dengan anakku satu-satunya Yuni. Sepertinya Mba Siska ini adalah anak orang kaya. Hal itu aku simpulkan dari baju-baju yang ia miliki, yang setiap hari ia letakkan di depan pintu kamarnya untuk kucuci. Tak terkecuali hari ini.
Saat kuangkat sehelai kaos dari depan pintu kamar Mba Siska, tiba-tiba pintu kamar itu terbuka. Melongoklah dari dalam kamar sebuah wajah perempuan ayu yang sedari tadi melintas di pikirku, Mba Siska.

“Bik, ini satu lagi bik.”, kata Mba Siska kepadaku seraya menyerahkan sepotong pakaian kepadaku. Sebuah gaun merah tanpa lengan.

“Bik, tolong khusus yang ini nyucinya hati-hati ya Bik. Karena gaun ini bahannya gampang melar, jadi tolong yang ati-ati ya Bik nyucinya.”, ucapnya lagi menambahkan.

“Iya Mba Siska. Saya akan hati-hati nyuci baju ini.”, kataku menjawabnya sembari menganggukan kepala.

“Sabtu ini udah bisa kering kan Bik? Soalnya lusa mau saya pakai buat ke pesta” tanyanya.
Kupikir sejenak.

“Sabtu kan. Itu artinya masih 4 hari lagi. Semoga saja hujan tidak turun nanti siang.”
“Bisa Mba. Saya janji Sabtu sudah tertumpuk rapi di depan kamar ini Mba.”, jawabku meyakinkannya.

“Oke Bik. Saya masuk kamar lagi ya.”, kata Mba Siska kepadaku. Segera dia menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Aku pun kembali sendiri di depan pintu kamarnya. Kuteruskan lagi pekerjaanku mengambil potong demi potong pakaian yang diletakkan di ember yang ada di depan tiap pintu kamar.

Kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi yang ada di belakang kost-kostan ini.

****
Kukucek perlahan gaun merah milik Mba Siska. Benar-benar perlahan, karena aku takut gaun ini menjadi rusak atau melar. Memang bahan gaun ini terasa lebih lembut dan gampang melar.

“Harga gaun ini pasti mahal. Mungkin sama dengan gajiku sebulan disini yang cuma empat ratus ribu.”

Sengaja kupisahkan gaun merah itu dari cucianku lainnya. Kuletakkan ke dalam ember tersendiri, terpisah dari pakaian kotor lainnya yang kurendam dalam baskom warna hitam. Pokoknya aku benar-benar ingin menjaga agar pakaian itu tidak kusut, tidak melar dan tidak rusak. Gaun itu istimewa bagiku.

“Andai saja anakku bisa mengenakan gaun seperti ini di hari ulang tahunnya besok, pasti dia akan senang sekali”
“Tapi mana mungkin aku bisa membelikannya...”
“Rasanya aku ini tak pantas disebut ibu yang baik, yang setiap anaknya ulang tahun tak pernah sekalipun memberi hadiah”

Perlahan, air mata mengalir turun dari mataku.

******
Sambil menyeterika pakaian yang telah dicuci emak siang tadi, Yuni bersenandung lirih. Takut membangunkan emak yang terbaring di bilik sebelah. Emak lagi tidak enak badan, demam. Tidak biasa-biasanya emak begitu, sepertinya emak lagi banyak pikiran.

Ia selalu terhibur kala menyeterika pakaian-pakaian itu. moment yang sangat dinikmatinya. Ah beruntungnya mereka bisa mengenakan pakain-pakaian bagus ini pikir Yuni. Pakaian sekeranjang besar itu sudah hampir selesai, saat matanya tertumbuk pada sepotong gaun merah.

Perlahan diangkatnya gaun itu, seukuran dengan tubuhnya. Hmm indahnya. Tiba-tiba terlintas dipikirannya untuk sekedar mencoba, sepertinya pas.

Yuni tersenyum –senyum sendiri melihat bayangannya di cermin. Oh cantiknya. Gaun itu melekat sempurna di tubuh rampingnya, seolah memang dijahit sesuai ukurannya. Yuni membayangkan ia mengenakan gaun itu besok. Pasti semua orang akan terkagum-kagum melihatnya.

“ Yuni, apa yang kamu lakukan”

Suara emak membuyarkan lamunan Yuni. Entah sejak kapan emak berdiri di ambang pintu.

“ Cantik ya mak?” tanyanya

Emak tak kuasa menahan desakan air yang menggenangi retinanya. Hatinya sendu.

“ Ayo cepat buka, nanti rusak” perintah emak tergesa
Yuni segera menuruti omongan emak. Susah payah ia meraih risleting di belakang gaun. Dengan cepat ditariknya turun.

Krekk….

Ada hening menakutkan yang tercipta bersamaan dengan terlepasnya gaun itu dari tubuh Yuni.

NB: Tulisan ini adalah tulisan saya (@rbennymurdhani) dan Windi Teguh. 
Baca blognya Windi Teguh disini. 

Masa Pertumbuhan Kita

Kalian pasti pernah menerima ucapan dari teman atau saudara kalian dengan bunyi kira-kira seperti ini " Makan yang banyak ya. Kan lagi ...