Rabu, 20 Juni 2012

Martabak Yang Mendunia di D'Marco Cafe, Sabang

D'Marco Cafe

Lokasi: Jl. Sabang No. 43 A Jakarta Pusat
Jam Operasi: 07.00 - 23.00 WIB
Fasilitas:
Free Wifi dan Free Sewa LCDProjector untuk yang meeting
Harga Makanan: Rp. 12.000 - Rp. 29.000
Harga Minuman : Rp. 4.000 - Rp. 25.000






 "Mengapa kami memilih martabak? Karena martabak merupakan jajanan asli Indonesia dan kami bermimpi suatu saat nanti martabak dapat mendunia seperti halnya pizza yang merupakan panganan khas Italia", demikianlah visi yang disampaikan oleh Mba Ira Lathief, seorang penulis dan penggiat komunitas, yang juga merupakan salah satu dari tiga pemilik D'Marco, tempat kami para Kompasianer tanggal 17 Juni 2012 kemarin mengikuti acara Get Urbanized III.

Ya, siang itu, kami 14 orang Kompasianer, dalam kegiatan Get Urbanized III kerjasama Kompasiana dan Urbanesia.com diajak untuk menikmati lezatnya martabak di D'Marco Cafe yang terletak di Jalan Sabang No. 43 A Jakarta Pusat. Diawali dengan penjelasan singkat dari Mba Selina dari Urbanesia dan Mas Nurul dari Kompasiana mengenai acara Get Urbanized III ini, acara selanjutnya  kami lebih banyak dipandu dan ditemani oleh Mba Ira Lathief.

Desain interior D'Marco Cafe
D'Marco Cafe yang merupakan singkatan dari Martabak and Coffee Cafe ini berawal dari tiga orang muda, yaitu Mba Ira Lathief, Mba Ika Hendriani dan Budiono yang ingin mengangkat martabak untuk naik kelas. Mereka menyadari bahwa martabak yang panganan asli Indonesia identik dengan makanan yang dijual di pinggir jalan. Padahal sebenarnya banyak sekali orang-orang, terutama kaum urban dan ekspatriat, yang sebenarnya menyukai jenis panganan ini, namun menjadi kehilangan selera jika harus menikmatinya di pinggir jalan. Berangkat dari sinilah mereka berusaha mengangkat kelas martabak ke kafe, agar kaum urban dan ekspatriat dapat menikmati lezatnya martabak tanpa ragu dan takut untuk menikmatinya di pinggir jalan.

Sesuai dengan visinya, martabak yang tersedia di kafe ini pun telah mengalami banyak sekali penyesuaian, mulai dari rasa, toping, nama menu hingga penyajiannya yang menyesuaikan dengan sasaran konsumen yang menjadi target. Sebut saja menu seperti Martabak Ice Chocobana, yang merupakan perpaduan antara martabak dengan toping berupa irisan pisang, meises coklat, ice cream vanilla dan dihias dengan sebatang astor. Lezat sekali rasanya, apalagi jika Anda adalah penyuka makanan manis. Tak heran menu ini menjadi salah satu menu favorit bagi pengunjung setia D'Marco.

Martabak Ice Chocobana
 Menu-menu lainnya misalnya adalah Martabak Mushbeef, yang merupakan perpaduan martabak dengan toping irisan daging asap (smoke beef)  dan potongan jamur (mushroom) dengan saus mayonaise, atau ada juga salah satu favorit saya, Martabak Noodle yaitu martabak berupa campuran mie, irisan daging asap dan potongan jamur, yang kemudian digoreng dan disajikan bersama saus berwarna orange (seemacam campuran saus sambal dengan mayonaise). Harga aneka menu martabak disini berkisar dari Rp. 12.000,- sampai dengan Rp. 25.000,-.

Martabak Mushbeef
Martabak Mushbeef with Egg
Martabak Noodle
Martabak Ice Cheeseberry
Buat pengunjung yang sedang bosan makan martabak, D'Marco Cafe ini juga menyediakan aneka makanan lain yang bisa disantap. Bahkan jika Anda di sekitar Sabang dan bingung untuk mencari menu sarapan yang enak, bisa datang ke kafe ini karena memang D'Marco yang buka dari pukul 07.00 sampai pukul 23.00 ini juga menyediakan aneka menu sarapan yang bisa dinikmati. Khusus untuk hari Senin s.d Jumat, kafe ini bekerjasama dengan Restoran AA untuk menyediakan menu-menu berat seperti I Fu Mie, Gohiong (udang) Goreng, Ayam AA, Ayam Spesial, dll. Untuk kisaran harganya antara Rp. 15.000,- sampai dengan Rp. 29.000,-, kecuali untuk nasi putih yang dihargai sebesar Rp. 5.000,-.

Mba Ira menjelaskan konsep D'Marco Cafe
Kompasianer sedang menyimak paparan Mba Ira

Mba Ira Lathief in action #1

Mba Ira Lathief in action #2
Sebagai pendamping dalam menikmati martabak, pengunjung juga dapat memilih aneka minuman sesuai selera dan ukuran kantong, dengan kisaran harga mulai dari Rp. 4.000 sampai dengan Rp, 25.000. Siang itu saya memesan Hot Cinnamon Cofee, yang merupakan perpaduan hangat antara rasa kopi yang kental dengan aroma kayu manis yang menggugah selera. Konon katanya menu ini adalah menu minuman favorit di kafe ini. Selain Hot Cinnamon Coffee, minuman favorit lain di sini adalah  Ice Strawberry Coffee yang merupakan campuran rasa kopi yang berpadu dengan rasa segar dari strawberry. Untuk yang tidak suka minum kopi, kafe ini juga menyediakan minuman non kopi baik yang hangat maupun dingin, seperti Ice Tea, Hot Chocolate dan aneka minuman ringan lainnya.

Hot Cinnamon Coffee
Ice Caramel Latte


Ice Strawberry Coffee
Hot Hazelnut
Selain dijelaskan mengenai konsep D'Marco Cafe ini, Mba Ira Lathief juga memberikan semacam workshop singkat seputar dunia kreatif dengan judul "Normal Is Boring For Creativity". Menurut Mba Ira, kreatifitas itu inti sebenarnya ada tiga yaitu berani melakukan hal yang baru, berani melakukan hal yang beda dan berani melakukan hal di luar kebiasaan. Selanjutnya beliau menjelaskan bahwa Abad 21 ini adalah abad untuk Generation C or Generation Creativitity. Artinya bahwa di abad 21 ini, orang-orang yang berjaya adalah orang-orang yang bergerak di bidang kreatifitas. Hal itu seperti diungkapkan oleh Richard Branson, pendiri Virgin Enterprises, seorang konglomerat yang memiliki banyak sekali perusahaan. Demikian ungkapan yang dikatakan Richard Branson:

"People with ideas become more powerful than the people who owns the machine", 
by Richard Branson, Virgin Enterprise

Setelah dijelaskan mengenai apa itu kreatifitas dan bagaimana orang-orang di bidang kreatif ini menguasai Abad 21 ini, selanjutnya banyak sekali materi yang diberikan oleh Mba Ira Lathief ini. Contoh-contoh iklan kreatif satu demi satu ditampilkan. Dijelaskan juga apa perbedaan kreatif dan inovasi, dimana perbedaannya adalah inovasi itu sendiri adalah kreatifitas yang telah mendapatkan semacam penerimaan dari masyarakat.

Tak hanya teori saja yang diberikan Mba Ira Lathief dalam workshop seputar kreatifitas ini. Mba Ira juga mengajak para Kompasianer yang ada, Mba Selina dan Mas Nurul, untuk mengikuti semacam permainan yang juga menjadi tes yang pernah dilakukan oleh seorang Prof. Bob Mc Keane mengenai tingkat kreatifitas seseorang. Di permainan sekaligus tes ini, kami diberi selembar kertas dengan gambar lingkaran-lingkaran sejumlah 30. Kami diberi waktu selama 1 menit untuk mengisi sebanyak-banyaknya lingkaran tersebut dengan gambar. Dan hasilnya adalah, saya cuma berhasil mengisi sebanyak 6 lingkaran saja.

Kertas berisi gambar lingkaran
Apa yang bisa dilihat dari permainan tersebut?
Mba Ira menjelaskan bahwa dari permainan tersebut, Prof. Bob McKeane mendapatkan data bahwa ketika permainan tersebut diberikan kepada orang dewasa pad umumnya, jumlah lingkaran yang berhasil diisi mungkin tidak akan ada setengah dari jumlah keseluruhan. Namun yang menarik adalah, ketika permainan tersebut diberikan kepada anak-anak, ternyata seluruh lingkaran yang berjumlah 30 buah tersebut dapat diisi semuanya dengan gambar.

Dari penelitian tersebut, jelas Mba Ira, disimpulkan bahwa semakin dewasa seseorang, semakin kecil tingkat kreatifitas seseorang. Kenapa? Karena ketika dewasa, seseorang cenderung untuk membuat segala sesuatu itu langsung sempurna. Orang menjadi cenderung untuk berpikir kreatif dan melakukan hal-hal yang baru. Banyak batasan-batasan yang membuat orang dewasa sulit untuk mengekspresikan apa yang dia ingin ekspresikan.

Selanjutnya, Mba Ira mengenalkan buku terbarunya yaitu Normal Is Boring.




Dalam buku ini, jelas Mba Ira Lathief, beliau banyak sekali mengungkapkan hal-hal seputar dunia kreatifitas. Karena saya belum membaca buku ini, saya belum terlalu tahu mengenai isi detil dalam buku ini. Yang jelas dari sisi layouting, Mba Ira mencoba kreatif dengan menyusun buku ini dimana halaman 1 ada di bagian belakang. Jadi cara membaca buku ini seperti membaca komik Jepang, yaitu dari belakang ke depan. Kreatif sekali bukan.

Setelah mendapatkan pencerahan seputar dunia kreatif dari Mba Ira Lathief, Kompasianer diajak untuk mengikuti games "Make Your Own Martabak". Di permainan ini, kami yang berjumlah 14 orang ini dibagi menjadi beberapa kelompok dengan 3-5 orang per kelompoknya. Kami diberi adonan dasar martabak dan bahan-bahan toping seperti jamur, daging asap, strawberry, meises coklat dan warna warni, keju, susu kental manis putih dan coklat, dan sirup strawberry.


Mba Ika menjelaskan bagaimana memberi toping pada adonan dasar martabak

Sebelum permainan dimulai, Mba Ika Hendriani, pemilik sekaligus manajer operasional D'Marco Cafe ini menjelaskan beberapa hal yang penting mengenai bagaimana memberi toping pada adonan dasar martabak. Hal yang pertama adalah, sebelum memberi toping, setiap adonan martabak diberi olesan mentega. Hal kedua yang perlu diperhatikan juga adalah bahwa jika kita ingin memberi toping irisan buah strawberry, maka sebaiknya kita menambahkan selai strawberry untuk memperkuat rasanya. Segera setelah Mba Ika selesai memberi penjelasan, permainan pun dimulai. Meski telah diberi penjelasan, kami para Kompasianer ternyata lebih suka kreatif dan bereksperimen dalam memberi toping. Alhasil, campur mencampur bahan toping pun lebih didasarkan prinsip coba-coba. Setelah 10 menit, permainan pun diakhiri. Dan berikut foto-foto hasil kreasi 4 tim Kompasianer.



4 Martabak kreasi Kompasianer

Martabak hasil tim saya

Mba Selina dari Urbanesia dan Mas Nurul dari admin Kompasiana diminta untuk mencicipi martabak hasil kreasi para Kompasianer. Dan setelah mempertimbangkan segala aspek, baik rasa dan penampilan, maka martabak kreasi tim Pak Yusuf, Mas Manji, dkk terpilih menjadi juara pertama dan mendapatkan hadiah dari D'Marco berupa segelas es krim untuk masing-masing anggota tim.

Dengan berakhirnya permainan "Make Your Own Martabak" ini, maka sesi Get Urbanized III di D'Marco Cafe ini pun berakhir. Sebagai tambahan informasi, Mba Ira Lathief menyampaikan bahwa selama event sepakbola Euro Cup berlangsung, akan diadakan Nonton Bareng Euro Cup di D'Marco Cafe ini setiap weekend (Jumat-Minggu). Juga selama bulan Juni ini, setiap hari Senin dari jam 14.00 s.d 23.00 WIB, para jurnalis atau wartawan dapat potongan harga 15%.


NB:
Berikut beberapa liputan Media tentang D'Marco Cafe

Martabak Make Over : Updating a street food favourite (The Jakarta Globe)

D'Marco bikin Martabak Naik Kelas (TNOL Online)

Martabak Cita Rasa Resto(Majalah Sekar)


6 komentar:

  1. ben , hot cinnamon, kok wadahnya gelas kristal gitu sih, gimana megangnya coba, aaaah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe...megangnya pas di lekukan di bawahnya.
      Tapi emang rata2 di situ minumannya disajikan pake gelas kyk gitu. Ga ada yg pake cangkir..
      Dan yg penting gratis kan mba..hehe

      Hapus
  2. nice food and story!
    boleh dicoba nih martabak dan bukunya.

    salam kenal:)

    www.james-eats.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kunjungannya Mas James..
      Silahkan datang dan cicipi martabaknya di D'Marco Cafe.

      Salam kenal juga.

      Hapus
  3. mas. no telp kok gak bisa dhub.......
    arah2an tmpatnya dmana itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lokasinya itu di Jalan Sabang Jakarta Pusat.Letaknya persis di sebelah hoka-hoka bento Sabang..

      Bisa difollow saja akun twitter resminya di @dmarcocafe

      Hapus

Jangan lupa komentarnya ya....:))

Masa Pertumbuhan Kita

Kalian pasti pernah menerima ucapan dari teman atau saudara kalian dengan bunyi kira-kira seperti ini " Makan yang banyak ya. Kan lagi ...