Senin, 04 Maret 2013

Kelas #akberJKT “Industri Animasi” bersama Mas Wahyu Aditya (@maswaditya)


Mas Wahyu tengah menerangkan materi. (dok.pribadi)

Kamis, 28 Februari 2013, yang lalu, @akberJKT kembali mengadakan kelas rutinnya yang terakhir di bulan Februari. Kali ini, Mas Wahyu Aditya (@maswaditya), yang dengan sukarela menjadi guru untuk kelas #akberJKT kali ini. Bertempat di Gedung Berdikari Lt. 3 Univ. Moestopo, Mas Wahyu berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan garis besarnya yaitu “Industri Animasi”.

Kelas dimulai tepat pukul 19.00 WIB. Segera setelah dibuka oleh relawan @akberJKT, Mas Wahyu pun mengambil alih waktu yang sudah diberikan. Satu per satu murid dan relawan yang datang malam itu diminta untuk berkenalan. Mereka diminta untuk menyebutkan nama dan latar belakang pekerjaan atau studi. Sembari mendengarkan perkenalan dari para murid dan relawan, Mas Wahyu ternyata melakukan livesketching dengan menggambar wajah setiap orang yang sedang berkenalan. Keren.. *jempol*

Setelah semua orang berkenalan, terlihat bahwa kelas ini ternyata tidak hanya diminati oleh para praktisi yang bergerak di bidang animasi atau multimedia, tapi juga diminati oleh orang-orang yang bekerja atau belajar di bidang lain.

Usai sesi perkenalan, selanjutnya beragam materi mulai dibagikan oleh Mas Wahyu.

Berikut beberapa catatan pendek yang sempat saya tulis sepanjang kelas ini:
  • Definisi animasi menurut Mas Wahyu adalah sebuah ilusi yang terjadi karena susunan tampilan dari gambar statis.Animasi tidak hanya bermain dengan ilustrasi, tapi juga dengan benda-benda diam.
  • Orang yang membuat animasi disebut dengan animator. Animator itu tidak harus orang yang jago gambar, karena orang yang jago gambar disebut ilustrator. Seseorang bisa disebut animator kalau dia berhasil menghidupkan sebuah gambar, meskipun gambar itu jelek.
  • Level atau tingkatan dalam membuat sebuah animasi adalah proses dari sebuah animasi yang mampu move, lalu talk, kemudian walk, dan terakhir adalah think. Kunci agar kita semakin meningkat levelnya adalah latihan terus menerus.
  • Seorang sutradara film animasi harus tahu ilmu tentang timing, cutting, dan lain sebagainya.
  • Pertanyaan: Apa bedanya animasi untuk film dan game? Jawaban: Kalo untuk film, sifat penontonnya statis, sehingga dibutuhkan file yang ukurannya besar. Sedangkan untuk game, sifatnya interaktif.. sehingga ada proses pengulangan dan programming.
  • Software-software yang bisa dipakai untuk membuat animasi sangat banyak. Mas Wahyu sendiri suka menggunakan Adobe Photoshop, Adobe After Effect, Premiere,Flash. Selain itu banyak lagi software seperti Moho, Retas dan Blender.
  • Teori awal animasi adalah The Persistence of Vision by Mark Roget. Animasi tercipta karena otak kita mempunyai daya rekam. Inilah yang memunculkan konsep animasi.
  • Animasi tidak harus dilakukan dengan teknik komputerisasi atau digital. Animasi bisa menggunakan teknik konvensional.
  • Kenapa animasi Indonesia tidak sepopuler animasi Jepang? Karena di Jepang, yang menghidupi dunia animasi adalah masyarakat mereka sendiri. Industri konten di Jepang sangat berkembang dan menghasilkan.
  • Salah satu masalah penting dalam industri animasi adalah distribusi. Jika kita tidak punya jalur distribusi, bangunlah crowd dulu. Manfaatkan youtube misalnya.

foto bersama kelas #AkberJKT (dok. @jengajeng)    




Demikianlah sedikit catatan saya untuk Kelas #akberJKT “Industri Animasi” bersama Mas Wahyu Aditya (@maswaditya). Sekian dan terima kasih sudah membaca.

Minggu, 03 Maret 2013

Akhir Sebuah Awal

Waktu itu seperti biasanya Baron dan Wina duduk di kantin usai kuliah. Tak seperti biasanya suasana di antara mereka cukup hening. Sore itu jantung Baron terasa berdetak tak beraturan. Lidahnya terasa kelu.
 
"Kamu kenapa ron? Kok kayak ga biasanya kamu keliatan grogi gini.Kamu lagi ada masalah?". 

Masalahnya ya kamu Win. Perasaanku ke kamu yang bikin aku grogi gini. Aku tuh sayang kamu Win.

"Win. Sebenarnya ada yang mau aku omongin ke kamu sore ini."
"Aku sayang kamu Wina. Maukah kamu jadi pacarku Win?"
   
"Buset! Berapa kali sih Ron aku bilang? Biarin aja mengalir,jangan dipakasa dong." Ucap Wina sambil memandang Baron. 

Wina bukan tidak suka Baron,hanya saja dia bukan tipe cewek yang suka di paksa dan di tembak secara terang terang-an seperti itu.

Baron memangdang Wina lama. Dia hanya bisa menarik napas. "Win! Lihat aku dong sebagai sosok yang menyukai kamu,jangan sebagai teman lagi bisa ga sih? Kamu kan sudah tau sifatku,aku ga suka lama lama kalau aku suka sama cewek. Aku pasti langsung tembak,kalau kamu ga mau ya aku akan jauhi kamu. " Nah ini deh yang aku ga suka." Keluh Wina lirih.

Perlahan isak tangis keluar dari bibir Wina. Setitik air mata turun mengalir dari sudut matanya.
Mesin waktu di dalam otaknya memutar ke masa lalu.Ingatannya kembali membawanya pada sosok Ario.Sosok lelaki yang telah membuatnya langsung jatuh hati pada pandangan pertama, hingga membuatnya langsung mengiyakan ketika suatu hari Ario berkata kepadanya 

"Win, aku sayang kamu. Kamu mau gak jadi pacarku"

Dan ingatan indah itu perlahan tergantikan oleh sebuah mimpi buruk yang datang seketika. Aryo mengkhianatinya. Aryo selingkuh dengan wanita lain, yang tak lain adalah sahabat Wina sendiri yaitu Rhea.

Sejak kejadian itu, hati Wina seolah tertutup pada lelaki lain. Ia takut lagi untuk memberikan hatinya pada lelaki, yang malah pada akhirnya melukai hati yang dia beri itu. Ia takut untuk mencintai orang lain karena ia takut terlanjur cinta seperti pada Ario, dan malah terluka karenanya.

"Win..Kamu kenapa menangis?"

Suara itu menyadarkan Wina dari lamunan. Baron masih duduk di hadapannya. Menatapnya dalam-dalam.

Baron memeluk Wina. Dia merasa bersalah telah memaksa Wina lagi. 

"Win,aku ga maksa kok." Jangan nangis ya." 
Wina mengusap air matanya. 

"Maaf aku ga sengaja nangis kaya gini sih." 
Wina menghindar dari pelukan Baron.Dia tidak ingin memanfaatkan kebaikan Baron dan membuat Baron mengungkapkan cinta lagi.

Wina tetap merenung dan membiarkan Baron disampingnya. Pikiran Wina menjadi kalut. Dia gadis ceria tapi kalau menyangkut nama Ario dia akan menjadi gadis yang sangat rapuh dan sentimentil. Wina memaksakan senyum agar Baron tidak semakin merasa bersalah. 

"Eh kamu yang bayar minumanku loh."
 Ucapnya...kali ini membuat Baron tersenyum. Nah ini baru Wina yang aku kenal.
Sejujurnya bagi Wina, Baron adalah sosok lelaki yang menarik baginya. Pembawaannya yang hangat selalu membuatnya nyaman tiap kali berada di sampingnya. Dan tanpa dia sadari, mulai tumbuh perasaan sayang di dalam hatinya. Perasaan yang selama ini ia tutupi karena ia terlalu takut untuk menjalaninya. Takut untuk kembali terluka seperti dengan Ario dulu.

"Ron. Kamu ngertiin keadaanku ini ya"

Baron mengangguk. Matanya lekat menatap Wina.

"Udah yuk aku anterin kamu pulang. Udah mau maghrib ni. Ntar kamu dicariin Mama kamu."
"Yuk Ron.."

Wina berdiri dari bangku kantin dan berjalan perlahan menuju ke parkiran motor, diikuti Baron yang berjalan di belakangnya usai membayar minuman yang mereka pesan tadi.

Wina membonceng Baron dan melingkarkan tangannya di pinggang Baron. Angin menerpa wajahnya dan membuatnya menunduk dan menempelkan wajahnya dipunggung Baron. Wina tidak ingin berakir,rasa nyaman yang diberikan Baron tidak ingin digantikan dengan penyesalan yang akan terjadi jika mereka melanjutkan hubungan atas nama cinta.

Baron membiarkan hatinya sakit. Sakit sebenarnya mendapat penolakan Wina. Tapi dia juga tidak ingin melihat Wina terluka. Baron membiarkan Wina bersender dibahunya andai itu bisa menjadikan Wina tetap di sisinya.

  ***

Tiga minggu kemudian

"Baron..kenapa kamu menghindari aku".

Suara Wina membuat Baron tercekat. Tak ada suara yang keluar dari mulutnya.
Pandangan mata Wina membuat hati Baron merasa takut untuk mengungkapkannya. Tapi...

"Aku sayang kamu Baron. Aku gak mau kehilangan kamu. Aku gak mau kehilangan orang yang aku sayangi."

"Aku mau jadi pacar kamu Baron. Aku mau."

Serentetan kata-kata itu mengalir dari mulut Wina. Mendengarnya, hati Baron bergejolak. Rasa bersalah sekaligus bahagia muncul bersamaan.

"Aku juga sayang kamu Win."
Bibir Baron terasa bergetar ketika mengucapnya.

Hati kecil berdebar. Rasa bersalah itu kian membesar. Rasa bersalah telah mengkhianati Dita, cewek yang menjadi pacarnya sejak seminggu yang lalu. Dan rasa bersalah kepada Wina, karena akan membuatnya sakit lagi seperti yang Ario pernah lakukan kepadanya.


Tulisan ini adalah hasil kolaborasi saya (@rbennymurdhani) dengan @baelovesee dan diikutsertakan dalam proyek #AWeekOfCollaboration

Selasa, 26 Februari 2013

Unek Unek Tentang Paragraf Deskriptif

Paragraf deskriptif adalah suatu paragraf dimana didalamnya memuat kata-kata yang menggambarkan sesuatu, yang bisa berupa suasana, tempat, kondisi atau keadaan, benda, dan lain sebagainya. Dalam sebuah novel atau cerpen, sebuah deskripsi paragraf menjadi hal yang sangat penting karena dengan adanya paragraf deskriptif ini, tulisan kita ini menjadi “tidak kering” dan lebih terasa hidup dan indah. Setidaknya begitulah kata teman saya ketika membaca tulisan-tulisan fiksi yang saya buat selama ini. Tulisan saya terasa sangat kering karena hanya mengandalkan rangkaian dialog dan narasi dari tokoh untuk menggambarkan isi cerita.

Selain untuk membuat sebuah tulisan menjadi lebih indah, paragraf deskriptif juga sangat berguna sekali bagi kita untuk memainkan tempo dari plot cerita kita. Jika kita ingin tempo cerita kita lambat, maka gunakanlah paragraf deskriptif ini untuk membuat pembaca kita seperti diberi “nafas” sebagai jeda antara satu scene kepada scene lain. Sebaliknya juga bila kita ingin mempercepat tempo cerita kita.

Lalu seperti apa sih sebenarnya contoh paragraf deskriptif itu?

Berhubung saya ini masih belajar dalam membuat paragraf deskriptif, jadilah saya lebih baik mengambil contoh dari novel yang sudah beredar di pasaran.

Berikut salah satu contoh paragraf deskriptif yang saya ambil dari Novel Montase karya Windry Ramadhina:

“Pagi ini, aku terbangun di sofa. Tubuhku masih terbungkus selimut tebal yang kupakai ketika aku duduk di atap. Kue ulang tahun yang kubeli untuk Haru merunduk di permukaan meja. Krim keju di antara lapisan-lapisan bolu meleleh akibat suhu ruangan, lalu berlelran ke tepi seperti air terjun sehingga kue itu tidak lagi sanggup berdiri tegak.”
(Montase, hal.329)

Dalam paragraf di atas, terlihat bagaimana sang penulis yaitu Windry Ramadhina menggambarkan suasana ketika sang tokoh baru saja bangun tidur, lengkap dengan keadaan kamar dan penggambaran “kue” yang lebih menjadi fokus paragraf tersebut.

Setelah tahu seperti apa itu paragraf deskriptif, terus bagaimana sih cara membuat paragraf deskriptif itu?

Sebenarnya saya sendiri belum berhasil menemukan artikel tentang bagaimana membuat paragraf deskriptif. Meski begitu, saya punya beberapa hal yang harus diperhatikan (menurut saya) ketika membuat sebuah deskriptif paragraf, yaitu:

  • Berlatihlah dengan mendeskriptifkan hal-hal yang sederhana dan dekat dengan kita. Misalnya saja, kita bisa memulai dengan mendeskripsikan keadaan kamar tidur kita.

“Beberapa buku terlihat berserakan di lantai kamar, berbaur dengan tisu-tisu kotor yang tercecer tak menentu. Di sudut ruangan, sebuah kasur dengan seprai warna merah dan tumpukan bantal berwarna seragam tergeletak di atasnya. Persis di samping jendela, sebuah meja terbuat dari kayu berdiri kokoh dengan lagi-lagi beberapa buku tertumpuk di atas meja tersebut. Buku..buku...dan buku...”

  • Buatlah paragraf deskripsi yang memang mendukung isi cerita, bukan malah mengaburkan inti cerita dan membuat cerita menjadi panjang bertele-tele tanpa kejelasan. Dalam contoh di atas, paragraf deskriptif tersebut lebih fokus kepada “buku” yang bersebaran di dalam kamar. Hal ini bisa digunakan untuk menggambarkan keadaan kamar seorang tokoh yang bersifat “kutu buku” misalnya.
  • Sebelum menulis paragraf deskriptif, buatlah dahulu dalam otak anda kejadian, suasana, atau keadaan yang ingin anda gambarkan dalam paragraf tersebut nantinya. Kalau kata @amrazing sih, paragraf deskriptif yang “filmis”.
  •  Jangan terlalu banyak paragraf deskriptif yang malah membuat tempo cerita anda malah jadi sangat lambat. Ini memang soal selera sih, tapi kok saya sendiri tidak suka cerita yang terlalu panjang bertele-tele dengan banyak sekali paragraf deskriptif.

Apa lagi ya tentang paragraf deskriptif?

Emmm...sepertinya sudah dulu ya manteman pembaca blog saya tentang unek-unek saya seputar paragraf deskriptif. Catatan-catatan saya di atas berdasarkan pengalaman saya yang masih minim ini dalam bidang tulis menulis. Saran saya banyaklah membaca dan banyaklah berlatih menulis. Seperti kata pepatah, practices makes perfect. Banyak berlatihlah hingga anda terbiasa menulis paragraf deskriptif dengan baik dan anda menemukan gaya tulisan paragraf deskriptif yang membuat anda nyaman.

Sekian dan terima nasi. :)


WANGTANPHOBIA



Sore itu, di deretan bangku depan Gedung Perpustakaan Pusat Unsoed, aku dan temanku Benny tengah asyik saling bercerita. Lebih tepatnya, akulah yang banyak bercerita tentang kehidupan cintaku yang terasa cukup rumit.

“Gimana dengan Vina anak paduan suara itu Mik. Lo gak tertarik sama dia. Cantik lho dia.”, tanya Benny kepadaku.

“Gue bingung Ben. Gue jujur aja tertarik sama Vina. Apalagi dia anaknya baik dan perhatian banget sama gue. Tapi.....”, kata-kataku terputus. Mencoba menahan kenangan pahit yang masih saja menyesaki dada ini.

“Tapi kenapa Mik.”

Kuhela nafasku. Ada beban luka yang membuat bibirku ini seperti berat untuk mengucap.

“Parfum Vina, Ben. Parfum Vina itu sama banget dengan yang dipake Nadia. Dan itu yang bikin gue selalu takut untuk jalan maupun hanya sekadar berdekatan sama Vina, karena tiap kali gue cium aroma parfum itu, bayangan Nadia selalu muncul di kepala gue. Dan itu membuat hati gue sakit tiap kali inget Nadia.”

Benny menatapku sembari mulutnya tersenyum kecil.

“Gue sedih kok lo malah ketawa Ben”, tanyaku.

“Hehe. Lo itu sekarang lagi kena sindrom wangtanphobia tuh”, kata Benny, sembari cengengesan.

“Apaan tuh wangtanphobia. Baru denger gue. Ada juga tuh claustrophobia, philophobia, altophobia. Emang apaan tuh wangtanphobia?, tanyaku dengan kepala penuh dengan rasa penasaran.

“Lo beneran mau tau Mik? Ciyusss...”, ledeknya.
“Wangtanphobia itu wangi mantan phobia. Yaitu phobia yang menyebabkan seorang yang baru putus dari pacarnya merasa takut apabila bertemu dengan wanita lain yang menggunakan parfum dengan aroma yang sama dengan parfum mantannya. Sekian penjelasan Profesor Benny ya.”

“Sialan lo Ben. Ada ada aja kelakuan lo buat ngledekin gue”, kataku sembari meninju pelan lengannya.

“Gue ngomong gini biar lo juga ketawa, Mik. Udahlah Mik. Lupain kebencian lo sama Nadia. Toh dia sekarang udah senang-senang sama Angga, cowok brengsek itu.”, cerocos Benny menasehatiku.

“Nadia dan Vina itu dua cewek yang berbeda, meskipun mereka pake parfum yang sama. Jadi jangan pernah samakan Vina dengan Nadia gara-gara hal itu. Inget itu Mik”

“Iya Bapak Mario Benny Teguh. Terima kasih atas motivasinya. Super sekali memang Bapak ini.”, ledekku begitu mendengar kata-kata Benny. Tumben sekali dia bisa berkata-kata bijak bak seorang motivator.

“Ah..Sialan lo Mik.”, katanya sembari menjitak kepalakku.

Kata-kata Benny tadi kusimpan di kepalaku untuk selalu kuingat.
“Nadia dan Vina itu dua cewek yang berbeda, meskipun mereka pake parfum yang sama. Jadi jangan pernah samakan Vina dengan Nadia gara-gara hal itu. Inget itu Mik”

***
Siang itu, kuarahkan sepeda motorku ke Gedung Pusat UKM Unsoed. Hari itu, Vina sedang ada latihan paduan suara. Aku kali ini ingin memberanikan diri untuk mengajaknya makan malam.

Suasana Gedung Pusat UKM Unsoed sore itu tampak ramai. Jumat sore di tempat ini memang selalu ramai oleh para pegiat kegiatan kemahasiswaan. Aku sendiri bukan termasuk tipe orang yang suka berkegiatan  dan berkomunitas.

Begitu aku selesai memarkir motorku, pandanganku langsung menyapu seluruh sudut gedung ini. Mencari-cari dimana Vina, yang sesuai katanya melalui SMS, tadi sedang latihan paduan suara disini.

“Oh itu dia.”
Mataku berhenti pada satu makhluk manis yang kelihatan berbeda sekali dibandingkan teman-temannya di paduan suara itu. Sore itu, Vina mengenakan kaos biru muda dengan bawahan jeans warna hitam. Rambutnya yang diikat hingga leher putihnya terlihat benar-benar membuatnya semakin terlihat manis di mataku.

Kulambaikan tanganku ketika dia tiba-tiba melihat ke arahku. Dia tersenyum, sembari memberi kode  kepadaku agar aku membuka ponselku.

Sebuah SMS masuk ke ponselku. Segera kubaca isi pesan singkat tersebut.

From: Vina (+628002899201)
Aku selesai latihan 30 menit lagi. Yang sabar ya nunggunya. J

Kuketikkan balasan SMS dari Vina tersebut.

To: Vina (+628002899201)
Jangankan 30 menit Vin, 30 tahun pun akan kutunggu. :P Selamat nyanyi

Kutekan tombol kirim di ponselku. Segera kualihkan mataku kembali ke Vina. Terlihat dia tersenyum-senyum sembari menatap layar ponselnya. Wajahnya terlihat sedikit memerah.
Jatuh cinta memang membuat orang rela melakukan hal-hal yang mungkin terlihat bodoh bagi orang yang sedang tidak terjangkit kasmaran, termasuk yang kulakukan sore ini. Duduk terdiam menatap cewek pujaannya yang sedang latihan paduan suara, selama tiga puluh menit, tanpa melakukan hal lain apapun.

Kulihat latihan paduan suara telah selesai. Setelah menyalami teman-temanya di paduan suara tersebut, Vina segera berjalan menuju ke arahku.

Jantungku berdegup kencang ketika Vina telah ada di sebelahku.
“Maaf ya lama nunggunya. Lagian kamu ini datangnya kecepetan si, jadinya malah bengong nungguin aku setengah jam.”, kata Vina kepadaku.

Aku tak langsung menjawab. Aroma itu. Aroma parfum Vina-lah yang membuat pikiranku tiba-tiba menjadi tidak fokus. Bayangan Nadia muncul sekelebat di alam bawah sadarku.

“Mik, kamu gak apa-apa kan. Kok kamu diem gitu?”, Vina mengguncangkan badanku.

Guncangan dari Vina tadi mengembalikan kesadaranku.

“Eng..enggak apa-apa kok Vin. Aku baik-baik aja.”, jawabku.

Aku terpaksa berbohong. Tak mungkin aku berkata jujur bahwa alasanku kenapa aku kehilangan konsentrasi adalah karena begitu aku mencium parfum yang Vina kenakan, membuatku ingat akan mantanku Nadia yang juga memakai parfum dengan aroma yang sama.

Namun mata Vina sepertinya menangkap sebuah keganjilan di sorot mataku.
“Kamu jangan bohong Mik.  Ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari aku. “

Bibirku kelu mendengar ucapan Vina barusan. Tak kusangka dia menangkap gelagat anehku.
Tapi, apa harus aku ceritakan semuanya. Aku takut Vina akan menjauh dariku kalau aku mengungkap semua kepadanya.

“Ya sudah Mik kalau kamu memang tak mau jujur sama aku”, kata Vina dengan nada kecewa. Segera dia melangkahkan kakinya hendak pergi dari hadapanku.

Tanganku segera mengayun memegang pergelangan tangan Vina.
“Vin..tunggu. “

****
bersambung

Jumat, 15 Februari 2013

Blogger's Block. Sebuah Alasan

Jika seorang penulis mempunyai istilah writer's block, yaitu keadaan yang katanya dialami oleh para penulis yang membuat pikiran penulis menjadi semacam mandeg alias buntu, maka seorang blogger seperti saya pun berhak dong untuk memiliki istilah yang hampir serupa yaitu blogger's block, keadaan dimana seorang blogger menjadi berhenti menulis karena otak terasa buntu untuk menuliskan sesuatu untuk blognya.

Berbicara istilah blogger's block, mungkin bisa dibilang saya saat ini sedang mengalaminya. Bayangkan saja, jika biasanya saya posting di blog minimal satu minggu sekali, tapi kini saya sudah hampir satu bulan tidak posting apapun di blog saya. Postingan terakhir saya yaitu tanggal 21 Januari.

Tapi, apakah benar blogger's block  itu ada, dan bagaimanakah cara untuk mengatasinya?

Saya sendiri memandang blogger's block adalah sebuah nama lain dari kemalasan. Malas menulis, malas mencari ide, malas untuk menyelesaikan tulisan yang sudah separuh jalan, dan berbagai jenis malas lainnya yang akhirnya membuat seorang blogger akhirnya tidak memposting satu tulisan pun di blognya. Setuju dengan pendapat saya? Jika,iya, berarti kamu juga sedang mengalami apa yang saya alami.

Cara mengatasi blogger's block itu sebenarnya mudah, karena kita sudah tahu apa yang penyebab blogger's block tersebut. Kalau kita ingin melawan dan mengatasi rasa malas untuk menulis, maka lawanlah hal tersebut dengan menulis apa pun. Tulislah hal random sekali pun karena hal itu membuat otak kita semacam diberi suntikan penyegar, yang mungkin selama ini sudah terlalu jenuh dengan topik tulisan yang itu-itu saja. Jangan terlalu pedulikan jika memang tulisan yang kita tulis memang bukan "tulisan yang langsung layak dibaca" oleh pembaca blog kita. Karena jika hal itu saja yang terjadi, maka kita bisa melakukan proses mengedit di lain waktu. Bukankah lebih mudah melakukan sesuatu yang sudah ada "dasar"-nya.

Jadi...jadi...jadi
Masih menggunakan alasan blogger's block sebagai tameng terhadap berhentinya kita memposting tulisan di blog? Coba periksa dulu diri anda. Jangan-jangan itu hanya karena anda malas.
Sekian.







Masa Pertumbuhan Kita

Kalian pasti pernah menerima ucapan dari teman atau saudara kalian dengan bunyi kira-kira seperti ini " Makan yang banyak ya. Kan lagi ...