Minggu, 12 Januari 2014

Kenapa Saya Suka Film Drama?



Bagi sebagian besar orang, terutama bagi kalangan pria, menonton film drama adalah hal yang sangat sangat sangat membosankan. Kenapa harus ada tiga kali kata “sangat”? Ya karena memang seperti itulah gambaran perasaan yang dialami kaum pria ketika harus menonton film drama. Dari lima orang teman pria di kantor saya yang saya tanya soal selera film, tak ada satu pun yang memilih genre drama sebagai pilihan mereka. Action, horror, fantasi, science fiction adalah jawaban yang muncul dari kelima teman saya tersebut.   

Kebanyakan pria memang tidak menyukai film drama dengan alasan film drama itu alurnya membosankan, tidak ada adegan “action”-nya (kalo ada namanya film action dong), isinya cuma nangis doang, menye-menye, dan segudang alasan lain yang membuat para pria tidak menyukai film drama. Apalagi ada anggapan bahwa film drama memang diciptakan untuk kaum wanita dan kaum “pria” berjiwa wanita.

Tapi sesuai dengan judul tulisan saya di atas, saya ingin mendeklarasikan bahwa 

“SAYA ADALAH PRIA PENYUKA FILM DRAMA”.

Saya bukannya tidak suka dengan film jenis action, horror, fantasi, science fiction atau genre film lainnya ya. Tapi dari jenis-jenis film yang saya tonton (dan saya simpan di laptop), saya memilih film drama sebagai jenis film favorit saya. Berikut dua alasan kenapa saya menyukai film drama?

1.     Ceritanya mungkin terjadi

Ini dia alasan pertama kenapa saya menyukai film drama yaitu karena cerita-cerita dalam film drama itu mungkin saja terjadi. Misal saja film Date Night yang baru saja tonton. Diceritakan bahwa pasangan suami istri yang kehidupan rumah tangganya membosankan hingga suatu malam, ketika mereka sedang makan malam di sebuah restoran, mereka mengalami kejadian dan masalah yang akhirnya membuat mereka harus melewati malam yang berat.

Atau film Role Model yang menceritakan bagaimana seorang pemuda yang kehilangan pekerjaan dan pacarnya secara bersamaan, hingga ia marah dan melakukan tindakan kriminal yang akhirnya membuatnya harus menjalani hukuman public service di sebuah yayasan penitipan anak.

Dih, apa menariknya film begituan?

Hey man. Apakah kamu yakin kamu tidak akan mengalami hal seperti itu suatu saat nanti? Mengalami kehidupan rumah tangga yang penuh dengan lika-liku? Atau mengalami PHK, masalah cinta, keluarga, dll?

Bagi saya. Setiap cerita di film drama itu mungkin terjadi di kehidupan kita. Menurut saya film drama itu gambaran kehidupan manusia yang terjadi di sekitar kita, atau bahkan kita alami sendiri. Bukankah lebih mungkin kita mengalami masalah di keluarga kita daripada kita dikejar-kejar oleh penyihir “You Know Who” alias Voldemort? Atau bagi anda mungkin lebih mungkin dunia ini diserang oleh alien robot seperti di film Transformer?

2.     Ada pelajaran yang bisa diambil

Bukan. Ini bukan mau ngomongin pelajaran sekolah. Ini masih ngomongin tentang film drama.

Kembali ke poin 1. Karena cerita dalam film drama itu mungkin saja terjadi, maka kita bisa membayangkan cerita itu terjadi dalam hidup kita dan mengambil hikmah atau pelajaran dari film drama tersebut. Misal di film Family Weekend yang menceritakan seorang anak yang terpaksa harus melakukan tindakan-tindakan ekstrim (seperti menyekap dan mengikat tangan) kepada orang tuanya karena selama ini orang tuanya tersebut tidak peduli terhadap keadaan anak-anaknya akibat kesibukan masing-masing orang tua. Akhir dari film tersebut adalah sang anak ditahan oleh polisi, namun hal tersebut membuat kedua orang tuanya sadar bahwa selama ini mereka sudah mengacuhkan keberadaaan anak-anaknya.

Pelajaran yang bisa diambil dari film tersebut bagi saya adalah bahwa jika nanti saya jadi orang tua (Amin..:)) saya harus memperhatikan dan merawat anak-anak saya kelak. Setiap orang pasti memiliki pandangan tersendiri terhadap hikmah apa yang bisa diambil dari sebuah film.

Memang sih tak hanya film drama yang member pembelajaran terhadap kita. Cuma bagi saya ya kembali ke poin no. 1. Jika kita susah membayangkan kejadian kedatangan alien atau kemunculan superhero di dunia ini benar-benar terjadi, bagaimana bisa kita mengambil hikmah dari film tersebut untuk kita jadikan pembelajaran bagi hidup kita.

Dua alasan di atas mungkin tidak cukup untuk meyakinkan bahwa seorang pria tidak harus malu untuk menonton film drama. Drama itu menarik lho dan mampu kita jadikan pembelajaran. Siapa bilang buku itu satu-satunya gudang ilmu. Film juga lho. Dari pengalaman pacar saya yang seorang guru, ternyata anak-anak lebih tertarik untuk belajar ketika media pembelajaran yang digunakan adalah video atau film, dibandingkan ketika mereka hanya diwajibkan membaca dan menghafalkan buku pembelajaran.

And the last sentences, tontonlah film drama yang memang bermutu. Sinetron-sinetron di Indonesia sih sebenarnya contoh cerita drama juga, cuma bagi saya itu cerita drama yang buruk. Alur cerita monoton, teknik pengambilan kamera yang seadanya, akting para artis yang kaku, dan segudang alasan lain yang membuat saya tidak menyarankan anda untuk melihat sinetron Indonesia.

Ok. Bye-bye….

Rabu, 08 Januari 2014

Rekap Blog Tahun 2013

Tahun 2013 telah berakhir resmi 5 hari yang lalu. Seharusnya nulis rekap blog ini bagusnya di akhir tahun 2013. Tapi berhubung kesibukan di akhir tahun, baru sekarang bisa sempat merekap beberapa data dari blog ini sepanjang tahun 2013.

Tahun 2013 ini dari segi posting, saya mengalami kemunduran yang sangat parah. Di tahun 2012 saya berhasil menulis postingan sebanyak 99 tulisan, sedangkan di tahun 2013 kemarin, saya hanya berhasil menulis 43 tulisan. Jumlah itu saja karena saya lumayan rajin menulis dalam dua bulan terakhir kemarin, yaitu 8 tulisan di bulan November dan 7 tulisan di bulan Desember.

Dari sisi keragaman tulisan, tahun 2013 saya nobatkan menjadi tahun menulis opini dan renungan, serta catatan sehari-hari. Dari 43 tulisan di tahun 2013, setengahnya adalah tulisan opini, renungan dan catatan sehari-hari. Sisanya terdiri dari review kuliner, buku dan film. Bila di tahun 2012 saya aktif menulis fiksi, maka di tahun 2013 lalu saya hanya berhasil menulis 3 tulisan.

Dari sisi jumlah komentar, di tahun 2013 ini blog saya mendapat 44 komentar, dimana tulisan paling banyak dikomentari justru tulisan berjudul Jarak Saya Selangor Hanya 5 cm yang saya tulis di tahun 2012 pada saat mengikuti salah satu lomba blog yang hadiahnya jalan-jalan ke Selangor.

Apa lagi ya data dari blog saya untuk tahun 2013?

Oke, sebagai penutup saya ingin berbagi rasa syukur saya karena tadi saya baru diemail oleh Blogdetik bahwa saya dapat hadiah kaos karena tulisan saya Mencari Motor Sport Yang Canggih, Irit dan Advance  masuk dalam 50 tulisan pertama dalam sebuah lomba yang digagas Blogdetik.

Sekian dan terima kasih.

Sabtu, 28 Desember 2013

Review Buku : "Mr.Ambassador, Dari Wartawan Foto Menjadi Duta Besar" dari M. Indro Yudono

sumber foto: (Gramedia.com)


Judul buku :  Mr.Ambassador, Dari Wartawan Foto Menjadi Duta Besar
Penulis : M. Indro Yudono
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 274 hlm
Terbit : Agustus 2013

Menjadi seorang diplomat lalu berkeliling dunia, mengenalkan Indonesia kepada khalayak internasional sudah lama menjadi impian saya. Cita-cita itu pernah sangat terasa dekat ketika saya mengikuti serangkaian tes untuk menjadi seorang diplomat di Kementerian Luar Negeri tiga tahun lalu. (Baca pengalaman saya disini). Sayang sekali saya belum dapat lolos dalam tes tersebut. Akhirnya, impian saya untuk berkeliling dunia sebagai seorang diplomat pun saya kubur dalam-dalam. Namun impian saya tersebut, sedikit terangkat kembali usai saya membaca buku "Mr. Ambassador, Dari Wartawan Foto Menjadi Duta Besar" ini.

Pertama kali saya tertarik dengan buku ini bukan karena saya tertarik dengan judulnya, tetapi karena di sampul buku ini terdapat sebuah stiker bertuliskan "Peraih Bronze Trophy Cover Terbaik Pinasthika Award 2013". Jadi awalnya saya tertarik membeli karena saya tertarik dengan sampul buku ini. Baru setelah saya membaca keseluruhan buku ini, baru saya menyimpulkan bahwa isi buku ini jauh lebih menarik bagi saya, dibandingkan desain sampulnya.

Buku "Mr. Ambassador, Dari Wartawan Foto Menjadi Duta Besar" merupakan buku karya M. Indro Yudono, seorang duta besar yang mengawali karirnya dari seorang wartawan foto di IPPHOS hingga puncak karirnya menjadi seorang Duta Besar Luar Biasa dan Berkasa Penuh di KBRI Swiss di tahun 2001-2005. Buku ini berisi 23 kisah dari sang Duta Besar mulai dari pengalaman beliau selama menjadi wartawan foto di IPPHOS (dari buku ini pula saya mengetahui apa itu IPPHOS), masuk ke Departemen Luar Negeri (selanjutnya saya sebut Deplu), hingga penugasan demi penugasan dari Deplu dan akhirnya beliau menjadi seorang Duta Besar Luar Biasa dan Berkasa Penuh di KBRI Swiss hingga tahun 2005 lalu.

Dalam buku ini, Pak M. Indo Yudono (selanjutnya saya sebut dengan Pak Indro) tak hanya mengisahkan cerita-cerita seputar pekerjaannya sebagai seorang diplomat saja. Di buku ini kita bisa melihat kisah-kisah lain dari beliau seperti misalnya bagaimana kisah perjodohan antara Yeyen, seorang Kepala Rumah Tangga pada saat Pak Indro bertugas di KJRI Hamburg, Jerman, dengan Paul, seorang kebangsaan Belanda. 

Tulisan favorit saya di buku ini adalah tulisan berjudul "Jenjang Pendidikan yang Kutempuh", dimana Pak Indro menceritakan pendidikan apa saja yang ia tempuh selama bekerja menjadi diplomat, termasuk di dalamnya pengalamannya seputar Sekolah Dinas Luar Negeri, Sekolah Staf Dinas Luar Negeri Tingkat Madya, dan Sekolah Staf dan Pimpinan Deplu. Impian saya menjadi diplomat menjadi sedikit terobati begitu membaca bagian ini.

Ada kisah menarik dibalik penulisan buku ini. Berdasarkan artikel disini, ternyata penulisan buku ini benar-benar sebuah perjuangan bagi Pak Indro, karena dalam kurun waktu sekitar delapan bulan ia menulis, beliau harus bolak-balik ke rumah sakit, termasuk amputasi satu lututnya karena infeksi. Bahkan, sekitar tiga perempat naskah diketik beliau dengan satu jari tangan kanan akibat penyakit Parkinson.
 

Jumat, 27 Desember 2013

Asyiknya Dapat Coffee Maker

Apa jadinya kalau seorang yang gemar minum kopi seperti saya ini kemudian mendapatkan sebuah hadiah Coffee Maker?

Jadi ceritanya 9 hari yang lalu, saya membaca sebuah pengumuman lomba blog di website Kompasiana, dengan tema "Lestarikan Aset Wisata". Lomba ini merupakan hasil kerjasama Kompasiana dengan Kemenparekraf (kementerian ini memang paling gencar bikin lomba blog. :)). Karena tertarik dengan temanya dan kebetulan saya punya sedikit cerita mengenai pengalaman ketika mengunjungi Museum Taman Prasasti Jakarta, maka saya bulatkan tekad dan niat untuk ikut lomba blog ini. Setelah ketik-ketik lebih kurang 3 jam, jadilah sebuah tulisan yang berjudul Mari Selamatkan Warisan Sejarah Kita di Museum Taman Prasasti Jakarta, yang segera saya daftarkan di lomba tersebut. 

Setelah menunggu sekitar 9 hari, tepat tanggal 27 Desember 2013, pengumuman nama-nama pemenang lomba blog diposting oleh Kompasiana. Dan...jeng-jeng.... Puji Tuhan nama saya muncul menjadi juara ketiga dan berhak mendapatkan hadiah sebuah Philips Coffee Maker HD 7448. 


Horeeeeee.......

Ada dua hal yang membuat saya sangat senang untuk kemenangan ini. Yang pertama ya karena untuk pertama kalinya saya bisa menang lomba blog. Sebelumnya saya sudah pernah mengikuti beberapa lomba blog, apalagi yang berhadiah sebuah smartphone, tapi belum pernah menang. Dan akhirnya setelah beberapa kali belum berhasil, akhirnya saya bisa memenangkan sebuah lomba blog. Semoga setelah ini saya jadi tambah rajin ikutan lomba blog dan bisa kembali menang.

Alasan kedua, ya karena memang saya doyan ngopi. Jadi ya pas sekali kalau saya mendapatkan sebuah coffee maker. Memang sih, saya saat ini lebih butuh sebuah smartphone, tapi Tuhan sepertinya memang ingin memberikan saya coffee maker agar saya minum kopi dan mata jadi tidak ngantuk. Saya ini kan memang orangnya sering tidur larut malam, terutama kalau lagi asyik nulis di blog, baca artikel atau nonton bokep eh.. :)

Hadiahnya belum ada di tangan saya. Tapi saya tadi sudah coba cari lewat Google dengan keyword "Philips Coffee Maker HD 7448". Cakep juga ternyata bentuknya si coffee maker ini. Jadi gak sabar ingin minum kopi hasil dari alat ini. Apakah se-numero uno dibandingkan Torabika Cappucino (eitsss..iklan gratis).


sumber foto : http://bit.ly/1fMIF47

Jadi. kesimpulannya, ayo berani ikutan lomba blog. Pasti suatu saat kamu juga bisa menang.

Minggu, 15 Desember 2013

Prompt #32: Sinar Matanya

Bayi lelaki itu merangkak mendekatiku. Dia berhenti di beberapa langkah dari tempatku berdiri. Pandangan kami beradu. Kurasakan kedua matanya seperti sebilah pedang yang mengoyak-ngoyak pikiranku dan meminta pertanggungjawaban atas apa yang telah kulakukan.

Kucoba untuk menggerakan kakiku ke belakang. Kakiku bergeming. Seakan ribuan ton besi terikat di pergelangan kakiku, membuatnya tak bisa bergerak bahkan satu sentimeter pun.

“Mama…” kata bayi itu. “Kenapa engkau membunuhku?”

Bayi itu terus saja merangkak perlahan mendekatiku. Kakiku bergeming dan lidahku kelu. Bibirku terus mencoba untuk berteriak, tapi tak sedikit pun suara keluar dari dalam tenggorokanku.

“Mama….Kenapa engkau membunuhku?” ucap bayi lelaki itu sekali lagi.

Tenagaku seakan terkuras habis berusaha untuk menggerakan kakiku yang tak kunjung bisa bergerak. Keringat dingin turun membasahi sekujur pakaianku seiring dengan semakin dekatnya bayi itu denganku.

“Maafkan mama Nak. Mama cuma belum siap menjadi bahan omongan orang lain”, kataku tiba-tiba. Ajaib. Mulutku kembali bisa bicara.

Sorot mata bayi itu menunjukkan amarah yang berapi-api begitu mendengar permintaan maafku tadi. Sepertinya dia tak bisa terima alasanku.

Ketika bayi lelaki yang berlumuran darah itu telah berjarak sekitar sejengkal dari kakiku, tiba-tiba semuanya menjadi gelap dan menghilang begitu saja.

Suara itu. Aku hafal benar suara itu. Suara dari alarm telepon genggamku yang sengaja kuatur agar membangunkanku setiap pagi.

Kubuka mataku perlahan sembari tanganku berusaha mencari-cari telepon genggamku. Begitu tanganku mendapatkan apa yang dicarinya, kulihat layar teleponku tadi. Ternyata suara berdering tadi bukanlah bunyi alarm tanda aku harus bangun. Suara dering tadi adalah bunyi dering tanda ada yang meneleponku.

Begitu kuangkat teleponku, telingaku langsung disambut suara nafas yang terengah-engah seperti suara orang yang baru saja berlari dikejar sesuatu.

“Nino, kamu kenapa telepon aku pagi banget gini?” tanyaku kepada Nino, pemilik suara terengah-engah tersebut.

“Aku baru aja mimpi buruk, Sis”, jawab Nino. “Aku mimpi dikejar-kejar bayi lelaki dengan sorot mata yang tajam dan penuh amarah.”

Aku terdiam begitu mendengar penjelasan Nino tadi. Bukan. Bukan karena teringat pada mimpi buruk yang baru saja aku alami tadi. Tapi, karena kini di ujung ranjangku, bayi lelaki dengan mata penuh amarah itu muncul. Bergerak dan merangkak menuju pangkuanku.

“Mama…….Kenapa engkau membunuhku?”

Masa Pertumbuhan Kita

Kalian pasti pernah menerima ucapan dari teman atau saudara kalian dengan bunyi kira-kira seperti ini " Makan yang banyak ya. Kan lagi ...