Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Desember 2019

Mana Yang Kau Pilih, Kuantitas atau Kualitas?


Image by Gerd Altmann from Pixabay

Ada sebuah keyakinan yang pasti banyak dipegang oleh banyak orang. "Quality over Quantity". Dalam konteks seorang penyanyi atau musisi, ini bisa diterjemahkan bahwa lebih baik membuat 1 atau 2 lagu dalam setahun dengan kualitas  yang sangat baik, daripada menciptakan 20 lagu dalam setahun dengan kualitas yang buruk atau biasa-biasa saja. Kalau istilah anak sekarang kualitasnya "B" aja. Tapi apakah pendapat ini selalu bisa diamini?

Hari ini saya menonton video wawancara Narasi Entertainment antara Duo Bujang selaku host dengan Samuel Alexander Pieter atau lebih dikenal oleh masyarakat dengan nama panggungnya "Young Lex". Dalam wawancara tersebut, salah satu pertanyaan yang ditanyakan oleh host kira-kira seperti ini "Apakah kamu Young Lex setuju kalau dibilang bahwa kamu lebih mementingkan kuantitas daripada kualitas?". Dengan santainya Young Lex bilang bahwa "Ya setuju. Karena kualitas kita diukur dari kuantitas kita. Ga ada atau hampir ga ada musisi yang suka dengan lagu pertama yang diciptainnya. Pasti loe jijik kalo loe denger lagu pertama loe".

Minggu, 24 Juni 2018

Bangku Prioritas atau Penumpang Prioritas


Sebagai seorang yang tinggal di Bekasi dan kerja di Jakarta, setiap hari saya berangkat dan pulang kerja dengan menggunakan KRL Commuter Line. Ketika di dalam KRL, seringkali saya mengamati orang-orang di sekitar saya. Kebanyakan orang sibuk dengan smartphone masing-masing. Ada yang menonton drama Korea, bermain game, mengecek email, atau sekadar mendengarkan lagu sembari pelan-pelan menutup mata dan tertidur (seperti yang biasa saya lakukan).

Kapasitas bangku kereta yang terbatas membuat tidak semua penumpang dapat tempat duduk. Dari artikel yang saya baca ini, kapasitas maksimal gerbong KRL adalah 250 orang, dengan jumlah bangku hanya untuk 60 orang. Jumlah bangku 60 orang ini termasuk alokasi bangku prioritas, yang disiapkan untuk orang-orang yang diproritaskan seperti ibu hamil, penumpang dengan disabilitas, penumpang yang membawa balita, dan penumpang lanjut usia. Untuk memudahkan, saya sebut saja orang-orang ini dengan sebutan p

Ketika para penumpang prioritas sudah mendapat alokasi bangku prioritas, apakah mereka tidak boleh duduk di bangku non prioritas?

Ketika jam pulang kantor, jumlah penumpang KRL ini biasanya membludak. Berdasarkan pengamatan saya, seringkali penumpang prioritas seolah hanya boleh duduk di bangku prioritas. Sebagai contoh saya pernah melihat ada ibu hamil yang terpaksa tidak jadi masuk ke gerbong KRL yang saya naiki hanya karena seluruh kursi prioritas sudah terisi oleh penumpang prioritas, sedangkan di bangku non prioritas terdapat pria-pria muda yang sepertinya masih mampu berdiri. Saya kurang tahu sih apakah mereka memang tidak mau memberikan bangkunya, atau memang mereka tidak mendengar ketika para penumpang di dekat pintu masuk berteriak "ada yang lagi gak hamil?" kepada para penumpang yang duduk di bangku prioritas, yang ternyata semua yang duduk di bangku prioritas adalah penumpang prioritas. 

Saya pribadi berpendapat bahwa memang bangku prioritas hanya boleh ditempati oleh penumpang prioritas. Namun ketika semua bangku prioritas sudah diduduki oleh penumpang prioritas, seharusnya mereka pun diprioritaskan untuk duduk di bangku non prioritas. Yang sering saya lihat, penumpang prioritas seakan hanya diperbolehkan duduk di bangku prioritas. Seringkali penumpang non prioritas (yang terlihat masih muda dan sanggup berdiri) yang mendapat tempat duduk hanya diam saja dan paling banter hanya menyarankan penumpang prioritas untuk mencari tempat di bangku prioritas.

Ini memang soal kesadaran diri masing-masing sih. Sudah saatnya penumpang non prioritas yang beruntung mendapat tempat duduk di bangku non prioritas untuk rela memberikan bangkunya untuk penumpang prioritas. Karena sudah seharusnya penumpang prioritas itu diprioritaskan duduk di bangku prioritas maupun bangku non prioritas. Hak mereka jangan dibatasi untuk diperbolehkan duduk hanya di bangku prioritas. 

Sabtu, 12 November 2016

Bandar Udara Ramah Wisatawan

Membangun pariwisata di sebuah kota atau daerah tak pernah lepas dari yang namanya transportasi. Bandar udara sebagai salah satu dari prasarana transportasi merupakan unsur penting dalam memajukan pariwisata Indonesia, terutama sebagai pintu gerbang bagi pelancong yang berasal dari luar negeri.

Beberapa hari yang lalu saya dan teman saya mendapat dinas dari kantor untuk menghadiri sebuah Focus Group Discussion di kota Malang. Saya pernah sebelumnya ke kota Malang, namun ini kali pertama saya menginjakkan di Bandar Udara Abdurahman Saleh Malang. Kesan pertama saya akan bandar udara ini sungguh menyenangkan. Tenang, bersih dan rapi menjadi hal yang saya lihat di bandar udara ini. Apalagi ditambah dengan pemandangan sawah hijau yang menghampar di sekitar bandar udara ini. 

Sebagai seorang yang terbiasa hidup di Jakarta dan terbiasa menggunakan aplikasi taksi online, maka begitu sampai di bandar udara ini, saya lun segera membuka aplikasi Grab, Uber dan Gojek. Dari ketiga aplikasi tersebut, ternyata hanya aplikasi Grab yang menampilkan adanya taksi online di sekitar sini dan setelah mencoba memesan, ternyata saya tak kunjung juga mendapatkan kendaraan dari aplikasi Grab ini. 

Saya dan teman saya putuskan untuk berjalan keluar dari bandar udara untuk mencari taksi yang menggunakan argo. Persis pada saat kami sedang dalam perjalanan keluar bandar udara, ada sebuah taksi hijau yang feeling saya pasti menggunakan argo. Saya lupa warnanya, yang jelas taksi tersebut berhenti sekitar 10 meter dari tempat saya berdiri ketika melambaikan tangan menyetop taksi tersebut. Ketika saya sedang berjalan menuju taksi tersebut, dari arah kanan ada teriakan orang sambil berlari dengan nada marah. Orang tersebut lari mendekati taksi tersebut dan mengusir taksi tersebut untuk pergi dari kami. Saya kaget karena kejadian tersebut tidak saya sangka. Ternyata orang yang mengusir taksi tadi adalah salah satu pengemudi taksi dari koperasi bandar udara tersebut. Dia meminta kami untuk naik taksi yang dia kemudikan dengan tarif 80.000 rupiah (dan tak bisa ditawar lagi) untuk mengantarkan kami menuju Hotel Savana yang berdasarkan Google Maps hanya berjarak sekitar 10 km. Padahal ketika kami naik taksi berargo dari hotel ke bandar udara, kami hanya cukup membayar sekitar 40.000 rupiah.

Bandar Udara Ramah Wisatawan

Menurut saya, bandar udara memiliki peran penting dalam membangun gambaran positif akan pariwisata di suatu daerah. Terutama apabila bandar udara tersebut memiliki rute penerbangan internasional. Wisatawan luar negeri pasti akan lebih terkesan berwisata di Indonesia ketika mereka yang baru saja terbang dari kota asalnya disambut dengan keramahan dan kemudahan di bandar udara.

Salah satu faktor yang mendukung bandar udara menjadi ramah wisatawan tentunya adalah soal konektifitas bandar udara dengan tempat wisata atau pusat kota di daerah tersebut. Hal ini penting sekali mengingat rata-rata bandar udara berada di jarak yang jauh dari pusat kota, berbeda dengan stasiun kereta api atau terminal bus yang biasanya terletak di tengah kota.

Wisatawan seharusnya diberikan beberapa alternatif alat transportasi sehingga mereka dapat membandingkan dan menyesuaikan dengan "ukuran kantong" mereka. Pengalaman saya di Bandar Udara Incheon Korea Selatan, bandar udara ini memiliki beberapa alternatif alat transportasi menuju ke kota Seoul. Kita bisa memilih naik kereta, bis, ataupun taksi, tergantung kemampuan kantong kita.Hal ini berbeda sekali dengan pengalaman saya di bandar udara Malang yang telah saya ceritakan di atas. Saya hanya diberikan pilihan naik taksi tanpa argo yang dikelola oleh koperasi bandar udara tersebut.

Apa akibatnya jika hanya ada satu pilihan alat transportasi di sebuah bandar udara?
Menurut saya, dengan hanya ada satu pilihan alat transportasi, maka kita menjadi tergantung pada alat transportasi tersebut. Akibatnya, pihak penyedia alat transportasi tersebut bisa sekehendak hati mengatur harga. Mau tidak mau, kita sebagai pendatang di tempat tersebut naik alat transportasi tersebut dengan harga yang mengikuti apa yang ditawarkan pihak penyedia jasa tersebut.

Dan apa keadaan ini terjadi di bandar udara Malang saja?
Sayang sekali, hal ini tidak hanya ada di bandar udara Malang saja. Hampir sebagian besar bandar udara di Indonesia masih mengalami hal serupa. Hanya beberapa bandar udara besar seperti Soekarno Hatta dan Kualanamu yang memberi kita beberapa pilihan alat transportasi untuk menuju pusat kota, seperti taksi berargo, kereta api (di Kualanamu), dan bis DAMRI. Mungkin di beberapa kota besar, adanya aplikasi taksi online seperti UBER, GRAB dan GOJEK memberi kita beberapa alternatif tambahan, tapi hampir sebagian besar bandar udara di Indonesia belum bisa memberikan keramahan terhadap wisatawan dari sisi transportasi dari bandar udara menuju pusat kota.
 

Kamis, 19 Mei 2016

Perihal (Ikhlas) Memberi

Kemarin malam, saat saya dan istri saya tengah menunggu pesanan makanan kami datang di sebuah warung, tiba-tiba datanglah seorang pria tua bertampang memelas. Saya yang dasarnya orang yang gak tegaan tanpa pikir panjang mengambil selembar uang seribu rupiah dari kantong saya dan saya berikan kepada orang tua itu. Segera setelah pria tersebut pergi saya dan istri saya kembali mengobrol.

Di tengah-tengah obrolan kami setelah pria itu pergi, tiba-tiba pelanggan lain yang duduk di samping kami langsung berkata kepada kami

"Eh mas, tadi situ ngasih duit kan ke orang itu (baca - pria tua yang mengemis tadi) kan?
Tuh liat kesana. Tadi pas minta-minta dia keliatan kasihan kan. Tuh liat, dia lagi jalan dengan gagah"

Saya agak kaget dengan perkataan orang itu. Bukan karena perkataanya sih, tapi lebih karena tiba-tiba ada orang yang tak saya kenal berbicara kepada saya pada saat saya asyik mengobrol. 

"Kalo saya sih liat-liat mas kalo ngasih orang. Mending ngasih ke yang beneran berusaha."

Yang Penting Kita Sudah Memberi

Bagi saya memberi itu soal keikhlasan hati. Saya tak pernah berpikir apakah uang saya beri akan digunakan untuk beli rokok atau beli minuman keras. Saya tak pernah berpikir apakah orang tersebut berbohong demi mendapatkan uang atau tidak.

Trus berarti kamu turut melestarikan orang-orang malas dong Ben.

Sederhana saja sih jawabannya. Kalau memang masih memikirkan hal-hal yang seperti saya sebutkan di atas, itu berarti kita masih belum bisa ikhlas sepenuhnya untuk memberikan sesuatu kepada orang lain. Dan kalau memang belum atau tidak ikhlas, ya sudah tidak usah memberi dan tidak usah banyak berkomentar. Yang kadang aneh bagi saya itu ya sudah tidak mau memberi tapi malah ribut berkomentar. Seperti orang yang saya temui itu. 

Senin, 06 April 2015

From Wacana To Kenyataan

Manusia seringkali mempunyai banyak ide atau rencana dalam otaknya, tapi seberapa banyak ide atau rencana tersebut yang kita perjuangkan sungguh-sungguh untuk diwujudkan. Saya termasuk orang yang punya banyak sekali keinginan yang sebenarnya terlihat sederhana bagi orang lain, tapi saya sendiri merasa kalau kita tidak berniat untuk mewujudkannya maka selamanya semua keinginan itu hanya ada di otak kita atau paling banter masuk buku catatan "bucket list" atau resolusi tahun baru saja. 

Dalam sebulan ini, ada dua keinginan saya yang coba saya wujudkan. Yang pertama adalah membuat usaha sendiri, dan kedua adalah membuat reksadana.

1. Membuat Usaha 

Sebenarnya keinginan membuat usaha sendiri sudah ada sejak lama. Terlebih dulu seringkali ikut terpengaruh kata-kata motivator yang bilang "lebih baik jadi bos di perusahaan sendiri, daripada jadi direktur di perusahaan orang lain". Bukan, saya bukan baru saja membuat sebuah usaha perusahaan konstruksi atau perusahaan dengan kantor megah lainnya. Saya dan keluarga baru saja membuat sebuah usaha angkringan.

Buat yang lahir dan besar di Jakarta mungkin jarang sekali mendengar kata angkringan. Tapi kalau kalian yang lahir dan besar di daerah Jawa Tengah atau DI Yogyakarta, pasti kata "angkringan" sudah menjadi semacam kata "Starbucks" atau "cafe" di kalangan anak muda Jakarta. Simpelnya, angkringan adalah semacam tempat nongkrong dengan menu beragam namun yang pasti selalu ada dan paling terkenal adalah nasi kucing dengan beberapa lauk semacam sate usus, sate telur puyuh, tempe dan tahu bacem. Minuman andalannya tentu sang Jahe Susu atau Kopi Joss, segelas kopi hitam yang dicampur dengan arang yang membara.

Jadi setelah bermimpi dan berniat cukup lama membuat angkringan, sekitar 2 minggu lalu angkringan keluarga saya mulai dibuka. Angkringan kami ini mengambil nama "Angkringan Mbah Darman", yang diambil dari nama almarhum Ayah saya. Sempat mengalami kendala terutama di masalah tempat jualan, akhirnya salah satu keinginan saya untuk membuat usaha terwujud nyata.

2. Membuat reksadana

Sudah lama keinginan membuat reksadana ada dalam diri saya. Mungkin sudah sekitar 1 tahun yang lalu kira-kira keinginan ini mulai muncul. Jadi ceritanya waktu itu saya baru saja mengikuti kelas Akademi Berbagi Jakarta dengan guru Ligwina Hananto, seorang financial planner yang namanya kondang. Nah, pada saat Mba Ligwina mengajar, beliau berkata bahwa

"Coba kalian sisihkan 100-200 ribu dari gaji kalian untuk investasi reksadana. Uang segitu pasti ga kerasa buat kalian yang terbiasa menghabiskan 100-200 ribu untuk nongkrong di kafe atau makan steak, atau untuk bayar paket internet bulanan. Mungkin uang itu yang akan menyelamatkan kalian pada saat kalian kesulitan keuangan di masa depan"
Sejak kelas itu, saya bertekad untuk segera membuka reksadana. Dan, tekad saja ternyata tidak cukup ya kawan. Setelah sempat bersemangat menggebu-gebu, bertanya ke beberapa teman yang sudah buka reksadana dan akhirnya satu tahun berlalu cepat hingga beberapa hari yang lalu saya melangkahkan kaki ke kantor salah satu Manajer Investasi di daerah Sarinah. Dan voila, jadilah saya memiliki sebuah akun reksadana milik saya.

Hikmah dari semua ini adalah jangan berhenti untuk mewujudkan mimpi atau keinginan kita, bahkan setelah sekian lama dari pertama kali keinginan itu muncul.Jadi, jangan takut bermimpi (dan mewujudkannya) ya.

Minggu, 01 Februari 2015

Mari Bersyukur

Selamat Tahun Baru 2015. Ini menjadi tulisan pertama saya setelah berbulan-bulan vakum menulis di blog ini. Rasanya tangan dan otak saya tak selancar dulu ketika sedang rajin-rajinnya menulis. Semoga saja tulisan ini menjadi awal dari kebangkitan jiwa menulis saya. :)

31 Januari 2015

Kisah Pertama

Sekitar pukul 19.00 wib, saya dan istri saya tiba di Indomaret Poin Pasar Baru yang tepat berada di sebelah Hotel Tune, Jalan Samanhudi Jakarta Pusat. Saya kesini karena saya berniat mengerjakan pekerjaan kantor yang akhir-akhir sepertinya kian menumpuk banyak dan dikejar deadline. Tak ada kejadian spesial yang terjadi di sekitar saya. Beberapa orang keluar masuk ke lantai 2 convenient store tempat kami berada. Tepat di hadapan saya dan istri saya, duduk beberapa laki-laki dan perempuan yang tengah berbincang hangat. Saking hangatnya, sesekali mereka tertawa cukup keras hingga memecah konsentrasi saya. Di seberang gerombolan ini, duduk pula beberapa anak yang saya taksir berusia sekitar 14-15 tahun, yang tengah membicarakan teman-teman sekolah mereka. Ya, beberapa kata seperti “tugas” dan “semester” yang membuat saya menyimpulkan mereka masih berusia anak sekolah.

Sekitar pukul 20.00 wib, masuk satu wanita dengan seorang anak di sampingnya. Pikiran saya menyimpulkan mereka adalah seorang ibu dengan anaknya. Sekilas, saya melihat penampilan mereka layaknya orang-orang yang ada di sekitar situ. Awalnya saya perhatikan, mereka seperti menunggu orang lain. Mereka duduk berdua di meja kosong. Tak tampak mereka membawa minuman atau makanan yang lazimnya orang lakukan ketika duduk di bangku-bangku di lantai 2 ini.

Sekitar pukul 22.00, sembari menatap layar laptop saya, saya melihat sang anak yang tadi duduk berdua dengan sang Ibu, dan sempat turun dari lantai 2, tiba-tiba saja menata deretan bangku kosong dan merebahkan dirinya di bangku-bangku tersebut. Yang aneh, ketika ada karyawan Indomaret yang masuk ke lantai 2 untuk membersihkan lantai, karyawan itu sama sekali tak mengusirnya. Bahkan menurut saya sepertinya karyawan tersebut sudah hafal dan mengizinkan anak tersebut untuk tidur di tempat itu.

Lalu kemana sang Ibu yang tadi bersamanya?

Ibu yang tadi bersama sang anak, sejak sang anak tidur, saya perhatikan berada cukup lama di dalam toilet wanita. Sesekali dia keluar lalu menyalakan pengering tangan. Setelah sekitar dua atau tiga kali Ibu itu keluar masuk toilet, Ibu itu lalu menuju ke deretan bangku tempat sang anak tidur. Sang ibu pun duduk salah satu bangku di samping sang anak yang masih tertidur lelap. Setengah jam kemudian, saya melihat sang Ibu seperti dalam posisi tertidur. Diam tak bergerak dalam waktu cukup lama. Hanya sesekali menggerakan kepala dan membenarkan posisi jaket yang menutupi kepalanya.


Kisah Kedua

Masih di tempat yang sama, tiba-tiba masuk seorang bapak tua dengan pakaian lusuh, datang bersama seorang anak laki-laki berusia sekitar 10 tahun yang mengenakan kaos bertuliskan nama salah satu calon presiden di Pilpres 2014 yang lalu.

Setelah mendekati seorang laki-laki dan perempuan yang duduk di sebelah saya, bapak dan anak itu mendatangi saya dan istri saya. Mereka menawarkan jasa semir sepatu. Berhubung saya sedang memakai sandal jepit, maka saya pun meminta istri saya untuk memberikan bapak tersebut uang. Saya sedih karena bapak itu berkata bahwa dia butuh uang untuk makan anaknya. Segera setelah kami beri sejumlah uang yang menurut saya cukup untuk satu kali makan, bapak dan anak itu pergi turun ke bawah.

Sekitar 5 menit setelah kami memberikan uang kepada bapak tersebut, kami pun memutuskan untuk turun dan pulang kembali ke kost. Ketika kami sampai di lantai 1 tempat makanan dan minuman yang dijual, kami melihat sepintas bapak dan anak tadi sedang berada di rak makanan di deretan cemilan dan snack.

Saya tak mau menyimpulkan hal negatif dari apa yang dilakukan oleh bapak tersebut. Hanya saja di Indomaret Poin, pengunjung bisa membeli paket nasi dan lauk yang di siang hari bisa mencapai harga Rp. 25.000 per paket, dengan harga hanya 50 persen dari harga di siang hari. Menurut saya cukup worth to buy dibandingkan membeli snack “bungkus besar isi sedikit” yang harganya bisa mencapai Rp.9.000 per bungkus.
Apa kesimpulan saya?

Mari bersyukur atas apa yang Tuhan berikan kepada kita. Terutama untuk kita yang masih punya tempat tinggal, bisa bayar kost, makan tiga kali sehari, sesekali jalan ke mal atau nongkrong bersama teman-teman. Mari bersyukur jika kita masih punya pekerjaan atau usaha sendiri, dan tidak banyak mengeluh tentang bos yang galak, rekan kerja menyebalkan, makanan yang tidak enak, atau rumah yang panas karena tak menggunakan AC.

Saya jadi ingat tulisan di salah satu meme yang sempat beredar di timeline Path saya.

“Bersyukurlah di hari Senin kamu masih punya pekerjaan, bukan sedang mencari pekerjaan”.

Rabu, 24 September 2014

WHY DO I WANT TO BE A MASTER IN LEGAL TRANSLATION?

The need of translator in my office is something that unavoidable since my office handles all the things about legal matters in Directorate General of Civil Aviation. My recent job is between as a translator and a legal drafter. I know people will laugh if knowing that one of the legal drafters in Legal and Public Relation Division is not Bachelor of Law, but Bachelor of Arts.

Sometimes, in the middle of doing my job as a translator, I meet a confusion due to many words that rarely appears now coming up. As example, when I translate an international convention or regulations, I found some words that are hard and difficult to translate. In addition, there is no Legal English Indonesia Dictionary in my office, and the material that I have to translate is between legal terms and aviation terms. And as far as I know, there is no published dictionary that focusing on those matters.

I dream I can study Master in Translation or Applied Linguistic focusing Translation in overseas university or college. And not so long after I come back to Indonesia, I am going to make Legal Aviation English Indonesia Dictionary. I believe my dictionary would be helpful for translators who work on legal and aviation terms.

Kamis, 27 Maret 2014

Kalian HEBAT

Sudah beberapa minggu ini rasanya tangan dan otak saya buntu tak mau bekerjasama. Mungkin mereka saling marah dan saling menyalahkan mengapa tak pernah ada lagi tulisan hasil kerjasama mereka. Dalam rangka proses rujuk antara tangan dan otak saya, maka  saya memaksa mereka untuk kembali berkomunikasi dan berbicara untuk menghasilkan tulisan ini. Mungkin memang mereka harus saling mengenal kembali, agar saling menyayangi lagi *ealah* :).

Beberapa hari ini mendapat kabar gembira yang datang dari beberapa teman. Kabar gembira mereka yang akhirnya membuat saya gembira dan untuk selanjutnya merenung penuh perasaan.

Kabar gembira pertama saya dapatkan dari teman kuliah saya, sebut saja Aldo, yang akhirnya berhasil diterima menjadi Pengajar Muda Indonesia Mengajar angkatan VIII. Buat yang belum tahu, Indonesia Mengajar adalah sebuah program yang digagas oleh Anies Baswedan, dimana putra putri terbaik bangsa dipilih dan dikirim ke daerah-daerah pelosok di Indonesia. Disana para pengajar muda tersebut akan tinggal dan mengajar selama satu tahun penuh.
 
Berat? Ya seperti itulah keadaan yang saya bayangkan ketika dulu pertama kali mendengar tentang Indonesia Mengajar di tahun 2010. Membayangkan kesulitan-kesulitan yang harus dihadapi oleh para pengajar muda yang mungkin terbiasa dengan kehidupan kota besar dengan segala kemudahan, lalu tiba-tiba harus berjuang mengatasi keterbatasan demi keterbatasan ketika mengajar di daerah dimana ia ditempatkan. 
 
Buat saya, teman saya Aldo ini sungguh punya keberanian karena ia rela meninggalkan pekerjaannya demi mengejar impiannya menjadi pengajar muda. Saya tahu memang masa depan pengajar muda setelah ikut program biasanya bagus. Adik salah satu teman kantor saya yang juga seorang pengajar muda angkatan III  baru saja mendapatkan beasiswa Erasmus Mundus untuk melanjutkan studi S2 di Eropa. 

Kabar gembira kedua datang dari teman SMA saya, sebut saja Alford. Jadi ceritanya beberapa hari yang lalu saya janjian ketemu dengan dua teman SMA saya yaitu Alford tadi dan Amri. Kalau dengan Amri sih memang saya masih sering bertemu atau sekadar bercerita di telepon. Nah, untuk Alford tadi, saya sudah lama tidak bertemu. Mungkin sudah sekitar 1,5 tahun kami tak bertemu atau berkomunikasi. 

Ketika dikabari bahwa Alford ini sedang proses tes untuk kerja di Jakarta, maka saya pun senang karena itu berarti kita jadi bisa sering bertemu lagi. Sama ketika saya dulu datang ke rumahnya untuk baca komik dan majalah film. Hehe.. Dan ketika saya tanya dia sedang tes dimana, ternyata teman saya ini baru saja diterima sebagai CPNS di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Wohooooo.....Keren.
 
Saya senang mendengar berita ini karena dia memang pantas untuk mendapatkan pekerjaan ini. Apalagi posisi jabatan yang ia lamar sudah sesuai dengan background S1-nya yaitu Teknik Elektro. Saya senang karena ia bisa dapat kesempatan lebih baik dalam pekerjaannya. 
 
Kabar gembira ketiga datangnya dari teman kuliah saya. Sebenarnya sudah lama saya dengar berita gembira ini. Kabar gembiranya adalah teman saya, panggil saja dengan Asto, diterima di Otoritas Jasa Keuangan, instansi keren yang tugasnya melakukan pengaturan dan pengawasan terhadap kegiatan jasa keuangan di sektor Perbankan, sektor Pasar Modal, dan sektor IKNB. Saya belum sempat ketemu untuk berbincang-bincang dengan teman saya tentang bagaimana perjuangan dia mendapatkan pekerjaan ini. 
 
Apa moral of the story dari tulisan saya ini?
Bagi saya pribadi, di satu sisi saya senang dan bersyukur akhirnya teman-teman saya berhasil mendapatkan apa yang mereka perjuangkan. 
 
Kalian HEBAT.
 
Di satu sisi lain, ini mengingatkan saya untuk merenung lagi apa mimpi saya yang sepertinya saat ini dalam masa terlena dengan kenyamanan. Semoga saya bisa segera tersadar dan bisa memberi kabar gembira pada mereka.
 
Mari bangun dan mandi. :)

Senin, 03 Maret 2014

Perihal Mendengarkan Orang Lain dan Jodoh

Kalau judul di atas terlihat ingin bercerita tentang kisah jejaka atau gadis yang sedang galau masalah jodoh pasangan hidup gara-gara mendengarkan orang lain, kalian salah besar. Kali ini saya ingin bercerita mengenai kejadian yang saya alami kemarin siang.

Jadi ceritanya kemarin saya tengah mengantarkan pacar saya untuk mengikuti pelajaran Krisma di Gereja St. Yoseph Matraman. Setiap peserta, termasuk pacar saya, diwajibkan untuk membawa fotokopi Surat Baptis masing-masing. Nah, sayangnya Surat Baptis milik pacar saya ini belum sempat difotokopi. Berhubung saya pacar yang baik (Ya kan ya kan..:)), saya minta pacar saya untuk langsung menuju ruang kelas, sedangkan saya yang akan memfotokopi Surat Baptisnya. Disinilah cerita dimulai.

Begitu mulai mencari tempat fotokopi, saya tak mengira kalau perjalanan mencari tempat fotokopi ini akan lumayan lama. Saya tadinya berpikir, karena Gereja St. Yoseph Matraman berdekatan lokasinya dengan beberapa sekolah, maka pasti banyak tempat fotokopian di sekitar gereja.

Awalnya saya berjalan menuju ke jalan samping SMA Fons Vitae Marsudirini yang ke arah daerah Stasiun Pondok Jati.  Disitu saya mendekati tukang koran. Sembari membeli sebuah surat kabar, saya menanyakan dimana tempat fotokopi terdekat. Mas pedagang koran menjawab bahwa di dekat Stasiun Pondok Jati ada tempat fotokopi, "Cuma kalo hari minggu tutup mas", begitu katanya. 

Dia pun lanjut mengatakan "Mending Mas coba ke arah Jatinegara aja Mas."
 Oke. Berhubung saya tidak terlalu tahu daerah itu, saya pun menurut saja perkataan Mas pedagang koran tersebut dan berbalik ke arah Jatinegara.

Setelah berjalan kira-kira 20 meter dari arah tukang koran, saya mencoba bertanya pada seorang juru parkir yang tengah berdiri di depan mobil-mobil yang berjejer di pinggir jalan. Pertanyaan yang saya ajukan masih dengan format dan isi yang sama.

"Pak, numpang tanya. Tahu tempat fotokopian di sekitar sini gak Pak? Ke arah sana (saya menunjuk ke arah Jatinegara) ada ga ya Pak?"

"Disitu (si Bapak menunjuk ke arah Jatinegara) ada Mas. Cuma kalo hari Minggu tutup. Coba aja ke arah situ Mas (menunjuk ke arah jalan menuju Stasiun Pondok Jati). Di situ kayaknya ada."

Oke yang kedua. Saya bingung harus ke arah mana. Tapi dasarnya saya ini gampang banget dengerin pendapat orang lain, maka kaki saya pun saya arahkan kembali menuju jalan ke arah Pondok Jati sambil berharap petunjuk Bapak juru parkir tadi benar.
Berjalan 100 meter ke arah Stasiun Pondok Jati, saya menemukan sebuah warung. Tampak seorang Bapak tengah duduk disitu. Saya pun untuk ketiga kalinya menanyakan pertanyaan:

" Pak, tahu tempat fotokopi sekitar sini gak Pak? Katanya ke arah sana ada ya Pak (sambil tangan saya menunjuk ke arah Stasiun Pondok Jati"

Dan, tahu jawaban yang saya dapat dari Bapak itu?
"Disitu ada Mas (menunjuk ke arah yang tadi saya tanyakan), cuma kalo hari Minggu tutup biasanya. Coba aja mas cari ke arah Jatinegara"

Duarrrr.... Kesel sekaligus bingung. Mau cari dimana lagi kalo saya muter-muter disini terus. Dan, dasar memang saya orangnya "nurutan", saya pun berjalan ke arah Jatinegara. Hari sudah terasa sangat panas. Matahari seakan ikut memberi ujian kesabaran kepadaku. 

Setelah melewati Kantor Direktorat Peralatan TNI-AD, saya pun melihat seorang juru parkir di depan Mata Foto, dekat dengan Seven Eleven. Pikir saya daripada saya berjalan terlalu jauh tanpa tujuan, lebih baik saya bertanya pada juru parkir tersebut. Ternyata, setelah saya bertanya letak tempat fotokopi, juru parkir tersebut menunjuk ke arah gang di samping Mata Foto.

Titik terang. Itu pikiran saya ketika melihat memang ada beberapa tempat fotokopi dalam keadaan tertutup di gang tersebut. Memang sedari tadi saya hanya mendengarkan ucapan orang, tanpa memastikan apa benar tempat fotokopi yang dibilang tutup itu memang benar-benar tutup. Dan kini saya benar-benar melihat ada beberapa tempat fotokopi yang benar-benar tutup.  Saya terus berjalan menyusuri gang tersebut ke arah timur. Berharap di depan sana ada tempat fotokopi yang buka. Dan ternyata, setelah berjalan cukup jauh dari Jalan Matraman Raya, tak ada satu pun tempat fotokopi yang buka.

Sudah menyerahkah saya? Jujur saja saya sudah hampir menyerah. Terik matahari lagi-lagi menjadi alasan terkurasnya energi saya siang itu. Tapi, karena saya butuh (dan karena saya pacar yang baik,hehe..) maka saya putuskan untuk bertanya pada ibu-ibu yang sedang duduk di pinggir jalan, di depan sebuah tempat fotokopian yang tutup. 

"Bu, permisi. Apa di sekitar sini ada tempat fotokopian lagi ya Bu? Yang ke arah depan sana tutup semua."

Ibu itu menjawab, kurang lebih seperti ini:

"Iya Mas, disini tutup semua kalo hari Minggu. Coba Mas lurus aja lewat gang ini, lalu mentok belok kiri ke arah Stasiun Pondok Jati. Di depan stasiun itu biasanya ada tempat fotokopian yang buka di hari Minggu".

Titik terang lagi buat saya, meskipun kepercayaan saya akan omongan orang lain sudah  semakin pudar, mengingat sedari tadi gara-gara mendengar omongan orang lain, saya belum juga menemukan tempat fotokopi. Tapi, saya ya tetap saya. Daripada bingung mau kemana lagi, saya mengikuti saja apa saran dari Ibu beserta gengnya tadi.

Berjalan ke ujung gang, lalu berbelok ke kiri hingga ke arah Stasiun Pondok Jati. Mata saya melihat sambil memicingkan mata. Memastikan mata minus saya bisa melihat dengan jelas apa ada tempat fotokopi yang buka. Dan akhirnya.......

Sampai di persimpangan jalan dekat dengan kereta di dekat Stasiun Pondok Jati, saya menemukan sebuah tulisan "Foto Copy" di depan sebuah rumah. Segera saja saya menuju ke rumah tersebut untuk melihat apa tempat fotokopi di rumah ini buka atau tidak. Dan ternyata...........

Puji Tuhan ternyata tempat fotokopi tersebut buka. Tempat fotokopi dimana merupakan lokasi yang pertama kali ditunjuk oleh pedagang koran, orang pertama yang saya tanya. Akhirnya saya pun memfotokopi Surat Baptis pacar saya, dan segera kembali ke gereja.

Perihal Mendengarkan orang lain

Perjalanan saya yang saya ceritakan di atas tak mungkin terjadi sama persis jika saya tidak bertanya dan mendengarkan orang lain. Ada beberapa kemungkinan yang mungkin terjadi. Saya bisa saja berjalan terus ke arah Jatinegara tanpa tahu dimana letak tempat fotokopi di daerah sana. Atau saya juga bisa saja lebih cepat menemukan tempat lokasi fotokopi tanpa bantuan orang lain.

Seeing is believing.

Pepatah seeing is believing seharusnya saya praktikan dalam kejadian ini. Terlalu banyak mendengarkan orang lain, tanpa ada usaha untuk benar-benar membuktikan omongan orang lain tersebut. Mungkin kalau saya pakai prinsip ini, maka saya seharusnya membuktikan omongan pedagang koran yang mengatakan bahwa tempat fotokopi (yang akhirnya menjadi tempat saya akhirnya bisa fotokopi) pada hari Minggu tutup. 
Terlalu mudah percaya. Saya memang orang yang sangat mudah percaya pada orang lain. Tak heran saya sedikit suka gosip, teori konspirasi atau cerita lain yang belum terbukti tapi sudah digembar-gemborkan kemana mana.

Jodoh Tak Lari Kemana

Ini pelajaran kedua dari kejadian ini, setelah perihal mendengarkan orang lain di atas.
Bagi saya, kejadian ini merupakan bukti bahwa jodoh itu tak lari kemana-mana, selama kita berusaha terus untuk mendapatkannya. Coba bayangkan jika saya tak berusaha terus untuk mencari  tempat fotokopi hingga dapat, meskipun harus berputar-putar. 

Ilustrasinya begini. "tempat saya akhirnya bisa fotokopi" merupakan jodoh saya untuk memfotokopi. Meskipun saya mendapatkan saran dari beberapa orang yang membuat saya memutar jauh, tapi saya tetap saja kembali ke jodoh saya yaitu "tempat saya akhirnya bisa fotokopi" tersebut. Betul kan :)

Senin, 18 November 2013

Bule Native Speaker Bahasa Inggris Gak Bisa Bahasa Indonesia

Pasti begitu membaca judul tulisan saya ini, kalian masing-masing pasti bergumam dalam hati
 "Ya iya lah bule gak bisa bahasa Indonesia. Tapi mereka kan jago bahasa Inggrisnya".
 Dan kemudian sisi pintar saya ikut-ikutan ngomel dalam hati 
"Lagian kamu ben. Ngapain beginian juga ditulis".

Jadi begini ceritanya. Tadi siang saya tiba-tiba diajak teman saya untuk ikut ke dalam workshop seputar Kerjasama Pemerintah Swasta (Public Private Partnership) di bidang bandar udara. Nah, ternyata, workshop tersebut menghadirkan pembicara dari otoritas penerbangan dari New Zealand. Saat saya  ke workshop tersebut, workshop telah berlangsung separuh jalan karena ternyata acara telah dimulai dari pagi dan saya baru diajak teman saya tepat setelah waktu makan siang berakhir.

Di awal sesi siang ini, saya merasa tak ada yang aneh sampai dengan tiba waktunya salah satu dari tiga bule New Zealand itu berbicara. 

"Selamat siang Bapak Ibu. Siang ini .....bla....bla...bla."

Yap, si bule tersebut berbicara bahasa Indonesia di depan orang-orang Indonesia. Wow, keren sekali menurut saya tersebut, apalagi di antara tiga bule, hanya dia yang bisa berbahasa Indonesia lancar, tentunya dengan logat New Zealandnya.

Pembahasan dan diskusi antar peserta workshop (yang semuanya adalah orang Indonesia) selanjutnya berlangsung cukup menarik dan dilakukan dengan bahasa Inggris. Ya demi mempermudah diskusi terutama dengan dua bule yang tak bisa berbahasa Indonesia.

Gak Enaknya Jadi Bule Native Speaker Bahasa Inggris

Banyak orang yang berpikir bahwa menjadi bule yang native speakernya Bahasa Inggris itu pasti enak. Ya enaknya karena mereka tak perlu repot-repot belajar khusus atau kursus berbiaya mahal untuk bisa mahir berbahasa Inggris. Dan karena bahasa Inggris itu adalah bahasa internasional, maka mereka pun jadi lebih mudah ketika mereka harus bepergian ke luar negeri dan tak perlu repot untuk belajar bahasa lain.

Trus apa dong ga enaknya Ben?

Ga enaknya ya ada di kalimat terakhir paragraf di atas.

"Dan karena bahasa Inggris itu adalah bahasa internasional, maka mereka pun jadi lebih mudah ketika mereka harus bepergian ke luar negeri dan tak perlu repot untuk belajar bahasa lain. "

Nah, inilah yang menurut saya sisi gak enaknya jadi native speaker Bahasa Inggris. Karena merasa bahwa setiap orang di dunia (harus) bisa berbahasa Inggris, maka rata-rata para bule ini menjadi malas  dan tidak merasa penting untuk belajar bahasa lain (kecuali memang orang-orang bule yang pekerjaannya menuntut ia harus bisa bahasa lain selain Inggris). Coba bandingkan dengan kita sebagai orang Indonesia. Karena terkendala bahasa Inggris yang merupakan bahasa internasional bukan merupakan "bahasa ibu" kita, maka mau tidak mau kita jadi harus belajar bahasa Inggris agar bisa berbicara dengan para bule.

Jadi, jika diukur secara kuantitas, jika orang Indonesia yang "bahasa ibunya" adalah bahasa Indonesia, dan dia mampu berbahasa Inggris, maka dia menguasai dua bahasa. Sedangkan seorang bule, yang "bahasa ibu"-nya adalah bahasa Inggris, karena merasa tidak penting untuk belajar bahasa lain, maka dia hanya menguasai bahasa Inggris. Untuk orang Indonesia, dua bahasa tersebut belum termasuk bahasa daerah yang dia kuasai lho. :)

Selamat berbangga menjadi orang Indonesia.

Minggu, 17 November 2013

Diplomasi Pacaran Ala Amerika Serikat

Privasi
“pri•va•si n kebebasan; keleluasaan pribadi: orang dapat menyewa kamar tanpa kehilangan –“
Sumber: kbbi.web.id

Sumber gambar: http://ictwatch.com/internetsehat/wp-content/uploads/2012/10/privasi.jpg

 Akhir-akhir ini dunia internasional tengah heboh dengan berita bahwa Amerika Serikat menyadap saluran telekomunikasi, baik telepon maupun email, dari beberapa pemimpin negara, yang tak lain adalah negara-negara yang selama ini menjalin hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat . Tak pelak hal tersebut memicu kemarahan dari beberapa pemimpin dunia, di antaranya Presiden Brazil Dilma Rousseff yang langsung membatalkan kunjungan kenegaraannya ke Amerika Serikat di bulan Oktober lalu (dan entah kenapa SBY yang juga menjadi salah satu pemimpin negara yang disadap malah tak bereaksi apapun…).

Mengapa kasus penyadapan seperti ini (sudah seharusnya) memicu kemarahan para pemimpin dunia?

Saya memang bukan pengamat intelijen ataupun militer, politik dan hal-hal yang berat lainnya. Namun saya mencoba untuk membayangkan konteks penyadapan yang dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap para pemimpin dunia, menjadi dalam sebuah konteks hubungan pacaran.

Bagaimana perasaan kamu seandainya kamu masih sedang dalam tahap pacaran, namun pacar kamu ternyata setipe dengan Amerika Serikat. Dengan dalih ingin hubungan kalian lancar dan bahagia, pacar kamu mencoba “memata-matai” kamu. Mungkin caranya tidak akan secanggih National Security Agent milik Amerika Serikat, yang menggunakan teknologi dan alat-alat yang canggih. Hal yang biasa dilakukan oleh pacar tipe Amerika Serikat yang “insecure” itu biasanya adalah mereka rajin mengecek handphone kamu, meminta semua username dan password akun social media yang kamu punya, dan setiap kamu pergi kemana pun tanpa dia kamu harus wajib setor foto dimana kamu sedang berada.

Pacaran menurut saya adalah masa dimana kita belajar untuk saling percaya terhadap pasangan kita, sebelum kita memasuki masa pernikahan. Dan menurut saya lagi, hubungan yang saling percaya itu harusnya justru membuat kita mampu memberi kebebasan bagi pasangan kita, termasuk di dalamnya adalah tetap member dia privasi terhadap kehidupan pribadinya. Saya pribadi termasuk cowok yang belajar untuk memberi kepercayaan terhadap pasangan saya dengan cara tidak membuka handphone pasangan saya tanpa izinnya atau mengawasi setiap “status” Facebook, atau kicauannya di twitter.

Kenapa saya melakukan itu terhadap pasangan saya?

Karena saya sendiri pasti akan merasa risih dan merasa privasi saya terganggu seandainya pacar saya mengawasi setiap status FB dan kicauan twitter saya, atau mengecek setiap SMS atau email yang masuk ke handphone saya. Bagi saya, seandainya pasangan saya melakukannya, itu artinya dia tidak percaya sepenuhnya terhadap diri saya. Dan menurut saya, melakukan tindakan “memata-matai” seperti itu sudah sangat berlebihan.

Nah, kembali ke judul tulisan ini.
Kalau kamu saja marah dan tidak suka jika pacar kamu “memata-matai” privasi kamu, apalagi dengan para pemimpin negara yang aktivitas telekomunikasinya disadap oleh Amerika Serikat. “Privasi” yang kamu miliki sebagai pribadi mungkin hanya berpengaruh terhadap dirimu saja, namun bagi seorang pemimpin negara, “privasi” yang dia miliki itu berpengaruh bagi negara yang dipimpinnya. Bisa saja “privasi” itu berupa kebijakan militer, politik, ekonomi, dan kebijakan-kebijakan lainnya yang masih bersifat rahasia dan penting.  Perilaku penyadapan yang dilakukan Amerika Serikat itu bagi saya artinya Amerika Serikat tidak percaya terhadap negara-negara sahabatnya. 

Jadi, seandainya pacar kamu juga memata-matai dan menyadap aktivitas telekomunikasi kamu seperti halnya Amerika Serikat, apa yang kamu lakukan? Protes atau diam saja?

Minggu, 03 November 2013

Kisah Tempayan Yang Retak


sumber gambar: hejokor.com

Alkisah ada seorang petani yang memiliki dua buah tempayan besar yang setiap pagi selalu ia gunakan untuk membawa air dari mata air menuju ke rumahnya. Satu dari tempayan milik petani itu dalam kondisi retak. Meski retak, si petani tetap saja menggunakan tempayan yang retak tersebut, walaupun memang air yang berhasil dibawa oleh si tempayan retak tak pernah penuh ketika sampai di rumah.

"Aku merasa tak berguna sekali. Aku tak pernah bisa membawa air secara penuh." kata si tempayan rusak kepada si tempayan utuh.

"Hai tempayan retak temanku. Janganlah kamu bersedih atas keretakanmu. Lihatlah apa yang sudah kamu berikan kepada si petani", balas si tempayan utuh.

Tak mengerti dengan maksud tempayan utuh, maka si tempayan retak pun bertanya.

"Aku tak mengerti maksudmu. Aku ini tak bisa memberikan apa-apa ke si petani. Bahkan aku hanya membuatnya lelah tanpa bisa memberikan air yang utuh."

Jawab si tempayan utuh, "Besok pagi, lihatlah ke tanah sepanjang kebun milik petani maka kau akan mengerti yang aku maksud."

Esoknya, seperti biasa si petani pergi pagi-pagi sekali menuju mata air. Ia menyusuri kebun miliknya sambil membawa kedua tempayannya. Setelah memenuhi kedua tempayannya dengan air, si petani pergi menuju kembali ke rumahnya sembari memikul tempayan berisi air tersebut.

Teringat akan perkataan si tempayan utuh, maka si tempayan retak pun memperhatikan tanah sepanjang perjalanan si petani dari mata air menuju rumahnya. Terkejutlah dia setelah sadar bahwa tanah tandus yang setiap hari ia lewati bersama si petani dan si tempayan utuh, kini telah dipenuhi dengan tanaman bunga dengan warna-warni yang sungguh indah. Ia terkejut sembari bertanya dalam hati "apakah ini hasil perbuatanku".

Si tempayan utuh yang memperhatikan tingkah si tempayan retak yang tampak melamun, kemudian tersenyum dan berkata.
"Tanah tandus itu kini dipenuhi tanaman bunga karena perbuatanmu. Setiap hari air yang keluar dari bagian tubuhmu yang retak telah membuat tanah tandus itu menjadi subur."

Si petani yang sebenarnya telah lama mendengar percakapan kedua tempayan tersebut, lalu ikut berkata kepada si tempayan retak.

"Dengar itu hai tempayan retak. Jangan berkecil hati karena apa yang menjadi kelemahanmu. Ingatlah bahwa di balik sebuah kelemahanmu, kamu itu bisa berguna untuk sesamamu. Jadi jangan pernah merasa tidak berguna ya."

Mendengar perkataan si petani dan si tempayan utuh, si tempayan retak pun tersenyum dan berkata.
"Terima kasih kawanku. Aku berjanji tidak akan lagi merasa tidak berguna."

------------------------------------------

NB: Kisah tempayan retak ini saya dengar dan sarikan dari khotbah pada saat saya mengikuti misa pada 3 November 2013 pukul 18.30 WIB di Gereja St. Yohanes Penginjil Barito.



Minggu, 27 Oktober 2013

Selamat Hari Blogger Nasional

Tepat hari ini, tanggal 27 Oktober, enam tahun yang lalu, perhelatan Pesta Blogger untuk yang pertama diadakan. Dan, M.Nuh yang saat itu menjabat sebagai Menkominfo pun berinisiatif mencanangkan tanggal 27 Oktober sebagai Hari Blogger Nasional.

Berbicara mengenai menjadi blogger, saya mulai menulis di blog saya ini di tahun 2009. Jadi saya resmi menjadi blogger sudah lebih dari 4 tahun, tepatnya 4 tahun 4 bulan 25 hari karena postingan pertama saya adalah di tanggal 2 Juni 2009 (lihat postingan saya disini). 

Memelihara sebuah blog itu menurut saya gampang-gampang susah. Sisi gampangnya adalah kita bisa saja menyalin atau menjiplak tulisan orang lain lalu mempostingnya di blog kita. Tapi itu sangatlah haram hukumnya bagi saya. Bagi saya lebih baik saya hanya memposting beberapa kalimat saja, daripada memposting artikel panjang tapi hasil jiplakan karya orang lain.

Nah, yang sering terjadi dari memelihara sebuah blog adalah justru sisi susahnya. Ada susah mencari ide tulisan, susah menjaga mood untuk menulis, susah untuk membuat tulisan yang enak dibaca, dan lain sisi susah lainnya. Saya sendiri termasuk blogger yang agak susah menjaga konsistensi mengisi blog saya ini dengan tulisan. Tulisan saya sebelum postingan ini adalah pada tanggal 13 Oktober 2013, itu akhirnya sudah 14 hari alias 2 minggu blog saya ini puasa tulisan baru.

Cerita apa lagi ya?????

Oh iya, mengenai manfaat ngeblog aja ya.
Ngeblog itu bagi saya banyak sekali manfaatnya. Yang pertama adalah dari ngeblog saya bisa belajar untuk mengemukakan pendapat secara sistematis. 

Jadi begini. Saya ini seringkali tidak sistematis ketika mengemukakan pendapat yang efeknya akan membuat orang kebingungan ketika berbicara dengan saya. Nah, dengan ngeblog ini, saya belajar untuk menulis secara lebih terarah dan sistematis. Saya tak tahu sih apa cara mengemukakan pendapat saya sekarang ini ketika berbicara sudah lebih sistematis atau belum, tapi yang jelas saya merasa lebih baik daripada saya sebelumnya.

Nambah temen. Ya memang saya bukan termasuk selebblog (istilah untuk blogger yang terkenal) dan blog saya pun tidak termasuk terkenal di kalangan para blogger. Tapi hasil dari ngeblog ini, saya bisa kenalan dan nambah teman, terutama saat sedang kopi darat seperti pada acara Pesta Blogger dan acara sejenisnya. 

Bisa jadi penghasilan atau dapat hadiah.
Nah kalau yang satu ini sih belum kejadian pada saya. Saya sempat memang mengikuti beberapa lomba blog, tapi sampai saat ini belum pernah mendapat hadiah alias menang pada lomba blog tersebut. Semoga ke depannya saya bisa ikutan dan menang lomba blog ya. Amin (numpang doa ya. :)

Akhir kata, cukup sudah tulisan saya ini. 

Lho kok begitu aja ben tulisannya?
Ya karena saya harus melakukan hal yang darurat. Apa itu? Makan malam. Gak jelas? Ya memang. :P

Mengulang judul tulisan saya ini, Selamat Hari Blogger Nasional ya teman-teman blogger semua. Buat yang belum ngeblog, ayo buruan ngeblog. Buat yang sudah ngeblog, ayo semakin rajin ngeblog. Percaya deh, sesederhana dan se-"gak penting" apapun tulisan kalian, pasti di luar sana ada orang yang menganggap tulisan kita penting. Ya minimal pacar atau pasangan kalian lah. Ya kan..:)

Minggu, 13 Oktober 2013

30 Hari Tanpa "Zona Nyaman" Smartphone

sumber: http://www.littlehouseliving.com

Tulisan ini bukan merupakan sebuah ajakan untuk membuang smartphone kamu dan bertahan untuk tidak memakainya selama 30 hari. Bukan. Ini bukan tentang itu. Tulisan ini lebih menjadi semacam "refleksi" bagi saya yang sampai hari ini sudah 22 hari menjalani aktivitas sehari-hari tanpa smartphone. Itu artinya saya memulai tak menggunakan smartphone pada tanggal 21 September 2013.

Baru 22 hari kok ditulisnya 30 hari? Ya karena memang target saya adalah bisa melewati hidup saya 30 hari tanpa smartphone.

Sebelum tanggal 21 September, saya adalah seseorang yang aktif di sosial media menurut ukuran teman-teman saya, ya meskipun saya bukanlah seorang buzzer atau selebtwit yang rajin sekali ngetwit atau bikin status di Path. Tak heran, keaktifan di sosial media tersebut membuat saya sangat sering sekali membuka smartphone saya (waktu itu saya punya HP Android.). Bangun pagi langsung ngecek HP. Mau makan, foto makanan dulu buat update Instagram atau Path. Pokoknya, hidup saya sangat-sangat sering terfokus hanya pada HP saya. Bahkan seringkali, saat kerja di kantor pun menjadi tidak fokus gara-gara asik ngetwit (ampun boss...hehe..).

Dan, tepat tanggal 20 September malam, semua itu lenyap begitu saja. HP saya dicuri pada saat saya sedang naik bus Kopaja menuju rumah.

Awalnya, saya merasa benar-benar kehilangan suatu "kebiasaan-kebiasaan" seperti ngetwit kapanpun, ngecek Path, atau buka email setiap waktu. Ya memang, saya masih saja bisa melakukan kegiatan-kegiatan tersebut melalui laptop saya. Tapi kan, tidak mungkin juga saya membuka laptop saya di bus Transjakarta atau Kopaja, hanya untuk mengecek email atau twitter kan. 

Sehari setelah saya kehilangan HP saya, sempat terpikir saya untuk langsung membeli smartphone yang baru lagi. Tapi, kemudian saya berpikir apa saya harus langsung membeli smartphone lagi, sedangkan sebelum kehilangan HP yang ini, sebulan sebelumnya pun saya sudah kehilangan sebuah smartphone.Kemudian, setelah berpikir baik-baik, saya pun memutuskan untuk selama 30 hari tidak menggunakan smartphone, dan hanya akan menggunakan HP yang cuma bisa SMS dan telepon saja.

Sulit, sungguh sulit memang menghilangkan kebiasaan untuk tiap waktu mengecek HP. Tapi lama kelamaan, kebiasaan-kebiasaan tersebut bisa sedikit demi sedikit hilang. Bahkan saya merasa, hasrat saya untuk bersosial media pun semakin merasa turun. Setelah 22 hari ini tanpa smartphone, saya merasa ternyata memang menggunakan smartphone memiliki efek negatif.

Salah satu efek negatif yang saya baru benar-benar saya sadari adalah betapa sebuah smartphone menjadi sebuah "zona nyaman" bagi seseorang. Saya tak mau bilang bahwa "zona nyaman smartphone" itu buruk. Tapi ketika seseorang selalu menjadikan "zona nyaman smartphone" sebagai pelarian dari lingkungan yang tidak nyaman di sekitarnya, maka saya memandang itu menjadi sebuah hal yang negatif.

Kalian sering tidak ketika ada di sekelompok orang yang baru saja kalian kenal, lalu kalian merasa tidak nyaman dengan orang-orang baru tersebut, dan akhirnya kalian pun menyibukkan diri dan tenggelam dalam "kenyamanan" yang ditawarkan oleh smartphone kalian.

Sebelumnya, saya pun menjadi orang yang seperti itu. Cuma ketika saya kehilangan "zona nyaman smartphone" tersebut, saya pun memaksa diri saya untuk sedikit berubah. Saya "memaksa" diri saya untuk belajar lebih mendengarkan perkataan orang-orang yang sedang berbicara kepada saya dan menanggapi perkataan mereka. Karena sungguh, ketika kita bertemu sahabat-sahabat atau teman-teman dekat kita, dan mereka disibukkan dengan smartphone masing-masing, sedangkan kita tak punya smartphone, rasanya sungguh tidak enak. 

Saya memang tak berniat untuk selamanya tak menggunakan smartphone, karena memang saya masih butuh beberapa aplikasi yang hanya ada di smartphone untuk mendukung kegiatan sehari-hari saya. Tapi semoga, setelah pelajaran 30 hari tanpa "zona nyaman" smartphone ini, saya lebih bijak dalam menggunakan smartphone. Intinya sih, keseimbangan antara dunia maya dan dunia nyata. Belajar lebih mendengarkan orang dan menanggapinya. Betul kan. :)

Rabu, 31 Juli 2013

Mari Melihat, Mari Merenung


Beberapa hari yang lalu, teman saya menyebar link video ini di grup Whatsapp yang saya ikuti. Mungkin efek setelah menonton video ini akan berbeda-beda bagi setiap orang, tapi saya sendiri sempat menitikkan air mata setelah selesai melihat video ini. :')

Mari melihat, mari merenung.

Selamat menonton. :)

Sabtu, 11 Mei 2013

Apa Semua Harus Dengan Passion?


Sumber foto: sammykirana.blogspot.com
Apa passionmu?

Kata passion memang lagi ngetren banget di buku-buku motivasi dan seminar-seminar tentang dunia kerja.Bahkan orang-orang pun seakan berbondong-bondong membicarakan passion, dan seakan berbicara tentang passion adalah menjadi kewajiban ketika ditanya tentang masa depan,karier dan hal-hal seperti itulah.
Passion bagi saya adalah sesuatu minat yang besar terhadap sesuatu hal yang membuat kita mau melakukan hal tersebut dengan penuh semangat dan rasa bahagia. Passion setiap orang tentulah berbeda-beda. Saya ambil contoh dari film 3 Idiots saja. Dalam film tersebut diceritakan salah satu tokoh yang merupakan mahasiswa teknik, akhirnya memilih mengikuti passionnya di bidang fotografi dan akhirnya ia sukses menjadi seorang fotografer majalah internasional.

Lalu pertanyaan saya kemudian adalah apakah semua hal yang harus kita lakukan harus berdasarkan passion kita. Dan apakah semudah itukah mengikuti dan mewujudkan passion kita.

Beberapa waktu lalu, saya menonton film berjudul 9 Summer 10 Autumn, sebuah film yang menceritakan kisah hidup Iwan Setyawan. Dalam film tersebut, dikisahkan Iwan Setyawan, yang lahir dan besar di keluarga sangat sederhana, ibunya adalah ibu rumah tangga dan ayahnya adalah seorang sopir angkot. Saking sempitnya rumah yang ditempati Iwan Setyawan dan ia harus tidur berbagi ranjang dengan 4 orang kakak dan adik perempuannya, Iwan Setyawan memiliki mimpi bahwa suatu hari nanti ia ingin memiliki kamar pribadinya sendiri. Singkat cerita, Iwan akhirnya berhasil menjadi Direktur sebuah perusahaan di New York, dan berhasil memiliki kamarnya sendiri. Bahkan, ia telah membangunkan kamar-kamar bagi para keponakannya.

Mengejar dan mewujudkan passion memang sangat penting menurut saya. Tapi selain memikirkan passion, bagi saya ada hal-hal lain yang juga penting ketika kita berpikir tentang masa depan kita. Tanggung jawab kepada orang tua dan keluarga serta membahagiakan mereka semua menurut saya adalah salah satu hal yang penting selain passion. Ada kalanya pula, tanggung jawab menjalankan tugas dan pekerjaan adalah hal lain yang penting selain passion.

Saya jadi ingat ucapan seseorang ketika saya mengikuti diskusi film "Lincoln" beberapa waktu yang lalu. Salah seorang pembicara mengatakan bahwa "tidak semua pekerjaan itu membutuhkan passion. Presiden misalnya. Kita tidak mungkin mempercayakan negara kepada orang yang hanya mengikuti passion-nya". Pikiran saya jadi membayangkan bahwa kita punya Presiden yang sibuk memikirkan passionnya, misalnya musik atau seni, dibandingkan memikirkan negaranya.Hehe..Lucu mungkin ya.

Sekali lagi, mengikuti passsion itu penting. Namun bukanlah yang terpenting. Itu menurut saya ya.
:)

Jumat, 10 Mei 2013

Fitness, Diet dan Pesta Pernikahan

Apa hubungan antara fitness, diet dan pesta pernikahan?
Kalau kamu berharap saya akan menjelaskan secara ilmiah dan teoritis apa hubungan ketiga hal itu, maka lebih baik jangan meneruskan untuk membaca tulisan ini. Karena sebenarnya tulisan ini adalah hasil pikiran iseng saya yang melihat bahwa ternyata fitness, diet dan  pesta pernikahan itu memiliki hubungan yang bisa dibilang sangat erat.

Kemarin sore, saya dan teman saya pergi ke tempat fitness di kantor saya. Di tempat fitness tersebut, kami bertemu dengan salah seorang teman yang sedang latihan. Setelah kami ajak ngobrol, ternyata dia bilang bahwa teman saya tersebut akan menikah pada bulan Agustus.

Sepulang dari tempat fitness tersebut, saya jadi teringat dengan beberapa teman kantor saya yang juga rajin fitness dan melakukan diet beberapa bulan sebelum pernikahan. "Biar kebaya dan jasnya muat", begitu kata mereka. Ya intinya mereka menjaga penampilan agar pada saat pesta pernikahan atau resepsi, mereka bisa tampil menawan cantik dan tampan.

Kemudian pikiran saya kembali bertanya, "Sebegitu pentingkah tampil menawan di pesta pernikahan dibandingkan setelah menikah?"

Ya ya ya. Saya tau saya ini belum kompeten bila berbicara soal pernikahan. Lha wong saya sendiri saja belum menikah. Saya sadar si tampil menawan cantik dan tampan itu memang sangat penting. Siapa sih yang gak mau tampil bak raja dan ratu sehari di pesta pernikahan yang diharapkan hanya sekali seumur hidup. Tapi apakah kita hanya ingin tampil menawan hanya pada saat pesta pernikahan?

Menurut saya,baik sebelum menikah  maupun setelah menikah,penampilan itu perlu dijaga.Bahkan menurut saya,menjaga penampilan setelah pesta pernikahan jauh lebih penting dibandingkan sebelum pesta pernikahan. Bukankah usia pernikahan kita jauh lebih panjang daripada usia pesta.

Ah sudahlah.Jangan percaya omongan saya soal hal ini karena saya sendiri belum menikah.hehe..

Sabtu, 27 April 2013

Bersyukur atau Mengeluh

Seberapa sering kita bersyukur, dan seberapa sering kita mengeluh dalam sehari?

Akhir-akhir ini saya mendapati diri saya sendiri seringkali mengeluh. Banyak hal yang menjadi bahan saya dalam mengeluh, sebut saja mulai dari kemacetan jalan, kerjaan yang tak kunjung selesai, cuaca yang panas dan tak menentu, gaji yang seakan tak cukup terus dan berbagai permasalahan lain yang membuat saya seakan secara otomotis mengucapkan kata-kata keluhan. Diantara hal-hal tersebut, salah satu hal yang sering kali saya keluhkan adalah soal gaji yang terasa sangat kecil dan tidak cukup untuk membiayai kebutuhan saya.

Semalam, sahabat sejak SMA saya menelepon. Banyak hal yang kami ceritakan, ada tentang mahalnya harga rumah di sekitar Jakarta, macetnya Jakarta, studi lanjut, dll. Di tengah-tengah percakapan kami, saya mengeluh seperti ini "Eh, aku bingung ni. Entah kapan ya tunjangan kinerja di kementerianku keluar". 

Selanjutnya sahabat saya menjawab seperti ini "Ben, mungkin gaji kamu belum sebesar di kementerianku, tapi kamu udah punya Angel (nama pacar saya), rumah (meski cicilan), dan hal-hal lain yang aku ga punya. Kamu harus bersyukur Ben".

Kita sebagai manusia, termasuk saya, memang terbiasa untuk memandang bahwa kita lah orang yang paling tidak beruntung di dunia, Tak punya uang banyak lah, tak punya pacar lah, tak punya teman lah, dan hal-hal lain yang membuat kita merasa kita ini paling sengsara. Padahal disisi lain, mungkin banyak juga orang-orang yang justru merasa iri karena dengan apa yang sudah kita punya, tapi mereka tak punya.

Bersyukur dengan apa yang kita punya adalah kunci agar kita bisa memandang hidup kita lebih positif. Bukankah dengan mengeluh berkali-kali sekalipun masalah dan problematika itu tak akan selesai begitu saja bukan.

Hehe..Ini kok saya jadi merasa seperti motivator ya.
Pokoknya, mari bersyukur setiap saat, dan berhenti mengeluh. Mau tau cara asyik untuk bersyukur?
Saya sendiri sejak beberapa bulan lalu membiasakan diri untuk menuliskan hal-hal apa yang saya syukuri setiap hari. Memang sih, kadang saya males mengisi "celengan" syukur tersebut dengan alasan ngantuk, dll. Tapi semoga, setelah menulis postingan ini, saya kembali rajin menulis dan mengisi "celengan" syukur saya. Dan pastingan kembali lagi rajin posting di blog ini.


Jadi, sudahkah anda bersyukur hari ini?


Selasa, 15 Januari 2013

Sedikit Renungan Dari Hujan

sumber foto : http://andybock.com/images/KL/CityDriveRain1.jpg


Malam itu Jakarta kembali diguyur hujan. Saya masih di jalan, menumpang mobil salah seorang teman kantor yang menuju ke Mampang. Dari kantor saya di Merdeka Barat, mobil melaju melewati jalan-jalan di Jakarta hingga ke daerah Rasuna Said alias Kuningan.Kuningan macet seperti biasanya. Mobil-mobil melaju perlahan. 

Bang Ray, pacar dari teman kantor saya Melissa, yang malam itu mengemudikan mobil ternyata saat itu belum makan malam. Segera saja dia menengok kanan kiri jalan untuk mencari tukang makanan. Dan....ternyata seorang pedagang bakpau dan juga seorang pedagang minuman berdiri di pinggir jalur cepat di sekitar Pasar Festival. Segera saja kaca mobil dibuka, dan dipanggilah pedagang bakpau.

Singkat cerita, akhirnya Bang Ray membeli bakpau tersebut dan memakannya sambil menyetir mobil yang masih berjalan perlahan akibat macet. Tak jauh dari tempat pedagang itu berdiri, Bang Ray tiba-tiba berkata " Bagi sebagian orang, jalan macet gini dianggap musibah. Tapi bagi orang-orang seperti pedagang bakpau dan minuman itu, macet seperti ini adalah anugerah".

Deg...hati dan otak saya langsung tersentil mendengar ucapan Bang Ray tersebut. Langsung saja hati saya menyetujui ucapan tersebut, tap disisi lain saya pun seperti dibuat malu bahwa ternyata saya ini termasuk orang yang sering mengutuki macet. Saya selama ini tidak pernah sadar bahwa ternyata di samping sebagian besar orang yang membenci dan mengutuki macet, tapi di sisi lain tak sedikit pula orang-orang yang malah sangat bersyukur akan adanya macet, dan malahan mereka memanfaatkan momen-momen macet tersebut.

 



Minggu, 14 Oktober 2012

Orang Baik, Banyak Teman



Ya ya ya. Pertama kali melihat video di atas pas tanpa sengaja salah satu orang yang saya follow memberi link video ini. 

Terharu sekali rasanya setelah melihat video ini. Betapa romantisnya seorang Brad, yang meminta bantuan teman dan keluarga, untuk membantu dia dalam melamar Emily. Tapi yang membuat saya berpikir bukan tentang keromantisan cara melamar Brad. Yang membuat saya ingin menulis tulisan ini adalah betapa ternyata orang baik memang akan mempunya banyak teman yang baik pula.

Kenapa saya bilang begitu?
Bayangkan saja, dalam video tersebut banyak sekali orang yang terlibat dalam "lip-dub" yang digunakan untuk melamar Emily. Andai saja Emily dan Brad bukanlah orang baik, apakah ada orang-orang yang dengan sukarela membantu mereka dan datang demi acara lamaran mereka?

Saya percaya bahwa kita itu tidak akan pernah bisa terlepas dari bantuan dari teman-teman kita. Saling membantu dan menolong. Jadilah orang baik, dan orang pun akan baik terhadap kita. Sedang menjadi baik saja pasti masih ada yang tidak suka kita, apalagi kalau kita jadi orang jahat.


Masa Pertumbuhan Kita

Kalian pasti pernah menerima ucapan dari teman atau saudara kalian dengan bunyi kira-kira seperti ini " Makan yang banyak ya. Kan lagi ...