Tampilkan postingan dengan label jurnal sehari-hari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jurnal sehari-hari. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Oktober 2020

Masa Pertumbuhan Kita

Kalian pasti pernah menerima ucapan dari teman atau saudara kalian dengan bunyi kira-kira seperti ini "Makan yang banyak ya. Kan lagi masa pertumbuhan". Gimana, sounds familiar, right?

Biasanya ucapan-ucapan ini seringkali dilontarkan orang dengan banyak maksud. Kalau diucapkan kepada seorang anak usia sekolah dasar sampai usia SMA misalnya, mungkin ucapan ini bisa diartikan secara literal. Makan yang banyak ya artinya makanan yang dimakan akan menjadi sumber gizi bagi pertumbuhan fisik kita.

Bagaimana dengan maksud lainnya? Oh tentu saja, kalau kamu bertubuh kurus dan kecil meskipun sudah berusia 25tahun, ya ucapan ini akan akrab didengar setiap kali kalian makan bersama teman atau keluarga. Maksud ucapan itu ya mungkin karena temanmu atau keluarga masih yakin bahwa dengan makan yang sangat banyak, maka tubuhmu bisa tumbuh ke atas dan ke samping.

Tapi bicara soal masa pertumbuhan, sebenarnya sampai kapan sih kita bertumbuh?

Dari artikel yang saya baca di Klikdokter, pertumbuhan tinggi badan manusia akan berhenti sebelum usia 20 tahun. Itu kalau pertumbuhan secara fisik. Lalu bagaimana dengan "pertumbuhan" kita sebagai seorang manusia?

Menurut saya pribadi, manusia itu harus senantiasa bertumbuh. Tak peduli berapa usia kita, setiap orang harus selalu punya kemauan untuk bertumbuh.

Konteks bertumbuh ini bisa kita artikan secara fisik misalnya bagaimana seseorang "bertumbuh" dengan bertekad membentuk badannya menuju body goals. Rutin ke tempat gym dan minum aneka suplemen untuk membentuk otot-otot di tubuh. Ataupun konteks bertumbuh yang lebih luas seperti bertumbuh secara mental, pengetahuan, skills, dan network.

Masa pertumbuhan kita adalah sepanjang usia kita

Masa pertumbuhan kita adalah sampai dengan kita menutup mata dan meninggalkan dunia ini. Setiap individu bertumbuh dalam hal-hal yang bisa berbeda bisa sama, dalam kecepatan yang seringkali berbeda, dan juga melalui cara-cara yang berbeda. Pertumbuhan orang akan selalu unik. Tidak akan ada yang sama persis.

Menyadari setiap orang bertumbuh masing-masing membuat kita sadar bahwa kita tidak perlu berlama-lama insecure melihat pertumbuhan orang lain yang begitu cepat. Melihat prestasi teman kita yang di usia 20-an sudah mencapai level manager atau baru selesai kuliah S1 langsung lanjut S2 di luar negeri memang sangat bisa menjadi ladang insecurity. Namun, kesadaran dan penerimaan bahwa setiap orang tumbuh dengan cara dan kecepatan yang berbeda harusnya sedikit membantu kita mengatasi rasa anxiety ini.

Saya jadi ingat kemarin saya bertemu salah satu mantan bos saya di kantor. Dia bilang bahwa "Ben kamu tambah tinggi ya". Ya barangkali mungkin bukan tubuh saya yang tambah tinggi (karena saya sudah berusia kepala tiga), namun saya bertumbuh dengan memakai sepatu yang memiliki hak yang lebih tinggi daripada biasanya.

Semoga tulisan ini bisa menjadi bagian dari pertumbuhan kalian ya.


Minggu, 24 Juni 2018

Bangku Prioritas atau Penumpang Prioritas


Sebagai seorang yang tinggal di Bekasi dan kerja di Jakarta, setiap hari saya berangkat dan pulang kerja dengan menggunakan KRL Commuter Line. Ketika di dalam KRL, seringkali saya mengamati orang-orang di sekitar saya. Kebanyakan orang sibuk dengan smartphone masing-masing. Ada yang menonton drama Korea, bermain game, mengecek email, atau sekadar mendengarkan lagu sembari pelan-pelan menutup mata dan tertidur (seperti yang biasa saya lakukan).

Kapasitas bangku kereta yang terbatas membuat tidak semua penumpang dapat tempat duduk. Dari artikel yang saya baca ini, kapasitas maksimal gerbong KRL adalah 250 orang, dengan jumlah bangku hanya untuk 60 orang. Jumlah bangku 60 orang ini termasuk alokasi bangku prioritas, yang disiapkan untuk orang-orang yang diproritaskan seperti ibu hamil, penumpang dengan disabilitas, penumpang yang membawa balita, dan penumpang lanjut usia. Untuk memudahkan, saya sebut saja orang-orang ini dengan sebutan p

Ketika para penumpang prioritas sudah mendapat alokasi bangku prioritas, apakah mereka tidak boleh duduk di bangku non prioritas?

Ketika jam pulang kantor, jumlah penumpang KRL ini biasanya membludak. Berdasarkan pengamatan saya, seringkali penumpang prioritas seolah hanya boleh duduk di bangku prioritas. Sebagai contoh saya pernah melihat ada ibu hamil yang terpaksa tidak jadi masuk ke gerbong KRL yang saya naiki hanya karena seluruh kursi prioritas sudah terisi oleh penumpang prioritas, sedangkan di bangku non prioritas terdapat pria-pria muda yang sepertinya masih mampu berdiri. Saya kurang tahu sih apakah mereka memang tidak mau memberikan bangkunya, atau memang mereka tidak mendengar ketika para penumpang di dekat pintu masuk berteriak "ada yang lagi gak hamil?" kepada para penumpang yang duduk di bangku prioritas, yang ternyata semua yang duduk di bangku prioritas adalah penumpang prioritas. 

Saya pribadi berpendapat bahwa memang bangku prioritas hanya boleh ditempati oleh penumpang prioritas. Namun ketika semua bangku prioritas sudah diduduki oleh penumpang prioritas, seharusnya mereka pun diprioritaskan untuk duduk di bangku non prioritas. Yang sering saya lihat, penumpang prioritas seakan hanya diperbolehkan duduk di bangku prioritas. Seringkali penumpang non prioritas (yang terlihat masih muda dan sanggup berdiri) yang mendapat tempat duduk hanya diam saja dan paling banter hanya menyarankan penumpang prioritas untuk mencari tempat di bangku prioritas.

Ini memang soal kesadaran diri masing-masing sih. Sudah saatnya penumpang non prioritas yang beruntung mendapat tempat duduk di bangku non prioritas untuk rela memberikan bangkunya untuk penumpang prioritas. Karena sudah seharusnya penumpang prioritas itu diprioritaskan duduk di bangku prioritas maupun bangku non prioritas. Hak mereka jangan dibatasi untuk diperbolehkan duduk hanya di bangku prioritas. 

Minggu, 18 Juni 2017

Mengurus SKBS, SKBN, dan Surat Keterangan Bebas TBC di RSPAD Gatot Soebroto

Bagi kalian yang sedang mengurus persyaratan LPDP terutama untuk beasiswa Magister ke luar negeri, salah satu syarat yang harus diurus adalah Surat Keterangan Berbadan Sehat, Surat Keterangan Bebas Narkoba dan Surat Keterangan Bebas TBC. Kalau kalian yang ingin mengurus ketiga surat tersebut di RSPAD Gatot Soebroto, pengalaman saya berikut ini mungkin bisa bermanfaat.

1. Surat Keterangan Berbadan Sehat (SKBS)

Untuk mengurus Surat Keterangan Berbadan Sehat ini, saya diarahkan oleh petugas informasi menuju ke Bagian PPBPAD. Untuk mengurus surat ini cukup sederhana. Pertama saya harus mengisi formulir. Setelah mengisi formulir, saya bertemu dengan dokter yang bertanya tentang riwayat kesehatan saya, kapan terakhir kali saya dirawat di RS, tujuan saya membuat surat ini. dll. Setelah itu dokter memeriksa tensi darah, lalu mengecek gigi dan mulut saya. 

Untuk surat ini, saya hanya harus mengeluarkan biaya sebesar Rp. 50.000. Tak lama setelah itu surat saya sudah bisa jadi. Bagian PPBPAD ini buka dari pukul 08.00 sampai kalau tidak salah pukul 15.00. Cuma selama bulan puasa ini, bagian ini hanya buka sampai pukul 14.00.

2. Surat Keterangan Bebas Narkoba (SKBN)
SKBN ini pengurusannya di Paviliun Amino yang terletak di bagian paling belakang RSPAD. Pavilian Amino ini buka mulai pukul 07.00. Proses tes narkobanya cukup mudah dan cepat. Setelah mengisi formulir yang tersedia di loket, saya langsung diminta membayar biaya pengurusan SKBN sebesar Rp. 220.000. Selesai membayar di loket, saya diberi satu buah tempat untuk menampung urine saya dan setelahnya menyerahkan sampel urin saya ke loket. Petugas loket akan memberikan kita surat untuk diserahkan ke Bagian Tata Usaha Pavilion Amino yang terletak di lantai 2. 

Di Bagian Tata Usaha ini saya diminta untuk memberikan KTP saya. Namun karena KTP saya sedang dipakai kakak saya mengurus pajak motor di Purwokerto, jadilah saya menyerahkan SIM saya untuk dipakai untuk mengisi data di SKBN nanti. Setelah surat selesai diketik di Bagian Tata Usaha, saya membawa SKBN yang belum diisi ke loket di lantai 1 lagi.Setelah surat ditanda tangan, surat tinggal dibawa ke Bagian Tata Usaha untuk digandakan (jika kalian butuh) dan dicap. Selesai sudah proses pengurusan SKBN ini.

3. Surat Keterangan Bebas TBC
 
Hari ke-1
Inilah surat yang pengurusannya paling lama. Proses pertama untuk mendapatkan surat ini yaitu saya harus ke loket pendaftaran sebagai pasien baru di lantai 1. Proses ini bisa kalian lewatkan apabila kalian sudah memiliki kartu pasien RSPAD Gatot Soebroto. Di loket ini saya ditanya data diri seperti nama lengkap, golongan darah, usia, nomor telepon serta poli yang ingin kalian tuju. Setelah itu nanti kalian akan mendapatkan kartu pasien.

Selesai mendapat kartu pasien, saya pergi ke Poli Paru yang berada di lantai 2. Saya menuju ke loket Poli Paru dan menyerahkan kartu pasien saya. Setelah itu saya harus menunggu sampai saya dipanggil ke loket lagi untuk membayar biasa konsultasi dokter sebesar Rp. 160.000. Selain membayar biaya konsultasi, saya juga ditanya tujuannya saya membuat surat keterangan bebas TBC ini dan data lain yang saya lupa detailnya. Kalau tidak salah saya ditanya kapan terakhir kali diopname, adakah riwayat penyakit turunan, adakah alergi makanan, debu atau obat. Selesai melengkapi data dan membayar, saya diminta ke di bagian samping belakang loket untuk menunggu dipanggil suster guna proses tes tensi darah, timbang berat badan dan ukur tinggi badan. Setelah itu, saya diminta menunggu lagi di depan loket Poli Paru.

Setelah menunggu cukup lama, saya dipanggil ke ruang 2 di samping depan loket Poli Paru. Di dalam ruang 2, saya bertemu dengan dokter. Selanjutnya, dokter bertanya mengenai tujuan saya membuat surat keterangan ini. Dokter memeriksa dada saya dengan stetoskop dan bertanya beberapa pertanyaan mengenai apakah saya merokok, kapan terakhir kali diopname, dll.Setelah itu, dokter akan memberikan pengantar untuk saya melakukan proses rontgen, tes mantoux, tes darah dan tes dahak.

Proses rontgen, tes mantoux, tes darah dan tes dahak dilakukan di Paviliun Kartika yang berada di depan RSPAD. Disini prosesnya saya harus mendaftar dulu ke loket pendaftaran Paviliun Kartika sembari menyerahkan kartu pasien dan pengantar dari dokter. Setelah itu saya pergi ke Laboratorum Klinik untuk diambil darah. Selesai diambil darah, saya diberi satu tempat untuk menampung dahak saya. Selain satu tempat tadi, saya diberi dua tempat dahak lagi dengan kode BTA 20 dan BTA 30 untuk menampung dahak saya di hari esoknya. Kode BTA 20 untuk menampung dahak saya pada saat bangun tidur di esok hari dan BTA 30 untuk menampung dahak setelah sarapan pagi di esok hari.

Selesai proses pengambilan sampel di Laboratorium Klinik, saya pergi ke ruang Radiologi untuk proses rontgen. Proses rontgen ini berlangsung cepat. Paling hanya sekitar 10-15 menit, termasuk proses menunggu. Setelah selesai dengan urusan rontgen, saya menuju ke nurse station untuk minta diproses tes mantoux. Di tes ini, suster akan menyuntikkan sesuatu ke dalam lapisan kulit saya. Hasil suntikan ini jangan sampai digosok atau terkena sabun mandi karena nanti hasil tesnya akan sulit dilihat. Saya diminta datang 3 hari kemudian untuk dilihat hasilnya ke dokter yang ada di Poli Paru.

Setelah proses tes mantoux tadi, saya menuju loket untuk proses pembayaran. Untuk segala tes yang saya lakukan tadi,saya harus membayar biaya sebesar Rp. 869.704.

Hari ke-2
Di hari ke-2 ini, saya hanya menyerahkan sampel dahak di dua tempat dengan kode BTA 20 dan BTA 30 tadi ke Laboratorium Klinik.

Hari ke-4
Saya sengaja datang lebih pagi di hari ke-4 ini yaitu pukul 06.15. Pertama-tama saya datang ke Laboratorium Klinik dan Ruang Radiologi untuk mengambil hasil uji lab dan rontgen saya. Setelah itu saya membawa semua hasil tes itu ke loket Poli Paru. Di loket ini saya menyampaikan hasil tes saya beserta kartu pasien saya. Setelah itu saya harus membayar biaya sebesar Rp. 160.000, dan kemudian petugas meminta saya menunggu di samping loket Poli Paru untuk proses tes tensi darah, timbang berat badan dan ukur tinggi badan. Sesudah itu saya kembali menunggu dipanggil untuk bertemu dokter di ruang 2.

Saya harus menunggu sekitar setengah jam untuk dipanggil ke dokter. Di dalam ruang 2, dokter melihat hasil rontgen dan hasil lab saya, melihat tangan saya yang disuntik obat untuk tes mantoux dan mengukur bekas suntikan tes mantoux itu, serta memeriksa dada saya dengan stetoskop. Puji Tuhan hasil pemeriksaan saya dinyatakan bebas TBC. Apakah prosesnya sudah selesai? Ternyata belum kawan. Saya diminta ke loket dengan hasil pengantar dari dokter. Saya juga diminta menyerahkan fotokopi KTP saya dan menuliskan nomor hp saya. Berhubung KTP saya tidak ada, saya terpaksa harus mencetak softcopy KTP saya yang ada di dropbox  di tempat fotokopi BPJS. Biaya cetak per lembar Rp. 2000 per lembar, plus biaya internetnya Rp. 4.000.

Itu tadi proses pembuatan surat keterangan bebas TBC, saya tinggal menunggu pihak RSPAD untuk mengambil surat yang sudah jadi.





Kamis, 19 Mei 2016

Perihal (Ikhlas) Memberi

Kemarin malam, saat saya dan istri saya tengah menunggu pesanan makanan kami datang di sebuah warung, tiba-tiba datanglah seorang pria tua bertampang memelas. Saya yang dasarnya orang yang gak tegaan tanpa pikir panjang mengambil selembar uang seribu rupiah dari kantong saya dan saya berikan kepada orang tua itu. Segera setelah pria tersebut pergi saya dan istri saya kembali mengobrol.

Di tengah-tengah obrolan kami setelah pria itu pergi, tiba-tiba pelanggan lain yang duduk di samping kami langsung berkata kepada kami

"Eh mas, tadi situ ngasih duit kan ke orang itu (baca - pria tua yang mengemis tadi) kan?
Tuh liat kesana. Tadi pas minta-minta dia keliatan kasihan kan. Tuh liat, dia lagi jalan dengan gagah"

Saya agak kaget dengan perkataan orang itu. Bukan karena perkataanya sih, tapi lebih karena tiba-tiba ada orang yang tak saya kenal berbicara kepada saya pada saat saya asyik mengobrol. 

"Kalo saya sih liat-liat mas kalo ngasih orang. Mending ngasih ke yang beneran berusaha."

Yang Penting Kita Sudah Memberi

Bagi saya memberi itu soal keikhlasan hati. Saya tak pernah berpikir apakah uang saya beri akan digunakan untuk beli rokok atau beli minuman keras. Saya tak pernah berpikir apakah orang tersebut berbohong demi mendapatkan uang atau tidak.

Trus berarti kamu turut melestarikan orang-orang malas dong Ben.

Sederhana saja sih jawabannya. Kalau memang masih memikirkan hal-hal yang seperti saya sebutkan di atas, itu berarti kita masih belum bisa ikhlas sepenuhnya untuk memberikan sesuatu kepada orang lain. Dan kalau memang belum atau tidak ikhlas, ya sudah tidak usah memberi dan tidak usah banyak berkomentar. Yang kadang aneh bagi saya itu ya sudah tidak mau memberi tapi malah ribut berkomentar. Seperti orang yang saya temui itu. 

Senin, 06 April 2015

From Wacana To Kenyataan

Manusia seringkali mempunyai banyak ide atau rencana dalam otaknya, tapi seberapa banyak ide atau rencana tersebut yang kita perjuangkan sungguh-sungguh untuk diwujudkan. Saya termasuk orang yang punya banyak sekali keinginan yang sebenarnya terlihat sederhana bagi orang lain, tapi saya sendiri merasa kalau kita tidak berniat untuk mewujudkannya maka selamanya semua keinginan itu hanya ada di otak kita atau paling banter masuk buku catatan "bucket list" atau resolusi tahun baru saja. 

Dalam sebulan ini, ada dua keinginan saya yang coba saya wujudkan. Yang pertama adalah membuat usaha sendiri, dan kedua adalah membuat reksadana.

1. Membuat Usaha 

Sebenarnya keinginan membuat usaha sendiri sudah ada sejak lama. Terlebih dulu seringkali ikut terpengaruh kata-kata motivator yang bilang "lebih baik jadi bos di perusahaan sendiri, daripada jadi direktur di perusahaan orang lain". Bukan, saya bukan baru saja membuat sebuah usaha perusahaan konstruksi atau perusahaan dengan kantor megah lainnya. Saya dan keluarga baru saja membuat sebuah usaha angkringan.

Buat yang lahir dan besar di Jakarta mungkin jarang sekali mendengar kata angkringan. Tapi kalau kalian yang lahir dan besar di daerah Jawa Tengah atau DI Yogyakarta, pasti kata "angkringan" sudah menjadi semacam kata "Starbucks" atau "cafe" di kalangan anak muda Jakarta. Simpelnya, angkringan adalah semacam tempat nongkrong dengan menu beragam namun yang pasti selalu ada dan paling terkenal adalah nasi kucing dengan beberapa lauk semacam sate usus, sate telur puyuh, tempe dan tahu bacem. Minuman andalannya tentu sang Jahe Susu atau Kopi Joss, segelas kopi hitam yang dicampur dengan arang yang membara.

Jadi setelah bermimpi dan berniat cukup lama membuat angkringan, sekitar 2 minggu lalu angkringan keluarga saya mulai dibuka. Angkringan kami ini mengambil nama "Angkringan Mbah Darman", yang diambil dari nama almarhum Ayah saya. Sempat mengalami kendala terutama di masalah tempat jualan, akhirnya salah satu keinginan saya untuk membuat usaha terwujud nyata.

2. Membuat reksadana

Sudah lama keinginan membuat reksadana ada dalam diri saya. Mungkin sudah sekitar 1 tahun yang lalu kira-kira keinginan ini mulai muncul. Jadi ceritanya waktu itu saya baru saja mengikuti kelas Akademi Berbagi Jakarta dengan guru Ligwina Hananto, seorang financial planner yang namanya kondang. Nah, pada saat Mba Ligwina mengajar, beliau berkata bahwa

"Coba kalian sisihkan 100-200 ribu dari gaji kalian untuk investasi reksadana. Uang segitu pasti ga kerasa buat kalian yang terbiasa menghabiskan 100-200 ribu untuk nongkrong di kafe atau makan steak, atau untuk bayar paket internet bulanan. Mungkin uang itu yang akan menyelamatkan kalian pada saat kalian kesulitan keuangan di masa depan"
Sejak kelas itu, saya bertekad untuk segera membuka reksadana. Dan, tekad saja ternyata tidak cukup ya kawan. Setelah sempat bersemangat menggebu-gebu, bertanya ke beberapa teman yang sudah buka reksadana dan akhirnya satu tahun berlalu cepat hingga beberapa hari yang lalu saya melangkahkan kaki ke kantor salah satu Manajer Investasi di daerah Sarinah. Dan voila, jadilah saya memiliki sebuah akun reksadana milik saya.

Hikmah dari semua ini adalah jangan berhenti untuk mewujudkan mimpi atau keinginan kita, bahkan setelah sekian lama dari pertama kali keinginan itu muncul.Jadi, jangan takut bermimpi (dan mewujudkannya) ya.

Minggu, 08 Februari 2015

Attracting Local People to Museums and Historical Sites

Nowadays, museums and historical places are mainly visited by tourists, not local people. From my point of view, there are two reasons why the number of local residents is less than tourist, when we are talking about the number of museum and historical sites visitors.

The first reason is I think domestic residents feel that they can go to museums and ancient whenever they want. There is no need to come there soon due to the distance between their houses and those places are not far. 

Tourists go to museums and ancient buildings to spend their spare time or holidays. In contrast, local people think that they do not have much time to visit historical sites and museums, even for the nearest one. For instance, I only spend my weekend with sleeping in bed or doing some relaxing activities at home. And I believe many people in Jakarta have similar thoughts like that. 

So, are there any solutions to overcome that problem?

I propose two ways as potential solutions for that problem. First, the local government can make a kind of "free pass" only for local people. This program will give privileges to residents because they can enter freely to museums or historical places. But the government have to consider how to keep the business running well although they give free pass for local people.

The second solution I offered is making a blog competition only for residents. The competition will require participants to share their stories of visiting museums and historical places in their city. The government can offer some big prizes to attract local people to join this competition. Indirectly, this competition will increase the number of visitors of those tourism objects, particularly local people.
 
*Note: I got this topic when I got my IELTS test, for Writing Task 2.

Sabtu, 07 Februari 2015

Sepintas Bicara Tes IELTS

Sumber gambar : disini

Jadi ceritanya hari ini saya baru saja selesai mengikut tes IELTS. Seperti kebiasaan lama saya yang suka berbagi pengalaman tes, maka kali ini pun saya ingin berbagi pengalaman saya mengenai tes IELTS. Jika di beberapa blog lain banyak yang bercerita mengenai pengalaman mereka mempersiapkan IELTS, maka saya disini ingin membahas seperti apa tes IELTS itu. Mungkin tulisan ini berguna bagi orang-orang yang ingin lebih tahu gambaran tes IELTS.

Tes IELTS adalah tes untuk mengukur kemampuan berbahasa Inggris seseorang berdasarkan 4 skill utama dalam berbahasa Inggris, yaitu Listening, Reading, Writing dan Speaking. Yang akan saya ceritakan disini adalah murni berdasarkan pengalaman saya. Jadi ini bukan sama sekali tips dan trik dari seorang master IELTS. Jangankan menjadi master, skor IELTS saya belum keluar sama sekali. hehe. So, let's move on to the main topics.

1. Listening

Tes ini akan menguji tingkat konsentrasi dan pendengaran kita. Karena ini menguji konsentrasi kita, saya menyarankan untuk meminimalkan beberapa hal yang mampu mengganggu konsentrasi seperti rasa lapar atau ingin buang air kecil/besar. Di IALF, tempat saya mengambil tes IELTS, kami diminta berkumpul di tempat sekitar pukul 07.30 wib. Saya sangat menyarankan untuk sarapan pada pagi harinya, untuk mencegah konsentrasi kalian atau teman-teman kalian pecah gara-gara mendengar bunyi "panggilan alam" dari perut kalian. Untuk kalian yang punya jadwal rutin BAB (buang air besar) di pagi hari, usahakan untuk tidak menundanya. Karena selama tes Listening, kita tidak akan diperbolehkan untuk izin keluar ke toilet.

Tes Listening terdiri dari 40 soal, dengan waktu 30 menit. Di akhir waktu 30 menit tadi, disediakan waktu 10 menit untuk menuliskan jawaban kalian di lembar jawaban. Jadi selama soal-soal diperdengarkan, para peserta ujian biasanya mencorat-coret jawabannya di lembar soal. Kalau kalian pede dengan jawaban kalian, kalian diperbolehkan kok untuk langsung menuliskannnya di lembar jawaban.

Dalam tes ini terdapat 4 Section, dimana jika dihitung rata-rata, satu Section terdiri dari 10 soal. Jika 30 menit dibagi dengan 40 soal, maka waktu kalian untuk mengerjakan satu soal adalah 30 : 40 = 0,75 menit alias 45 detik (koreksi ya hitungan saya kalau hitungan saya salah. :)). Waktu adalah kunci di dalam tes Listening, jadi pastikan jika kalian terlewat satu soal, segera move on ke soal berikutnya. 

Di antara beberapa soal di dalam satu Section dan di antara perpindahan antar Section, terdapat jeda waktu. Nah, sebaiknya kalian memanfaatkan jeda waktu ini untuk mencorat-coret setiap soal yang ada. Tandai kata-kata yang bisa menjadi signal sebelum jawaban yang dicari diperdengarkan. Untuk beberapa soal, kalian juga bisa memperkirakan jenis jawabannya. Misal di soal tertulis kata-kata yang tertulis "Telephone number .............". Dari pertanyaan tersebut, kita bisa menebak bahwa jawaban yang dicari adalah deretan angka. Prepare your ears because listening to numbers is not easy thing. Saya pribadi adalah orang yang lemah dalam mendengar angka-angka dan pengejaan huruf. Jadi saya selalu pusing setiap kali ada soal-soal yang menampilkan angka atau pengejaan huruf (dan jenis soal ini selalu ada).

2. Reading

Untuk yang tidak hobi baca, tes ini adalah tes terberat. Di tes ini kita akan disuguhkan 3 buah bacaan alias Reading Passage. Urutan bacaan merupakan urutan tingkat kesulitan. Jadi Reading Passage 3 adalah yang tersulit, dibandingkan dengan Reading Passage 1 dan 2. Dari 3 bacaan ini, terdapat 40 soal yang harus dijawab dalam waktu 60 menit. Jika dikalkulasikan, 1 soal bisa dikerjakan dalam waktu 1 menit 30 detik. Lumayan, dibandingkan dengan tes Listening.

Saran saya ketika mengerjakan soal-soal Reading, selalu perhatikan jenis soalnya. Jika jenis soalnya tidak meminta kalian untuk menyimpulkan paragraf atau menentukan heading dari tiap paragraf, jangan pernah membaca seluruh paragraf detil karena itu akan membuang waktu. Jika di dalam soal terdapat hal yang spesifik misalnya tahun atau nama seseorang, maka kalian hanya harus fokus pada tahun atau nama seseorang tersebut dan mencarinya di dalam bacaan. Biasanya jawaban pertanyaan kalian akan ada di sekitar kalimat yang memuat hal spesifik tersebut.

Tips saya untuk tes Reading adalah kerjakan semua soal yang termudah karena tidak akan ada pengurangan nilai jika jawaban kalian salah. Oh iya, jangan sampai salah untuk menulis jawaban ya, karena kesalahan singular atau plural saja akan dianggap salah. Dan ingat, seperti halnya di 3 tes lainnya, selalu perhatikan perintah alias instruction. Jika diminta hanya menuliskan satu kata, ya tulis satu kata pada lembar jawaban kalian. Ini penting kawan.

3. Writing

Writing is like a nightmare for me, since it is so grammar based assessment. Bagi saya ini adalah bagian dari tes IELTS yang paling sulit. Soalnya memang hanya terdiri dari 2 soal, tapi memikirkan jawabannya itu yang sulit.
Terdapat 2 Task dalam tes Writing. Di Task 1 kalian akan diminta untuk membuat report atau membuat deskripsi dari data yang disajikan. Data ini bisa berupa chart, grafik, tabel, peta ataupun diagram alur. Dan jangan kaget jika di Task 1, kemungkinan untuk mendapatkan 2 data itu sangatlah besar, seperti yang saya alami tadi siang. Saya mendapatkan satu bar chart dan tabel tentang bagaimana pria dan wanita di Inggris menghabiskan waktunya untuk kegiatan household activities dan leisure activities.

Jenis pertanyaan yang muncul bisa berupa perbandingan data, mendeskripsikan tren atau menjelaskan alur sebuah proses. Untuk tips-tips seputar Writing Task 1 ini bisa kalian dapat dengan googling. Saya belum pede untuk berbagi lebih detil mengenai Writing Task 1. Yang jelas persiapkan diri kalian dengan latihan menulis dengan beragam bentuk data.

Selanjutnya, untuk Writing Task 2, kalian akan diminta untuk menulis opini berdasarkan data. Tadi siang saya diminta untuk membuat tulisan untuk menanggapi soal mengapa museum dan bangunan bersejarah hanya ramai oleh turis, bukan oleh orang lokal. Saya pun diminta untuk memberikan solusi untuk menarik kedatangan orang lokal ke museum dan bangunan bersejarah.

Sekali lagi, tips dan trik Writing Task 2 bisa kalian cari melalui mesin pencari Google atau mesin pencari lain. Usahakan melihat contoh-contoh tulisan yang mendapat band score 8 atau 9. 

4. Speaking 

Ini dia urutan tes kedua yang tersulit menurut saya. Kenapa? Karena disini kita harus berpikir cepat untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh seorang native speaker yang menjadi penguji kita.
Tes Speaking ini terdiri dari 3 Section. Di Section 1 kalian akan ditanya hal-hal yang umum seperti misalnya rumah, kampung halaman, teman, hobi, pekerjaan dan hal-hal umum lainnya. Di Section 2, kita akan diminta untuk berbicara tanpa jeda selama 2 menit mengenai topik yang akan diberikan oleh penguji kita. Tenang saja, kita akan diberi waktu 1 menit untuk membuat catatan mengenai apa yang akan kita bicarakan. Hari ini saya mendapat soal mengenai interesting conversation, dimana di dalamnya ditanyakan dengan siapa, dimana, kapan, apa yang dibicarakan dan alasan mengapa saya menganggap percakapan tersebut menarik.
Berlanjut ke Section 3, disini kita akan ditanya lebih detil mengenai topik pada Section 2. Di Section 3 ini saya ditanyakan apa perbedaan berbicara pada wanita dengan berbicara pada sesama pria, apa perbedaan berbicara langsung dengan berbicara lewat telepon, dan pertanyaan-pertanyaan lain seputar conversation. Dari yang saya amati, penguji akan bertanya lebih detil mengenai jawaban-jawaban kita. Jadi sepertinya, pertanyaan-pertanyaan yang dia ajukan adalah murni spontan menanggapi jawaban-jawaban saya.


Yap, itulah tulisan singkat saya mengenai tes IELTS. Doakan saya ya semoga hasil tes hari ini bisa sesuai dengan harapan saya dan sesuai dengan yang saya butuhkan untuk mendaftar beasiswa dan universitas.

Minggu, 01 Februari 2015

Mari Bersyukur

Selamat Tahun Baru 2015. Ini menjadi tulisan pertama saya setelah berbulan-bulan vakum menulis di blog ini. Rasanya tangan dan otak saya tak selancar dulu ketika sedang rajin-rajinnya menulis. Semoga saja tulisan ini menjadi awal dari kebangkitan jiwa menulis saya. :)

31 Januari 2015

Kisah Pertama

Sekitar pukul 19.00 wib, saya dan istri saya tiba di Indomaret Poin Pasar Baru yang tepat berada di sebelah Hotel Tune, Jalan Samanhudi Jakarta Pusat. Saya kesini karena saya berniat mengerjakan pekerjaan kantor yang akhir-akhir sepertinya kian menumpuk banyak dan dikejar deadline. Tak ada kejadian spesial yang terjadi di sekitar saya. Beberapa orang keluar masuk ke lantai 2 convenient store tempat kami berada. Tepat di hadapan saya dan istri saya, duduk beberapa laki-laki dan perempuan yang tengah berbincang hangat. Saking hangatnya, sesekali mereka tertawa cukup keras hingga memecah konsentrasi saya. Di seberang gerombolan ini, duduk pula beberapa anak yang saya taksir berusia sekitar 14-15 tahun, yang tengah membicarakan teman-teman sekolah mereka. Ya, beberapa kata seperti “tugas” dan “semester” yang membuat saya menyimpulkan mereka masih berusia anak sekolah.

Sekitar pukul 20.00 wib, masuk satu wanita dengan seorang anak di sampingnya. Pikiran saya menyimpulkan mereka adalah seorang ibu dengan anaknya. Sekilas, saya melihat penampilan mereka layaknya orang-orang yang ada di sekitar situ. Awalnya saya perhatikan, mereka seperti menunggu orang lain. Mereka duduk berdua di meja kosong. Tak tampak mereka membawa minuman atau makanan yang lazimnya orang lakukan ketika duduk di bangku-bangku di lantai 2 ini.

Sekitar pukul 22.00, sembari menatap layar laptop saya, saya melihat sang anak yang tadi duduk berdua dengan sang Ibu, dan sempat turun dari lantai 2, tiba-tiba saja menata deretan bangku kosong dan merebahkan dirinya di bangku-bangku tersebut. Yang aneh, ketika ada karyawan Indomaret yang masuk ke lantai 2 untuk membersihkan lantai, karyawan itu sama sekali tak mengusirnya. Bahkan menurut saya sepertinya karyawan tersebut sudah hafal dan mengizinkan anak tersebut untuk tidur di tempat itu.

Lalu kemana sang Ibu yang tadi bersamanya?

Ibu yang tadi bersama sang anak, sejak sang anak tidur, saya perhatikan berada cukup lama di dalam toilet wanita. Sesekali dia keluar lalu menyalakan pengering tangan. Setelah sekitar dua atau tiga kali Ibu itu keluar masuk toilet, Ibu itu lalu menuju ke deretan bangku tempat sang anak tidur. Sang ibu pun duduk salah satu bangku di samping sang anak yang masih tertidur lelap. Setengah jam kemudian, saya melihat sang Ibu seperti dalam posisi tertidur. Diam tak bergerak dalam waktu cukup lama. Hanya sesekali menggerakan kepala dan membenarkan posisi jaket yang menutupi kepalanya.


Kisah Kedua

Masih di tempat yang sama, tiba-tiba masuk seorang bapak tua dengan pakaian lusuh, datang bersama seorang anak laki-laki berusia sekitar 10 tahun yang mengenakan kaos bertuliskan nama salah satu calon presiden di Pilpres 2014 yang lalu.

Setelah mendekati seorang laki-laki dan perempuan yang duduk di sebelah saya, bapak dan anak itu mendatangi saya dan istri saya. Mereka menawarkan jasa semir sepatu. Berhubung saya sedang memakai sandal jepit, maka saya pun meminta istri saya untuk memberikan bapak tersebut uang. Saya sedih karena bapak itu berkata bahwa dia butuh uang untuk makan anaknya. Segera setelah kami beri sejumlah uang yang menurut saya cukup untuk satu kali makan, bapak dan anak itu pergi turun ke bawah.

Sekitar 5 menit setelah kami memberikan uang kepada bapak tersebut, kami pun memutuskan untuk turun dan pulang kembali ke kost. Ketika kami sampai di lantai 1 tempat makanan dan minuman yang dijual, kami melihat sepintas bapak dan anak tadi sedang berada di rak makanan di deretan cemilan dan snack.

Saya tak mau menyimpulkan hal negatif dari apa yang dilakukan oleh bapak tersebut. Hanya saja di Indomaret Poin, pengunjung bisa membeli paket nasi dan lauk yang di siang hari bisa mencapai harga Rp. 25.000 per paket, dengan harga hanya 50 persen dari harga di siang hari. Menurut saya cukup worth to buy dibandingkan membeli snack “bungkus besar isi sedikit” yang harganya bisa mencapai Rp.9.000 per bungkus.
Apa kesimpulan saya?

Mari bersyukur atas apa yang Tuhan berikan kepada kita. Terutama untuk kita yang masih punya tempat tinggal, bisa bayar kost, makan tiga kali sehari, sesekali jalan ke mal atau nongkrong bersama teman-teman. Mari bersyukur jika kita masih punya pekerjaan atau usaha sendiri, dan tidak banyak mengeluh tentang bos yang galak, rekan kerja menyebalkan, makanan yang tidak enak, atau rumah yang panas karena tak menggunakan AC.

Saya jadi ingat tulisan di salah satu meme yang sempat beredar di timeline Path saya.

“Bersyukurlah di hari Senin kamu masih punya pekerjaan, bukan sedang mencari pekerjaan”.

Rabu, 24 September 2014

WHY DO I WANT TO BE A MASTER IN LEGAL TRANSLATION?

The need of translator in my office is something that unavoidable since my office handles all the things about legal matters in Directorate General of Civil Aviation. My recent job is between as a translator and a legal drafter. I know people will laugh if knowing that one of the legal drafters in Legal and Public Relation Division is not Bachelor of Law, but Bachelor of Arts.

Sometimes, in the middle of doing my job as a translator, I meet a confusion due to many words that rarely appears now coming up. As example, when I translate an international convention or regulations, I found some words that are hard and difficult to translate. In addition, there is no Legal English Indonesia Dictionary in my office, and the material that I have to translate is between legal terms and aviation terms. And as far as I know, there is no published dictionary that focusing on those matters.

I dream I can study Master in Translation or Applied Linguistic focusing Translation in overseas university or college. And not so long after I come back to Indonesia, I am going to make Legal Aviation English Indonesia Dictionary. I believe my dictionary would be helpful for translators who work on legal and aviation terms.

Rabu, 02 April 2014

Melancong Seharian di Bogor

Hari libur paling ga enak itu kalo cuma tidur seharian di kasur sambil scrolling timeline Twitter. Berhubung pacar saya ingin liburan untuk ngilangin stress dan jenuh dengan Jakarta, maka jadilah kita akhirnya memutuskan untuk melancong seharian ke Bogor.

Ada beberapa alasan kenapa kami memilih Bogor sebagai tujuan kami. Salah satu alasan besarnya adalah karena kami belum berhasil mendapatkan tiket kereta api murah ke Cirebon. Jadi rencana awal kami adalah liburan ini kami ingin pergi ke Cirebon. Ide saya sih sebenarnya, karena saya menganggap Cirebon adalah tempat yang tidak terlalu jauh (mungkin sekitar 2-3 jam perjalanan) dari Jakarta, dan harga tiket keretanya masih di bawah 100 ribu. Ternyata dugaan saya salah. Karena saya baru melihat jadwal dan harga tiket kereta persis seminggu yang lalu, jadilah tiket dengan harga murah dibawah 100ribu habis semua. Yang tersisa tinggal tiket kereta jurusan ke Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan harga 200-300 ribu. Buat saya sih sayang ya mengeluarkan duit segitu hanya untuk tiket kereta ke Cirebon.

Ada pilihan lain yaitu Bandung. Tapi karena liburan yang lalu, pacar saya sudah ke Bandung, maka kami putuskan untuk tidak menjadikan Bandung sebagai tujuan kami.

Dan setelah memikirkan beberapa hal termasuk soal biaya, dan waktu bangun tidur kami yang kesiangan, maka akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Bogor.

Kami memang bukan orang yang belum pernah ke Bogor. Saya sendiri di pekerjaan saya saat ini, sudah beberapa kali rapat di hotel-hotel sekitar Bogor. Sedangkan pacar saya sendiri baru saja minggu lalu mengajak anak-anak muridnya untuk field trip di Kebun Raya Bogor.

Setelah searching di Google mengenai referensi tempat wisata di Bogor, kami memutuskan untuk mengunjungi satu objek saja yaitu Kebun Durian Warso Farm yang terletak di Cihideung. 

Kenapa hanya satu objek yang kami jadikan tujuan?
Simpel alasannya, yaitu karena udah dijelasin di atas, kami berangkat dari kostan terlalu siang. Kami mulai beranjak dari kostan sekitar pukul 11 menuju ke Stasiun Sawah Besar. Sekitar pukul 13.00 baru kami sampai di Stasiun Bogor, setelah kurang lebih satu jam dikurung di dalam gerbong kereta yang katanya dilengkapi AC tapi yang terasa hanya seperti angin dari kipas angin. Padahal, kereta yang kami tumpangi penuh sesak dengan orang-orang yang menuju ke Bogor. 

Sampai di Stasiun Bogor, kami langsung menuju ke pintu keluar stasiun untuk mencari angkot 02 jurusan Sukasari - Bubulak. Dengan angkot 02 tersebut, kami menuju ke Ramayana atau Bogor Trade Mall untuk menyambung angkot lain. Sekitar 15 menit perjalanan, yang dikarenakan jalanan Bogor yang macet di depan Istana Bogor, kami sampai di Ramayana.

Dari Ramayana, kami berjalan ke arah pasar untuk naik angkot 04A jurusan Ramayana-Cihideng. Perhatikan baik-baik tulisan angka dari angkot yang akan dinaiki, karena kami sempat salah naik angkot. Ternyata angkot yang kami tumpangi bertuliskan 04A TH yang bertujuan ke Tajur Halang. Meski saya tak tahu dimana letak Tajur Halang, namun sepertinya Tajur Halang dan Cihideung tujuan kami jaraknya sangat jauh berbeda.

Ada tips satu lagi untuk yang ingin naik angkot 04A yaitu kita harus berjalan ke jalan arah pasar, ke arah berlawanan angkot 04A lewat. Kenapa? Karena permintaan penumpang terhadap ketersediaan angkot ini sangatlah tinggi. Sepertinya memang mobilitas orang-orang daerah Cihideung dan sekitarnya ke arah Bogor dan sebaliknya memang sangat tinggi.Kalau kalian hanya berdiri menunggu di pertigaan depan BTM, dijamin satu jam menunggu pun kalian tidak akan dapat tempat duduk.

Setelah sekitar 1 jam perjalanan dengan angkot 04A menyusuri mulai dari jalanan yang rusak di ujung Bogor Nirwana Resort, lalu jalanan rapi di sekitar JungleLand, hingga menuju jalanan pedesaan penuh liku naik turun dan jurang di beberapa titik, akhirnya kami sampai di tujuan kami, Cihideung. Dari pertigaan berhentinya angkot, kami berjalan sekitar 20 meter untuk menuju Kebun Durian Warso Farm. Dekat sekali bukan. :)

Dari informasi di internet, kebun durian Warso Farm adalah milik seorang pensiunan TNI AD bernama Soewarso Pawaka. Kurang lebih sekitar setengah dari luas keseluruhan Kebun Durian Warso seluas 8,5 ha ini ditanami bermacam jenis pohon durian yang jumlahnya sekitar 900 pohon dan terdiri dari 19 jeni dan 7 varietas unggul, yaitu Monthong, Lay, Petruk, Sunan, Si Mas, Tembaga. Dan lahan yang tersisa ditanami dengan pohon buah Naga, pohon nangka, buah jambu monyet, dan juga terdapat persawahan (Sumber : yoshiewafa).


Untuk mengitari kebun durian ini, kami butuh waktu sekitar 1,5 jam. Kok lama?
Ya karena selain lahannya yang luas, kami menghabiskan waktu 1,5 jam itu untuk foto-foto dan duduk-duduk di area kebun. Kalau kalian memang hobi foto narsis, tempat ini cocok banget kalau kalian ingin bikin foto narsis dengan tema "Kejatuhan Duren" atau "Bertarung dengan Buah Naga" :D.


Udara di area Warso Farm ini segar banget lho. Mungkin karena kebun ini terletak persis di bawah Gunung Salak dan area kebun ini memang rimbun akan pohon-pohon durian yang tumbuh disana-sini seperti jamur (lebayyy..).

Buat yang mau main kesana, saya sarankan untuk datang di musim panen durian. Info dari blog yoshiewafa ini sih katanya musim panen durian itu jatuh di bulan Desember s/d Mei, dan puncaknya pada bulan Januari s/d Maret. Tapi kalau kalian mau datang cuma buat liat-liat saja, bisa kok datang ke tempat ini. Pengunjung yang ingin menikmati sejuknya kebun durian ini tidak perlu mengeluarkan biaya untuk tiket masuk, karena pengelola Warso Farm memang tidak menerapkan sistem tiket masuk.

Oh iya, meskipun disini kita tidak diperbolehkan untuk memetik durian, tapi pengunjung masih bisa menyantap hidangan serba durian seperti es ketan durian, serabi durian, dll di warung dan kedai yang tersedia di area ini. Ada satu kedai di area dalam kebun, dan satu kedai di luar area kebun. Sepertinya ada satu kedai lagi di seberang kompleks kebun, tapi saya tak tahu pasti karena saya hanya melihat keramaian yang tampak seperti keramaian warung.

Kami tak sempat mencicipi makanan maupun minuman yang ada disini. Alasan pertama sih karena kami ingin makan di daerah pecinannya Bogor, yaitu Jalan Suryakencana. Alasan kedua ya karena budget jalan-jalan kami terbatas, jadi terpaksa kami menahan lapar untuk tidak makan di warung di area Warso Farm. Untuk mengganjal perut, kami pun membeli batagor seharga 5000 perak di dekat tempat pemberhentian angkot 04A. Lumayan menahan lapar. :)

Kami sampai kembali di Bogor sekitar pukul 17.30-an. Dengan semangat menggebu kami berjalan kaki ke daerah Jalan Suryakencana. Tak disangka, ternyata warung dan restoran ala pecinan di daerah tersebut sudah tutup ketika kami datang. Berhubung kami sudah sangat kelaparan, akhirnya pilihan perut kami jatuh ke warung Mie Ayam Gaya Tunggal, yang letaknya persis di depan Museum Zoologi.

Meski "sepertinya" yang terkenal disini adalah mie ayam jamurnya, tapi tak satupun dari kami yang memesan mie ayam. Pacar saya memesan menu nasi goreng, sedangkan saya memesan bihun kuah masak. Untuk minumnya, kami memesan es teh dan es lidah buaya.

Nasi goreng disini menurut saya rasanya biasa saja. Nasi yang digunakan kurang "pera" dan kurang cocok digunakan untuk nasi goreng. Untuk bihun kuahnya, rasanya sebenarnya cukup enak. Cuma ketika disajikan kepada saya, kuahnya tidak dalam keadaan panas. Padahal saya membayangkan akan bercucuran keringat menikmati bihun kuah yang panas dan pedas. Oh iya, pada saat menyantap menu saya, perut saya yang sedang maag sungguh tak bisa berkompromi. Akhirnya, saya hanya menyantap sedikit bihun kuah saya. Sisanya saya bawa pulang. Dan ketika di rumah saya panaskan lagi di atas kompor, plus saya tambah irisan cabe rawit, rasa bihun kuahnya jadi lebih maknyosss.
 

Kamis, 27 Maret 2014

Kalian HEBAT

Sudah beberapa minggu ini rasanya tangan dan otak saya buntu tak mau bekerjasama. Mungkin mereka saling marah dan saling menyalahkan mengapa tak pernah ada lagi tulisan hasil kerjasama mereka. Dalam rangka proses rujuk antara tangan dan otak saya, maka  saya memaksa mereka untuk kembali berkomunikasi dan berbicara untuk menghasilkan tulisan ini. Mungkin memang mereka harus saling mengenal kembali, agar saling menyayangi lagi *ealah* :).

Beberapa hari ini mendapat kabar gembira yang datang dari beberapa teman. Kabar gembira mereka yang akhirnya membuat saya gembira dan untuk selanjutnya merenung penuh perasaan.

Kabar gembira pertama saya dapatkan dari teman kuliah saya, sebut saja Aldo, yang akhirnya berhasil diterima menjadi Pengajar Muda Indonesia Mengajar angkatan VIII. Buat yang belum tahu, Indonesia Mengajar adalah sebuah program yang digagas oleh Anies Baswedan, dimana putra putri terbaik bangsa dipilih dan dikirim ke daerah-daerah pelosok di Indonesia. Disana para pengajar muda tersebut akan tinggal dan mengajar selama satu tahun penuh.
 
Berat? Ya seperti itulah keadaan yang saya bayangkan ketika dulu pertama kali mendengar tentang Indonesia Mengajar di tahun 2010. Membayangkan kesulitan-kesulitan yang harus dihadapi oleh para pengajar muda yang mungkin terbiasa dengan kehidupan kota besar dengan segala kemudahan, lalu tiba-tiba harus berjuang mengatasi keterbatasan demi keterbatasan ketika mengajar di daerah dimana ia ditempatkan. 
 
Buat saya, teman saya Aldo ini sungguh punya keberanian karena ia rela meninggalkan pekerjaannya demi mengejar impiannya menjadi pengajar muda. Saya tahu memang masa depan pengajar muda setelah ikut program biasanya bagus. Adik salah satu teman kantor saya yang juga seorang pengajar muda angkatan III  baru saja mendapatkan beasiswa Erasmus Mundus untuk melanjutkan studi S2 di Eropa. 

Kabar gembira kedua datang dari teman SMA saya, sebut saja Alford. Jadi ceritanya beberapa hari yang lalu saya janjian ketemu dengan dua teman SMA saya yaitu Alford tadi dan Amri. Kalau dengan Amri sih memang saya masih sering bertemu atau sekadar bercerita di telepon. Nah, untuk Alford tadi, saya sudah lama tidak bertemu. Mungkin sudah sekitar 1,5 tahun kami tak bertemu atau berkomunikasi. 

Ketika dikabari bahwa Alford ini sedang proses tes untuk kerja di Jakarta, maka saya pun senang karena itu berarti kita jadi bisa sering bertemu lagi. Sama ketika saya dulu datang ke rumahnya untuk baca komik dan majalah film. Hehe.. Dan ketika saya tanya dia sedang tes dimana, ternyata teman saya ini baru saja diterima sebagai CPNS di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Wohooooo.....Keren.
 
Saya senang mendengar berita ini karena dia memang pantas untuk mendapatkan pekerjaan ini. Apalagi posisi jabatan yang ia lamar sudah sesuai dengan background S1-nya yaitu Teknik Elektro. Saya senang karena ia bisa dapat kesempatan lebih baik dalam pekerjaannya. 
 
Kabar gembira ketiga datangnya dari teman kuliah saya. Sebenarnya sudah lama saya dengar berita gembira ini. Kabar gembiranya adalah teman saya, panggil saja dengan Asto, diterima di Otoritas Jasa Keuangan, instansi keren yang tugasnya melakukan pengaturan dan pengawasan terhadap kegiatan jasa keuangan di sektor Perbankan, sektor Pasar Modal, dan sektor IKNB. Saya belum sempat ketemu untuk berbincang-bincang dengan teman saya tentang bagaimana perjuangan dia mendapatkan pekerjaan ini. 
 
Apa moral of the story dari tulisan saya ini?
Bagi saya pribadi, di satu sisi saya senang dan bersyukur akhirnya teman-teman saya berhasil mendapatkan apa yang mereka perjuangkan. 
 
Kalian HEBAT.
 
Di satu sisi lain, ini mengingatkan saya untuk merenung lagi apa mimpi saya yang sepertinya saat ini dalam masa terlena dengan kenyamanan. Semoga saya bisa segera tersadar dan bisa memberi kabar gembira pada mereka.
 
Mari bangun dan mandi. :)

Senin, 03 Maret 2014

Perihal Mendengarkan Orang Lain dan Jodoh

Kalau judul di atas terlihat ingin bercerita tentang kisah jejaka atau gadis yang sedang galau masalah jodoh pasangan hidup gara-gara mendengarkan orang lain, kalian salah besar. Kali ini saya ingin bercerita mengenai kejadian yang saya alami kemarin siang.

Jadi ceritanya kemarin saya tengah mengantarkan pacar saya untuk mengikuti pelajaran Krisma di Gereja St. Yoseph Matraman. Setiap peserta, termasuk pacar saya, diwajibkan untuk membawa fotokopi Surat Baptis masing-masing. Nah, sayangnya Surat Baptis milik pacar saya ini belum sempat difotokopi. Berhubung saya pacar yang baik (Ya kan ya kan..:)), saya minta pacar saya untuk langsung menuju ruang kelas, sedangkan saya yang akan memfotokopi Surat Baptisnya. Disinilah cerita dimulai.

Begitu mulai mencari tempat fotokopi, saya tak mengira kalau perjalanan mencari tempat fotokopi ini akan lumayan lama. Saya tadinya berpikir, karena Gereja St. Yoseph Matraman berdekatan lokasinya dengan beberapa sekolah, maka pasti banyak tempat fotokopian di sekitar gereja.

Awalnya saya berjalan menuju ke jalan samping SMA Fons Vitae Marsudirini yang ke arah daerah Stasiun Pondok Jati.  Disitu saya mendekati tukang koran. Sembari membeli sebuah surat kabar, saya menanyakan dimana tempat fotokopi terdekat. Mas pedagang koran menjawab bahwa di dekat Stasiun Pondok Jati ada tempat fotokopi, "Cuma kalo hari minggu tutup mas", begitu katanya. 

Dia pun lanjut mengatakan "Mending Mas coba ke arah Jatinegara aja Mas."
 Oke. Berhubung saya tidak terlalu tahu daerah itu, saya pun menurut saja perkataan Mas pedagang koran tersebut dan berbalik ke arah Jatinegara.

Setelah berjalan kira-kira 20 meter dari arah tukang koran, saya mencoba bertanya pada seorang juru parkir yang tengah berdiri di depan mobil-mobil yang berjejer di pinggir jalan. Pertanyaan yang saya ajukan masih dengan format dan isi yang sama.

"Pak, numpang tanya. Tahu tempat fotokopian di sekitar sini gak Pak? Ke arah sana (saya menunjuk ke arah Jatinegara) ada ga ya Pak?"

"Disitu (si Bapak menunjuk ke arah Jatinegara) ada Mas. Cuma kalo hari Minggu tutup. Coba aja ke arah situ Mas (menunjuk ke arah jalan menuju Stasiun Pondok Jati). Di situ kayaknya ada."

Oke yang kedua. Saya bingung harus ke arah mana. Tapi dasarnya saya ini gampang banget dengerin pendapat orang lain, maka kaki saya pun saya arahkan kembali menuju jalan ke arah Pondok Jati sambil berharap petunjuk Bapak juru parkir tadi benar.
Berjalan 100 meter ke arah Stasiun Pondok Jati, saya menemukan sebuah warung. Tampak seorang Bapak tengah duduk disitu. Saya pun untuk ketiga kalinya menanyakan pertanyaan:

" Pak, tahu tempat fotokopi sekitar sini gak Pak? Katanya ke arah sana ada ya Pak (sambil tangan saya menunjuk ke arah Stasiun Pondok Jati"

Dan, tahu jawaban yang saya dapat dari Bapak itu?
"Disitu ada Mas (menunjuk ke arah yang tadi saya tanyakan), cuma kalo hari Minggu tutup biasanya. Coba aja mas cari ke arah Jatinegara"

Duarrrr.... Kesel sekaligus bingung. Mau cari dimana lagi kalo saya muter-muter disini terus. Dan, dasar memang saya orangnya "nurutan", saya pun berjalan ke arah Jatinegara. Hari sudah terasa sangat panas. Matahari seakan ikut memberi ujian kesabaran kepadaku. 

Setelah melewati Kantor Direktorat Peralatan TNI-AD, saya pun melihat seorang juru parkir di depan Mata Foto, dekat dengan Seven Eleven. Pikir saya daripada saya berjalan terlalu jauh tanpa tujuan, lebih baik saya bertanya pada juru parkir tersebut. Ternyata, setelah saya bertanya letak tempat fotokopi, juru parkir tersebut menunjuk ke arah gang di samping Mata Foto.

Titik terang. Itu pikiran saya ketika melihat memang ada beberapa tempat fotokopi dalam keadaan tertutup di gang tersebut. Memang sedari tadi saya hanya mendengarkan ucapan orang, tanpa memastikan apa benar tempat fotokopi yang dibilang tutup itu memang benar-benar tutup. Dan kini saya benar-benar melihat ada beberapa tempat fotokopi yang benar-benar tutup.  Saya terus berjalan menyusuri gang tersebut ke arah timur. Berharap di depan sana ada tempat fotokopi yang buka. Dan ternyata, setelah berjalan cukup jauh dari Jalan Matraman Raya, tak ada satu pun tempat fotokopi yang buka.

Sudah menyerahkah saya? Jujur saja saya sudah hampir menyerah. Terik matahari lagi-lagi menjadi alasan terkurasnya energi saya siang itu. Tapi, karena saya butuh (dan karena saya pacar yang baik,hehe..) maka saya putuskan untuk bertanya pada ibu-ibu yang sedang duduk di pinggir jalan, di depan sebuah tempat fotokopian yang tutup. 

"Bu, permisi. Apa di sekitar sini ada tempat fotokopian lagi ya Bu? Yang ke arah depan sana tutup semua."

Ibu itu menjawab, kurang lebih seperti ini:

"Iya Mas, disini tutup semua kalo hari Minggu. Coba Mas lurus aja lewat gang ini, lalu mentok belok kiri ke arah Stasiun Pondok Jati. Di depan stasiun itu biasanya ada tempat fotokopian yang buka di hari Minggu".

Titik terang lagi buat saya, meskipun kepercayaan saya akan omongan orang lain sudah  semakin pudar, mengingat sedari tadi gara-gara mendengar omongan orang lain, saya belum juga menemukan tempat fotokopi. Tapi, saya ya tetap saya. Daripada bingung mau kemana lagi, saya mengikuti saja apa saran dari Ibu beserta gengnya tadi.

Berjalan ke ujung gang, lalu berbelok ke kiri hingga ke arah Stasiun Pondok Jati. Mata saya melihat sambil memicingkan mata. Memastikan mata minus saya bisa melihat dengan jelas apa ada tempat fotokopi yang buka. Dan akhirnya.......

Sampai di persimpangan jalan dekat dengan kereta di dekat Stasiun Pondok Jati, saya menemukan sebuah tulisan "Foto Copy" di depan sebuah rumah. Segera saja saya menuju ke rumah tersebut untuk melihat apa tempat fotokopi di rumah ini buka atau tidak. Dan ternyata...........

Puji Tuhan ternyata tempat fotokopi tersebut buka. Tempat fotokopi dimana merupakan lokasi yang pertama kali ditunjuk oleh pedagang koran, orang pertama yang saya tanya. Akhirnya saya pun memfotokopi Surat Baptis pacar saya, dan segera kembali ke gereja.

Perihal Mendengarkan orang lain

Perjalanan saya yang saya ceritakan di atas tak mungkin terjadi sama persis jika saya tidak bertanya dan mendengarkan orang lain. Ada beberapa kemungkinan yang mungkin terjadi. Saya bisa saja berjalan terus ke arah Jatinegara tanpa tahu dimana letak tempat fotokopi di daerah sana. Atau saya juga bisa saja lebih cepat menemukan tempat lokasi fotokopi tanpa bantuan orang lain.

Seeing is believing.

Pepatah seeing is believing seharusnya saya praktikan dalam kejadian ini. Terlalu banyak mendengarkan orang lain, tanpa ada usaha untuk benar-benar membuktikan omongan orang lain tersebut. Mungkin kalau saya pakai prinsip ini, maka saya seharusnya membuktikan omongan pedagang koran yang mengatakan bahwa tempat fotokopi (yang akhirnya menjadi tempat saya akhirnya bisa fotokopi) pada hari Minggu tutup. 
Terlalu mudah percaya. Saya memang orang yang sangat mudah percaya pada orang lain. Tak heran saya sedikit suka gosip, teori konspirasi atau cerita lain yang belum terbukti tapi sudah digembar-gemborkan kemana mana.

Jodoh Tak Lari Kemana

Ini pelajaran kedua dari kejadian ini, setelah perihal mendengarkan orang lain di atas.
Bagi saya, kejadian ini merupakan bukti bahwa jodoh itu tak lari kemana-mana, selama kita berusaha terus untuk mendapatkannya. Coba bayangkan jika saya tak berusaha terus untuk mencari  tempat fotokopi hingga dapat, meskipun harus berputar-putar. 

Ilustrasinya begini. "tempat saya akhirnya bisa fotokopi" merupakan jodoh saya untuk memfotokopi. Meskipun saya mendapatkan saran dari beberapa orang yang membuat saya memutar jauh, tapi saya tetap saja kembali ke jodoh saya yaitu "tempat saya akhirnya bisa fotokopi" tersebut. Betul kan :)

Minggu, 12 Januari 2014

Kenapa Saya Suka Film Drama?



Bagi sebagian besar orang, terutama bagi kalangan pria, menonton film drama adalah hal yang sangat sangat sangat membosankan. Kenapa harus ada tiga kali kata “sangat”? Ya karena memang seperti itulah gambaran perasaan yang dialami kaum pria ketika harus menonton film drama. Dari lima orang teman pria di kantor saya yang saya tanya soal selera film, tak ada satu pun yang memilih genre drama sebagai pilihan mereka. Action, horror, fantasi, science fiction adalah jawaban yang muncul dari kelima teman saya tersebut.   

Kebanyakan pria memang tidak menyukai film drama dengan alasan film drama itu alurnya membosankan, tidak ada adegan “action”-nya (kalo ada namanya film action dong), isinya cuma nangis doang, menye-menye, dan segudang alasan lain yang membuat para pria tidak menyukai film drama. Apalagi ada anggapan bahwa film drama memang diciptakan untuk kaum wanita dan kaum “pria” berjiwa wanita.

Tapi sesuai dengan judul tulisan saya di atas, saya ingin mendeklarasikan bahwa 

“SAYA ADALAH PRIA PENYUKA FILM DRAMA”.

Saya bukannya tidak suka dengan film jenis action, horror, fantasi, science fiction atau genre film lainnya ya. Tapi dari jenis-jenis film yang saya tonton (dan saya simpan di laptop), saya memilih film drama sebagai jenis film favorit saya. Berikut dua alasan kenapa saya menyukai film drama?

1.     Ceritanya mungkin terjadi

Ini dia alasan pertama kenapa saya menyukai film drama yaitu karena cerita-cerita dalam film drama itu mungkin saja terjadi. Misal saja film Date Night yang baru saja tonton. Diceritakan bahwa pasangan suami istri yang kehidupan rumah tangganya membosankan hingga suatu malam, ketika mereka sedang makan malam di sebuah restoran, mereka mengalami kejadian dan masalah yang akhirnya membuat mereka harus melewati malam yang berat.

Atau film Role Model yang menceritakan bagaimana seorang pemuda yang kehilangan pekerjaan dan pacarnya secara bersamaan, hingga ia marah dan melakukan tindakan kriminal yang akhirnya membuatnya harus menjalani hukuman public service di sebuah yayasan penitipan anak.

Dih, apa menariknya film begituan?

Hey man. Apakah kamu yakin kamu tidak akan mengalami hal seperti itu suatu saat nanti? Mengalami kehidupan rumah tangga yang penuh dengan lika-liku? Atau mengalami PHK, masalah cinta, keluarga, dll?

Bagi saya. Setiap cerita di film drama itu mungkin terjadi di kehidupan kita. Menurut saya film drama itu gambaran kehidupan manusia yang terjadi di sekitar kita, atau bahkan kita alami sendiri. Bukankah lebih mungkin kita mengalami masalah di keluarga kita daripada kita dikejar-kejar oleh penyihir “You Know Who” alias Voldemort? Atau bagi anda mungkin lebih mungkin dunia ini diserang oleh alien robot seperti di film Transformer?

2.     Ada pelajaran yang bisa diambil

Bukan. Ini bukan mau ngomongin pelajaran sekolah. Ini masih ngomongin tentang film drama.

Kembali ke poin 1. Karena cerita dalam film drama itu mungkin saja terjadi, maka kita bisa membayangkan cerita itu terjadi dalam hidup kita dan mengambil hikmah atau pelajaran dari film drama tersebut. Misal di film Family Weekend yang menceritakan seorang anak yang terpaksa harus melakukan tindakan-tindakan ekstrim (seperti menyekap dan mengikat tangan) kepada orang tuanya karena selama ini orang tuanya tersebut tidak peduli terhadap keadaan anak-anaknya akibat kesibukan masing-masing orang tua. Akhir dari film tersebut adalah sang anak ditahan oleh polisi, namun hal tersebut membuat kedua orang tuanya sadar bahwa selama ini mereka sudah mengacuhkan keberadaaan anak-anaknya.

Pelajaran yang bisa diambil dari film tersebut bagi saya adalah bahwa jika nanti saya jadi orang tua (Amin..:)) saya harus memperhatikan dan merawat anak-anak saya kelak. Setiap orang pasti memiliki pandangan tersendiri terhadap hikmah apa yang bisa diambil dari sebuah film.

Memang sih tak hanya film drama yang member pembelajaran terhadap kita. Cuma bagi saya ya kembali ke poin no. 1. Jika kita susah membayangkan kejadian kedatangan alien atau kemunculan superhero di dunia ini benar-benar terjadi, bagaimana bisa kita mengambil hikmah dari film tersebut untuk kita jadikan pembelajaran bagi hidup kita.

Dua alasan di atas mungkin tidak cukup untuk meyakinkan bahwa seorang pria tidak harus malu untuk menonton film drama. Drama itu menarik lho dan mampu kita jadikan pembelajaran. Siapa bilang buku itu satu-satunya gudang ilmu. Film juga lho. Dari pengalaman pacar saya yang seorang guru, ternyata anak-anak lebih tertarik untuk belajar ketika media pembelajaran yang digunakan adalah video atau film, dibandingkan ketika mereka hanya diwajibkan membaca dan menghafalkan buku pembelajaran.

And the last sentences, tontonlah film drama yang memang bermutu. Sinetron-sinetron di Indonesia sih sebenarnya contoh cerita drama juga, cuma bagi saya itu cerita drama yang buruk. Alur cerita monoton, teknik pengambilan kamera yang seadanya, akting para artis yang kaku, dan segudang alasan lain yang membuat saya tidak menyarankan anda untuk melihat sinetron Indonesia.

Ok. Bye-bye….

Rabu, 08 Januari 2014

Rekap Blog Tahun 2013

Tahun 2013 telah berakhir resmi 5 hari yang lalu. Seharusnya nulis rekap blog ini bagusnya di akhir tahun 2013. Tapi berhubung kesibukan di akhir tahun, baru sekarang bisa sempat merekap beberapa data dari blog ini sepanjang tahun 2013.

Tahun 2013 ini dari segi posting, saya mengalami kemunduran yang sangat parah. Di tahun 2012 saya berhasil menulis postingan sebanyak 99 tulisan, sedangkan di tahun 2013 kemarin, saya hanya berhasil menulis 43 tulisan. Jumlah itu saja karena saya lumayan rajin menulis dalam dua bulan terakhir kemarin, yaitu 8 tulisan di bulan November dan 7 tulisan di bulan Desember.

Dari sisi keragaman tulisan, tahun 2013 saya nobatkan menjadi tahun menulis opini dan renungan, serta catatan sehari-hari. Dari 43 tulisan di tahun 2013, setengahnya adalah tulisan opini, renungan dan catatan sehari-hari. Sisanya terdiri dari review kuliner, buku dan film. Bila di tahun 2012 saya aktif menulis fiksi, maka di tahun 2013 lalu saya hanya berhasil menulis 3 tulisan.

Dari sisi jumlah komentar, di tahun 2013 ini blog saya mendapat 44 komentar, dimana tulisan paling banyak dikomentari justru tulisan berjudul Jarak Saya Selangor Hanya 5 cm yang saya tulis di tahun 2012 pada saat mengikuti salah satu lomba blog yang hadiahnya jalan-jalan ke Selangor.

Apa lagi ya data dari blog saya untuk tahun 2013?

Oke, sebagai penutup saya ingin berbagi rasa syukur saya karena tadi saya baru diemail oleh Blogdetik bahwa saya dapat hadiah kaos karena tulisan saya Mencari Motor Sport Yang Canggih, Irit dan Advance  masuk dalam 50 tulisan pertama dalam sebuah lomba yang digagas Blogdetik.

Sekian dan terima kasih.

Kamis, 12 Desember 2013

Pamuji, Contoh Tanggung Jawab Terhadap Pekerjaan

Selalu ada hikmah dari sebuah musibah. Dan ada selalu ada pelajaran berharga dari sebuah masalah.
Tak terkecuali dari peristiwa musibah tabrakan antara mobil tangki dengan kereta rel listrik (KRL) di daerah Tangerang Selatan beberapa hari yang lalu. Salah satu pelajaran yang menurut saya berharga dari  peristiwa tersebut adalah mengenai dedikasi terhadap pekerjaan.

Dari artikel yang saya baca disini, diceritakan bahwa Pak Pamuji, penjaga perlintasan rel dimana terjadinya peristiwa tabrakan tersebut tetap berada di dekat mobil tangki sampai dengan detik-detik terjadinya tabrakan. Ia tetap berusaha untuk mengingatkan sopir mobil tersebut untuk menjalankankan kendaraannya guna menghindari tabrakan. Meski telah berusaha, akhirnya tabrakan pun tetap terjadi, persis di depan matanya.

Dalam artikel tersebut terdapat kata-kata seperti ini:

Saat ditanya mengapa ia tidak melarikan diri saat kereta datang dari arah stasiun Pondok Ranji, Pamuji mengaku ia masih memikirkan tanggungjawabnya terhadap pintu perlintasan itu. Hingga saat-saat terakhir sebelum tabrakan, ia masih berusaha mengingatkan sang sopir.

"Tanggung jawab saya itu membuat perjalanan kereta aman, termasuk steril jalur," katanya

Jujur saja, begitu membaca kata-kata tersebut, pikiran saya tak berhenti berpikir. Apakah ketika saya berada di posisi sebagai Pak Pamuji dan mengetahui akan terjadinya tabrakan di depan diri saya yang pasti akan membuat saya terluka, saya akan melakukan hal yang Pak Pamuji lakukan? Atau apakah saya malah kabur dan menghindar, yang penting diri saya selamat?

Masa Pertumbuhan Kita

Kalian pasti pernah menerima ucapan dari teman atau saudara kalian dengan bunyi kira-kira seperti ini " Makan yang banyak ya. Kan lagi ...