Kamis, 27 Maret 2014

Kalian HEBAT

Sudah beberapa minggu ini rasanya tangan dan otak saya buntu tak mau bekerjasama. Mungkin mereka saling marah dan saling menyalahkan mengapa tak pernah ada lagi tulisan hasil kerjasama mereka. Dalam rangka proses rujuk antara tangan dan otak saya, maka  saya memaksa mereka untuk kembali berkomunikasi dan berbicara untuk menghasilkan tulisan ini. Mungkin memang mereka harus saling mengenal kembali, agar saling menyayangi lagi *ealah* :).

Beberapa hari ini mendapat kabar gembira yang datang dari beberapa teman. Kabar gembira mereka yang akhirnya membuat saya gembira dan untuk selanjutnya merenung penuh perasaan.

Kabar gembira pertama saya dapatkan dari teman kuliah saya, sebut saja Aldo, yang akhirnya berhasil diterima menjadi Pengajar Muda Indonesia Mengajar angkatan VIII. Buat yang belum tahu, Indonesia Mengajar adalah sebuah program yang digagas oleh Anies Baswedan, dimana putra putri terbaik bangsa dipilih dan dikirim ke daerah-daerah pelosok di Indonesia. Disana para pengajar muda tersebut akan tinggal dan mengajar selama satu tahun penuh.
 
Berat? Ya seperti itulah keadaan yang saya bayangkan ketika dulu pertama kali mendengar tentang Indonesia Mengajar di tahun 2010. Membayangkan kesulitan-kesulitan yang harus dihadapi oleh para pengajar muda yang mungkin terbiasa dengan kehidupan kota besar dengan segala kemudahan, lalu tiba-tiba harus berjuang mengatasi keterbatasan demi keterbatasan ketika mengajar di daerah dimana ia ditempatkan. 
 
Buat saya, teman saya Aldo ini sungguh punya keberanian karena ia rela meninggalkan pekerjaannya demi mengejar impiannya menjadi pengajar muda. Saya tahu memang masa depan pengajar muda setelah ikut program biasanya bagus. Adik salah satu teman kantor saya yang juga seorang pengajar muda angkatan III  baru saja mendapatkan beasiswa Erasmus Mundus untuk melanjutkan studi S2 di Eropa. 

Kabar gembira kedua datang dari teman SMA saya, sebut saja Alford. Jadi ceritanya beberapa hari yang lalu saya janjian ketemu dengan dua teman SMA saya yaitu Alford tadi dan Amri. Kalau dengan Amri sih memang saya masih sering bertemu atau sekadar bercerita di telepon. Nah, untuk Alford tadi, saya sudah lama tidak bertemu. Mungkin sudah sekitar 1,5 tahun kami tak bertemu atau berkomunikasi. 

Ketika dikabari bahwa Alford ini sedang proses tes untuk kerja di Jakarta, maka saya pun senang karena itu berarti kita jadi bisa sering bertemu lagi. Sama ketika saya dulu datang ke rumahnya untuk baca komik dan majalah film. Hehe.. Dan ketika saya tanya dia sedang tes dimana, ternyata teman saya ini baru saja diterima sebagai CPNS di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Wohooooo.....Keren.
 
Saya senang mendengar berita ini karena dia memang pantas untuk mendapatkan pekerjaan ini. Apalagi posisi jabatan yang ia lamar sudah sesuai dengan background S1-nya yaitu Teknik Elektro. Saya senang karena ia bisa dapat kesempatan lebih baik dalam pekerjaannya. 
 
Kabar gembira ketiga datangnya dari teman kuliah saya. Sebenarnya sudah lama saya dengar berita gembira ini. Kabar gembiranya adalah teman saya, panggil saja dengan Asto, diterima di Otoritas Jasa Keuangan, instansi keren yang tugasnya melakukan pengaturan dan pengawasan terhadap kegiatan jasa keuangan di sektor Perbankan, sektor Pasar Modal, dan sektor IKNB. Saya belum sempat ketemu untuk berbincang-bincang dengan teman saya tentang bagaimana perjuangan dia mendapatkan pekerjaan ini. 
 
Apa moral of the story dari tulisan saya ini?
Bagi saya pribadi, di satu sisi saya senang dan bersyukur akhirnya teman-teman saya berhasil mendapatkan apa yang mereka perjuangkan. 
 
Kalian HEBAT.
 
Di satu sisi lain, ini mengingatkan saya untuk merenung lagi apa mimpi saya yang sepertinya saat ini dalam masa terlena dengan kenyamanan. Semoga saya bisa segera tersadar dan bisa memberi kabar gembira pada mereka.
 
Mari bangun dan mandi. :)

Senin, 03 Maret 2014

Perihal Mendengarkan Orang Lain dan Jodoh

Kalau judul di atas terlihat ingin bercerita tentang kisah jejaka atau gadis yang sedang galau masalah jodoh pasangan hidup gara-gara mendengarkan orang lain, kalian salah besar. Kali ini saya ingin bercerita mengenai kejadian yang saya alami kemarin siang.

Jadi ceritanya kemarin saya tengah mengantarkan pacar saya untuk mengikuti pelajaran Krisma di Gereja St. Yoseph Matraman. Setiap peserta, termasuk pacar saya, diwajibkan untuk membawa fotokopi Surat Baptis masing-masing. Nah, sayangnya Surat Baptis milik pacar saya ini belum sempat difotokopi. Berhubung saya pacar yang baik (Ya kan ya kan..:)), saya minta pacar saya untuk langsung menuju ruang kelas, sedangkan saya yang akan memfotokopi Surat Baptisnya. Disinilah cerita dimulai.

Begitu mulai mencari tempat fotokopi, saya tak mengira kalau perjalanan mencari tempat fotokopi ini akan lumayan lama. Saya tadinya berpikir, karena Gereja St. Yoseph Matraman berdekatan lokasinya dengan beberapa sekolah, maka pasti banyak tempat fotokopian di sekitar gereja.

Awalnya saya berjalan menuju ke jalan samping SMA Fons Vitae Marsudirini yang ke arah daerah Stasiun Pondok Jati.  Disitu saya mendekati tukang koran. Sembari membeli sebuah surat kabar, saya menanyakan dimana tempat fotokopi terdekat. Mas pedagang koran menjawab bahwa di dekat Stasiun Pondok Jati ada tempat fotokopi, "Cuma kalo hari minggu tutup mas", begitu katanya. 

Dia pun lanjut mengatakan "Mending Mas coba ke arah Jatinegara aja Mas."
 Oke. Berhubung saya tidak terlalu tahu daerah itu, saya pun menurut saja perkataan Mas pedagang koran tersebut dan berbalik ke arah Jatinegara.

Setelah berjalan kira-kira 20 meter dari arah tukang koran, saya mencoba bertanya pada seorang juru parkir yang tengah berdiri di depan mobil-mobil yang berjejer di pinggir jalan. Pertanyaan yang saya ajukan masih dengan format dan isi yang sama.

"Pak, numpang tanya. Tahu tempat fotokopian di sekitar sini gak Pak? Ke arah sana (saya menunjuk ke arah Jatinegara) ada ga ya Pak?"

"Disitu (si Bapak menunjuk ke arah Jatinegara) ada Mas. Cuma kalo hari Minggu tutup. Coba aja ke arah situ Mas (menunjuk ke arah jalan menuju Stasiun Pondok Jati). Di situ kayaknya ada."

Oke yang kedua. Saya bingung harus ke arah mana. Tapi dasarnya saya ini gampang banget dengerin pendapat orang lain, maka kaki saya pun saya arahkan kembali menuju jalan ke arah Pondok Jati sambil berharap petunjuk Bapak juru parkir tadi benar.
Berjalan 100 meter ke arah Stasiun Pondok Jati, saya menemukan sebuah warung. Tampak seorang Bapak tengah duduk disitu. Saya pun untuk ketiga kalinya menanyakan pertanyaan:

" Pak, tahu tempat fotokopi sekitar sini gak Pak? Katanya ke arah sana ada ya Pak (sambil tangan saya menunjuk ke arah Stasiun Pondok Jati"

Dan, tahu jawaban yang saya dapat dari Bapak itu?
"Disitu ada Mas (menunjuk ke arah yang tadi saya tanyakan), cuma kalo hari Minggu tutup biasanya. Coba aja mas cari ke arah Jatinegara"

Duarrrr.... Kesel sekaligus bingung. Mau cari dimana lagi kalo saya muter-muter disini terus. Dan, dasar memang saya orangnya "nurutan", saya pun berjalan ke arah Jatinegara. Hari sudah terasa sangat panas. Matahari seakan ikut memberi ujian kesabaran kepadaku. 

Setelah melewati Kantor Direktorat Peralatan TNI-AD, saya pun melihat seorang juru parkir di depan Mata Foto, dekat dengan Seven Eleven. Pikir saya daripada saya berjalan terlalu jauh tanpa tujuan, lebih baik saya bertanya pada juru parkir tersebut. Ternyata, setelah saya bertanya letak tempat fotokopi, juru parkir tersebut menunjuk ke arah gang di samping Mata Foto.

Titik terang. Itu pikiran saya ketika melihat memang ada beberapa tempat fotokopi dalam keadaan tertutup di gang tersebut. Memang sedari tadi saya hanya mendengarkan ucapan orang, tanpa memastikan apa benar tempat fotokopi yang dibilang tutup itu memang benar-benar tutup. Dan kini saya benar-benar melihat ada beberapa tempat fotokopi yang benar-benar tutup.  Saya terus berjalan menyusuri gang tersebut ke arah timur. Berharap di depan sana ada tempat fotokopi yang buka. Dan ternyata, setelah berjalan cukup jauh dari Jalan Matraman Raya, tak ada satu pun tempat fotokopi yang buka.

Sudah menyerahkah saya? Jujur saja saya sudah hampir menyerah. Terik matahari lagi-lagi menjadi alasan terkurasnya energi saya siang itu. Tapi, karena saya butuh (dan karena saya pacar yang baik,hehe..) maka saya putuskan untuk bertanya pada ibu-ibu yang sedang duduk di pinggir jalan, di depan sebuah tempat fotokopian yang tutup. 

"Bu, permisi. Apa di sekitar sini ada tempat fotokopian lagi ya Bu? Yang ke arah depan sana tutup semua."

Ibu itu menjawab, kurang lebih seperti ini:

"Iya Mas, disini tutup semua kalo hari Minggu. Coba Mas lurus aja lewat gang ini, lalu mentok belok kiri ke arah Stasiun Pondok Jati. Di depan stasiun itu biasanya ada tempat fotokopian yang buka di hari Minggu".

Titik terang lagi buat saya, meskipun kepercayaan saya akan omongan orang lain sudah  semakin pudar, mengingat sedari tadi gara-gara mendengar omongan orang lain, saya belum juga menemukan tempat fotokopi. Tapi, saya ya tetap saya. Daripada bingung mau kemana lagi, saya mengikuti saja apa saran dari Ibu beserta gengnya tadi.

Berjalan ke ujung gang, lalu berbelok ke kiri hingga ke arah Stasiun Pondok Jati. Mata saya melihat sambil memicingkan mata. Memastikan mata minus saya bisa melihat dengan jelas apa ada tempat fotokopi yang buka. Dan akhirnya.......

Sampai di persimpangan jalan dekat dengan kereta di dekat Stasiun Pondok Jati, saya menemukan sebuah tulisan "Foto Copy" di depan sebuah rumah. Segera saja saya menuju ke rumah tersebut untuk melihat apa tempat fotokopi di rumah ini buka atau tidak. Dan ternyata...........

Puji Tuhan ternyata tempat fotokopi tersebut buka. Tempat fotokopi dimana merupakan lokasi yang pertama kali ditunjuk oleh pedagang koran, orang pertama yang saya tanya. Akhirnya saya pun memfotokopi Surat Baptis pacar saya, dan segera kembali ke gereja.

Perihal Mendengarkan orang lain

Perjalanan saya yang saya ceritakan di atas tak mungkin terjadi sama persis jika saya tidak bertanya dan mendengarkan orang lain. Ada beberapa kemungkinan yang mungkin terjadi. Saya bisa saja berjalan terus ke arah Jatinegara tanpa tahu dimana letak tempat fotokopi di daerah sana. Atau saya juga bisa saja lebih cepat menemukan tempat lokasi fotokopi tanpa bantuan orang lain.

Seeing is believing.

Pepatah seeing is believing seharusnya saya praktikan dalam kejadian ini. Terlalu banyak mendengarkan orang lain, tanpa ada usaha untuk benar-benar membuktikan omongan orang lain tersebut. Mungkin kalau saya pakai prinsip ini, maka saya seharusnya membuktikan omongan pedagang koran yang mengatakan bahwa tempat fotokopi (yang akhirnya menjadi tempat saya akhirnya bisa fotokopi) pada hari Minggu tutup. 
Terlalu mudah percaya. Saya memang orang yang sangat mudah percaya pada orang lain. Tak heran saya sedikit suka gosip, teori konspirasi atau cerita lain yang belum terbukti tapi sudah digembar-gemborkan kemana mana.

Jodoh Tak Lari Kemana

Ini pelajaran kedua dari kejadian ini, setelah perihal mendengarkan orang lain di atas.
Bagi saya, kejadian ini merupakan bukti bahwa jodoh itu tak lari kemana-mana, selama kita berusaha terus untuk mendapatkannya. Coba bayangkan jika saya tak berusaha terus untuk mencari  tempat fotokopi hingga dapat, meskipun harus berputar-putar. 

Ilustrasinya begini. "tempat saya akhirnya bisa fotokopi" merupakan jodoh saya untuk memfotokopi. Meskipun saya mendapatkan saran dari beberapa orang yang membuat saya memutar jauh, tapi saya tetap saja kembali ke jodoh saya yaitu "tempat saya akhirnya bisa fotokopi" tersebut. Betul kan :)

Senin, 24 Februari 2014

[Akber] Kelas AkberJKT “Digital Content Strategy” bersama Agung Puma (@AgungPuma)

Tema seputar dunia social media, digital agency beserta strateginya memang selalu menjadi topik yang menarik untuk dibahas. Hal itulah kenapa Akber Jakarta hari Kamis, 20 Februari 2014 yang lalu kembali mengadakan kelas dengan topik seputar dunia social media. Kali ini, tema yang dibahas adalah “Digital Content Strategy” alias Strategi Konten Digital. Dan, guru yang bersedia berbagi malam itu adalah @AgungpumA, seorang praktisi yang berpengalaman di bidang digital marketing.

Mas @AgungpumA mengawali kelas #AkberJKT6 yang malam itu bertempat di kantor Liputan 6 (@liputan6dotcom) dengan menampilkan beberapa slide yang menggambarkan data seputar dunia internet di Indonesia, mulai dari perbandingan jumlah populasi dengan jumlah pengguna internet di Indonesia, sampai data apa saja yang biasanya dibuka oleh pengguna mobile internet use.



Sebelum berbicara digital content strategy, Mas Agung menjelaskan tentang optimisasi social, yang secara singkat disinilah kita harus tahu apa manfaat social media bagi sebuah brand. Ada beberapa manfaat social media yang dijelaskan oleh Mas Agung, yaitu:
  • Social media sebagai alat untuk menyampaikan pesan kita di media online
  • Sebagai media untuk membangun branding dan membuat kita/brand dibandingkan dengan yang lain
  • Sebagai media untuk membangun network atau conversation
  • Untuk mempercepat penyebaran informasi tentang kita/brand
  • Karena sifatnya mengglobal, social media juga berperan sebagai global word of mouth



Definisi dari strategi konten itu sendiri dapat dilihat dari kata pembentuknya yaitu konten dan strategi. Konten adalah teks, data, grafik, audio atau video, sedangkan strategi adalah rencana yang dibuat yang bertujuan untuk mencapai hasil yang diinginkan (goal).

Terdapat 3 jenis konten yang diterangkan oleh Mas Agung: published content, reactive content, dan proactive content.
  • Published content, adalah konten yang kita buat sendiri yang bertujuan untuk memperkuat karakter brand kita.
  • Reactive content, yaitu konten yang dibuat untuk menanggapi konten lain ataupun isu yang sedang berkembang
  • Proactive content, yaitu konten yang secara proaktif berbagi, atau mempromosikan, yang diterbitkan di platform orang lain.

Berlanjut ke inti dari materi kelas ini, yaitu strategi konten, pada prinsipnya hanya ada 5 proses atau tahapan dalam strategi ini. Apakah 5 proses “Buat KAMU” yang menjadi satu kesatuan dalam strategi konten ala Mas Agung?

1. Buat
  • Konten untuk blog, email, video web, perangkat mobile, media sosial, dan properti online lainnya.
  • Bentuk panjang dan bentuk pendek teks, gambar, link, video, widget, presentasi, dan media online lainnya.
  • Semua konten yang dikembangkan berdasarkan rencana konten, dan dirancang untuk memenuhi tujuan dari inisiatif.
2. Kelola
  • Mengelola Team pembuat konten, team Internal, klien yang mengerjakan konten, dll
  • Kelola pengendalian mutu untuk setiap platform, memastikan bahwa semua konten web dioptimalkan dan diterbitkan mengikuti strategi yang terbaik.
  • Pastikan bahwa semua pekerjaan diciptakan, disetujui, dan diterbitkan pada waktu yang tepat dan sesuai strategi.
3. Amati
  • Memantau dialog pada platform Digital yang dimiliki, serta media lain pada umumnya untuk mengidentifikasi resiko dan peluang.
  • Pantau sentimen untuk tetap informasi tentang apa yang orang-orang pikirkan tentang brand kita secara real time.
  • Mengidentifikasi pengaruh, dan memelihara daftar influencer yang relevan dalam ruang Anda dari waktu ke waktu
4. Moderasi
  • Menanggapi dialog yang dituangkan dalam rencana konten.
  • Mengevaluasi dan mengajak user untuk berbagi konten pada platform yang dimiliki.
  • Mengidentifikasi dan mengevaluasi dialog brand kita pada platform eksternal.
  • Mengedit dan menyetujui konten yang masuk dari sumber eksternal.
  • Secara proaktif mempromosikan konten brand pada platform eksternal.
5. Ukur
  • Ukur hasil konten yang sudah dibuat dengan menggunakan alat pengukuran yang kredibilitasnya diakui.
  • Kontrol dan buat konten baru dari hasil pengukuran yang sudah dilakukan agar bisa menjadi acuan dalam membuat konten kedepannya
  • Satu pesan terakhir dari Mas Agung di akhir presentasinya. “ Social Media hanya sebagai alat, Konten adalah yang utama”. 


Foto-foto diambil dari dok.pribadi (@rbennymurdhani) dan @AkberJKT

Selasa, 18 Februari 2014

[Akber] Kelas AkberJKT “Financial Planning For All Ages" bersama Ligwina Hananto

Tepat tanggal 6 Februari 2014 yang lalu, AkberJKT menyelenggarakan kelas #AkberJKT4 dengan tema “Financial Planning For All Ages”. Bertempat di Kantor QM Financial, Jalan Jalan Ciranjang 63B (Gedung One Wolter), kelas #AkberJKT ini dihadiri sekitar 25 orang, termasuk para relawan AkberJKT.

Mba Ligwina Hananto, selanjutnya disingkat Mba Wina, memulai kelas dengan menjelaskan bahwa untuk memulai sebuah proses perencanaan keuangan, kita harus terlebih dahulu tahu kita ada di posisi mana: apakah kita masih single, newly wed, family, atau pensioner. “Karena kebutuhan seorang single pasti akan berbeda dengan seorang yang telah berada pada tahap family”, kata Mba Wina menjelaskan.

Prinsipnya, terdapat 3 kegiatan yang menjadi dasar dari sebuah Financial Planning, yaitu Manage your cashflow, Check up your financial condition, dan Learn about investment.

Dalam mengatur cashflow alias pemasukan-pengeluaran kita, Mba Wina memberikan 5 langkah sederhana yang harus kita lakukan segera setelah kita menerima gaji:

- Bayar tagihan kartu kredit

- Alokasi pengeluaran bulanan

- Beresin sedekah/zakat/bantu orang lain

- Investasi

- Sudah semua? Sisa uangnya diatur hingga gajian bulan depan

5 langkah tersebut dibuat Mba Wina berdasarkan urutan kewajibannya. Ia mencontohkan pengeluaran uang kost tiap bulan yang lebih penting daripada untuk investasi. Kan tidak mungkin bukan gara-gara mendahulukan investasi, akhirnya kita tidak bisa bayar uang kost atau kontrakan sehingga kita diusir dari kost atau kontrakan tersebut.

Mba Wina sempat memberikan tips untuk mengakali agar gaji tidak habis duluan dengan cara semua urusan pembayaran harus sudah selesai sebelum tanggal 5. Nanti dari pembayaran-pembayaran tersebut, sisa uangnya dibagi 4 untuk kebutuhan per minggu, jadi kita cukup ambil ke ATM seminggu sekali.

Setelah 5 langkah dalam Cashflow Management tadi, Mba Wina meneruskan ke bagaimana alokasi penghasilan kita. Pengeluaran kita apakah lebih besar daripada penghasilan kita atau tidak. Secara umum, komponen penghasilan bisa berasal dari hasil bisnis, gaji, sewa properti, dividen saham, kupon obligasi, bunga deposito. Sedangkan komponen pengeluaran kita terdiri dari cicilan utang, premi asuransi, rumah tangga, transportasi, anak, keluarga, pekerja, kesehatan, dan terakhir adalah kebutuhan pribadi, dengan presentase maksimal 30 % untuk cicilan utang, 20-40% untuk premi asuransi s/d kesehatan, dan 20 % untuk pribadi. Dari perhitungan antara penghasilan dikurangi pengeluaran tersebut bisa diketahui apakah cashflow kita positif atau negatif, atau masih adakah sisa uang untuk investasi.

Qucik Financial Check Up
Quick Financial Check Up

Salah satu materi yang cukup seru dibahas adalah ketika Mba Wina memberikan hasil hitung-hitungan dana pendidikan anak, mulai dari TK s/d S1. Untuk membuat perencanaan dana pendidikan anak, kita harus sudah tahu berapa saat ini biaya sekolah yang direncanakan untuk anak kita, lalu kemudian ditambah dengan total inflasi per tahunnya. Pesan Mba Wina, untuk jangka waktu dekat gunakanlah instrument investasi yang beresiko kecil, sedangkan untuk perencanaan jangka panjang instrument investasi dengan target return yang lebih besar, seperti reksadana saham, dapat menjadi pilihan.


Perhitungan Dana Pendidikan Anak 

Seperti biasanya, diakhir penjelasan materi, para peserta dipersilakan untuk bertanya kepada guru yang sudah mengajar. Salah satu pertanyaan yang muncul adalah terkait dengan dana darurat, Mba Wina menjelaskan bahwa dana darurat itu dihitung dari dana pengeluaran bulanan dikalikan dengan jumlah pengali yang berbeda-beda tergantung “WHERE ARE YOU NOW” tadi. Untuk single 4 kali pengeluaran bulanan, menikah 6 kali, anak satu 9 kali, punya anak >1= 12 kali.


nb; tulisan ini juga dipublish di sini>> http://akademiberbagi.org/financial-planning-for-all-ages-bersama-ligwina-hananto-mrshananto/

Minggu, 12 Januari 2014

Kenapa Saya Suka Film Drama?



Bagi sebagian besar orang, terutama bagi kalangan pria, menonton film drama adalah hal yang sangat sangat sangat membosankan. Kenapa harus ada tiga kali kata “sangat”? Ya karena memang seperti itulah gambaran perasaan yang dialami kaum pria ketika harus menonton film drama. Dari lima orang teman pria di kantor saya yang saya tanya soal selera film, tak ada satu pun yang memilih genre drama sebagai pilihan mereka. Action, horror, fantasi, science fiction adalah jawaban yang muncul dari kelima teman saya tersebut.   

Kebanyakan pria memang tidak menyukai film drama dengan alasan film drama itu alurnya membosankan, tidak ada adegan “action”-nya (kalo ada namanya film action dong), isinya cuma nangis doang, menye-menye, dan segudang alasan lain yang membuat para pria tidak menyukai film drama. Apalagi ada anggapan bahwa film drama memang diciptakan untuk kaum wanita dan kaum “pria” berjiwa wanita.

Tapi sesuai dengan judul tulisan saya di atas, saya ingin mendeklarasikan bahwa 

“SAYA ADALAH PRIA PENYUKA FILM DRAMA”.

Saya bukannya tidak suka dengan film jenis action, horror, fantasi, science fiction atau genre film lainnya ya. Tapi dari jenis-jenis film yang saya tonton (dan saya simpan di laptop), saya memilih film drama sebagai jenis film favorit saya. Berikut dua alasan kenapa saya menyukai film drama?

1.     Ceritanya mungkin terjadi

Ini dia alasan pertama kenapa saya menyukai film drama yaitu karena cerita-cerita dalam film drama itu mungkin saja terjadi. Misal saja film Date Night yang baru saja tonton. Diceritakan bahwa pasangan suami istri yang kehidupan rumah tangganya membosankan hingga suatu malam, ketika mereka sedang makan malam di sebuah restoran, mereka mengalami kejadian dan masalah yang akhirnya membuat mereka harus melewati malam yang berat.

Atau film Role Model yang menceritakan bagaimana seorang pemuda yang kehilangan pekerjaan dan pacarnya secara bersamaan, hingga ia marah dan melakukan tindakan kriminal yang akhirnya membuatnya harus menjalani hukuman public service di sebuah yayasan penitipan anak.

Dih, apa menariknya film begituan?

Hey man. Apakah kamu yakin kamu tidak akan mengalami hal seperti itu suatu saat nanti? Mengalami kehidupan rumah tangga yang penuh dengan lika-liku? Atau mengalami PHK, masalah cinta, keluarga, dll?

Bagi saya. Setiap cerita di film drama itu mungkin terjadi di kehidupan kita. Menurut saya film drama itu gambaran kehidupan manusia yang terjadi di sekitar kita, atau bahkan kita alami sendiri. Bukankah lebih mungkin kita mengalami masalah di keluarga kita daripada kita dikejar-kejar oleh penyihir “You Know Who” alias Voldemort? Atau bagi anda mungkin lebih mungkin dunia ini diserang oleh alien robot seperti di film Transformer?

2.     Ada pelajaran yang bisa diambil

Bukan. Ini bukan mau ngomongin pelajaran sekolah. Ini masih ngomongin tentang film drama.

Kembali ke poin 1. Karena cerita dalam film drama itu mungkin saja terjadi, maka kita bisa membayangkan cerita itu terjadi dalam hidup kita dan mengambil hikmah atau pelajaran dari film drama tersebut. Misal di film Family Weekend yang menceritakan seorang anak yang terpaksa harus melakukan tindakan-tindakan ekstrim (seperti menyekap dan mengikat tangan) kepada orang tuanya karena selama ini orang tuanya tersebut tidak peduli terhadap keadaan anak-anaknya akibat kesibukan masing-masing orang tua. Akhir dari film tersebut adalah sang anak ditahan oleh polisi, namun hal tersebut membuat kedua orang tuanya sadar bahwa selama ini mereka sudah mengacuhkan keberadaaan anak-anaknya.

Pelajaran yang bisa diambil dari film tersebut bagi saya adalah bahwa jika nanti saya jadi orang tua (Amin..:)) saya harus memperhatikan dan merawat anak-anak saya kelak. Setiap orang pasti memiliki pandangan tersendiri terhadap hikmah apa yang bisa diambil dari sebuah film.

Memang sih tak hanya film drama yang member pembelajaran terhadap kita. Cuma bagi saya ya kembali ke poin no. 1. Jika kita susah membayangkan kejadian kedatangan alien atau kemunculan superhero di dunia ini benar-benar terjadi, bagaimana bisa kita mengambil hikmah dari film tersebut untuk kita jadikan pembelajaran bagi hidup kita.

Dua alasan di atas mungkin tidak cukup untuk meyakinkan bahwa seorang pria tidak harus malu untuk menonton film drama. Drama itu menarik lho dan mampu kita jadikan pembelajaran. Siapa bilang buku itu satu-satunya gudang ilmu. Film juga lho. Dari pengalaman pacar saya yang seorang guru, ternyata anak-anak lebih tertarik untuk belajar ketika media pembelajaran yang digunakan adalah video atau film, dibandingkan ketika mereka hanya diwajibkan membaca dan menghafalkan buku pembelajaran.

And the last sentences, tontonlah film drama yang memang bermutu. Sinetron-sinetron di Indonesia sih sebenarnya contoh cerita drama juga, cuma bagi saya itu cerita drama yang buruk. Alur cerita monoton, teknik pengambilan kamera yang seadanya, akting para artis yang kaku, dan segudang alasan lain yang membuat saya tidak menyarankan anda untuk melihat sinetron Indonesia.

Ok. Bye-bye….

Masa Pertumbuhan Kita

Kalian pasti pernah menerima ucapan dari teman atau saudara kalian dengan bunyi kira-kira seperti ini " Makan yang banyak ya. Kan lagi ...