Minggu, 13 Oktober 2013

30 Hari Tanpa "Zona Nyaman" Smartphone

sumber: http://www.littlehouseliving.com

Tulisan ini bukan merupakan sebuah ajakan untuk membuang smartphone kamu dan bertahan untuk tidak memakainya selama 30 hari. Bukan. Ini bukan tentang itu. Tulisan ini lebih menjadi semacam "refleksi" bagi saya yang sampai hari ini sudah 22 hari menjalani aktivitas sehari-hari tanpa smartphone. Itu artinya saya memulai tak menggunakan smartphone pada tanggal 21 September 2013.

Baru 22 hari kok ditulisnya 30 hari? Ya karena memang target saya adalah bisa melewati hidup saya 30 hari tanpa smartphone.

Sebelum tanggal 21 September, saya adalah seseorang yang aktif di sosial media menurut ukuran teman-teman saya, ya meskipun saya bukanlah seorang buzzer atau selebtwit yang rajin sekali ngetwit atau bikin status di Path. Tak heran, keaktifan di sosial media tersebut membuat saya sangat sering sekali membuka smartphone saya (waktu itu saya punya HP Android.). Bangun pagi langsung ngecek HP. Mau makan, foto makanan dulu buat update Instagram atau Path. Pokoknya, hidup saya sangat-sangat sering terfokus hanya pada HP saya. Bahkan seringkali, saat kerja di kantor pun menjadi tidak fokus gara-gara asik ngetwit (ampun boss...hehe..).

Dan, tepat tanggal 20 September malam, semua itu lenyap begitu saja. HP saya dicuri pada saat saya sedang naik bus Kopaja menuju rumah.

Awalnya, saya merasa benar-benar kehilangan suatu "kebiasaan-kebiasaan" seperti ngetwit kapanpun, ngecek Path, atau buka email setiap waktu. Ya memang, saya masih saja bisa melakukan kegiatan-kegiatan tersebut melalui laptop saya. Tapi kan, tidak mungkin juga saya membuka laptop saya di bus Transjakarta atau Kopaja, hanya untuk mengecek email atau twitter kan. 

Sehari setelah saya kehilangan HP saya, sempat terpikir saya untuk langsung membeli smartphone yang baru lagi. Tapi, kemudian saya berpikir apa saya harus langsung membeli smartphone lagi, sedangkan sebelum kehilangan HP yang ini, sebulan sebelumnya pun saya sudah kehilangan sebuah smartphone.Kemudian, setelah berpikir baik-baik, saya pun memutuskan untuk selama 30 hari tidak menggunakan smartphone, dan hanya akan menggunakan HP yang cuma bisa SMS dan telepon saja.

Sulit, sungguh sulit memang menghilangkan kebiasaan untuk tiap waktu mengecek HP. Tapi lama kelamaan, kebiasaan-kebiasaan tersebut bisa sedikit demi sedikit hilang. Bahkan saya merasa, hasrat saya untuk bersosial media pun semakin merasa turun. Setelah 22 hari ini tanpa smartphone, saya merasa ternyata memang menggunakan smartphone memiliki efek negatif.

Salah satu efek negatif yang saya baru benar-benar saya sadari adalah betapa sebuah smartphone menjadi sebuah "zona nyaman" bagi seseorang. Saya tak mau bilang bahwa "zona nyaman smartphone" itu buruk. Tapi ketika seseorang selalu menjadikan "zona nyaman smartphone" sebagai pelarian dari lingkungan yang tidak nyaman di sekitarnya, maka saya memandang itu menjadi sebuah hal yang negatif.

Kalian sering tidak ketika ada di sekelompok orang yang baru saja kalian kenal, lalu kalian merasa tidak nyaman dengan orang-orang baru tersebut, dan akhirnya kalian pun menyibukkan diri dan tenggelam dalam "kenyamanan" yang ditawarkan oleh smartphone kalian.

Sebelumnya, saya pun menjadi orang yang seperti itu. Cuma ketika saya kehilangan "zona nyaman smartphone" tersebut, saya pun memaksa diri saya untuk sedikit berubah. Saya "memaksa" diri saya untuk belajar lebih mendengarkan perkataan orang-orang yang sedang berbicara kepada saya dan menanggapi perkataan mereka. Karena sungguh, ketika kita bertemu sahabat-sahabat atau teman-teman dekat kita, dan mereka disibukkan dengan smartphone masing-masing, sedangkan kita tak punya smartphone, rasanya sungguh tidak enak. 

Saya memang tak berniat untuk selamanya tak menggunakan smartphone, karena memang saya masih butuh beberapa aplikasi yang hanya ada di smartphone untuk mendukung kegiatan sehari-hari saya. Tapi semoga, setelah pelajaran 30 hari tanpa "zona nyaman" smartphone ini, saya lebih bijak dalam menggunakan smartphone. Intinya sih, keseimbangan antara dunia maya dan dunia nyata. Belajar lebih mendengarkan orang dan menanggapinya. Betul kan. :)

Rabu, 04 September 2013

Jalan-Jalan ke Museum Taman Prasasti Jakarta

Sebenarnya sudah lama sekali saya ingin berkunjung ke museum ini. Sayangnya, selalu saja hal-hal yang membuat rencana saya untuk berkunjung ke sana selalu gagal. Dan, akhirnya, setelah sekian lama menunggu dan penasaran, hari Sabtu tanggal 24 Agustus 2013 kemarin saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke museum ini.

Museum ini ada di Jalan Tanah Abang 1, Petojo Selatan, Jakarta Pusat. Letaknya persis di sebelah Kantor Walikota Jakarta Pusat. Buat yang mau naik kendaraan umum, ada dua cara yang bisa kalian gunakan:
  1. Kalian bisa menggunakan transportasi bus Transjakarta. Kalian tinggal naik bus Transjakarta jurusan Blok M - Kota. Trus kalian tinggal turun di Halte Monas. Dari situ kalian tinggal jalan kaki sekitar 500 meter saja. Atau kalau kalian gak mau jalan, kalian bisa naik ojek dari depan Museum Nasional. Cukup bayar 10 ribu saja biasanya.
  2. Atau kalau kalian dari arah Gajah Mada, kalian bisa naik mikrolet 08 jurusan Tanah Abang - Kota. Kalian naik mikrolet 08 yang ke arah Tanah Abang, dari samping Gajah Mada Plaza. Nanti kalian bilang ke abang angkotnya "Bang, turun di Kantor Walikota Jakarta Pusat ya". Setelah turun, kalian tinggal jalan ke arah museum ini. Ongkosnya sekitar Rp. 3.000 - Rp. 3.500.
 Untuk masuk ke museum, saya harus membayar tiket masuk seharga Rp. 5000. Untukanak-anak dan pelajar, harga tiket lebih murah. Sayangnya saya lupa untuk mencatat berapa harga pastinya.

Begitu memasuki area museum, kesan pertama yang saya dapatkan adalah "Wowwwww...keren banget museum ini". Di dekat pintu masuk saja, saya sudah menemukan patung dan nisan yang begini.



"Nisan..????" "Jadi saya kesini cuma buat liat nisan doang??"

Eits jangan salah. Nisan yang menjadi koleksi museum ini adalah nisan-nisan abad ke-16, ke-17 dan ke-18, dan bentuk nisan-nisan yang ada disini tak seperti nisan-nisan yang kita lihat jaman sekarang ini. Jadi kalian tidak bakal merasa mengunjungi Tanah Kusir deh. :) 

Berdasarkan info yang saya dapat dari leaflet yang diberikan pada saat saya membeli tiket masuk, museum ini memang benar-benar didirikan di bekas pemakaman kuno yang telah beroperasi sejak tahun 1795. Pemakaman ini kemudian ditutup tahun 1975 dan dipugar, hingga kemudian resmi digunakan sebagai museum pada tahun 1977 (Gubernu DKI Jakarta kala itu adalah Bapak Ali Sadikin).

Ini dia foto-foto nisan dan patung yang berhasil saya jepret:




Sayang sekali nisan-nisan ini dijadikan pijakan di tanah






Ada dua makam yang menarik bagi saya. Yang pertama adalah makam Kapiten Jas. Berdasarkan info yang ada di internet, semua jenazah yang dimakamkan di tempat ini sudah dipindahkan semuanya, kecuali milik Kapiten Jas ini. Masih info dari internet juga, katanya makam Kapiten Jas ini masih sering didatangi orang-orang yang ingin mendapatkan berkat, terutama berkaitan dengan kesuburan. Entah mitos ini benar atau tidak, saya sendiri kurang tau juga. hehe...:)

Makam Kapiten Jas
Nisan kedua yang menarik bagi saya adalah nisan milik Soe Hoe Gie, seorang aktivis kemahasiswaan yang sangat terkenal di era periode akhir Orde Lama. Kisah kehidupan Soe Hoe Gie sendiri pernah difilmkan di tahun 2005. Saya sendiri sih belum menonton film tersebut.

Nisan Soe Hoe Gie
Rata-rata keadaan nisan yang ada di museum ini masih belum terawat dengan sempurna. Seperti pada salah satu foto di atas tadi, beberapa nisan dibiarkan tergeletak tak beraturan dan dijadikan tempat pijakan kaki. Tapi itu belum seberapa parah, sampai ketika kaki saya melangkah ke deretan nisan di bagian belakang.





Di bagian belakang area museum ini, beberapa nisan dan patung (gambar di atas) terlihat dicorat-coret dengan menggunakan cat semprot. Sungguh disayangkan sekali mengingat nisan-nisan yang ada disini merupakan bukti sejarah dari abad ke-16, ke-17 dan ke-18. Saya sempat mengobrol dengan salah satu petugas yang sedang membersihkan cat semprot yang ada di salah satu nisan. Beliau berkata bahwa cat semprot ini susah sekali untuk dihilangkan karena catnya sudah terserap ke dalam batu nisan yang rata-rata terbuat dari marmer.

Secara keseluruhan, museum ini punya potensi untuk lebih dikembangkan. Mengingat jenis museum yang menghadirkan nisan-nisan kuno dari jaman kolonial menurut saya masih sangat jarang. Ada beberapa catatan saya yang menurut saya harus dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta (ya kali dibaca ye...:P ) :
  • Tanaman-tanaman yang ada perlu dirapikan lagi, karena di beberapa sudut malah alang-alang dan semak-semak terlihat lebih dominan.
  • Kebersihan di tempat ini juga masih sangat kurang. Masih banyak tumpukan dedaunan yang sepertinya dibiarkan saja tak dibersihkan.
  • Perlu ada pengawasan dari petugas untuk area museum bagian belakang. Kata petugas kebersihan yang saya ajak ngobrol, seringkali banyak anak sekolah yang memanjat pagar belakang, merokok di area museum, dan mencorat-coret nisan yang ada disitu.
  • Perlu ada keterangan singkat dari setiap nisan yang dipajang. Jadi setidaknya kita bisa mengetahui siapa orang yang sedang kita lihat nisannya itu.

Minggu, 01 September 2013

Lezatnya Kuliner Surabaya : Dari Sate Klopo Sampai Pecel Ponorogo


Tanggal 27 sampai dengan 29 Agustus yang lalu, saya berkunjung ke Surabaya. Kunjungan saya ini dalam rangka menghadiri sebuah rapat koordinasi teknis di bidang peraturan perundang-undangan. Rasanya saya tak perlu detil mengenai apa saja yang saya lakukan dalam rapat tersebut, karena saya yakin pembaca pun tak mau tahu kan. :) Oh iya, kunjungan ini pun menjadi yang pertama kali bagi saya menginjakkan kaki di Surabaya. 

Sebelum terbang dari Jakarta ke Surabaya, di dalam hati saya memang sudah berniat bahwa selama di Surabaya nanti, saya harus mencoba kuliner asli Surabaya yang konon katanya enak-enak semua. Dan jeng-jeng, berikut daftar kuliner yang sempat saya cicipi dalam kunjungan singkat saya selama 3 hari 2 malam di Surabaya:

1. Sate Klopo Ondomohen Pojok Malam

Pertama kali mendengar sate klopo yang ada di bayangan saya adalah daging buah kelapa yang dipotong kecil-kecil, ditusuk seperti sate lalu dibakar. Dan....ternyata dugaan saya salah besar. Sate klopo adalah sate daging sapi, dimana daging sapi tersebut sebelum dibakar telah diungkep dengan bumbu-bumbu plus parutan kelapa. 

Warung sate yang saya datangi ini ada di Jalan Walikota Mustajab alias Jalan Ondomohen. Itulah kenapa sate klopo ini terkenal dengan sebutan Sate Klopo Ondomohen. Sepanjang pengamatan saya sekilas, di jalan ini terdapat beberapa warung sate klopo lainnya. Ada yang berupa warung permanen seperti yang saya datangi, ada pula yang berupa gerobak warung.

Untuk seporsi sate klopo dengan bumbu kacang, plus teh hangat manis, nasi dan krupuk, saya harus merogoh kocek Rp. 26.500. Nasi sebagai pendamping menikmati sate klopo ini disajikan cukup unik, yaitu disajikan dalam keadaan dingin ditambah taburan semacam parutan kelapa yang sudah disangrai. Nyam-nyam....

 
Warung Sate Klopo Ondomohen Pojok Malam


Nasi plus sate klopo..:)

Nasi putih dingin dengan taburan parutan kelapa sangrai


2. Bebek Goreng Tugu Pahlawan

Surabaya memang sangat terkenal dengan bebek gorengnya. Saya pun menyempatkan diri untuk mencicipi kuliner bebek goreng di depan Tugu Pahlawan yang katanya salah satu warung yang cukup terkenal akan Bebek Gorengnya.

Letak warungnya persis di pinggir jalan, di depan Tugu Pahlawan. Begitu melihat ramainya pengunjung yang datang ke warung ini, jujur membuat saya semakin penasaran dengan seperti apa rasa bebek gorengnya. Jadilah saya memesan nasi bebek goreng dada dan nasi plus segelas es teh.

Bebek goreng disajikan dengan nasi hangat, dan dua pilihan sambal, satu sambal dengan citarasa yang agak kurang pedas dibandingkan sambal lainnya. Tidak disediakan lalapan semacam ketimun atau kemangi disini. Untuk rasa bebeknya lumayan enak (karena saya memang bukan penggemar bebek si.hehe..), dengan daging tebal dan lembut di lidah. Yang saya sayangkan adalah sambelnya yang di lidah saya terasa tidak pedas. Padahal di bayangan saya, setiap sambal di Surabaya itu akan punya citarasa pedas.

Harga satu porsi bebek goreng dada plus nasi adalah Rp. 13.000. Murah sekali dibandingkan harga bebek goreng di Jakarta yang berkisar Rp. 20.000 ke atas.


Penjual tengah sibuk melayani para pembeli bebeknya

Di warung ini saya tidak bisa mengambil foto bebeknya, karena tempatnya gelap dan kuran tepat untuk spesifikasi kamera HP saya. hehe...

3. Mie Ayam Tuban

Mie ayam ini adalah salah satu kuliner yang membuat teman saya sangat penasaran. Saya dan teman saya sempat mendatangi tempat ini di hari pertama kami di Surabaya. Tapi ternyata kami kehabisan mie ayamnya karena kami datang terlalu sore. Sekitar jam 3 sore. Baru hari kedua, kami berhasil mencicipi bagaimana rasa mie ayam Tuban yang katanya terkenal di sini.

Warungnya mie ayam Tuban ini ada di Jalan Indrapura. Letaknya masuk ke jalan kecil, persis di Kantor Pajak Kementerian Keuangan. Karena saya datang pas jam makan siang, warung menjadi sangat ramai dikunjungi orang-orang. Beruntung kami dapat segera mendapatkan kursi.

Siang itu, saya dan teman saya memesan satu porsi Mie Ayam Pangsit dan dua gelas teh manis hangat. Selain menu mie ayam pangsit, di sini yang menjadi pesanan banyak orang adalah Mie Ayam Bakwan. Setelah menunggu sekitar 10 menit, datanglah pesanan mie ayam kami.

Porsi mie ayam  pangsit disini terbilang cukup besar menurut saya. Tak salah memang jika kami hanya memesan satu porsi untuk berdua. Kuah mie ayam disajikan terpisah, dengan tambahan acar ketimun dan cabe.

Menurut saya, rasa mie ayam dan kuahnya biasa saja. Ya mungkin karena saya tak suka dengan jenis mie disini yang besar-besar dan tidak lembut, dan lebih suka kuah mie ayam yang cenderung manis ya. 

Harga mie ayam pangsitnya menurut saya mahal yaitu Rp. 13.000 per porsi. Tapi memang sih, jika satu porsi saja bisa dibagi dua seperti saya dan teman saya, hitungannya satu mangkok menjadi       Rp, 6.500. 

Ini satu porsi yang kami bagi menjadi dua mangkuk


4. Lontong Kupang dan Sate Kerang di Pantai Kenjeran

Ini adalah tempat kuliner yang terjauh yang saya tempuh selama di Surabaya. Bayangkan saja Hotel saya di daerah jalan Yos Sudarso, sedangkan warung lontong kupang ini ada di area Pantai Kenjeran.

Saya tak sempat foto lontong kupang dan sate kerang yang saya nikmati malam itu. Alasannya, ya karena HP saya mati karena lowbet. Sebagai gambaran, lontong kupang tersebut terdiri dari kupang (semacam kerang kecil-kecil), lontong yang sudah diiris-iris, lalu disiram dengan kuah. Rasa kupangnya tidak amis, dan kuahnya cukup enak dan segar. 

Yang cukup aneh di lidah saya justru sate kerangnya. Sate kerang disini tidak dimasak dengan dibakar, melainkan direbus dengan bumbu. Entah memang yang masak kurang ahli atau bagaimana, yang jelas saya terganggu dengan rasa kerangnya yang masih terasa amis. Ditambah lagi dengan petis yang digunakan di warung ini pun sangat amis. Saya yang biasanya sangat menyukai sate pun, hanya mampu menyantap dua tusuk sate saja.

Seporsi lontong kupang dihargai Rp. 5.000 sedangkan sate kerangnya Rp. 700/tusuk. Murah sekali memang. Sayangnya saya dan teman saya harus merogoh kocek 100 ribu untuk perjalanan bolak-balik dari hotel ke tempat ini. Hadududu....:(

5. Tahu Tek Haji Ali

Warung Tahu Tek Haji Ali terletak di sekitar Jalan Dinoyo Surabaya. Letaknya persis di pinggir jalan sehingga orang mudah sekali untuk mencarinya. Sebelumnya, saya pernah makan tahu tek di daerah Sidorjo, hanya karena warung ini terkenal di Surabaya, saya pun penasaran dengan rasanya.

Seporsi tahu tek terdiri dari lontong, tahu telur, dan kentang yang disiram dengan bumbu petis. Bahan-bahan tersebut disajikan dengan cara dipotong-potong dengan menggunakan gunting. Unik ya..Yang unik lainnya adalah tahu yang digunakan disini sudah dicampur dengan telur. Jadi kita tidak bisa hanya memesan tahu saja, karena otomatis setiap tahu itu sudah ada telurnya.

Petis yang digunakan disini tidak berbau sangat amis seperti yang digunakan pada warung sate kerang tadi. Tahu tek ini sangat nikmat bila didampingi dengan segelas teh hangat manis. Untuk seporsi tahu tek, dan satu tambahan tahu telur, krupuk dan segelas teh hangat, saya harus membayar sebesar Rp. 21.000. 
  
Tahu Tek Pak H. Ali
Seporsi tahu tek

6. Pecel Ponorogo Hj. Boeyatin

Ini dia kuliner terakhir yang sempat saya cicipi sebelum saya kembali ke Jakarta.Dan untungnya, kuliner ini letaknya sangat dekat dengan hotel tempat saya menginap.

Kesimpulan saya begitu melihat warung pecel ponorogo ini adalah menu sarapan orang Surabaya itu pecel ponorogo. Mungkin kalo di Jakarta bisa disetarakan dengan bubur atau nasi uduk yang dijadikan sebagai menu favorit sarapan.

Seporsi nasi pecel biasa seharga Rp. 13.000 terdiri dari nasi, sayuran (saya lupa jenis sayurannya..), bakwan jagung, tempe goreng dan "rempeyek" teri. Bagi yang ingin tambah lauk, di warung ini disediakan pula potongan daging empal, ayam goreng, telur asin, telur mata sapi, telur dadar, paru goreng, berbagai jenis sate, tahu bacem, tempe bacem, hingga otak telur.




Aneka lauk tersedia untuk dipilih
Ramainya pengunjung yang mengantri
Nasi pecel saya. Plus segelas teh hangat manis




Rabu, 07 Agustus 2013

Pohon Cinta, Demi Cinta dan Demi Lingkungan

Datang ke pernikahan saudara, kerabat maupun rekan kerja memang menjadi suatu kegemaran saya. Selain demi menjalin silahturahmi, saya dan pasangan saya pun gemar mendatangi acara resepsi pernikahan demi mengamati dan mempelajari apa saja sih yang mesti disiapkan untuk sebuah pesta atau resepsi pernikahan.

Souvenir pernikahan adalah salah satu hal yang penting dan perlu disiapkan oleh pasangan yang akan menikah. Sepanjang pengamatan saya, selama ini souvenir yang lazim diberikan di beberapa acara pernikahan yang saya datangi adalah gelas, kalender, gantungan kunci, dompet, hiasan kulkas, asbak, dan berbagai pernak-pernik lainnya.

Dalam memilih souvenir pernikahan, saya sendiri cenderung menyukai souvenir pernikahan yang tak hanya bisa dipajang dan digeletakkan saja di dalam lemari. Itu kenapa, saya lebih suka souvenir pernikahan berupa gelas, meski sederhana, daripada sebuah boneka atau souvenir yang terlihat bagus dan mahal. Pertimbangan nilai guna souvenir menjadi hal yang penting bagi saya, selain pertimbangan harga pastinya.
 
Selasa kemarin, saya berkumpul bersama-sama beberapa teman kelas 3 SMA saya dulu, dalam rangka buka bersama sekaligus reuni. Seperti halnya reuni biasanya, kami saling bercerita dan mengenang nostalgia masa SMA dulu, sekaligus bercerita hal-hal seperti pekerjaan saat ini, keadaan keluarga, dan sebagainya. Dan dari sekian cerita dari teman-teman yang kebanyakan bekerja di perusahaan maupun sebagai PNS, ada salah satu teman saya yang bernama Ivo yang memilih untuk membuka usaha sendiri. Dan kenapa saya dari awal tulisan bercerita mengenai souvenir pernikahan, karena usaha yang saat ini dijalaninya adalah pembuatan souvenir.

Tree of Love alias Pohon Cinta. Itulah jenis souvenir yang ditawarkan oleh teman saya. Di bawah bendera usaha "LadyBug", Ivo tak hanya ingin mencari penghasilan dari usahanyaini, tetapi juga berusaha untuk mengaplikasikan ilmu yang ia dapat selama menjadi mahasiswa jurusan pertanian, sekaligus mewujudkan misi mulianya yaitu membantu mengurangi dampak global warming dan melestarikan lingkungan.

Paperbag "pohon cinta" (dok.pribadi)
Konsep dari bisnis pohon cinta ini sendiri adalah bahwa nanti pelanggan yang memesan akan mendapatkan sejumlah souvenir yang dipesan, yaitu berupa paperbag yang berukuran tinggi 13 cm dan lebar 6,5 cm. Nantinya, di setiap paperbag tersebut akan diisi dengan bibit-bibit tanaman komoditas holtikultura alias pohon buah-buahan seperti sirsak, manggis, duwet, dan lain-lain. Tinggi bibitnya sendiri berkisar kurang dari 50cm, tergantung dari jenis tanamannya. Paperbag berisi bibit "pohon cinta" inilah yang nanti dijadikan souvenir pernikahan, seminar, maupun acara lainnya.

Apa yang diharapkan dari Ivo, selain keuntungan usaha, adalah nantinya bibit "pohon cinta" akan ditanam oleh masing-masing penerima souvenir tersebut. Dan lebih lanjut lagi, pohon yang tumbuh besar akan membantu lingkungan sekitar menjadi lebih hijau dan mengurangi dampak global warming.Apalagi nantinya, buah-buahan yang dihasilkan dari pohon tersebut pun bisa dikonsumsi pula bukan.
 
Jujur saya tertarik sekali melihat konsep bisnis yang dijalankan Ivo. Saya jadi membayangkan seandainya saya menikah nanti dan menggunakan "pohon cinta" ini sebagai souvenir pernikahan. Saya dan pasangan saya akan menanam juga bibit "pohon cinta" tersebut dan merawatnya hingga tumbuh besar. Dan terbayang kemudian keluarga kecil saya nanti akan duduk di bawah pohon tersebut, menyantap buah hasil pohon tersebut sambil bercerita kepada anak saya bahwa pohon tersebut adalah salah satu kenangan pernikahan saya. Oh...so sweet....*plakk* *kembali ke kenyataan*

Oh iya, buat kalian yang tertarik menjadikan bibit "pohon cinta" sebagai souvenir di acara pernikahan, seminar atau acara lainnya (atau mungkin punya mimpi dan imajinasi seperti saya..hehe), bisa menghubungi ke kontak berikut ini.

brosur (dok.pribadi) 
LADYBUG, Have a dream
Alamat: 
Jl. Pramuka 7 RT 03/II
Desa Kali Sari, Kecamatan Cilongok
Banyumas, Jawa Tengah
Kode Pos 53162
No HP: 0857-261-55699
Email: ivoladybug@gmail.com

Buat yang di Jakarta atau kota-kota yang jauh dari Purwokerto dan sekitarnya, pesanan kalian pasti akan dilayani kok. "Kami siap mengantarkan", begitu kata Ivo, teman saya tersebut. :)

Rabu, 31 Juli 2013

Mari Melihat, Mari Merenung


Beberapa hari yang lalu, teman saya menyebar link video ini di grup Whatsapp yang saya ikuti. Mungkin efek setelah menonton video ini akan berbeda-beda bagi setiap orang, tapi saya sendiri sempat menitikkan air mata setelah selesai melihat video ini. :')

Mari melihat, mari merenung.

Selamat menonton. :)

Masa Pertumbuhan Kita

Kalian pasti pernah menerima ucapan dari teman atau saudara kalian dengan bunyi kira-kira seperti ini " Makan yang banyak ya. Kan lagi ...