Jumat, 23 Oktober 2020

Masa Pertumbuhan Kita

Kalian pasti pernah menerima ucapan dari teman atau saudara kalian dengan bunyi kira-kira seperti ini "Makan yang banyak ya. Kan lagi masa pertumbuhan". Gimana, sounds familiar, right?

Biasanya ucapan-ucapan ini seringkali dilontarkan orang dengan banyak maksud. Kalau diucapkan kepada seorang anak usia sekolah dasar sampai usia SMA misalnya, mungkin ucapan ini bisa diartikan secara literal. Makan yang banyak ya artinya makanan yang dimakan akan menjadi sumber gizi bagi pertumbuhan fisik kita.

Bagaimana dengan maksud lainnya? Oh tentu saja, kalau kamu bertubuh kurus dan kecil meskipun sudah berusia 25tahun, ya ucapan ini akan akrab didengar setiap kali kalian makan bersama teman atau keluarga. Maksud ucapan itu ya mungkin karena temanmu atau keluarga masih yakin bahwa dengan makan yang sangat banyak, maka tubuhmu bisa tumbuh ke atas dan ke samping.

Tapi bicara soal masa pertumbuhan, sebenarnya sampai kapan sih kita bertumbuh?

Dari artikel yang saya baca di Klikdokter, pertumbuhan tinggi badan manusia akan berhenti sebelum usia 20 tahun. Itu kalau pertumbuhan secara fisik. Lalu bagaimana dengan "pertumbuhan" kita sebagai seorang manusia?

Menurut saya pribadi, manusia itu harus senantiasa bertumbuh. Tak peduli berapa usia kita, setiap orang harus selalu punya kemauan untuk bertumbuh.

Konteks bertumbuh ini bisa kita artikan secara fisik misalnya bagaimana seseorang "bertumbuh" dengan bertekad membentuk badannya menuju body goals. Rutin ke tempat gym dan minum aneka suplemen untuk membentuk otot-otot di tubuh. Ataupun konteks bertumbuh yang lebih luas seperti bertumbuh secara mental, pengetahuan, skills, dan network.

Masa pertumbuhan kita adalah sepanjang usia kita

Masa pertumbuhan kita adalah sampai dengan kita menutup mata dan meninggalkan dunia ini. Setiap individu bertumbuh dalam hal-hal yang bisa berbeda bisa sama, dalam kecepatan yang seringkali berbeda, dan juga melalui cara-cara yang berbeda. Pertumbuhan orang akan selalu unik. Tidak akan ada yang sama persis.

Menyadari setiap orang bertumbuh masing-masing membuat kita sadar bahwa kita tidak perlu berlama-lama insecure melihat pertumbuhan orang lain yang begitu cepat. Melihat prestasi teman kita yang di usia 20-an sudah mencapai level manager atau baru selesai kuliah S1 langsung lanjut S2 di luar negeri memang sangat bisa menjadi ladang insecurity. Namun, kesadaran dan penerimaan bahwa setiap orang tumbuh dengan cara dan kecepatan yang berbeda harusnya sedikit membantu kita mengatasi rasa anxiety ini.

Saya jadi ingat kemarin saya bertemu salah satu mantan bos saya di kantor. Dia bilang bahwa "Ben kamu tambah tinggi ya". Ya barangkali mungkin bukan tubuh saya yang tambah tinggi (karena saya sudah berusia kepala tiga), namun saya bertumbuh dengan memakai sepatu yang memiliki hak yang lebih tinggi daripada biasanya.

Semoga tulisan ini bisa menjadi bagian dari pertumbuhan kalian ya.


Senin, 23 Desember 2019

Mana Yang Kau Pilih, Kuantitas atau Kualitas?


Image by Gerd Altmann from Pixabay

Ada sebuah keyakinan yang pasti banyak dipegang oleh banyak orang. "Quality over Quantity". Dalam konteks seorang penyanyi atau musisi, ini bisa diterjemahkan bahwa lebih baik membuat 1 atau 2 lagu dalam setahun dengan kualitas  yang sangat baik, daripada menciptakan 20 lagu dalam setahun dengan kualitas yang buruk atau biasa-biasa saja. Kalau istilah anak sekarang kualitasnya "B" aja. Tapi apakah pendapat ini selalu bisa diamini?

Hari ini saya menonton video wawancara Narasi Entertainment antara Duo Bujang selaku host dengan Samuel Alexander Pieter atau lebih dikenal oleh masyarakat dengan nama panggungnya "Young Lex". Dalam wawancara tersebut, salah satu pertanyaan yang ditanyakan oleh host kira-kira seperti ini "Apakah kamu Young Lex setuju kalau dibilang bahwa kamu lebih mementingkan kuantitas daripada kualitas?". Dengan santainya Young Lex bilang bahwa "Ya setuju. Karena kualitas kita diukur dari kuantitas kita. Ga ada atau hampir ga ada musisi yang suka dengan lagu pertama yang diciptainnya. Pasti loe jijik kalo loe denger lagu pertama loe".

Jumat, 09 Agustus 2019

Belajar Berkomitmen Melawan MAGER


“Eh lo kenapa ga jadi datang ke workshop-nya Bang Atta Halilintar? Keren banget tau.”

“Ah males gue. MAGER banget nih.”


MAGER.

Satu kata yang merupakan sebuah singkatan dari MAles GERak. Satu kata yang selalu bisa kamu jadikan alasan untuk tidak datang ke acara pernikahan kerabat, tidak datang menepati janji makan siang dengan teman, atau sekadar tidak datang ke acara 17 Agustusan RT di lapangan seberang rumah kamu persis.

Saya jadi ingat sebuah postingan di Instagram @millennialsshit yang berbunyi

MANUSIA BERENCANA, MAGER MENENTUKAN

Ya. Memang sebegitu menentukannya sang MAGER ini. Kamu bisa saja kehilangan kesempatan untuk ketemu calon jodoh kamu di acara pernikahan teman hanya gara-gara kamu MAGER. Kamu mungkin kehilangan potensi penghasilan ratusan juta rupiah, hanya karena kamu MAGER datang ke workshopnya Atta Halilintar yang hingga tulisan ini diterbitkan, subscriber channel Youtube-nya sudah mencapai angka 18 juta orang.

Kebiasaan males gerak sendiri sebenarnya saya idap sendiri. Di semester lalu, saya banyak sekali melewatkan workshop atau event lain di kampus yang sesungguhnya menarik dan pasti bermanfaat hanya karena saya terlalu “Males Gerak” ini. Apalagi ditunjang dengan aplikasi media sosial semacam Instagram atau Twitter yang membuat saya merasa berjalan kemana-mana hanya dengan melihat stories teman-teman saya yang sedang asik liburan atau sibuk dengan kegiatan sosialnya. Youtube dan Netflix pun turut mendukung kebiasaan males gerak ini, sehingga saya hanya berjalan turun dari ranjang hanya ketika saya kebelet pipis atau lapar.

Belajar berkomitmen itu penting sekali untuk mengalahkan rasa malas gerak ini. Jadi di semester 2 ini saya berusaha untuk memaksa diri saya untuk tidak lagi menuruti hawa males-malesan saya. Saya sadar kalau hidup saya ini diisi dengan males gerak, tidur-tiduran di kasur sambal scrolling feed Instagram, atau asik nge-tap stories orang lain, ya saya hanya membuang waktu saya.

Jadi gimana cara saya untuk bisa efektif mengalahkan rasa malas ini?


Jumat, 02 Agustus 2019

The Diderot Effect, Kepuasan Diri Sendiri dan Hidup Orang Lain


Konsep Diderot Effect saya temukan ketika membaca buku The Atomic Habit karangan James Clear. Nama The Diderot Effect sendiri diambil dari nama orang yaitu Denis Diderot, seorang filsuf terkenal asal Prancis yang hidup di abad 18.

Jadi cerita bermula ketika Diderot yang hampir sepanjang hidupnya berada dalam kondisi miskin, sampai dengan segalanya berubah di tahun 1765. Ketika dia berusia 52 tahun dan anak perempuannya akan menikah, dia tak sanggup untuk membiayai pernikahan anaknya tersebut. Berita ini terdengar sampai dengan Ratu Catherine yang Agung dari Kerajaan Rusia, karena memang Diderot ini meskipun miskin namun sangat terkenal sebagai salah satu penyusun dan penulis Encyclopedie, salah satu buku ensiklopedia paling lengkap saat itu.

Ratu Catherine menawari Diderot sejumlah uang untuk membeli perpustakaan pribadi Diderot sebesar £ 1000 atau sekitar $ 50,000 USD dengan nilai tahun 2015*. Permasalahan keuangan Diderot akhirnnya terselesaikan, namun masalah berikutnya muncul.

Dengan uang sebesar itu, Diderot mulai membeli gaun berwarna merah. Diderot sangat mengagumi keindahan gaun merahnya tersebut. Disini permasalahan dimulai. Dia mulai memperhatikan barang-barang miliknya lain yang terasa tidak sepadan dengan keindahan gaun merahnya tersebut. Akhirnya Diderot mulai menggantikan barang-barang lamanya dengan barang baru yang ia beli seperti karpet, hiasan patung, meja makan, cermin, dan sofa yang terbuat dari kulit.


Merasa pernah mengalami hal seperti ini?

Tak perlu malu, karena saya pun pernah seperti ini. Ya memang tak semewah barang-barang yang dibeli oleh Diderot. Misalnya saja ketika saya membeli sepatu baru. Ketika saya pakai dengan baju baju lama saya, saya merasa baju-baju tersebut terlihat kusam dan jelek ketika dipadankan dengan sepatu saya. Akhirnya saya pun membeli baju baru agar penampilan saya sepadan. Sepatu baru dengan baju baru.

Diderot Effect ini sebenarnya ditimbulkan atas keinginan untuk memuaskan diri sendiri. Di jaman internet dan social media seperti sekarang ini, Diderot Effect ini bisa memburuk dan menimpa ke setiap orang. Keterbukaan akses ini membuat setiap orang bisa melihat apa yang orang lain makan, orang lain pakai, orang lain beli, dan hal-hal lainnya. Berawal dari melihat ini, maka akan timbul keinginan untuk menjadi seperti orang lain itu. Misal teman kamu baru saja membeli tas seharga 20 juta, maka kamu pun merasa bahwa “wah kalau aku bisa punya tas yang mahal juga, pasti teman-temanku akan kagum denganku dan senang berteman denganku”.

Diderot Effect ini sebenarnya sangat berbahaya terutama terhadap pengelolaan keuangan pribadi, terutama apabila demi membeli barang-barang tersebut kalian sampai harus berhutang atau menggunakan kartu kredit. Sadar akan kemampuan keuangan kalian itu adalah kunci untuk menghindar dari jebakan Diderot Effect ini.

Sebenarnya membahagiakan diri sendiri dengan membeli barang yang membuat kita happy tidaklah salah. Tapi happy saja menurut saya pribadi tidak cukup. Setiap kali hendaknya membeli barang kita harus bertanya “apakah barang ini benar-benar kita membuat kita happy dan kita butuhkan?”. Dan satu lagi “apakah kita beli barang ini hanya untuk membuat orang lain kagum terhadap kita?”.


Referensi:

Minggu, 08 Juli 2018

Berapa Biaya Mendapatkan Beasiswa?

Banyak orang yang berkata bahwa modal untuk mendapatkan beasiswa adalah niat, semangat, fokus dan hal-hal lain yang sifatnya intangible. Semua hal tersebut memang harus dimiliki oleh seorang pejuang beasiswa. Namun di tulisan saya kali ini, saya ingin sedikit berbagi modal uang yang mungkin harus kalian siapkan ketika mulai berpikiran untuk berburu beasiswa untuk studi ke luar negeri.

1. Biaya Untuk Persyaratan Bahasa Inggris

Tidak bisa dipungkiri salah satu syarat yang pasti ada di setiap beasiswa luar negeri adalah persyaratan bahasa Inggris. Biasanya, penyelenggara beasiswa mempersyaratkan kita untuk menyampaikan bukti kemampuan bahasa Inggris. Untuk universitas atau beasiswa untuk studi ke Eropa dan Australia, syarat yang diminta biasanya berupa sertifikat IELTS terbaru, sedangkan untuk studi ke Amerika Serikat, TOEFL menjadi persyaratan yang wajib ada.

Untuk kalian yang sudah merasa jago bahasa Inggris, itu berarti kalian tinggal ikut saja tes IELTS di beberapa penyedia tes IELTS seperti IDP, British Council, atau IALF. Untuk sekali tes, kalian harus menyiapkan dana sekitar Rp 2.500.000,00 - Rp 3.000.000,00. Sebagai informasi, bulan Maret lalu ketika saya ikut tes IELTS, biaya yang harus dibayarkan adalah Rp 2.850.000,00. . 

Buat kalian yang bahasa Inggrisnya ga jago-jago banget, itu artinya kalian perlu persiapan yang lebih panjang. Belajar bahasa Inggris bisa kalian lakukan secara otodidak atau ikut les di lembaga bahasa. Saya sendiri dulu pertama kali tes IELTS di tahun 2014, dan sebelum tes tersebut saya mengikuti les persiapan IELTS di IALF Kuningan Jakarta. Biaya les saya waktu itu sekitar Rp 4.300.000,00. Mungkin di tempat les lain biayanya bisa lebih murah atau lebih mahal. Untuk kalian yang sama sekali tidak mengerti bahasa Inggris, itu artinya kalian harus berusaha lebih keras dan rajin daripada orang yang sudah memiliki kemampuan dasar bahasa Inggris. 

Berikut beberapa tautan website lembaga bahasa yang bisa kalian kunjungi:

2. Biaya Penerjemahan Dokumen

Untuk mendaftar beasiswa luar negeri, kita juga harus mempersiapkan terjemahan bahasa Inggris dari setiap dokumen biasanya dipersyaratkan seperti ijazah dan transkrip S1. Penerjemahan dokumen tersebut tidak bisa dilakukan sendiri karena harus diterjemahkan oleh penerjemah tersumpah (sworn translator). Berapa biaya yang harus disiapkan untuk penerjemahan dokumen ini?

Saya pernah menerjemahkan di Edlink + Connex Jakarta (sebuah konsultan studi luar negeri) dengan biaya sekitar Rp 75.000 per dokumen. Saya pun pernah menerjemahkan ke penerjemah tersumpah hasil dari googling dengan biaya kurang lebih sama dengan Edlink + Connex Jakarta. 

Oh iya, sebelum memutuskan untuk menggunakan jasa penerjemah tersumpah, coba cek ijazah atau transkrip kalian apakah sudah bilingual atau belum. Jika sudah, kan lumayan menghemat karena tidak perlu diterjemahkan lagi. Selain itu, pastikan juga kalian memilih sworn translator yang terpercaya. Buat yang bingung cari dimana, mungkin bisa dicek tautan berikut ini.
 3. Biaya Legalisir Dokumen

Di dalam salah satu persyaratan beasiswa Australian Awards, kita diminta untuk menyampaikan salinan legalisir dari ijazah dan transkrip S1. Untuk saya yang tinggal di Bekasi, sedangkan kampus S1 saya ada di Purwokerto, ini berarti saya harus mengeluarkan biaya untuk transportasi dari Bekasi ke Purwokerto dan sebaliknya. Untungnya, keluarga saya memang asli Purwokerto sehingga saya bisa minta tolong saudara saya. Di UNSOED sendiri, tarif resmi biaya legalisir ijazah dan transkrip adalah Rp 2.000,- per lembar. Buat yang berasal dari kampus selain UNSOED, kalian bisa cek di website kampus kalian masing-masing. 

4. Biaya Pembuatan Paspor

Untuk pergi studi ke luar negeri, paspor menjadi hal wajib yang kalian harus punya. Memang sih paspor ini tidak menjadi persyaratan pendaftaran beasiswa. Namun ini sudah seperti hal yang tidak tertulis tapi kalian harus siapkan sendiri.

Biaya  pembuatan paspor sampai dengan tulisan ini terbit adalah Rp 300.000,00. Biaya ini tidak termasuk dengan biaya fotocopy berkas dan dokumen dan biaya transportasi dari rumah kalian ke kantor imigrasi. 

5. Biaya Tes Kesehatan

Salah satu persyaratan beasiswa LPDP adalah kita harus menyampaikan surat keterangan sehat dan bebas narkoba. Persyaratan ini tentunya menjadi beban biaya bagi kita. Pada saat tahun kemarin saya mendaftar LPDP, saya tes kesehatan dan tes narkoba di RSPAD Gatot Subroto Jakarta. Total biaya yang harus saya keluarkan sekitar 1jtan. Pengalaman saya tes kesehatan ini bisa dicek disini
Itu tadi biaya-biaya minimal yang harus kalian perhitungkan dan persiapkan ketika berpikir untuk mendaftar beasiswa luar negeri. Nanti kalau ada biaya lain yang saya ingat dulu pernah keluarkan, nanti saya update tulisan ini.



Minggu, 24 Juni 2018

Bangku Prioritas atau Penumpang Prioritas


Sebagai seorang yang tinggal di Bekasi dan kerja di Jakarta, setiap hari saya berangkat dan pulang kerja dengan menggunakan KRL Commuter Line. Ketika di dalam KRL, seringkali saya mengamati orang-orang di sekitar saya. Kebanyakan orang sibuk dengan smartphone masing-masing. Ada yang menonton drama Korea, bermain game, mengecek email, atau sekadar mendengarkan lagu sembari pelan-pelan menutup mata dan tertidur (seperti yang biasa saya lakukan).

Kapasitas bangku kereta yang terbatas membuat tidak semua penumpang dapat tempat duduk. Dari artikel yang saya baca ini, kapasitas maksimal gerbong KRL adalah 250 orang, dengan jumlah bangku hanya untuk 60 orang. Jumlah bangku 60 orang ini termasuk alokasi bangku prioritas, yang disiapkan untuk orang-orang yang diproritaskan seperti ibu hamil, penumpang dengan disabilitas, penumpang yang membawa balita, dan penumpang lanjut usia. Untuk memudahkan, saya sebut saja orang-orang ini dengan sebutan p

Ketika para penumpang prioritas sudah mendapat alokasi bangku prioritas, apakah mereka tidak boleh duduk di bangku non prioritas?

Ketika jam pulang kantor, jumlah penumpang KRL ini biasanya membludak. Berdasarkan pengamatan saya, seringkali penumpang prioritas seolah hanya boleh duduk di bangku prioritas. Sebagai contoh saya pernah melihat ada ibu hamil yang terpaksa tidak jadi masuk ke gerbong KRL yang saya naiki hanya karena seluruh kursi prioritas sudah terisi oleh penumpang prioritas, sedangkan di bangku non prioritas terdapat pria-pria muda yang sepertinya masih mampu berdiri. Saya kurang tahu sih apakah mereka memang tidak mau memberikan bangkunya, atau memang mereka tidak mendengar ketika para penumpang di dekat pintu masuk berteriak "ada yang lagi gak hamil?" kepada para penumpang yang duduk di bangku prioritas, yang ternyata semua yang duduk di bangku prioritas adalah penumpang prioritas. 

Saya pribadi berpendapat bahwa memang bangku prioritas hanya boleh ditempati oleh penumpang prioritas. Namun ketika semua bangku prioritas sudah diduduki oleh penumpang prioritas, seharusnya mereka pun diprioritaskan untuk duduk di bangku non prioritas. Yang sering saya lihat, penumpang prioritas seakan hanya diperbolehkan duduk di bangku prioritas. Seringkali penumpang non prioritas (yang terlihat masih muda dan sanggup berdiri) yang mendapat tempat duduk hanya diam saja dan paling banter hanya menyarankan penumpang prioritas untuk mencari tempat di bangku prioritas.

Ini memang soal kesadaran diri masing-masing sih. Sudah saatnya penumpang non prioritas yang beruntung mendapat tempat duduk di bangku non prioritas untuk rela memberikan bangkunya untuk penumpang prioritas. Karena sudah seharusnya penumpang prioritas itu diprioritaskan duduk di bangku prioritas maupun bangku non prioritas. Hak mereka jangan dibatasi untuk diperbolehkan duduk hanya di bangku prioritas. 

Minggu, 10 Juni 2018

Review Singkat: Buku The 1000 Year Old Boy by Ross Welford

"Living forever: it's not all it's cracked up to be"
Buku ini berkisah mengenai kisah seorang anak bernama Alfie Monk yang tinggal bersama Ibu serta kucing kesayangannya, Biffa. Mereka dikenal dari kaum Neverdead, dan mereka dapat hidup selama beribu-ribu tahun. Rahasia dari panjang umur mereka adalah life-pearl dimana di dalamnya terdapat cairan atau ramuan yang membuat fisik mereka tidak pernah menua. 

Setelah ditinggalkan oleh Ibunya yang meninggal akibat tragedi kebakaran di rumahnya, Alfie terpaksa harus mencari tempat tinggal baru yang akhirnya membawanya bertemu dengan Roxy dan Aidan, yang selanjutnya menjadi sahabatnya. Selanjutnya, buku ini menceritakan kisah bagaimana si Alfie yang sebenarnya sudah berusia lebih dari 1000 tahun ini harus dibawa ke rumah singgah bagi anak-anak, menjalani masa-masa sekolah sampai dengan kisah petualangan Alfie, Roxy dan Aidan untuk mencari hal yang penting di hidup Alfie.

Buat saya, buku ini cukup membuat saya memetik satu pelajaran. Dari buku ini, saya belajar bahwa hidup abadi itu tidak selalu membahagiakan. Hal tersebut jelas dirasakan oleh Alfie ketika dia kehilangan seorang sahabatnya di masa lalu, yaitu Jack. Mereka yang awalnya berteman, akhirnya harus berpisah ketika tahun demi tahun Jack tumbuh menjadi semakin dewasa, sedangkan Alfie tetap saja berperawakan 11 tahun, dan tidak pernah bisa tumbuh. 



Selasa, 05 September 2017

Membuat SKCK Baru di Polres Banyumas

SKCK alias Surat Keterangan Catatan Kepolisian adalah salah satu surat yang sering menjadi persyaratan administrasi ketika kita melamar pekerjaan, beasiswa ataupun hal-hal lain yang membutuhkan bukti bahwa kita tidak pernah terlibat dalam tindakan kriminal.

Ada dua cara untuk mengurus SKCK ini yaitu dengan melakukan permohonan secara online maupun datang langsung ke Polda/Polres/Polsek setempat. Untuk yang ingin mengurus permohonannya secara online, kalian bisa langsung buka web https://skck.polri.go.id. Di web itu nanti kalian diminta mengis data-data seperti nama, tanggal lahir, data pendidikan, data keluarga, dll. 

Kebetulan, saya baru saja mengurus SKCK ini secara offline di Polres Banyumas, Purwokerto. Jadi disini saya ingin berbagi pengalaman membuat SKCK ini. Siapa tahu besok-besok di antara kalian ada juga yang ingin mengurus SKCK ini di tempat ini.

Untuk mengurus SKCK di Polres ini, pertama-tama saya harus membuat surat pengantar dari RT, RW, sampai dengan Kecamatan. Surat pengantar dari Kelurahan itu selanjutnya akan dibuatkan surat keterangan dari Kecamatan, dimana nantinya akan digunakan untuk mengurus surat rekomendasi ke Polsek. Selama proses pengurusan surat pengantar ini, pastikan kalian menyertakan juga salinan KTP, salinan akte kelahiran dan salinan Kartu Keluarga. Hal ini sebagai data dukung untuk mengecek data kita  agar nanti surat pengantar yang dibuat sesuai datanya dengan KTP, Akte Kelahiran dan Kartu Keluarga. 

Berbekal surat dari Kecamatan, saya mengurus surat rekomendasi pembuatan SKCK dari Polsek. Oh iya, sebenarnya di Polsek bisa juga untuk mengurus SKCK, namun biasanya SKCK yang dikeluarkan oleh Polsek hanya digunakan untuk kepentingan pengurusan kependudukan dan catatan sipil. Jadi untuk urusan persyaratan melamar pekerjaan, SKCK yang digunakan adalah SKCK yang diterbitkan Polres.

Di Polsek ini, saya diminta untuk menyerahkan salinan KK, salinan KTP dan salinan akte lahir serta surat keterangan dari Kecamatan dan pas foto 4 x 6 background merah sebanyak 3 lembar. Proses pengurusannya tak memakan waktu yang lama karena memang tidak ada antrian. Pada saat mengurus, hanya ada 2 orang saja (termasuk saya) yang mengurus SKCK di Polsek ini. Oh iya, untuk SKCK yang dikeluarkan Polsek, kalian dikenakan biaya sebesar Rp. 30.000. Berhubung saya hanya membuat surat rekomendasi untuk selanjutnya ke Polres, maka saya tidak dikenakan biaya apapun di Polsek.

Di Polres Banyumas, pengurusan SKCK ada di loket yang berada di sisi selatan gedung Polres. Tahap pertama, saya harus mengisi 2 formulir data isian yang kalau saya lihat sama dengan data isian yang ada di web skck.polri.go.id. Di Polres Banyumas disediakan contoh formulir yang telah diisi lengkap sebagai panduan bagi para pemohon SKCK dalam mengisi.  Selanjutnya setelah mengisi formulir, saya menyerahkan formulir tersebut ke bagian pemindaian sidik jari. Disini seluruh sidik jari kita akan dipindai dan dimasukkan ke database, sekaligus disini pengisian data kita yang nantinya akan muncul di dalam SKCK. 

Selesai pemindaian sidik jari dan  pengisian data, saya menyerahkan formulir yang tadi saya isi, beserta kelengkapan dokumen yaitu salinan KTP, salinan Akta Kelahiran, salinan Kartu Keluarga, dan pas foto 4 x 6 background merah sebanyak 4 lembar. Setelah itu, saya diberikan nomor antrian untuk selanjutnya saya menunggu di depan loket pengambilan SKCK. Setelah sekitar 5 menit menunggu, nomor antrian saya pun dipanggil.Saya dikenakan biaya Rp. 30.000 sebagai PNBP bagi POLRI yang mana saya pun mendapatkan bukti PNBP tersebut berupa karcis.

Itu tadi pengalaman saya membuat SKCK baru di Polres Banyumas. Semoga bermanfaat bagi teman-teman yang membaca.

Minggu, 18 Juni 2017

Mengurus SKBS, SKBN, dan Surat Keterangan Bebas TBC di RSPAD Gatot Soebroto

Bagi kalian yang sedang mengurus persyaratan LPDP terutama untuk beasiswa Magister ke luar negeri, salah satu syarat yang harus diurus adalah Surat Keterangan Berbadan Sehat, Surat Keterangan Bebas Narkoba dan Surat Keterangan Bebas TBC. Kalau kalian yang ingin mengurus ketiga surat tersebut di RSPAD Gatot Soebroto, pengalaman saya berikut ini mungkin bisa bermanfaat.

1. Surat Keterangan Berbadan Sehat (SKBS)

Untuk mengurus Surat Keterangan Berbadan Sehat ini, saya diarahkan oleh petugas informasi menuju ke Bagian PPBPAD. Untuk mengurus surat ini cukup sederhana. Pertama saya harus mengisi formulir. Setelah mengisi formulir, saya bertemu dengan dokter yang bertanya tentang riwayat kesehatan saya, kapan terakhir kali saya dirawat di RS, tujuan saya membuat surat ini. dll. Setelah itu dokter memeriksa tensi darah, lalu mengecek gigi dan mulut saya. 

Untuk surat ini, saya hanya harus mengeluarkan biaya sebesar Rp. 50.000. Tak lama setelah itu surat saya sudah bisa jadi. Bagian PPBPAD ini buka dari pukul 08.00 sampai kalau tidak salah pukul 15.00. Cuma selama bulan puasa ini, bagian ini hanya buka sampai pukul 14.00.

2. Surat Keterangan Bebas Narkoba (SKBN)
SKBN ini pengurusannya di Paviliun Amino yang terletak di bagian paling belakang RSPAD. Pavilian Amino ini buka mulai pukul 07.00. Proses tes narkobanya cukup mudah dan cepat. Setelah mengisi formulir yang tersedia di loket, saya langsung diminta membayar biaya pengurusan SKBN sebesar Rp. 220.000. Selesai membayar di loket, saya diberi satu buah tempat untuk menampung urine saya dan setelahnya menyerahkan sampel urin saya ke loket. Petugas loket akan memberikan kita surat untuk diserahkan ke Bagian Tata Usaha Pavilion Amino yang terletak di lantai 2. 

Di Bagian Tata Usaha ini saya diminta untuk memberikan KTP saya. Namun karena KTP saya sedang dipakai kakak saya mengurus pajak motor di Purwokerto, jadilah saya menyerahkan SIM saya untuk dipakai untuk mengisi data di SKBN nanti. Setelah surat selesai diketik di Bagian Tata Usaha, saya membawa SKBN yang belum diisi ke loket di lantai 1 lagi.Setelah surat ditanda tangan, surat tinggal dibawa ke Bagian Tata Usaha untuk digandakan (jika kalian butuh) dan dicap. Selesai sudah proses pengurusan SKBN ini.

3. Surat Keterangan Bebas TBC
 
Hari ke-1
Inilah surat yang pengurusannya paling lama. Proses pertama untuk mendapatkan surat ini yaitu saya harus ke loket pendaftaran sebagai pasien baru di lantai 1. Proses ini bisa kalian lewatkan apabila kalian sudah memiliki kartu pasien RSPAD Gatot Soebroto. Di loket ini saya ditanya data diri seperti nama lengkap, golongan darah, usia, nomor telepon serta poli yang ingin kalian tuju. Setelah itu nanti kalian akan mendapatkan kartu pasien.

Selesai mendapat kartu pasien, saya pergi ke Poli Paru yang berada di lantai 2. Saya menuju ke loket Poli Paru dan menyerahkan kartu pasien saya. Setelah itu saya harus menunggu sampai saya dipanggil ke loket lagi untuk membayar biasa konsultasi dokter sebesar Rp. 160.000. Selain membayar biaya konsultasi, saya juga ditanya tujuannya saya membuat surat keterangan bebas TBC ini dan data lain yang saya lupa detailnya. Kalau tidak salah saya ditanya kapan terakhir kali diopname, adakah riwayat penyakit turunan, adakah alergi makanan, debu atau obat. Selesai melengkapi data dan membayar, saya diminta ke di bagian samping belakang loket untuk menunggu dipanggil suster guna proses tes tensi darah, timbang berat badan dan ukur tinggi badan. Setelah itu, saya diminta menunggu lagi di depan loket Poli Paru.

Setelah menunggu cukup lama, saya dipanggil ke ruang 2 di samping depan loket Poli Paru. Di dalam ruang 2, saya bertemu dengan dokter. Selanjutnya, dokter bertanya mengenai tujuan saya membuat surat keterangan ini. Dokter memeriksa dada saya dengan stetoskop dan bertanya beberapa pertanyaan mengenai apakah saya merokok, kapan terakhir kali diopname, dll.Setelah itu, dokter akan memberikan pengantar untuk saya melakukan proses rontgen, tes mantoux, tes darah dan tes dahak.

Proses rontgen, tes mantoux, tes darah dan tes dahak dilakukan di Paviliun Kartika yang berada di depan RSPAD. Disini prosesnya saya harus mendaftar dulu ke loket pendaftaran Paviliun Kartika sembari menyerahkan kartu pasien dan pengantar dari dokter. Setelah itu saya pergi ke Laboratorum Klinik untuk diambil darah. Selesai diambil darah, saya diberi satu tempat untuk menampung dahak saya. Selain satu tempat tadi, saya diberi dua tempat dahak lagi dengan kode BTA 20 dan BTA 30 untuk menampung dahak saya di hari esoknya. Kode BTA 20 untuk menampung dahak saya pada saat bangun tidur di esok hari dan BTA 30 untuk menampung dahak setelah sarapan pagi di esok hari.

Selesai proses pengambilan sampel di Laboratorium Klinik, saya pergi ke ruang Radiologi untuk proses rontgen. Proses rontgen ini berlangsung cepat. Paling hanya sekitar 10-15 menit, termasuk proses menunggu. Setelah selesai dengan urusan rontgen, saya menuju ke nurse station untuk minta diproses tes mantoux. Di tes ini, suster akan menyuntikkan sesuatu ke dalam lapisan kulit saya. Hasil suntikan ini jangan sampai digosok atau terkena sabun mandi karena nanti hasil tesnya akan sulit dilihat. Saya diminta datang 3 hari kemudian untuk dilihat hasilnya ke dokter yang ada di Poli Paru.

Setelah proses tes mantoux tadi, saya menuju loket untuk proses pembayaran. Untuk segala tes yang saya lakukan tadi,saya harus membayar biaya sebesar Rp. 869.704.

Hari ke-2
Di hari ke-2 ini, saya hanya menyerahkan sampel dahak di dua tempat dengan kode BTA 20 dan BTA 30 tadi ke Laboratorium Klinik.

Hari ke-4
Saya sengaja datang lebih pagi di hari ke-4 ini yaitu pukul 06.15. Pertama-tama saya datang ke Laboratorium Klinik dan Ruang Radiologi untuk mengambil hasil uji lab dan rontgen saya. Setelah itu saya membawa semua hasil tes itu ke loket Poli Paru. Di loket ini saya menyampaikan hasil tes saya beserta kartu pasien saya. Setelah itu saya harus membayar biaya sebesar Rp. 160.000, dan kemudian petugas meminta saya menunggu di samping loket Poli Paru untuk proses tes tensi darah, timbang berat badan dan ukur tinggi badan. Sesudah itu saya kembali menunggu dipanggil untuk bertemu dokter di ruang 2.

Saya harus menunggu sekitar setengah jam untuk dipanggil ke dokter. Di dalam ruang 2, dokter melihat hasil rontgen dan hasil lab saya, melihat tangan saya yang disuntik obat untuk tes mantoux dan mengukur bekas suntikan tes mantoux itu, serta memeriksa dada saya dengan stetoskop. Puji Tuhan hasil pemeriksaan saya dinyatakan bebas TBC. Apakah prosesnya sudah selesai? Ternyata belum kawan. Saya diminta ke loket dengan hasil pengantar dari dokter. Saya juga diminta menyerahkan fotokopi KTP saya dan menuliskan nomor hp saya. Berhubung KTP saya tidak ada, saya terpaksa harus mencetak softcopy KTP saya yang ada di dropbox  di tempat fotokopi BPJS. Biaya cetak per lembar Rp. 2000 per lembar, plus biaya internetnya Rp. 4.000.

Itu tadi proses pembuatan surat keterangan bebas TBC, saya tinggal menunggu pihak RSPAD untuk mengambil surat yang sudah jadi.





Sabtu, 12 November 2016

Bandar Udara Ramah Wisatawan

Membangun pariwisata di sebuah kota atau daerah tak pernah lepas dari yang namanya transportasi. Bandar udara sebagai salah satu dari prasarana transportasi merupakan unsur penting dalam memajukan pariwisata Indonesia, terutama sebagai pintu gerbang bagi pelancong yang berasal dari luar negeri.

Beberapa hari yang lalu saya dan teman saya mendapat dinas dari kantor untuk menghadiri sebuah Focus Group Discussion di kota Malang. Saya pernah sebelumnya ke kota Malang, namun ini kali pertama saya menginjakkan di Bandar Udara Abdurahman Saleh Malang. Kesan pertama saya akan bandar udara ini sungguh menyenangkan. Tenang, bersih dan rapi menjadi hal yang saya lihat di bandar udara ini. Apalagi ditambah dengan pemandangan sawah hijau yang menghampar di sekitar bandar udara ini. 

Sebagai seorang yang terbiasa hidup di Jakarta dan terbiasa menggunakan aplikasi taksi online, maka begitu sampai di bandar udara ini, saya lun segera membuka aplikasi Grab, Uber dan Gojek. Dari ketiga aplikasi tersebut, ternyata hanya aplikasi Grab yang menampilkan adanya taksi online di sekitar sini dan setelah mencoba memesan, ternyata saya tak kunjung juga mendapatkan kendaraan dari aplikasi Grab ini. 

Saya dan teman saya putuskan untuk berjalan keluar dari bandar udara untuk mencari taksi yang menggunakan argo. Persis pada saat kami sedang dalam perjalanan keluar bandar udara, ada sebuah taksi hijau yang feeling saya pasti menggunakan argo. Saya lupa warnanya, yang jelas taksi tersebut berhenti sekitar 10 meter dari tempat saya berdiri ketika melambaikan tangan menyetop taksi tersebut. Ketika saya sedang berjalan menuju taksi tersebut, dari arah kanan ada teriakan orang sambil berlari dengan nada marah. Orang tersebut lari mendekati taksi tersebut dan mengusir taksi tersebut untuk pergi dari kami. Saya kaget karena kejadian tersebut tidak saya sangka. Ternyata orang yang mengusir taksi tadi adalah salah satu pengemudi taksi dari koperasi bandar udara tersebut. Dia meminta kami untuk naik taksi yang dia kemudikan dengan tarif 80.000 rupiah (dan tak bisa ditawar lagi) untuk mengantarkan kami menuju Hotel Savana yang berdasarkan Google Maps hanya berjarak sekitar 10 km. Padahal ketika kami naik taksi berargo dari hotel ke bandar udara, kami hanya cukup membayar sekitar 40.000 rupiah.

Bandar Udara Ramah Wisatawan

Menurut saya, bandar udara memiliki peran penting dalam membangun gambaran positif akan pariwisata di suatu daerah. Terutama apabila bandar udara tersebut memiliki rute penerbangan internasional. Wisatawan luar negeri pasti akan lebih terkesan berwisata di Indonesia ketika mereka yang baru saja terbang dari kota asalnya disambut dengan keramahan dan kemudahan di bandar udara.

Salah satu faktor yang mendukung bandar udara menjadi ramah wisatawan tentunya adalah soal konektifitas bandar udara dengan tempat wisata atau pusat kota di daerah tersebut. Hal ini penting sekali mengingat rata-rata bandar udara berada di jarak yang jauh dari pusat kota, berbeda dengan stasiun kereta api atau terminal bus yang biasanya terletak di tengah kota.

Wisatawan seharusnya diberikan beberapa alternatif alat transportasi sehingga mereka dapat membandingkan dan menyesuaikan dengan "ukuran kantong" mereka. Pengalaman saya di Bandar Udara Incheon Korea Selatan, bandar udara ini memiliki beberapa alternatif alat transportasi menuju ke kota Seoul. Kita bisa memilih naik kereta, bis, ataupun taksi, tergantung kemampuan kantong kita.Hal ini berbeda sekali dengan pengalaman saya di bandar udara Malang yang telah saya ceritakan di atas. Saya hanya diberikan pilihan naik taksi tanpa argo yang dikelola oleh koperasi bandar udara tersebut.

Apa akibatnya jika hanya ada satu pilihan alat transportasi di sebuah bandar udara?
Menurut saya, dengan hanya ada satu pilihan alat transportasi, maka kita menjadi tergantung pada alat transportasi tersebut. Akibatnya, pihak penyedia alat transportasi tersebut bisa sekehendak hati mengatur harga. Mau tidak mau, kita sebagai pendatang di tempat tersebut naik alat transportasi tersebut dengan harga yang mengikuti apa yang ditawarkan pihak penyedia jasa tersebut.

Dan apa keadaan ini terjadi di bandar udara Malang saja?
Sayang sekali, hal ini tidak hanya ada di bandar udara Malang saja. Hampir sebagian besar bandar udara di Indonesia masih mengalami hal serupa. Hanya beberapa bandar udara besar seperti Soekarno Hatta dan Kualanamu yang memberi kita beberapa pilihan alat transportasi untuk menuju pusat kota, seperti taksi berargo, kereta api (di Kualanamu), dan bis DAMRI. Mungkin di beberapa kota besar, adanya aplikasi taksi online seperti UBER, GRAB dan GOJEK memberi kita beberapa alternatif tambahan, tapi hampir sebagian besar bandar udara di Indonesia belum bisa memberikan keramahan terhadap wisatawan dari sisi transportasi dari bandar udara menuju pusat kota.
 

Senin, 06 Juni 2016

Pengalaman Tes Beasiswa Kominfo Tahun 2016

"Pengalaman adalah guru yang berharga"
Apa yang kita alami mungkin bisa jadi pelajaran yang berharga bagi orang lain, sekecil apapun pengalaman itu. Jadi kali ini saya ingin berbagi mengenai pengalaman saya setelah mengikuti tes seleksi beasiswa dari Kementerian Komunikasi dan Informatika atau lebih akrab disingkat dengan Beasiswa Kominfo untuk tahun 2016.

Sekitar seminggu yang lalu tepatnya tanggal 17 dan 18 Mei saya selesai menjalani tes Beasiswa Kominfo. Ini adalah kali pertama saya mengikuti seleksi beasiswa ini karena tahun 2015 lalu saya dipanggil namun kebetulan pada saat hari H pelaksanaan tes, saya sedang berada di Papua. Jadilah saya gagal tahun lalu dan tahun ini, ketika saya dipanggil lagi untuk tes, saya putuskan untuk mengikutinya.

Setelah lolos dari seleksi administrasi, ada 25 orang termasuk saya yang dipanggil untuk mengikuti tes beasiswa yang terdiri dari 2 (dua) tahap tes yaitu psikotes dan wawancara. Tahun ini, kedua tes tersebut dilaksanakan pada tanggal 17 Mei untuk psikotes dan 18 Mei untuk wawancara, di Pustiknas Kemkominfo yang terletak di depan Kampus II UIN Ciputat.

Mari kita bahas satu persatu

1. Psikotes

Untuk tahun 2016 ini, Kemkominfo bekerjasama dengan Universitas Indonesia sebagai penyedia jasa psikotes untuk seleksi beasiswa Kominfo ini. Tes dimulai sekitar pukul 08.00 lewat. Dari total jumlah peserta psikotes hari itu, ternyata hanya ada 20 orang termasuk saya. Itu artinya ada 5 orang yang tersingkir dari seleksi beasiswa ini (kecuali kalau memang panitia memberikan kesempatan tes susulan). 

Dalam psikotes ini, saya dan seluruh peserta seleksi harus mengikuti serangkaian tes yang cukup melelahkan. Tes pertama yaitu tes Kreplin, dimana dalam tes ini saya diminta untuk menjumlah angka-angka yang ada dalam selembar kertas dan di waktu -waktu tertentu panitia seleksi akan berkata "Ganti".

Lalu ada pula tes EDWARDS PERSONAL PREFERENCE SCHEDULE (EPPS) dimana dalam tes ini kita akan diminta untuk memilih satu dari dua pernyataan yang paling mendekati atau sesuai dengan keadaan atau kepribadian kita. Sayang sekali saya lupa jumlah soalnya.

Contoh soal nomor 1

A. Saya suka gorengan
B. Saya suka sate ayam

Nah, meskipun kalian sama-sama suka gorengan dan sate ayam, namun kalian hanya diperbolehkan untuk memilih satu jawaban saja yang lebih sesuai dengan diri kalian. Oh iya, dalam tes seleksi Beasiswa Kominfo ini, saya dan peserta lain diberikan tes sejenis ini sebanyak dua kali (kalau tidak salah ingat ya).
 
Lanjut tes berikutnya yaitu tes WARTEGG alias tes warung nasi. :))
Bukan kok. Dalam tes WARTEGG kita akan diberikan sebuah kertas dengan gambar sebuah persegi panjang yang dibagi dalam delapan kotak persegi kecil. Dalam setiap kotak persegi itu terdapat titik, lengkungan atau garis lurus dimana kita diminta untuk meneruskan untuk menggambar menjadi sebuah obyek. Selain menggambar, panitia seleksi juga meminta para peserta untuk menulis angka sesuai urutan menggambar dan juga memilih gambar mana yang paling susah dibuat dan mana gambar yang paling udah dibuat.

Selesai tes WARTEGG, ada tes lagi yaitu tes menggambar orang yang sedang beraktivitas serta menuliskan jenis kelamin, pekerjaan dan aktivitas dari orang yang kita gambar. Dalam tes ini saya menggambar seorang mahasiswa S2 yang sedang mengetik tesis di laptopnya. :)) Selain menggambar orang, di seleksi ini juga terdapat tes menggambar pohon dan menyebutkan jenis pohon apa yang kita gambar. Dalam tes tersebut saya menggambar pohon mangga lengkap dengan buah-buahnya. Ya walaupun hasil akhirnya tidak sesuai dengan harapan saya alias tidak sebagus ekspektasi saya.

2. Wawancara

Tes wawancara dilakukan satu hari setelah hari pelaksanaan psikotes. Dalam tes wawancara ini, saya menghadapi tiga orang pewawancara yang terdiri dari pejabat eselon 1 atau 2 di lingkungan Kementerian Komunikasi dan Informatika. Kalau tidak salah ingat, pewawancara saya yaitu Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan SDM, Staf Ahli Menteri, dan Inspektur Jenderal.

Awalnya saya diwawancarai dalam bahasa Indonesia, namun setelah mengetahui saya lulusan Sastra Inggris, maka akhirnya satu demi satu pertanyaan diajukan dalam bahasa Inggris. Pertama-tama saya diminta untuk mengenalkan diri, termasuk menyebutkan hobi, pekerjaan saat ini, dll. Saran saya sih sebutkan saja hal-hal yang berkaitan dengan beasiswa tersebut atau pekerjaan saat ini.

Beberapa pertanyaan yang selanjutnya diajukan seperti:
  • mengapa memilih kampus dan jurusan tersebut?
  • mengapa memilih negara tersebut?
  • apakah saat ini juga mendaftar beasiswa lain dan apabila diterima di beasiswa Kominfo maupun beasiswa lain, manakah yang akan dipilih?
  • penelitian apa yang akan dilakukan disana?
  • kontribusi apa yang bisa diberikan setelah lulus kuliah S2?
  • apakah mau sesekali berbagi ilmu di unit penelitian dan pengembangan SDM di Kominfo?
Saran saya lagi pelajarilah isu-isu seputar dunia Komunikasi dan Informatika yang sedang berkembang. Hal ini saya sarankan karena pada saat wawancara,saya diberikan pertanyaan mengenai Gojek. Beruntunglah saya sedikit tahu mengenai isu ini sehingga saya bisa memberikan sedikit jawaban mengenai pertanyaan ini.

Oh iya, jangan lupa hafalkan Pancasila ya, karena saya dan peserta sebelum saya diminta untuk menyebutkan bunyi seluruh sila dalam Pancasila.

Jadi, itu semua pengalaman saya dalam seleksi beasiswa Kominfo. Doakan saja segera diumumkan hasilnya dan saya bisa lolos ke tahap selanjutnya. Buat yang tahun ini belum lolos seleksi administrasi, mungkin tulisan saya ini bisa dijadikan persiapan untuk seleksi tahun depan.

Selamat berjuang semuanya :)


Kamis, 19 Mei 2016

Perihal (Ikhlas) Memberi

Kemarin malam, saat saya dan istri saya tengah menunggu pesanan makanan kami datang di sebuah warung, tiba-tiba datanglah seorang pria tua bertampang memelas. Saya yang dasarnya orang yang gak tegaan tanpa pikir panjang mengambil selembar uang seribu rupiah dari kantong saya dan saya berikan kepada orang tua itu. Segera setelah pria tersebut pergi saya dan istri saya kembali mengobrol.

Di tengah-tengah obrolan kami setelah pria itu pergi, tiba-tiba pelanggan lain yang duduk di samping kami langsung berkata kepada kami

"Eh mas, tadi situ ngasih duit kan ke orang itu (baca - pria tua yang mengemis tadi) kan?
Tuh liat kesana. Tadi pas minta-minta dia keliatan kasihan kan. Tuh liat, dia lagi jalan dengan gagah"

Saya agak kaget dengan perkataan orang itu. Bukan karena perkataanya sih, tapi lebih karena tiba-tiba ada orang yang tak saya kenal berbicara kepada saya pada saat saya asyik mengobrol. 

"Kalo saya sih liat-liat mas kalo ngasih orang. Mending ngasih ke yang beneran berusaha."

Yang Penting Kita Sudah Memberi

Bagi saya memberi itu soal keikhlasan hati. Saya tak pernah berpikir apakah uang saya beri akan digunakan untuk beli rokok atau beli minuman keras. Saya tak pernah berpikir apakah orang tersebut berbohong demi mendapatkan uang atau tidak.

Trus berarti kamu turut melestarikan orang-orang malas dong Ben.

Sederhana saja sih jawabannya. Kalau memang masih memikirkan hal-hal yang seperti saya sebutkan di atas, itu berarti kita masih belum bisa ikhlas sepenuhnya untuk memberikan sesuatu kepada orang lain. Dan kalau memang belum atau tidak ikhlas, ya sudah tidak usah memberi dan tidak usah banyak berkomentar. Yang kadang aneh bagi saya itu ya sudah tidak mau memberi tapi malah ribut berkomentar. Seperti orang yang saya temui itu. 

Jumat, 15 Januari 2016

Uteesme, Bikin Kaos Asik dengan Cuma Klik

Apa yang hal yang paling penting saya pertimbangkan ketika membeli sebuah kaos?
Selain harga pastinya, saya selalu dan sangat mempertimbangkan design kaos tersebut. Bisa dibilang saya ini sangat rewel ketika memilih  design kaos karena prinsip saya buat apa saya beli kaos yang desainnya jelek kalaupun toh saya tidak akan mau memakainya (atau paling hanya sekali pakai).

Sebagai seorang yang dulu tinggal di kota kecil di Jawa Tengah (kini saya sudah tinggal dan bekerja di Jakarta), sungguh sulit untuk mendapatkan kaos dengan desain kaos yang keren. Dulu sempat terbayang betapa enaknya tinggal di Bandung dimana distro dengan desain yang unik tumbuh menjamur disana. Bahkan saya pernah meminta tolong teman saya yang kuliah di Bandung untuk membelikan kaos distro disana dan mengirimkannya ke kota saya, demi sebuah kaos yang keren. Yah, jaman tahun 2005 dulu memang online shopping masih terbilang belum familiar bagi saya.

Sejak tahun 2011, setelah bekerja dan memiliki uang sendiri kebiasaan saya untuk mencari kaos yang keren tidak berhenti. Kebiasaan saya di kala senggang adalah melihat-lihat halaman situs distro asal Bandung. Awalnya senang dan happy karena sekarang akses ke kaos yang keren sangatlah mudah. Namun lama-lama saya menjadi berpikir, kenapa tidak saya coba mendesain kaos saya sendiri, dimana desainnya menggambarkan apa yang sedang ingin saya sampaikan lewat kaos tersebut.  Apalagi saya pernah punya pengalaman mendesain kaos sendiri (meskipun sangat sederhana) seperti di bawah ini.


UTEESME, PAKAI KAOS DENGAN DESAINMU SENDIRI

Ya, inilah jawaban dari keinginan saya untuk menggunakan custom tshirt alias kaos custom dimana desainnya sesuai dengan isi otak dan impian saya. 

"Oh, situs design tshirt online ya. Situs ginian mah udah banyak. Trus apa keunggulan Uteesme ini dibandingkan dengan situs lain?"

"Ah bikin kaos custom mah di mal atau ITC juga bisa."

Saya dengan gagah berani menjawab "Uteesme lebih baik dari situs lain ataupun bikin kaos di tukang print kaos yang ada mal atau ITC".

Yuk ah saya jelaskan satu persatu alasannya.

1. Bahan Kaosnya Dijamin bagus

Oke, saya akui saya memang belum pernah buat atau beli kaos di Uteesme, tapi melihat keseriusan mereka dalam menyediakan ragam jenis ukuran di situs mereka, saya yakin bahan kaos yang mereka gunakan pasti sangat baik. Lihat saja cara Uteesme menampilkan keragaman jenis ukuran kaos mereka.


Berbicara soal bahan kaos, saya punya pengalaman buruk soal ini. Jadi ceritanya saya pernah pesan kaos di salah satu vendor yang bisa membuat kaos satuan (kaos tersebut adalah kaos di foto atas). Di situs vendor tersebut mereka bilang bahan yang mereka gunakan bagus dan halus. Tak disangka, begitu kaos yang saya pesan tersebut datang, ternyata bahan kaosnya jauh dari apa yang dijanjikan. Kaosnya sangat tipis dan cenderung mudah keriting.

Ada hal yang penting nih buat para cewek. Jadi di Uteesme, disediakan ukuran kaos untuk cewek. Hal ini menjadi keunggulan Uteesme dibanding situs lain yang hanya menyediakan ukuran reguler saja. Padahal, seperti yang kita tahu, kaos cewek biasanya berbeda di lekukan pinggang. So, don't worry girls.

Sungguh, kalian tak perlu harus jago software desain macam Corel Draw, Adobe Illustrator ataupun Adobe Photoshop untuk bisa membuat kaos custom di Uteesme ini. Disini, kalian hanya cukup klik sana klik sini, dan tak lebih dari 10 menit kalian bisa membuat sebuah desain kaos yang sederhana. Yah, untuk bisa jago desain memang butuh jam terbang dan latihan bukan. :)

Ini dia beberapa fitur unggulan Uteesme dalam hal design tshirt online.

a. Disediakan template yang beragam

Jujur, saya sudah pernah mencoba mendesain tshirt secara online di situs sejenis Uteesme ini. Namun fitur yang mereka miliki sangatlah sederhana, yaitu hanya disediakan bentuk geometri dasar seperti segitiga, kotak, dll. Hal ini berbeda dengan Uteesme yang mana disediakan beragam template yang menarik.

 Terdapat 6 pilihan template di Uteesme, yaitu Popular, Quotes, Family, Birthday, Bachelor (Ette) dan Couple. Lihat contoh template yang saya gunakan di kategori Quote ini. Banyak sekali bukan.



b. Aneka Image yang bisa dipilih

Tak perlu khawatir harus membuat sendiri image atau icon untuk desain kalian karena di Uteesme disediakan juga banyak sekali image. Ada kategori frames, doodles, stamps, shapes, shoutouts, dress up, misc, dan icons. Tinggal pilih saja sesuai keinginan kalian.Ini contoh desain dari template tadi, setelah saya beri tambahan image.



Desain hasil template dicampur dengan image

c. Bisa Pilah Pilih Font Yang Banyak Banget

Jika kamu suka dengan desain yang berisi tulisan, maka fitur Font di Uteesme ini akan membuat kamu happy banget. Beragam jenis huruf disediakan disini, yah sekali lagi saya akui, situs custom tshirt yang lain jadi terasa cupu jika dibandingkan fitur di Uteesme ini.

Lihat contoh desain saya berikut ini. 



Kadang suka sebel dong kalau kamu belanja online untuk barang yang kelihatannya murah tapi ongkos kirimnya mahal. Nah, dengan Uteesme hal tersebut tidak akan terjadi. Kalian bisa belanja kaos dari ujung Indonesia sekalipun tanpa terbebani ongkos kirim. Dari pengalaman saya, saya pernah mengirim barang ke Nias per kilogramnya bisa kena 40 ribu. Ya lumayan kan bukan kalau bisa belanja tanpa tambahan biaya kirim.

Itu tadi beberapa keunggulan dari Uteesme selain keunggulan lainnya seperti kategorisasi jenis desain yang lengkap, sistem akun di Uteesme yang seperti social media (kita bisa mem-follow akun yang kita suka) dan aneka keunggulan lainnya. Sepertinya, segera setelah ini, saya langsung mendesain dan membeli kaos custom desain saya di Uteesme nih. Oh iya, yang tertarik dengan Uteesme, bisa langsung ke website atau akun media sosial mereka berikut ini.

Website: www.utees.me
Twitter: @Uteesme
Facebook : Uteesme
Instagram : Uteesme 
Youtube: Utees.me

So, are you ready to design your own tshirt?
I am so ready. :)



Sabtu, 17 Oktober 2015

Bekerja Lebih Efektif Dengan ASUS PC-Link

Pernah tidak kalian merasa notifikasi yang masuk di handphone menggangu konsentrasi kalian pada saat kalian sedang mengerjakan sesuatu di laptop atau PC kalian?

Keterikatan dan ketergantungan orang terhadap gawai smartphone mereka memang seringkali menjadi penghambat dari efektifitas pekerjaan mereka. Bayangkan saja misalkan kita sedang mengetik laporan yang harus segera diserahkan ke atasan, tapi pada saat mengetik, tiba-tiba kita harus berhenti sejenak karena mendengar smartphone kalian berbunyi atau merasakan getarannya. Karena rasa keterikatan itulah, akhirnya kita akan mengecek notifikasi apa yang masuk ke smartphone tersebut dan biasanya, tanpa kalian sadari, kita akan mengecek akun sosial media kita yang akhirnya menghabiskan waktu dan menunda pekerjaan pembuatan laporan tadi.

Lalu, bagaimana cara agar kita bisa mengecek notifikasi smartphone kita tanpa harus "membuka" smartphone tersebut?

Buat kalian yang memiliki smartphone ASUS pasti sudah akrab dengan aplikasi  "PC-Link" yang merupakan aplikasi bawaan dari produsen smartphone asal Taiwan ini. Sudah lama sebenarnya saya tak tahu apa fungsi dan manfaat dari aplikasi ini, namun baru saja saya iseng mencobanya dan ternyata baru saya tahu manfaat dari aplikasi PC-Link ini.

Menurut saya, manfaat utama yang saya pikir bisa diperoleh dari PC-Link ini adalah seperti yang sudah saya singgung di awal tulisan ini yaitu membuat kita bisa lebih fokus mengerjakan pekerjaan kita pada laptop atau  PC. Kenapa begitu? Ya karena dengan adanya koneksi PC-Link, maka kita tidak perlu khawatir akan terlambat untuk membalas pesan penting dari pacar kita karena kita tidak sempat mengecek smartphone kita akibat fokus mengerjakan sesuatu pada laptop.

Tampilan laptop saya ketika denga koneksi PC-Link dengan smartphone saya
Ada lagi manfaatnya? Ada dong. Jika kalian ingin memutar lagu yang ada di smartphone kalian, kalian tidak perlu memindahkan file lagu tersebut ke komputer atau laptop kalian. Cukup dengan menyetel musik tersebut melalui tampilan smartphone di layar laptop, dan voila. Suara musik kalian akan terdengar melalui speaker laptop atau komputer kalian. 

Oh iya, berhubung saya belum jago tutorial, berikut saya lampirkan video tutorial cara menggunakan PC-Link yang saya ambil dari Youtube.

 

Seperti halnya dua sisi mata uang, terkoneksinya smartphone dengan laptop atau komputer menurut saya memiliki dampak negatif juga. Bayangkan saja, bila biasanya seorang bos dapat langsung menegur pegawainya yang terlihat terlalu asyik dan sering mengecek smartphone-nya, maka hal itu sekarang agak susah dilakukan. Bisa saja pegawai tersebut sekarang selalu terlihat mengerjakan sesuatu di komputer kantor, tapi ternyata dia sedang sibuk mengetik dan membalas chat  di aplikasi Whatsapp, Line atau aplikasi messaging lainnya.

Jumat, 18 September 2015

Review Hotel : d'Prima Hotel Medan

Berawal dari kebingungan pada saat akan dinas ke Medan. Jika dulu pada saat bandar udara Polonia yang notabene berada di tengah kota Medan, mungkin saya tak akan bingung untuk menginap dimana ketika ada acara di Medan. Namun sejak 2 tahun lalu Bandar Udara Kualanamu beroperasi, praktis saya dibuat bingung karena berdasarkan info teman-teman kantor saya, belum ada hotel yang cukup bagus dan layak di sekitar bandar udara berkode KNO ini. Sebagian besar masih hotel yang sering digunakan transaksi plus-plus yang biasanya. Jadi akhirnya berdasarkan rekomendasi teman, saya memilih untuk menginap di d'Prima Hotel Medan ini.



Lokasi hotel ini persis di komplek Stasiun Medan. Inilah poin paling penting dan nilai jual hotel ini. Jadi saya yang baru saja tiba di Bandar Udara Kualanamu, melanjutkan perjalanan menggunakan kereta bandar udara (Railink), dan begitu tiba di Stasiun Medan, saya tak harus lelah menyeret koper, menunggu taksi atau jemputan untuk bisa sampai ke hotel. Cukup melangkahkan kaki ke arah pintu keluar Jalan Stasiun Kereta Api, lalu persis di depan Starbucks Stasiun Medan, terdapat sign d'Prima Hotel.

Resepsionis bisa ditemui Lantai 3. Kalian bisa memilih menggunakan lift ataupun tangga untuk menuju ke tempat resepsionis ini. Untuk kalian yang memesan tiket melalui situs online, kalian tak perlu khawatir jika kalian lupa mencetak bukti pemesanannya karena resepsionis sudah memiliki data pemesanan kalian tersebut. Pada saat check in, kalian akan diminta kartu identitas serta memberikan uang Rp. 50.000,- sebagai jaminan yang akan dikembalikan pada saat check out.

Saya dapat kamar tipe Superior dengan dua ranjang. Hotel ini memberikan compliment yang cukup membahagiakan, yaitu dua buah Pop Mie dan 2 botol air kemasan berukuran 600ml. Selain itu, terdapat pula pemanas air listrik beserta kelengkapan kopi, teh dan gula. Untuk lemari pakaiannya, hanya tersedia dua hanger yang menurut saya kurang dari segi jumlah.

Saya tak terlalu mempermasalahkan ruangan yang memang tidak terlalu luas, hanya saja saya tak terlalu nyaman dengan penataan toilet duduk yang membuatnya sangat sempit dan mentok pada dinding kaca tempat mandi. Untuk televisi, terdapat 27 channel yang bisa dipilih untuk mengisi waktu di kamar.

Jadi apakah Hotel ini saya rekomendasikan?
Pastinya, terutama jika kamu tipe orang yang malas untuk bangun lebih awal hanya untuk melakukan perjalanan dari hotel ke stasiun. Oh iya satu lagi yang ketinggalan yaitu sarapan. Hotel ini tidak menyediakan restoran tersendiri untuk melayani breakfast para tamunya. Jadi, setiap pagi para tamu akan diberi voucher Starbucks yang bisa ditukarkan dengan segelas kopi hitam atau teh plus sepotong croissant. 

d'Prima Hotel Medan
Jalan Stasiun Kereta Api No. 1, Medan (Stasiun Medan Lt. 3 dan 4)
http://www.dprimahotelmedan.com/
http://dprimahotel.com/id






 

Selasa, 08 September 2015

Review Buku: Biografi Andy Noya, Kisah Hidupku

 
 
 
 
Penulis : Robert Adhi KSP
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Jumlah: 436 halaman
Terbit : 3 Agustus 2015

Meskipun sudah sangat jarang menonton acara televisi, namun ada satu acara yang menjadi salah satu favorit saya dan selalu ditunggu setiap hari Jumat malam. Apalagi kalau bukan acara Kick Andy, sebuah acara yang ditayangkan di Metro TV. Yang membuat acara ini menarik adalah karena disini Andy F Noya, selaku host acara tersebut selalu menghadirkan orang-orang yang memiliki kisah-kisah yang dapat menjadi inspirasi bagi orang lain. Dengan gaya santai namun mendalam, Andy F Noya mencoba menggali kisah-kisah tersebut dengan pertanyaan-pertanyaan yang  straight to the point dan mendalam yang membuat bintang tamu bercerita mengenai kisah mereka dengan terbuka dan jujur.

Jika selama ini kita hanya mengetahui penampilan Andy F Noya dalam acara Kick Andy, maka dalam buku ini akan dibahas kisah seorang Andy F Noya yang cukup lengkap, mulai dari cerita keluarganya, kisah kelamnya saat di masih kecil, hingga perjalanan karir wartawannya sejak beliau masih berstatus sebagai mahasiswa sampai dengan karirnya saat ini. Dari tulisan yang ada di back cover buku ini, seorang Robert Adhi KSP selaku penulis biografi ini membutuhkan waktu sekitar empat tahun untuk meyakinkan seorang Andy F Noya agar kisah pribadinya ini diterbitkan dalam bentuk buku dan dikonsumsi masyarakat luas.

Senin, 06 April 2015

From Wacana To Kenyataan

Manusia seringkali mempunyai banyak ide atau rencana dalam otaknya, tapi seberapa banyak ide atau rencana tersebut yang kita perjuangkan sungguh-sungguh untuk diwujudkan. Saya termasuk orang yang punya banyak sekali keinginan yang sebenarnya terlihat sederhana bagi orang lain, tapi saya sendiri merasa kalau kita tidak berniat untuk mewujudkannya maka selamanya semua keinginan itu hanya ada di otak kita atau paling banter masuk buku catatan "bucket list" atau resolusi tahun baru saja. 

Dalam sebulan ini, ada dua keinginan saya yang coba saya wujudkan. Yang pertama adalah membuat usaha sendiri, dan kedua adalah membuat reksadana.

1. Membuat Usaha 

Sebenarnya keinginan membuat usaha sendiri sudah ada sejak lama. Terlebih dulu seringkali ikut terpengaruh kata-kata motivator yang bilang "lebih baik jadi bos di perusahaan sendiri, daripada jadi direktur di perusahaan orang lain". Bukan, saya bukan baru saja membuat sebuah usaha perusahaan konstruksi atau perusahaan dengan kantor megah lainnya. Saya dan keluarga baru saja membuat sebuah usaha angkringan.

Buat yang lahir dan besar di Jakarta mungkin jarang sekali mendengar kata angkringan. Tapi kalau kalian yang lahir dan besar di daerah Jawa Tengah atau DI Yogyakarta, pasti kata "angkringan" sudah menjadi semacam kata "Starbucks" atau "cafe" di kalangan anak muda Jakarta. Simpelnya, angkringan adalah semacam tempat nongkrong dengan menu beragam namun yang pasti selalu ada dan paling terkenal adalah nasi kucing dengan beberapa lauk semacam sate usus, sate telur puyuh, tempe dan tahu bacem. Minuman andalannya tentu sang Jahe Susu atau Kopi Joss, segelas kopi hitam yang dicampur dengan arang yang membara.

Jadi setelah bermimpi dan berniat cukup lama membuat angkringan, sekitar 2 minggu lalu angkringan keluarga saya mulai dibuka. Angkringan kami ini mengambil nama "Angkringan Mbah Darman", yang diambil dari nama almarhum Ayah saya. Sempat mengalami kendala terutama di masalah tempat jualan, akhirnya salah satu keinginan saya untuk membuat usaha terwujud nyata.

2. Membuat reksadana

Sudah lama keinginan membuat reksadana ada dalam diri saya. Mungkin sudah sekitar 1 tahun yang lalu kira-kira keinginan ini mulai muncul. Jadi ceritanya waktu itu saya baru saja mengikuti kelas Akademi Berbagi Jakarta dengan guru Ligwina Hananto, seorang financial planner yang namanya kondang. Nah, pada saat Mba Ligwina mengajar, beliau berkata bahwa

"Coba kalian sisihkan 100-200 ribu dari gaji kalian untuk investasi reksadana. Uang segitu pasti ga kerasa buat kalian yang terbiasa menghabiskan 100-200 ribu untuk nongkrong di kafe atau makan steak, atau untuk bayar paket internet bulanan. Mungkin uang itu yang akan menyelamatkan kalian pada saat kalian kesulitan keuangan di masa depan"
Sejak kelas itu, saya bertekad untuk segera membuka reksadana. Dan, tekad saja ternyata tidak cukup ya kawan. Setelah sempat bersemangat menggebu-gebu, bertanya ke beberapa teman yang sudah buka reksadana dan akhirnya satu tahun berlalu cepat hingga beberapa hari yang lalu saya melangkahkan kaki ke kantor salah satu Manajer Investasi di daerah Sarinah. Dan voila, jadilah saya memiliki sebuah akun reksadana milik saya.

Hikmah dari semua ini adalah jangan berhenti untuk mewujudkan mimpi atau keinginan kita, bahkan setelah sekian lama dari pertama kali keinginan itu muncul.Jadi, jangan takut bermimpi (dan mewujudkannya) ya.

Minggu, 08 Februari 2015

Attracting Local People to Museums and Historical Sites

Nowadays, museums and historical places are mainly visited by tourists, not local people. From my point of view, there are two reasons why the number of local residents is less than tourist, when we are talking about the number of museum and historical sites visitors.

The first reason is I think domestic residents feel that they can go to museums and ancient whenever they want. There is no need to come there soon due to the distance between their houses and those places are not far. 

Tourists go to museums and ancient buildings to spend their spare time or holidays. In contrast, local people think that they do not have much time to visit historical sites and museums, even for the nearest one. For instance, I only spend my weekend with sleeping in bed or doing some relaxing activities at home. And I believe many people in Jakarta have similar thoughts like that. 

So, are there any solutions to overcome that problem?

I propose two ways as potential solutions for that problem. First, the local government can make a kind of "free pass" only for local people. This program will give privileges to residents because they can enter freely to museums or historical places. But the government have to consider how to keep the business running well although they give free pass for local people.

The second solution I offered is making a blog competition only for residents. The competition will require participants to share their stories of visiting museums and historical places in their city. The government can offer some big prizes to attract local people to join this competition. Indirectly, this competition will increase the number of visitors of those tourism objects, particularly local people.
 
*Note: I got this topic when I got my IELTS test, for Writing Task 2.

Sabtu, 07 Februari 2015

Sepintas Bicara Tes IELTS

Sumber gambar : disini

Jadi ceritanya hari ini saya baru saja selesai mengikut tes IELTS. Seperti kebiasaan lama saya yang suka berbagi pengalaman tes, maka kali ini pun saya ingin berbagi pengalaman saya mengenai tes IELTS. Jika di beberapa blog lain banyak yang bercerita mengenai pengalaman mereka mempersiapkan IELTS, maka saya disini ingin membahas seperti apa tes IELTS itu. Mungkin tulisan ini berguna bagi orang-orang yang ingin lebih tahu gambaran tes IELTS.

Tes IELTS adalah tes untuk mengukur kemampuan berbahasa Inggris seseorang berdasarkan 4 skill utama dalam berbahasa Inggris, yaitu Listening, Reading, Writing dan Speaking. Yang akan saya ceritakan disini adalah murni berdasarkan pengalaman saya. Jadi ini bukan sama sekali tips dan trik dari seorang master IELTS. Jangankan menjadi master, skor IELTS saya belum keluar sama sekali. hehe. So, let's move on to the main topics.

1. Listening

Tes ini akan menguji tingkat konsentrasi dan pendengaran kita. Karena ini menguji konsentrasi kita, saya menyarankan untuk meminimalkan beberapa hal yang mampu mengganggu konsentrasi seperti rasa lapar atau ingin buang air kecil/besar. Di IALF, tempat saya mengambil tes IELTS, kami diminta berkumpul di tempat sekitar pukul 07.30 wib. Saya sangat menyarankan untuk sarapan pada pagi harinya, untuk mencegah konsentrasi kalian atau teman-teman kalian pecah gara-gara mendengar bunyi "panggilan alam" dari perut kalian. Untuk kalian yang punya jadwal rutin BAB (buang air besar) di pagi hari, usahakan untuk tidak menundanya. Karena selama tes Listening, kita tidak akan diperbolehkan untuk izin keluar ke toilet.

Tes Listening terdiri dari 40 soal, dengan waktu 30 menit. Di akhir waktu 30 menit tadi, disediakan waktu 10 menit untuk menuliskan jawaban kalian di lembar jawaban. Jadi selama soal-soal diperdengarkan, para peserta ujian biasanya mencorat-coret jawabannya di lembar soal. Kalau kalian pede dengan jawaban kalian, kalian diperbolehkan kok untuk langsung menuliskannnya di lembar jawaban.

Dalam tes ini terdapat 4 Section, dimana jika dihitung rata-rata, satu Section terdiri dari 10 soal. Jika 30 menit dibagi dengan 40 soal, maka waktu kalian untuk mengerjakan satu soal adalah 30 : 40 = 0,75 menit alias 45 detik (koreksi ya hitungan saya kalau hitungan saya salah. :)). Waktu adalah kunci di dalam tes Listening, jadi pastikan jika kalian terlewat satu soal, segera move on ke soal berikutnya. 

Di antara beberapa soal di dalam satu Section dan di antara perpindahan antar Section, terdapat jeda waktu. Nah, sebaiknya kalian memanfaatkan jeda waktu ini untuk mencorat-coret setiap soal yang ada. Tandai kata-kata yang bisa menjadi signal sebelum jawaban yang dicari diperdengarkan. Untuk beberapa soal, kalian juga bisa memperkirakan jenis jawabannya. Misal di soal tertulis kata-kata yang tertulis "Telephone number .............". Dari pertanyaan tersebut, kita bisa menebak bahwa jawaban yang dicari adalah deretan angka. Prepare your ears because listening to numbers is not easy thing. Saya pribadi adalah orang yang lemah dalam mendengar angka-angka dan pengejaan huruf. Jadi saya selalu pusing setiap kali ada soal-soal yang menampilkan angka atau pengejaan huruf (dan jenis soal ini selalu ada).

2. Reading

Untuk yang tidak hobi baca, tes ini adalah tes terberat. Di tes ini kita akan disuguhkan 3 buah bacaan alias Reading Passage. Urutan bacaan merupakan urutan tingkat kesulitan. Jadi Reading Passage 3 adalah yang tersulit, dibandingkan dengan Reading Passage 1 dan 2. Dari 3 bacaan ini, terdapat 40 soal yang harus dijawab dalam waktu 60 menit. Jika dikalkulasikan, 1 soal bisa dikerjakan dalam waktu 1 menit 30 detik. Lumayan, dibandingkan dengan tes Listening.

Saran saya ketika mengerjakan soal-soal Reading, selalu perhatikan jenis soalnya. Jika jenis soalnya tidak meminta kalian untuk menyimpulkan paragraf atau menentukan heading dari tiap paragraf, jangan pernah membaca seluruh paragraf detil karena itu akan membuang waktu. Jika di dalam soal terdapat hal yang spesifik misalnya tahun atau nama seseorang, maka kalian hanya harus fokus pada tahun atau nama seseorang tersebut dan mencarinya di dalam bacaan. Biasanya jawaban pertanyaan kalian akan ada di sekitar kalimat yang memuat hal spesifik tersebut.

Tips saya untuk tes Reading adalah kerjakan semua soal yang termudah karena tidak akan ada pengurangan nilai jika jawaban kalian salah. Oh iya, jangan sampai salah untuk menulis jawaban ya, karena kesalahan singular atau plural saja akan dianggap salah. Dan ingat, seperti halnya di 3 tes lainnya, selalu perhatikan perintah alias instruction. Jika diminta hanya menuliskan satu kata, ya tulis satu kata pada lembar jawaban kalian. Ini penting kawan.

3. Writing

Writing is like a nightmare for me, since it is so grammar based assessment. Bagi saya ini adalah bagian dari tes IELTS yang paling sulit. Soalnya memang hanya terdiri dari 2 soal, tapi memikirkan jawabannya itu yang sulit.
Terdapat 2 Task dalam tes Writing. Di Task 1 kalian akan diminta untuk membuat report atau membuat deskripsi dari data yang disajikan. Data ini bisa berupa chart, grafik, tabel, peta ataupun diagram alur. Dan jangan kaget jika di Task 1, kemungkinan untuk mendapatkan 2 data itu sangatlah besar, seperti yang saya alami tadi siang. Saya mendapatkan satu bar chart dan tabel tentang bagaimana pria dan wanita di Inggris menghabiskan waktunya untuk kegiatan household activities dan leisure activities.

Jenis pertanyaan yang muncul bisa berupa perbandingan data, mendeskripsikan tren atau menjelaskan alur sebuah proses. Untuk tips-tips seputar Writing Task 1 ini bisa kalian dapat dengan googling. Saya belum pede untuk berbagi lebih detil mengenai Writing Task 1. Yang jelas persiapkan diri kalian dengan latihan menulis dengan beragam bentuk data.

Selanjutnya, untuk Writing Task 2, kalian akan diminta untuk menulis opini berdasarkan data. Tadi siang saya diminta untuk membuat tulisan untuk menanggapi soal mengapa museum dan bangunan bersejarah hanya ramai oleh turis, bukan oleh orang lokal. Saya pun diminta untuk memberikan solusi untuk menarik kedatangan orang lokal ke museum dan bangunan bersejarah.

Sekali lagi, tips dan trik Writing Task 2 bisa kalian cari melalui mesin pencari Google atau mesin pencari lain. Usahakan melihat contoh-contoh tulisan yang mendapat band score 8 atau 9. 

4. Speaking 

Ini dia urutan tes kedua yang tersulit menurut saya. Kenapa? Karena disini kita harus berpikir cepat untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh seorang native speaker yang menjadi penguji kita.
Tes Speaking ini terdiri dari 3 Section. Di Section 1 kalian akan ditanya hal-hal yang umum seperti misalnya rumah, kampung halaman, teman, hobi, pekerjaan dan hal-hal umum lainnya. Di Section 2, kita akan diminta untuk berbicara tanpa jeda selama 2 menit mengenai topik yang akan diberikan oleh penguji kita. Tenang saja, kita akan diberi waktu 1 menit untuk membuat catatan mengenai apa yang akan kita bicarakan. Hari ini saya mendapat soal mengenai interesting conversation, dimana di dalamnya ditanyakan dengan siapa, dimana, kapan, apa yang dibicarakan dan alasan mengapa saya menganggap percakapan tersebut menarik.
Berlanjut ke Section 3, disini kita akan ditanya lebih detil mengenai topik pada Section 2. Di Section 3 ini saya ditanyakan apa perbedaan berbicara pada wanita dengan berbicara pada sesama pria, apa perbedaan berbicara langsung dengan berbicara lewat telepon, dan pertanyaan-pertanyaan lain seputar conversation. Dari yang saya amati, penguji akan bertanya lebih detil mengenai jawaban-jawaban kita. Jadi sepertinya, pertanyaan-pertanyaan yang dia ajukan adalah murni spontan menanggapi jawaban-jawaban saya.


Yap, itulah tulisan singkat saya mengenai tes IELTS. Doakan saya ya semoga hasil tes hari ini bisa sesuai dengan harapan saya dan sesuai dengan yang saya butuhkan untuk mendaftar beasiswa dan universitas.

Masa Pertumbuhan Kita

Kalian pasti pernah menerima ucapan dari teman atau saudara kalian dengan bunyi kira-kira seperti ini " Makan yang banyak ya. Kan lagi ...