Jumat, 10 Februari 2012

Es Krim Cokelat


“Es Krim...Es Krim...., Es Krim Cokelat Diana...”,
“Ayo beli-beli....Es Krim Cokelat Diana”, teriakku dengan suara yang serak, sambil kukayuh sepeda yang setia menemaniku berjualan es krim cokelat setiap hari.
“Es Krim Es Krim...”.

Tiba-tiba, suara dari arah belakang memanggilku.
“Bang........Bang”.
Kutarik tuas remku dan kuhentikan laju sepedaku. Kutuntun perlahan ke tepi jalan.
Seorang anak kecil lelaki berlari dari sebuah rumah dan mendekat kepadaku. Nampak di  depan rumah itu, berdiri seorang anak kecil perempuan menatap anak lelaki tadi berlari kepadaku.

“Bang, Es Krim Cokelatnya berapaan bang?”, katanya dengan nafas tersengal-sengal..
“Yang cup ini 4 ribu, kalo yang stik ini 2 ribu.Adek mau beli yang mana.”, tanyaku balik.
Kulirik anak kecil ini. Kulihat sepintas beberapa lembar uang seribuan dalam genggamannya.

“Saya pengin beli yang stik aja bang...”, jawabnya sembari menyerahkan uang ribuan empat lembar.
Kuambil dua buah es krim cokelat dari kotak tempat es krim, lalu kumasukkan ke dalam tas plastik yang telah kupersiapkan di tanganku. Kuserahkan bungkusan tas plastik tersebut kepada anak kecil itu.

Tanpa banyak bicara, dia mengambil satu buah es krim dari plastik, dan menyerahkan satunya kepadaku. Lalu dia berlari menuju anak kecil perempuan yang sedang berdiri di ujung sana.

“Hei dek, kenapa es krimnya cuma diambil satu? Kan kamu kasih empat ribu ke abang...”
teriakku kepada anak kecil itu, masih dengan perasaan bingung.

“Es Krim Cokelatnya satu cuma buat adik saya aja bang.Sisanya buat tips abang aja.”
jawabnya sambil berlari masuk ke rumah. Di belakangnya, anak perempuan yang ia panggil adik menyusulnya.

Selasa, 07 Februari 2012

Permen Cokelat


“Bapak, aku pengen permen cokelat kayak punya Adi”.
rengek Budi kepadaku dengan setelan seragam merah putihnya.


Sudah tiga hari ini anakku Budi, merengek kepadaku untuk membelikannya permen cokelat “SUPER” seperti yang biasa Adi bawa ke sekolah. Adi ini adalah anak Pak Yadi, tetangga rumahku yang hidup mapan dengan pekerjaannya yang entah apa. Yang jelas dia punya rumah dengan beberapa mobil mewah di dalamnya. Berbeda sekali dengan keadaan hidupku serta rumah kontrakanku yang hanya berukuran 4 x 6 meter.


“Ntar ya Nak. Pulang sekolah Bapak kasih permen yang kayak punya Adi. Dah sekarang kamu berangkat sekolah dulu ya.”


“Iya Pak. Tapi janji ya pulang sekolah nanti Bapak kasih permennya.”


“Iya Bud. Bapak janji..”, jawabku.


“Budi berangkat ya Pak.”,ucap Budi sembari mencium tanganku.


Kuusap rambutnya.
“Ati-ati di jalan Bud. Yang rajin belajarnya ya.”


Budi berlari meninggalkanku. Dia memang anak yang penurut, dan tak pernah memaksa saat dia minta sesuatu. Sudah banyak permintaannya yang hanya kubalas dengan janji. Terakhir kali dia meminta dibelikan pensil baru karena miliknya yang lama sudah tinggal sepanjang jari kelingking. Waktu itu pun aku jawab “Nanti ya Nak. Bapak janji kalau ada rejeki Bapak beliin pensil baru buat kamu”. Dan seperti biasanya pun, Budi tak lagi merengek minta dibelikan pensil baru.


Tapi hari ini, permintaan Budi untuk dibelikan permen cokelat seperti punya Adi harus kupenuhi. Toh harga permen cokelat pasti lebih murah daripada harga sebuah pensil baru. Kurogoh dompet di kantong kiri celanaku. Kubuka dompetku, memastikan tersisa berapa uang hasil kerjaku, yang hanya bekerja sebagai kondektur Metro Mini 69 jurusan Blok M- Ciledug dengan bayaran hanya 15-20 ribu sehari.


“Huhhh...”,kuhela nafasku. Badanku lemas sembari mengenggam uang lima ribuan di tanganku.
“Apa cukup ya uang lima ribu ini untuk membeli permen yang diminta Budi”.


Tin...tin...
“Sepertinya itu suara klakson metro mini Bang Udin”, kataku dalam hati.


“Jok..Joko.Ayo berangkat narik...”.
Suara keras dengan aksen Batak yang sudah sangat kukenal.
Bang Udin mengajakku untuk berangkat kerja. Mengais rejeki dari setiap uang dua ribuan penumpang yang naik Metro Miniku..


Buru-buru kututup dan kumasukkan lagi dompetku ke dalam kantong celanaku.
‘Iya bang.”, jawabku sambil berlari menuju pintu rumah kontrakanku.


***


“Yo...Ciledug Ciledug Ciledug...”
teriakku keras-keras untuk mendapatkan penumpang. Kuacungkan ibu jariku setiap kali ada orang yang berdiri di tepi jalan. Sesekali kuketuk-ketukan uang logam di tanganku, memberi tanda kepada Bang Udin tiap kali ada penumpang yang akan turun.


Metro Miniku berhenti terkena macet di jalan daerah kontrakanku, tepatnya di depan ITC Cipulir Mas.
“Ada apa ya. Kok sampai macet begini.”, pikirku.
Penumpang di dalam mulai kegerahan. Udara panas Jakarta semakin menambah panas suasana.


“Hei Jok. Coba kau lihat ke depan sana.”


Tanpa menjawab perintah Bang Udin, aku berjalan menyusup ke sela-sela mobil di depan Metro Miniku. Dari kejauhan kulihat beberapa orang yang berkerumun.
Semakin dekat jarakku dengan kerumunan itu, ternyata orang-orang itu sedang mengerumuni sebuah mobil yang terguling di badan jalan. Tampak beberapa orang itu pergi dari kerumunan dengan membawa satu dua kardus bertuliskan “PERMEN COKELAT SUPER”.


“Itu kan permen cokelat seperti yang anakku minta..”, pikirku cepat.
Segera aku berlari mendekat mobil yang terguling itu. Kuikuti apa yang orang lain lakukan. Dengan segera kuambil beberapa permen cokelat yang tercecer di sekitar mobil yang terguling itu.


Sembari memungut permen dan memasukkannya ke tas pinggang berisi uang hasil tarikan Metro Mini, hatiku dan bibirku tersenyum seirama.
“Semoga Budi senang kalau aku bisa bawa permen segini banyak”, raup tanganku berusaha mengumpulkan permen sebanyak-banyaknya.


Tiba-tiba, sebuah tangan menepuk pundakku.
“Oi Jok..Loe ngapain disini. Mending loe langsung ke Rumah Sakit Kartini Cipulir sono. Anakku loe itu tadi ketabrak mobil ini. Tadi sopir mobil ini udah mau dikeroyok ama orang-orang sini, untung polisi udah langsung ngamanin. Cuma ni mobil aja yang udah abis barang-barangnya dibawa.”


Aku masih tertegun mendengar ucapan Slamet, tetangga rumahku, yang sedang mencerocos menerangkan kejadian yang baru saja dialami mobil di depanku ini.
“Udah sana jangan ngelamun. Cepetan sana liat anak loe di rumah sakit.”


Segera kulangkahkan kakikku mendekati tukang ojek di depan ITC Cipulir Mas.
Tak kupedulikan lagi nasib Bang Udin, Metro Mini beserta penumpang di dalamnya. Tak kupedulikan lagi orang-orang yang masih berkerumun di sekitar mobil yang terguling tadi.


“Bang, cepet anterin saya ke Rumah Sakit Kartini Cipulir.”, kataku tergesa-gesa kepada tukang ojek.

Lomba Blog dari AXIS : Eksis dengan Internet



Halo pembaca Kamar Kata, ada info lomba nge-blog ni dari AXIS.
Berikut informasi lengkapnya saya copy paste-kan dari blog AXIS.


 ***
Hai, AXISers! Apa yang lebih menyenangkan dari kabar baik di awal tahun? Nah, kali ini AXIS sebagai operator GSM dan 3G dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia ingin berbagi kabar baik dengan kamu semua.


Suka online? Suka menulis? Dan eksis? Yuk ikutan Lomba Penulisan Blog yang kami adakan dengan tema "Eksis dengan Internet". Apa aja syaratnya?


Tema Tulisan
“Eksis dengan Internet”


Periode Blog Competition
16 Januari - 29 Februari  2012


Pengumuman Pemenang
7 Maret 2012


Hadiah:
Tablet + AXIS Eksis SIM Card & Voucher value 6 months free unlimited access
I : iPad 2
II: Galaxy Tab 7.0
III: HTC Desire


Syarat Umum
1.Semua blogger di Indonesia dapat berpartisipasi
2.Peserta adalah mereka yang memiliki blog pribadi, baik hosting gratis dan domain pribadi
3.Tidak ada batasan umur
4.Meletakkan gambar banner online di bawah ini dalam postingan, dengan link menuju (blog dunia AXIS)






5.Tiap peserta diwajibkan mencantumkan link ke http://duniaaxis.co.id dan wajib untuk register di blog ini
6.Isi blog: Bebas, fiksi/non fiksi, tidak mengandung unsur pornografi, hasutan, SARA
7.Tidak menyalahi ketentuan undang-undang Teknologi Informasi, tidak melanggar hak cipta, serta bukan hasil copy paste
8.Mengandung ide-ide kreatif baru


Kriteria Penjurian
1.Judul, isi, dan nada pemberitaan sejalan dengan tema lomba
2.Isi tulisan fresh dan original
3.Juri memiliki hak prerogatif untuk menentukan pemenang


Mekanisme Penjurian
1.Pengumuman pemenang 7 Maret 2012
2.Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat
3.Jika tulisan sudah dipublikasikan di blog pribadi peserta, peserta mengirimkan beberapa data berikut ke email dunia.axis@axisworld.co.id dengan subjek Lomba Blog AXIS
- Nama Lengkap
- Alamat url blog
- Tautan langsung menuju artikel yang dilombakan
- Alamat email
- Nomor telpon
4.Mensubmit url blog post pada Notes Lomba Blog di Notes Facebook Page dunia AXIS
5.Selain pendaftaran tidak ada surat-menyurat perihal lomba melalui e-mail penyelenggara

Rabu, 01 Februari 2012

Kopi Tubruk


 "Mbak, kopi tubruknya satu ya. Gulanya sesendok aja.", suara itu membuyarkan lamunanku siang ini.
"Iya Mas, kayak biasanya kan.", jawabku.

Tak lebih dari lima menit, telah kusiapkan secangkir kopi tubruk dengan asap mengepul tanda panas. Dengan nampan warna merah favoritku, kusajikan kopi tubruk itu kepada dia, pelanggan setiaku.

Perlahan, kulihat dia mulai menyeruput kopi buatanku yang katanya paling enak di dunia.

"Hmm..Mbakyu Mbakyu, kopimu ini memang paling enak di dunia. Rahasianya apa to?",
katanya segera setelah menyesap kopiku.

"Ah, gak ada rahasia apa-apa kok Mas. Mungkin karena yang bikin manis kayak saya sih, jadi kopinya ikut-ikutan manis", candaku menimpali.

Tawa kecil menyungging di bibirnya
"Hehe...Mbakyu ini ada-ada saja. Minta digodain ni..hehe".

"Hehe...Emang beneran kok mas.hehe.."
"Mas, tak tinggal ke dapur dulu ya. Aku mau cuci piring dan gelas..", kataku padanya, sembari berjalan ke arah dapur warungku.

Kubereskan bungkus-bungkus kopi dan mie instant yang menumpuk di dapurku, dan kumasukkan ke keranjang sampah. Setelah bungkus kopi dan mie instant habis kubuang, kubuka kotak warna merah di samping rak piring.
Kupegang botol kecil yang ada di dalam kotak tersebut.

"Ramuan dari Mbah Marmo emang bener-bener manjur. Sekarang dagangan kopi dan mie rebusku jadi laris manis.".

Buku

Saya senang sekali dunia tulis menulis, meskipun sampai sekarang saya pun belum terlalu pede dengan hasil tulisan saya.

Berikut beberapa buku, dimana beberapa karya saya ada di dalamnya.

1.BUKU DEAR MAMA BUKU 7

Dear Mama buku 7
Kumpulan Surat Untuk Ibu dari Anak-anaknya...Temukan surat saya di buku ini.Jangan lupa beli ya karena hasil penjualannya akan disumbangkan ke yayasan sosial. Klik gambarnya untuk info lebih lanjut.


2. 15HARINGEBLOGFF BAGIAN 1



Saya nyumbang satu tulisan di buku kumpulan flash fiction ini. Setiap pembelian buku ini, royaltinya akan disumbangkan untuk kegiatan sosial.


3. 20 HARI NULIS DUET BUKU 1


Buku Antologi ketiga saya bersama teman-teman penulis, dimana setiap cerita yang ada di dalam buku ini adalah hasil kolaborasi dari para penulis.

Semoga deretan karya saya ini akan terus bertambah lagi dan lagi.
 



Masa Pertumbuhan Kita

Kalian pasti pernah menerima ucapan dari teman atau saudara kalian dengan bunyi kira-kira seperti ini " Makan yang banyak ya. Kan lagi ...