Rabu, 15 Februari 2012

Misi 21 Day 3 : Pertama Kali Ke Gereja St. Theresia Sarinah

 Misi 21 Hari ke-3. Minggu, 12 Februari 2012

Hadu..Baru bisa update Misi 21  hari ketiga, 12 Februari 2012. Dan, hal baru yang aku lakukan adalah pertama kali datang ke Gereja St. Theresia Sarinah.
Jadi sebenarnya kenapa saya datang ke gereja ini adalah karena harus datang ke acara pertemuan rutin alumni beasiswa Bhumiksara yang ada di daerah Jakarta dan sekitarnya.
Yang unik, di gereja ini ternyata ada jam-jam tertentu di hari Sabtu dan Minggu dimana misa yang diadakan menggunakan Bahasa Inggris.
Dan inilah foto2 yang sempat saya ambil di sana..


Goa Maria di Gereja St. Theresia, Sarinah

Senin, 13 Februari 2012

Misi 21 Day 2: Mulai Sketching Lagi

Misi 21 Hari ke-2. Sabtu, 11 Februari 2012 

Akhirnya bisa update Misi 21 hari ke 2. Di hari kedua hari sabtu, 11 Februari kemarin, saya memulai lagi untuk belajar sketching. Sudah lama sekali saya tidak belajar sketching ini. Dan berikut hasil-hasil saya sketching selama sabtu dan minggu kemarin...


Sabtu, 11 Februari 2012

Keheningan Yang Mengagumkan

25 Desember 1992,

Bunda,
Biarpun aku tak bisa berbicara,
Ijinkan tulisanku ini menyuarakannya,
Jika kudewasa nanti, aku ingin seperti Sinterklas,
Membagi-bagikan hadiah kepada semua orang.
SELAMAT NATAL BUNDAKU SAYANG!
Vera

 Dua puluh tahun lalu kutulis di kartu natal untuk ibuku. Sekarang umurku dua puluh tujuh tahun dan telah memiliki sebuah Gift and Flower Shop di Kawasan Dago, Bandung. Yang kuberi nama Happy karena memang itu tujuannya memberikan perhatian lewat barang-barang unik ataupun setangkai bunga untuk orang yang kita sayangi.

Memang aku tidak menjadi Sinterklas seperti yang kuinginkan. Setidaknya bisnisku ini menolong orang lain untuk bisa menjadi Sinterklas bagi orang-orang yang disayanginya.
Seluruh pegawaiku sedang makan siang, jadilah aku menjaga toko sendirian. Seorang perempuan muda berusaha memanggilku,”Siang Mbak, boneka Hello Kitty yang di depan kemana?” Aku sedang asyik bermain Angry bird di I-pad ku.

”Mbaaaak! Halllooooo!” Teriaknya lagi.
”Kenapa sih nih orang, budek apa?” Ujarnya kesal, tetapi begitu melihat sebuah tulisan di
belakang kursiku.

Don’t yell, just kick me
I’m deaf.

 Untungnya dia tidak melakukan sesuai tulisan itu, malah mendekati dan menepuk bahuku. Dengan lincah ia menggerakkan jari-jemarinya untuk berbicara kepadaku, ”Hai, boneka Hello Kitty yang di depan masih ada tidak? Biasanya ada di etalase depan, aku menginginkannya untuk hadiah ulang tahun adikku.”

Kuberi dia isyarat untuk mengikuti kemana aku pergi. Aku langsung pergi ke lantai atas yang merupakan gudang persediaan stok tokoku ini, boneka itu sedang dijemur karena kuminta pegawaiku mencucinya, maklum warnanya putih, mudah sekali kotor.

”Nah, ini dia yang kuinginkan untuk adikku itu, dia pernah datang ke toko ini bersamaku dan ia sangat menginginkannya. Jika sudah kering, bisakah kau antar ke rumahku besok pagi?” dengan tangkas, kembali ia menggerakkan jari-jemarinya saat melihat boneka Hello Kitty itu.
 
Kuberkata dengan jariku,”Baik, nanti akan kuminta pegawaiku mengantarkannya ke rumahmu, ada kartu member? Kalau memakai kartu, biaya antar jadi gratis”, kataku kepadanya.

“Ini dia kartu membernya”, katanya melalui jemari tangan kirinya, seraya menyerahkan sebuah kartu yang ia keluarkan dari dompet cokelatnya.
 
“Apa kau mau menuliskan beberapa kata untuk adikmu? Aku akan bantu menuliskannya di kartu ucapan”, tanyaku kepadanya.
 
“Boleh...Biar kutulis di kertas ini ya. Nanti kau tulis ulang lagi. Aku malu tulisanku tidak rapi”, jawabnya sambil menunjuk sebuah kertas kecil yang sering kupakai untuk mencatat nama dan nomor pelanggan.
 
Tak lama, dia mulai tampak serius menuliskan beberapa kata di kertas itu. Tampaknya dia benar-benar sayang pada adiknya.
“Ini...Nanti tolong kau tulis ulang lagi ya. Disini aku juga tulis alamat pengirimannya. Kau bisa membacanya kan”, jemari tangan kirinya berkata sembari menyerahkan potongan kertas kecil itu kepadaku. Kulihat tulisan di kertas itu secara sekilas. Kuanggukkan kepalaku sebagai tanda mengiyakan pertanyaannya tadi.
 
”Berapa total harganya?” tanyanya sebelum meninggalkan tokoku.
 Kembali aku terkagum-kagum dengan kelincahan jari-jemarinya menuturkan bahasa isyarat kepadaku,”Rp. 115.000, aku diskon untuk pelanggan.” jawabku.
Segera setelah dia menyelesaikan pembayaran, dia memberi isyarat tanda terima kasih dan berjalan keluar dari tokoku. 

Melihat pelangganku tersebut telah lalu, kubaca dengan seksama kata-kata yang pelangganku tadi tulis.

“Namaku Lisa. Aku ingin memberikan hadiah ini untuk adikku yang bernama Ratih. Besok adalah hari ulang tahunnya yang ke – 14. Melihatmu di toko tadi membuatku teringat Ratih, karena dia juga sepertimu. Itu jawaban kenapa aku bisa berbicara dalam bahasa isyarat kepadamu tadi.
Jika boleh, selain kau yang menuliskan ucapan untuk Ratih, bolehkah jika kuminta kau sendiri yang datang mengantarkannya ke rumahku. Aku ingin minta bantuanmu untuk menghibur Ratih. Akhir-akhir ini Ratih mengurung diri dan tak mau sekolah. Sepertinya dia sedang mengalami masa-masa sulit di sekolahnya, karena saat ini dia bersekolah di SMP negeri biasa.
Sebelum dan sesudahnya, terima kasih ya...
Lisa..”
 
Aku terdiam dan merenung sesaat. Pikiranku melayang ke jaman-jaman aku sekolah SMP dulu, di saat yang sama seperti yang dialami Ratih saat ini. Saat itu aku pun mengalami masa-masa sulit, masa adaptasiku dari sekolah di SLB setara SD dimana aku banyak memiliki teman-teman senasib , menjadi memasuki sekolah SMP negeri biasa dimana aku seperti merasa sendiri dan terasing dibanding teman-temanku yang bisa berbicara. 

“Kamu harus tetap kuat ya Ver. Ibu percaya kamu bisa seperti anak-anak yang lain, bahkan lebih.”, kata Ibuku setiap kali aku pulang sekolah dengan tangisan membasahi mata dan pipiku.
Ya, memang sejak Ayah meninggal saat aku berusia satu tahun, praktis hanya Ibu yang selalu tulus mendukungku dan menyemangatiku setiap kali aku merasa sedih, terutama karena kekurangan yang aku miliki.

Sebuah tepukan di bahu menghentikan lamunanku. Kulihat di sampingku telah berdiri Ibuku yang tampaknya telah berdiri di situ sejak tadi.

“Kenapa kamu menangis, Nak?”, tanya Ibuku lewat gerakan tangannya.
Kuseka air mata di pipi dan mataku dengan kerah dan lengan bajuku.

“Gak apa-apa bu. Coba Ibu baca surat ini”, kataku sambil kuserahkan kertas tadi kubaca.
Ibu mulai membaca tulisan di kertas itu. Lama dia terdiam. Kulihat air mata mulai menitik di sudut matanya. Kuambil tissue yang ada di meja kasirku, dan kuseka air mata di mata Ibu. 

“Ibu menyayangimu Nak. Ibu mau ikut mengantar boneka ini ke tempat Ratih..”, kata Ibu padaku lewat jemari-jemari tuanya.

***
Keesokan harinya, di rumah Ratih..

“Hallo Ratih...
Selamat ulang tahun ya. Semoga kamu suka dengan kado yang Kak Lisa beliin buat kamu.
Semoga Ratih gak sedih lagi ya di sekolah.
Pasti Ratih bingung kok yang ngasih kadonya orang lain.
Nama Kakak yang kasih hadiah ini adalah Kak Vera. Dia sama kayak kamu. Liat deh, dia gak sedih kan meski punya kekurangan. Kakak pengin kamu juga bisa semangat kayak dia dan ga sedih karena punya kekurangan. Kakak percaya kok Tuhan pasti adil kasih kelebihan dan kekurangan ke umat-Nya. Nah, selain punya kekurangan, Tuhan pasti juga kasih banyak kelebihan ke Ratih. Kalo gak percaya, coba deh ajak ngobrol Kak Vera. Dia baik kok...
Yaudah, semoga Ratih bisa panjang umur, tambah pinter, dan ga sedih-sedihan lagi.
Salam sayang ,  Kak Lisa.
 
Kulihat senyum mengembang di bibir Ratih saat menatapku. Kugerakkan tanganku untuk berbicara kepadanya...
“Halo Ratih. Ini Kak Vera. Selamat Ulang Tahun ya...”
Tak kuduga, dia menjawab sapaanku kepadanya.
“Halo Kak Vera. Makasih ya Kak....”
Kulirik sedikit celah pintu yang terbuka. Beberapa senyum dan pasang mata bahagia berdiri di sana.


ditulis oleh saya (@rbennymurdhani) dan @Victoriadoumana

Misi 21 Day 1: Belajar Nulis Duet di Proyek #20HariNulisDuet

Misi 21 Hari ke-1. Jumat, 10 Februari 2012 

Hore....
Akhirnya saya memutuskan untuk mulai ikut Misi 21, yaitu misi di mana selama 21 hari kita melakukan hal-hal yang baru setiap harinya, dan bila satu hari tidak melakukan, berarti harus ngulang dari hari pertama.

Misi 21 untuk hari pertama ini, yaitu tanggal 10 Februari kemarin adalah ikutan proyek nulis #20HariNulisDuet, yaitu sebuah proyek nulis dimana selama 20 hari kita harus berduet dengan orang lain dan menuliskan sebuah karya fiksi. Awalnya sempat ragu juga apa ada yang mau duet dengan penulis pemula seperti saya ini. Tapi setelah saya pikir lagi, apa salahnya juga saya coba. Dan ternyata, teman saya @opathebat mau menjadi teman duet saya untuk hari pertama yang bertemakan "Persahabatan". Dan setelah berdiskusi hebat dengan Opat (lebay...hehe) jadilah tulisan saya dan Opat dengan judul "Bandara".

Jumat, 10 Februari 2012

Bandara



“Sudah hampir jam 7 malam, tapi kenapa dia belum datang-datang juga ya”, tanyaku dalam hati. Bayu, ya Bayu alias Jengkol. Dialah orang yang paling kutunggu kehadirannya sebelum aku pergi malam ini ke Australia, untuk kuliah S1 disana.

Bayu atau Jengkol adalah sahabatku sejak SMP. Awal aku dan Bayu saling mengenal adalah pada saat orientasi siswa baru. Saat itu kami berdua sama-sama dihukum oleh kakak-kakak kelas panitia orientasi karena kami lupa membawa jengkol dan pete sebagai tugas yang harus dibawa di hari pertama orientasi itu. Sejak itulah kami terkenal di seantero sekolah dengan julukan baru. Jengkol untuk panggilan Bayu, dan Pete untuk aku sendiri.

“Hmm....”, tawaku kecil mengingat hari-hari itu.
Tak terasa persahabatan kami sudah hampir 6 tahun. Sudah banyak kisah yang kita bagi  bersama, termasuk saat Bayu bercerita tentang pacar-pacarnya, yang kini sudah berstatus mantan. Setiap kali kudengar Bayu bercerita kepadaku tentang pacarnya atau nama perempuan lain, setiap itu pula aku merasa ada yang aneh di hatiku. Entah rasa cemburu atau apa, yang jelas aku tak suka dia bercerita tentang perempuan lain kepadaku.

“Para penumpang Qantas Air No Penerbangan QA1328 Jakarta-Sydney, diharapkan segera bersiap-siap ke Gate 2.”
Suara wanita dari pengeras suara tersebut memecah lamunanku akan Bayu.

“Nad, ayo cepetan masuk ke dalam.”, kata Mama kepadaku.
“Bentar lagi deh Mama. Nadia lagi nunggu seseorang Bayu ni..”, jawabku sembari merogoh handphone dari jaket.

Kupencet tombol-tombol di handphoneku.

Calling Bayu, +628789000889

”Maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Cobalah beberapa saat lagi.”

“Ih..Kemana si Jengkol. Padahal kemarin udah janji mau nganter aku. Mana ditelepon gak aktif lagi.”, kataku dengan nada kesal.

“Kalau Bayu nggak datang juga gimana?”, bukannya mencoba menenangkanku, Mama malah membuatku makin gelisah.

Aku diam saja mendengar pertanyaan Mama. Yah mungkin saja Bayu tidak datang, kan. Saat aku menuju bandara tadi, jalan benar-benar macet. Lini masa yang terus kupantau juga menciap bahwa jalan menuju bandara masih macet dan sulit bergerak.

“Nad, Mama tahu kamu nunggu Bayu. Tapi pesawat kita nggak mau nungguin Bayu. Bayu kan bukan pemilik maskapai ataupun Bandara ini”, kata Mama.

Aku tidak tahu bagaimana harus bereaksi akan perkataan Mama. Sedihkah? Atau tertawa? Aku merasa mataku semakin panas. Sepertinya aku akan menangis.

“Nad!”, Mama kembali menegurku.
“Ya, Ma”, aku berjalan dengan amat enggan.

“Nad!”. Tiba-tiba aku tersenyum, aku menoleh. Itu seperti suara Bayu. Langkahku terhenti. Aku pun menoleh ke belakang.

“Apa lagi sih, Nad?”, Mama mulai agak jengkel akan kelambatanku.

“Aku denger suara Bayu, Ma”. Sambil berkata begitu, aku terus melongok mencari-cari sosok Bayu. Terus kulempar pandanganku ke segala arah. Tapi aneh, aku tidak juga menemukan sosoknya. Apakah itu hanya khayalanku saja?

Mama sepertinya benar-benar kesal dan melanjutkan langkahnya tanpa menungguku lebih lama lagi. Aku segera berlari bergegas menyusul Mama. Setelah aku masuk, gate pesawat kemudian tertutup.

Aku tidak bertemu Bayuku. Jengkolku.

Ditulis bersama saya (@rbennymurdhani) dan teman saya @opathebat
Kunjungi juga blog @opathebat di http://happyandshiny.wordpress.com/

Masa Pertumbuhan Kita

Kalian pasti pernah menerima ucapan dari teman atau saudara kalian dengan bunyi kira-kira seperti ini " Makan yang banyak ya. Kan lagi ...